TariRiantoby

Tidak ada kata terlambat untuk mengubah hidupmu!

Promise

 

Tidak semua orang bisa merasakan kehormatan dijemput seorang mobster tampan, yang bukannya menyodorkan sebuket bunga padaku melainkan pistolnya tepat pada hari kelulusanku. Well setidaknya dia masih memberiku ucapan selamat, yah itupun jika kamu mengecualikan bagian dia akan membunuhku.

-

“Congratulation sweetheart” bisik pria itu, nafasnya yang hangat menyapu telingaku lembut.

Benar-benar diluar dugaan. Orang pertama yang memberikan ucapan selamat padaku di hari terakhirku pada masa SMA bukan ayah, melainkan pria tak dikenal dengan penampilan seorang demigod.

Kaget? Tentu saja. Sedikit berdebar? Ehem, lebih tepatnya sangat. Aku bahkan bersumpah bisa merasakan pipiku mulai memerah.

Tapi itu berlangsung dengan cepat, secepat dia mengeluarkan benda mengkilat itu dari balik jas mahalnya dan melepas safety pistolnya dengan lihai. Saking professionalnya, diantara ratusan orang yang hadir di lapangan sekolahku, tidak seorangpun menyadari benda haram di tangan pria ini. Tidak juga senyum tipis yang dia berikan padaku sebelum semakin merapatkan tubuhnya padaku.

Aku hanya bisa membeku dan merasakan jantungku mulai berpacu lebih cepat ketika akhirnya sadar bahwa aku harus segera melakukan sesuatu untuk menyelematkan jiwa 17 tahunku yang masih mempunyai ribuan mimpi ini. Seharusnya aku berteriak untuk memperingatkan semua orang disitu, atau entahlah menginjak kakinya sekuat tenaga seperti seorang heroine di film atau bahkan lebih ekstrimnya  menendangnya di bagian itu.

Tapi sebelum otakku ini bisa memilih, tawa mengejek pria yang masih belum aku tahu namanya itu terdengar “satu saja kata keluar dari bibir manismu itu, maka aku tidak akan segan menghadiahkan peluru ini tepat di jantungmu. Ini bisa jadi hadiah terindah bagimu bukan? Rasa sakitnya tidak akan berlangsung lama”

Kakiku kehilangan tenaga tapi tangannya yang dingin berhasil menopang tubuhku itu untuk menjauh dari kerumunan menuju parkiran. Aku cukup mengerti bahwa tidak ada gunanya untuk kabur. Saat itu ribuan perasaan menerjangku cepat. Membuat otakku tidak bisa berfungsi dengan benar.

Mengapa keberuntunganku sangat jelek? Mengapa harus hari ini? Hari kelulusanku yang seharusnya menjadi langkah awalku sebelum akhirnya bebas. Mengapa diantara setiap kesempatan yang ada dia harus datang tepat pada hari ini?

Mobil mahalnya yang mengkilat entah sejak kapan sudah berada dihadapanku. Seorang pria lainnya membukakan pintu belakang dan menungguku yang hanya bisa membeku.

Sentuhannya yang dingin di pergelanganku menyadarkanku. Aku mendongak melihatnya mengangkat alis

“A-anda .. Mr.Demiglan bukan?” rintihku pelan. Aku tahu jawabannya, tapi entah mengapa aku hanya ingin memastikan.

Pria itu mengangkat sudut bibirnya seolah aku sedang melawak “kau bisa memanggilku Leo. Mr. Demiglan terdengar terlalu formal” dia mendorong pelan, memerintahkanku masuk. Lalu saat aku sudah duduk tak berdaya disana dia menambahkan.

“Untuk seorang gadis yang sadar bahwa ajalnya sudah di depan mata kau cukup sopan Mira”

Aku menelan ludah. I’m so dead aint i?

_

Aku cukup menyadari bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi ketika Ayah menjadi sangat paranoid bulan itu. Sudah bukan rahasia lagi bahwa ayah punya jumlah utang yang bahkan aku tidak tahu berapa dan dari siapa saja. Ayah tidak pernah memberitahu. Akupun tidak pernah bertanya.

