Ia tidak gila. Ia hanya sedang mencari sahabatnya yang lama hilang,—di hati yang mana, di hati yang mana.
SI PEMUNGUT TAWA
Moran namanya. Aku mengenal anak itu sejak beberapa tahun yang lalu. Entah mengapa tiba-tiba saja dia datang ke desaku, masuk dalam kehidupan semua warga di sini dan menjadi buah bibir. Sayangnya, orang yang membicarakannya sebagai orang waras bisa dihitung dengan jari. Orang-orang memanggilnya Cherra Wabbé,—si pemungut tawa, dalam bahasa Lumina. Pekerjaannya setiap hari adalah berkeliling di jalan-jalan desa dan memasang berbagai tampang konyol, berjuang sekuat tenaga membuat orang-orang tersungging senyumnya. tetapi kadang orang malah menganggapnya sinting. Dia kadang terlihat menggerak-gerakkan anggota badannya dengan lucu, melototkan matanya dan membuat suara-suara kambing jantan yang mengundang gelak tawa anak-anak seusiaku. Tetapi kebanyakan orang di desaku menganggap Cherra Wabbé telah kehilangan kewarasannya.
Pagi-pagi di musim semi, sebelum aku menuruni jalan setapak ujung Pegunungan Oléns timur dan berakhir di tepi kota Samanti, aku akan melihat Cherra Wabbé menirukan suara-suara kodok, bermain dengan daun-daun iloppi yang lebar dan membuat lelucon sendiri. Sembari berjalan di sisi ibuku, aku memperhatikannya bercanda riang dengan dunianya sendiri, tertawa seorang diri, lalu tiba-tiba melenguh seperti sapi kekenyangan.
Dan begitulah, selama dua mojja (bulan dalam bahasa Lumina), aku berjualan bunga-bunga pafélla dan buah-buah morai yang kucampur dengan yogurt murni di pagi hari. Tepi kota Samanti adalah ujung dataran tinggi yang landai nan ramai. Ribuan orang datang dan pergi setiap hari. Aku bisa memandangi pantulan awan jingga di teluk NimnwérrÄ yang besar dan tenang, sembari merangkai bunga-bunga pafélla untuk orang-orang itu.
Tatkala pulang, aku melihat Cherra Wabbé di perbatasan desa, sedang memamerkan leluconnya kepada beberapa anak desa yang lebih tua daripada diriku. Mereka memandanginya dengan tatapan aneh.
“Nojja berkepala licin!” panggilnya. Aku menoleh. Aku memang memangkas habis rambutku, dan kata-kata itu langsung memastikan bahwa itu adalah aku. Bukan orang lain.
“Semoga ayam-ayam hutan mengerubungimu selalu,” ujarnya.
Doa yang aneh. Tetapi itulah Cherra Wabbé. Dia sangat konyol. Tak ada yang tahu dari mana dia datang. Dia sering tertawa-tawa, berbicara seorang diri, dan menirukan suara-suara hewan hingga larut malam. Dia tinggal di sebuah gubuk tua yang dibangunnya sendiri, dan setiap malam orang-orang desa kerap mendengar dia menangis dengan pilu. Entah apa yang ditangisinya, tetapi tak seorang pun yang mau menengoknya dan bertanya. Anehnya, orang tidak pernah melihatnya murung di siang hari. Ia selalu memasang wajah yang segar, dan mengerjai orang-orang dengan tampangnya yang dibuat-buat agar menggelikan.
Tetapi tidak ada seorang pun dari kami yang tertawa melihat tingkah lakunya. Ketika ia bercanda dan mengisahkan cerita yang lucu, tidak ada seorang pun yang tertawa.
Kecuali diriku. Hanya aku yang kerap tertawa melihat tingkah konyolnya itu. Aku sungguh merasa terhibur. Ada hal yang cukup alami dari lelucon-leluconnya, rasa yang terpendar dari dalam nuraninya yang polos dan lugu.
