Kita punya cara masing – masing untuk mencintai, dengan cara melepaskan misalnya.
Melepaskan untuk Mencintai
Pada suatu malam yang cerah, dimana bintang – bintang setia mendengarkan semua keluh kesah tak bertuan, terdengar percakapan dua saudara yang saling menguatkan duduk di kursi taman depan rumahnya. Tangan mungil gadis kecil itu digenggam erat oleh kakak laki – lakinya yang sejak tadi menatapnya nanar. Langit malam itu terlihat egois, menampakkan diri dengan senyuman rembulan yang sedari tadi menyayat hati. Seolah tak peduli apa yang terjadi pada satu kebahagiaan yang telah terenggut, dia tetap saja bersinar dan tersenyum.
“Kakak, adik takut !” Kata gadis kecil itu saat melihat mata kakaknya yang berkaca – kaca. Laki – laki itu tersenyum kepada adiknya dan berkata “Jangan takut sayang, Kakak kan di sini !”. Gadis kecil itu melepaskan genggaman kakanya dan mengalihkan pandangannya ke depan, “Adik takut, Ayah tidak pulang lagi malam ini. Kemarin, Ayah menutup pintu dengan keras lalu pergi dan Ibu menangis seharian.”. Laki – laki itu melihat ke arah rumahnya, terlihat jelas siluet ibunya yang sedang menangis dari jendela. Sejak kemarin dia memenjarakan tanya, diam melihat perempuan yang dicintainya menangis seharian tanpa penjelasan. Jika tidak karena adiknya, mungkin dia tak akan sekuat sekarang, menemani adiknya dan menarik diri dari masalah orang tuanya adalah cara terbaik menurutnya. Seketika dia mengarahkan kepalanya ke langit, mencoba mencegah air mata yang mulai membasahi matanya.
Malam semakin larut, angin semakin liar menerpa tanpa pemakluman, memeluk hati yang saat itu terluka. Laki – laki itu memeluk adiknya, “Sayang, ini sudah semakin malam. Ayo masuk ke dalam rumah !” Rayu kakaknya. “Kakak gimana sih ! Ayah kan belum pulang, pokoknya Adik mau di sini sampai Ayah pulang !” Jawab Si Gadis Kecil. Laki – laki itu melepaskan pelukannya, dia berdiri di depan adiknya dan memegang tangan adiknya “Iya kakak tahu, tapi kita kan bisa menunggu di dalam rumah, di sini semakin dingin Sayang !” “Pokoknya Adik mau menunggu Ayah pulang di sini !” Jawab adiknya dengan marah dan melepaskan tangan kakaknya. Laki – laki itu memegang pipi adiknya dan berkata “Yasudah, Adik mau coklat panas nggak ? Kakak buatkan ya ?!”. Gadis kecil itu hanya megangguk mengiyakan tawaran kakaknya.
Laki – laki itu berjalan memasuki rumahnya menuju dapur, dia melihat kesal ibunya yang masih menangis dan melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Saat dia mengaduk coklat panasnya, dari belakangnya dia tahu bahwa Ibunya mengikutinya. Dengan suara lirih, Ibunya memberanikan diri berbicara, “Nak ?” , “Bu, sebenarnya Ibu dan Ayah itu maunya apa ?” laki – laki itu memotong pembicaraan Ibunya. “Apakah Ibu dan Ayah lupa jika masih memiliki aku dan Adik ?! Kalian menganggap kami apa, Bu ?! Apakah kami hanyalah buah dari kesalahan Ibu dan Ayah ?!” Lanjut laki – laki itu. “Hentikan, Nak !” Sahut Ibunya yang semakin menangis keras dan terduduk di kursi dapur. Laki – laki itu membalikkan badannya dengan membawa segelas coklat panas, “Jika Ibu masih menganggap kami ada, bagilah bersama kami Bu, apapun itu. Terbuat dari apa sebenarnya hati Ibu itu ?! Tidakkah dia sekarat menahan sakit sendirian ?!”. Laki – laki itu melanjutkan langkahnya keluar dari dapur dan berhenti sejenak di tengah pintu, dia menoleh pada Ibunya, berkata “Terimakasih Bu, telah menunjukkan pada kami, bahwa cinta itu bisa pudar !” Ibunya hanya tertunduk dan menangis. Laki - laki itu meninggalkan Ibunya di dapur, saat melewati ruang tamu dia menangis kesal melihat foto keluarga yang dipasang pada frame kayu di atas meja. Dia mengambil foto itu dan menatapnya nanar. Terlihat seorang laki - laki dan perempuan yang berdampingan tersenyum bahagia, disamping kiri dan kanan terlihat kebahagiaan lainnya, yaitu anak laki - laki dan anak perempuan yang sangat polos dan tersenyum bahagia tentunya. Mereka terlihat seperti keluarga yang sangat sempurna. Laki - laki itu menggenggam erat foto itu lalu menutupkannya di atas meja dengan keras.