Singkat cerita ayah membuat rencana bahwa aku harus meninggalkan negara kami sendirian pada hari kelulusanku itu, meyakinkan bahwa beliau akan menyusul saat semuanya baik-baik saja. Malam saat dia mengatakannya dan aku menangis tanpa suara sampai tengah malam aku menemukan surat itu. Nama Demiglan tertera diujung surat.  Ayah tidak tahu bahwa aku akhirnya sadar seberapa besar masalah yang dihadapi keluarga kecil kami karena berurusan dengan klan yang seluruh kota ketahui berbahaya itu.

Aku tebak ayah juga tidak tahu bahwa pewaris klan itu sedang duduk disampingku sekarang.

“ayahmu akan menebusmu”

Atau mungkin tidak.

Aku membelalakan mata dan menatapnya kaget.

Leo menyandarkan tubuhnya lalu menghadapku “atau lebih tepatnya membayarkan utangnya dengan uang dibanding putrinya”

Aku kembali menunduk, ini salahku. Coba saja aku segera melarikan diri menuju bandara mungkin ini semua tidak akan terjadi. Air mataku mulai tergenang tapi harga diriku tidak mau memperlihatkannya pada Leo.

“ayahmu orang yang pintar, hanya sedikit menyebalkan. Dia hebat karena bisa menyembunyikan keberadaanmu selama ini”

Yang dia katakan adalah pujian tapi entah mengapa hatiku memanas mendengarnya. Dia tidak mengenal ayah, dia tidak punya hak untuk menilai ayah tidak peduli sebesar apapun utang yang ayah miliki padanya!

“kau tak tahu apa-apa tentang ayah” ucapku pelan, tapi dimobil yang hening itu leo mendengarnya dengan mudah

“menurutmu begitu? Aku cukup mengenalnya Mira, terutama sifat pengecutnya”

Mataku bertemu sepasang mata hitamnya yang berkilatan. Pria ini psycho, dia menemukan kesenangan dalam membuat orang lain marah.

“ayah bukan pengecut! Dia hanya… dia hanya sedikit serakah.. tapi itu karena dia mengingkan yang terbaik untuk.. aku.. d-dia…” kalimatku berakhir begitu saja.

Ayah yang menggendongku di pundaknya, ayah yang berseru gembira atas kemenanganku, ayah yang mendekapku erat saat ibu pergi, ayah yang tidak kenal lelah untuk membuatku bahagia, ayah yang selalu ada untukku.

Air mataku bergulir begitu saja. lagi dan lagi. Aku berusaha menahannya tapi isak tangisku keluar juga.

Aku sadar seberapa tidak adilnya dunia ini. Yang kuat akan selalu sejahtera dan yang lemah akan selalu kesakitan atas usahnya naik. Tapi megapa ini terjadi pada ayahku?!

Tidak ada seorang priapun yang lebih baik dari ayah, tapi kehidupan yang keras ini membuatnya harus merelakan yang satu untuk mengejar yang lain. Dia melepas kebaikannya dan aku untuk mengerjar kesuksesannya. Mungkin itu kesalahannya. Dan mungkin ini hukumannya.

Aku sudah menyaksikan ayahku sendiri berubah menjadi seorang pria pencemas yang bisa menghalalkan segala cara untuk melewati semua tantangan itu. Ayah curang, Sekarang ayah harus menerima konsekuensinya. Tapi aku juga tahu akan satu hal yang tidak akan berganti darinya.

Bahwa dia akan selalu melindungku.

Air mataku jatuh lebih banyak lagi. Semua penyesalan selalu datang terlambat, jika saja aku bisa menyadarkannya. Jika saja aku juga selalu ada untuknya saat ia membutuhkanku…

Aku mengangkat wajahku dari benaman kedua tanganku lalu berbalik kesamping, mendapati Leo yang menatapku dengan ekspresi bingung. Pria itu benar-benar seperti tidak tahu berbuat apa. Ia duduk tegap dan sedikit canggung, salah satu tangannya menggenggam sapu tangan tapi ia hanya meletakannya di pangkuannya.

Aku menghapus sisa air mataku dengan ujung seragamku. Beruntung aku tidak memutuskan menggunakan make up pagi tadi.

Saatnya berubah, cukup sudah sikap tak acuhku selama ini.

“apa yang harus aku lakukan?”

Leo mengerjap beberapa kali seolah tersadar “maksudmu?”

“untuk mengurangi utang ayah. Apa yang harus aku lakukan? apa aku bisa mentransferkan simpananku atau apa kalian lebih memilih kas?” tanyaku serius

Tapi leo justru terkekeh mendengarnya “apa kau sedang bercanda? Kau tidak tahu seberapa-“

“aku tahu” potongku “aku melihat catatan ayah”

“bukan hanya pada kalian, ayah juga punya pinjaman dari bank dan renterneir lain walau itu tidak seberapa dengan yang kalian pinjamkan. Aku tahu”

Leo menutup bibirnya. Keheningan kembali menyelimuti mobil yang sedang melaju ini

“kau juga seharusnya sadar bahwa ayah tidak punya uang. Jika ia punya maka ia akan melunaskan semua utangnya dibanding  harus berurusan dengan mobster seperti kalian”

Leo memiringkan kepalanya, kilatan dimatanya muncul.

“ayah bilang dia akan menebusku? itu bohong. Ayah hanya.. ingin menyelamatkanku”

Aku menghela nafas panjang

“Aku yakin saat dia berhasil mengulur waktu maka dia akan segera menyuruhku kabur ke bandara. Hanya untuk informasimu tapi aku punya tiket menuju Edinburgh malam ini. kota yang tenang. Akan makan cukup waktu sampai kalian bisa melacakku. Itupun jika kalian mau”

Aku bisa melihat rahang leo yang mengeras. Mungkin dia marah tapi kebingungannya terlihat jelas.

“mengapa kau memberitahukanku ini? Ayahmu punya rencana, kenapa kau menghancurkannya? Kau bisa selamat mira” ujar leo lalu menyodorkanku sapu tangannya yang pastinya mahal itu.

Aku menatapnya lama lalu mengambil sapu tangan itu dan meramasnya.

“aku tidak ingin selamat.. aku ingin kami berdua selamat”

Kali ini pria itu yang menghela nafas.

“kau benar-benar bodoh. Klanku tidak akan menerima alasan sentimentalmu untuk menyelamatkan ayahmu”

Aku mengangguk “aku tahu, karena itu aku bertanya apa yang bisa aku lakukan untuk membantu ayahku melunaskan utangnnya?”

Leo memalingkan wajahnya ke jendela dan memandang barisan gedung yang kami lewati. Aku berusaha menunggu jawabannya tapi pria itu tidak bergeming sedikitpun.

“apa kalian melakukan transaksi organ tubuh? Aku punya ginjal yang sehat. Aku seorang pekerja keras, kerjakan saja aku di tempat kalian sampai cukup membayar utang itu. Aku tidak peduli apa aku harus menjadi seorang pembantu, pelayan atau bahkan seorang pela-“

“MIRA!” bentak leo tiba-tiba. Pria itu memberikanku tatapan tajam, membuatku merasa sedikit bersalah karena memancingnya seperti tadi.

Tapi kenapa juga dia peduli? Dia seharusnya tidak peduli padaku.. dia harusnya hanya peduli dengan uang yang akan dia terima.

Leo mencengkram bahuku membuat tubuhku yang bergetar mematung, tidak bisa berbuat apa-apa ketika ia mendekatiku sambil berkata “kau tidak tahu apa yang kau katakan. Ini bukan permainan, hidupmu bukan permainan. Tidak bisakah kau.. berhenti bertindak bodoh?” gumamnya dengan wajah terpaut beberapa senti dariku

“Selama ini aku sudah bertindak bodoh dengan membiarkan ini terjadi leo.. sekarang saatnya aku berubah. Aku akan melindungi apa yang harus aku lindungi. Sebelum semuanya terlambat”

Kami bertatapan untuk sangat lama. Aku membiarkan mata hitamnya menelusuri iris cokelatku seolah mencari sesuatu disana, satu hal yang tidak pernah bisa ia lakukan sebelumnya.