“Kakak kenapa lama sekali sih ?!” Rengek gadis kecil itu saat kakaknya memberikan segelas coklat panas padanya. Laki – laki itu mencubit pipi adiknya, “Uhhh, kamu baru ditinggal kakak sebentar saja udah kangen.” mereka saling tertawa. Dari belakang, sang Ibu memeluk mereka, “Doorr !” laki – laki itu melihat heran Ibunya, “Ih Ibu kenapa sih, Adik kaget tahu !” Ibunya mencubit pipi gadis kecil itu, “Uhhh anak ibu yang paling cantik lucu deh kalau marah.” Sahut Ibunya. “Ih, Ibu apa – apaan sih, Ibu sudah capek ya menangisnya ?!” Seketika keadaan hening, “Eh, Ibu punya lampion loh !” sang Ibu mencoba mengusir keheningan itu. “Waaahh, mana Bu ?” teriak riang gadis kecil dan memberikan segelas coklatnya kepada kakanya. Dia mengambil lampion dari tangan Ibunya, berteriak riang “Iya Bu bagus, warna – warni !”. “Lebih bagus lagi kalau kita nyalakan semua ! Bagaimana ?!” ajak sang Ibu. “Waahh, ayoo Bu, ayoo. Kakak ayo kita nyalakan lampionnya !”.
Gadis kecil itu menarik Ibu dan kakanya menuju halaman rumahnya yang cukup luas. Satu persatu lampion mulai dinyalakan dan terbang. Mereka menatap lampion yang berterbangan dengan takjub. Sang Ibu dan kakak tertawa saat melihat si gadis kecil itu berlarian menirukan lampion – lampion yang terbang ke kanan dan ke kiri terbawa angin. “Lampion itu lebih indah kan saat mereka direlakan untuk dilepaskan ?!” kata sang Ibu kepada anak laki – lakinya. Laki – laki itu menatap nanar Ibunya, sang Ibu ikut menatapnya dan menggenggam erat tangan anaknya. “Melepaskan bukan berarti membenci kan ?! Melepaskan bukan berarti berhenti mencintai. Nak, begitu banyak cara untuk mencintai, melepaskan pun terkadang adalah cara yang tepat untuk mencintai !”. Laki – laki itu tertunduk menangis, sang Ibu memegang dagu anak laki – lakinya dan menghapus air matanya. “Seperti itu Nak, Ibu dan Ayah akan terus saling mencintai, hanya saja dengan cara yang berbeda !”. Sang Ibu memeluk anak laki – laki nya. Gadis kecil itu berlari mendekati Ibu dan kakaknya, lalu ikut memeluk, dia berteriak keras “berpelukaaann !”. Seketika mereka bertiga tertawa bersama dan saling memeluk.
"Adik, ayo masuk ! Di sini semakin dingin loh !" Ajak sang Ibu. "Ih Ibu bagaimana sih, Adik mau menunggu Ayah di sini !" Jawab si gadis kecil. Sang Ibu menatap gadis kecilnya, berkata "Adik, Ibu juga tidak tahu sekarang Ayah dimana. Dan sepertinya Ayah tidak akan pulang malam ini." Si gadis kecil mulai menangis, Ibunya seketika memeluknya dan ikut menangis. "Adik, tadi Ibu sudah menuliskan surat di lampion tadi untuk Ayah, jadi Ayah tahu kalau Adik merindukan Ayah. Pasti Ayah akan kembali untuk Adik !". Gadis itu semakin memeluk erat Ibunya, "Jadi, sekarang kita masuk ya. Biar nanti Ayah tidak sedih kalau melihat Adik kedinginan di sini !" Gadis itu mengangguk pelan, sang Ibu menggendongnya masuk kedalam rumah, kakaknya pun mengikuti dari belakang. Sang Ibu menuju kamar gadis kecilnya, sedangkan anak laki - laki itu berhenti di meja ruang tamu, membuka dan mendirikan frame foto yang tadi dia tutup. Dia melihtatnya dengan senyuman dan disertai air mata.
Qoute :
Kita punya cara masing – masing untuk mencintai, dengan cara melepaskan misalnya.