Leo akhirnya melepaskanku, ia menarik nafas tanpa suara lalu kembali memandang ke luar jendela.

Jantungku berdetak kencang lagi ketika aku memutuskan untuk membiarkan diriku mengingat tampilan sampingnya yang sempurna itu.

Leo akhirnya berbalik dan berkata pada supirnya “putar balik, kita pergi menemui ketua”

_

Aku memeluk ayahku yang gagal menahan tangisnya dengan sangat erat. Aku mendengar dengan samar janji ayah untuk menjadi seorang ayah yang lebih baik untukku dan akan bekerja lebih keras bagiku, harta karun terbesarnya.

Singkat cerita, setelah dua jam yang menegangkan duduk dihadapan pimpinan Demiglan sekaligus ayah leo yang menatapku tajam, secarik kertas penjanjian yang kedua belah pihak sepakati itu dibuat juga.

Lima tahun, itu waktu kami untuk melunasi semua utang ayah. Juga sepuluh tahun kontrakku untuk bekerja dibawah naungan klan yang juga memiliki bisnis resort itu. Ketua kelihatannya cukup puas dengan nilai raport serta berbagai sertifikatku juga gelar nilai tertinggi di kota itu. Tapi aku tahu alasan tersebesarnya adalah leo. Apa yang leo katakan pada ayahnya dibalik pintu tadi tidak seorangpun tahu. Tapi yang penting itu berhasil.

Dibalik pandangan kaburku karena air mataku, aku bisa melihat punggung yang familiar itu akhirnya berbalik lalu masuk ke mobil dan melaju pergi.

Aku tersenyum kecil mengingat kalimatnya siang tadi.

-

“Lima tahun mira. Bagaimana caramu membayar waktu yang aku peroleh untukmu?” Leo mengangkat ujung bibirnya, menikmati pipiku yang bersemu merah ketika tangannya merengkuh daguku agar aku menatapnya.

Matanya yang berkilatan membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih “Bagaimana dengan Caffe Latte?”

Leo tertawa pelan, pipiku serasa membara menyaksikannya “setiap hari?” godanya

Suaraku bergetar saat menjawabnya “kapanpun kau mau”

­-

Awal bulan itu...

Aku rasa aku diikuti. Aku ingin melaporkannya pada ayah, tapi dengan kecemasannya itu rasanya sia-sia menambah satu lagi.

Ujianku baru selesai, dan satu-satunya hal yang aku inginkan hanya menyenangkan diriku sendiri dengan secangkir caffe latte kesukaanku di kedai kopi di depan sekolah. Dengan rasa stress yang menumpuk  aku tidak ingin ambil pusing dengan penguntit di belakangku itu.

Setelah menunggu beberapa menit pesananku akhirnya siap dan aku mengambilnya dengan senang hati lalu merogoh sakuku untuk membayar. Saat itulah aku baru teringat bahwa aku meninggalkan dompetku di lokerku pagi tadi sebelum ujian dan lupa mengambilnya.

Aku tidak yakin pelayan kafe ini akan senang dengan alasanku untuk berlari ke sekolah dan mengambil dompet, tapi karena sudah pasrah aku memberanikan diri

“Permisi tapi-“

“Aku akan membayarnya” sebuah suara yang berat terdengar beriringan dengan tangan yang melewatiku untuk memberikan uang pada sang kasir.

Pria itu bergerak dengan cepat sebelum melangkah pergi dariku tapi itu sudah cukup bagiku.Mata kami berpapasan hanya sedetik tapi aku yakin.

Dia pria yang sama dengan yang membantuku mengambil buku di perpustakaan kemarin. Juga pria yang sama yang menarikku dari pinggir jalan sebelum diserempet motor.

“Be careful sweetheart” itu yang dia katakan saat menyelamatkanku

Aku masih mengingat harum parfumenya juga suara itu, terutama matanya yang segelap malam

Dia pria yang mengikutiku selama ini

 

The End

galuh22

Short but heartwarming👍 bagus juga romantiss💕