Lewat celah di tembok batu Surainema, aku kerap mengintip apa yang dilakukannya dan terkekeh-kekeh karena tingkah lucunya yang tak biasa. Kadang dia menghentak-hentakkan kakinya sendiri, mendengus-dengus seperti serigala, dan mengeluarkan suara-suara seperti bayi. Kadang tatkala sore hari, dia membelakangi matahari dan mendongeng sendiri dengan bayangannya yang menjulur panjang ke arah timur.
Ketika matahari terbenam, ia akan pulang setelah memakan apa pun yang diberikan orang-orang kepadanya. Tak ada seorang pun yang datang ke rumahnya karena semua orang menganggapnya tidak waras, sinting, atau kesurupan. Jadi, orang-orang menaruh makanan di tepi desa dan Cherra Wabbé akan memungut makanan itu dengan cara mengendap-endap agar tak ada yang melihatnya. Dia kadang mendapat segumpal roti gandum yang wangi dari Bibi Tara yang baik hati, bertabur selai yang berisi cacah batang kayu manis yang hangat. Dia akan memungutnya dan menghabiskannya dengan lahap.
Suatu hari aku mengikutinya hingga sampai ke gubuknya. Aku bersembunyi di balik bayangan pohon Walajja yang jatuh memanjang di tanah disiangi matahari sore. Ketika anak itu masuk dan mengunci gubuknya, aku mendekat dan menempelkan telingaku ke pintu. Tak puas, aku mengintipnya lewat jendela yang terbuka.
Seseorang sedang berbincang-bincang. Aku mendengarnya dengan jelas. Kemudian, dia mulai menari-nari sendiri, berkelakar sendiri, dan menari-nari seperti apa yang dilakukannya di hari-hari sebelumnya.
Detik berikutnya, suara nyanyian dan tawanya mendadak berubah. Ia meringkuk di sudut ruangan, membenamkan kepalanya di antara lututnya yang ditekuk, lalu mulai meraung-raung. Anak itu menangis sejadi-jadinya. Aku bisa mendengar dengan jelas napasnya sesenggukan.
Lalu aku mengetuk pintu. Suara tangisannya berhenti.
“Siapa?” ia menyahut dengan suara sangat, sangat parau.
Aku menahan napas dan menelan ludah dengan berat. “Aku Nojja, si kepala licin.”
Terdengar suara langkah berdebam mendekati pintu, lalu suara kayu bergemeletak, dan pintu terbuka.
“Nojja!” Cherra Wabbé menyambutku dengan senyum yang sangat lebar. Ia menghapus sisa air mata di pipi dan matanya. Kemudian aku sama sekali tak melihat secuil kesedihan pun di wajahnya. “Hari ini apakah kau mau main melempar lumpur ke wajah?”
Aku tertawa. Kami berdua tertawa, tertawa hingga larut malam, sampai-sampai ketika kembali ke rumah, ibu telah memasukkan semua roti dan buah ke dalam lemari, pertanda waktu makan malam telah habis.
Keesokan harinya, aku kembali berjalan menuruni jalan setapak ke Samanti. Di sepanjang perjalanan, aku tak melihat Cherra Wabbé di mana pun. Aku tahu, aku akan merindukan candanya, ekspresinya yang konyol, dan cerita-cerita lucunya yang tak bisa membuat orang bergeming.
Tetapi aku tertawa bersamanya malam itu. Sungguh menyenangkan.
Malam itu aku mendengar ceritanya. Cherra Wabbé ternyata telah kehilangan kawan baiknya beberapa tahun lalu, dan sejak saat itu ia tidak bisa lagi tertawa. Ia mencari-cari sahabatnya di hati setiap orang yang ditemuinya. Dia bercanda, tertawa dan membuat lelucon agar dia tahu di mana sahabatnya bersembunyi, di hati yang mana,—di hati yang mana.
Ia anak yang kesepian. Aku mengerti. Ia selalu menangis di malam hari dan tak bisa memejamkan matanya hingga matahari menyambutnya. Ia sedang mencari-cari di mana kawannya. Ia ingin membuat orang tertawa. Ia menginjak-injak harga dirinya sendiri dengan tingkahnya yang tolol dan gila. Ketika kawannya meninggalkannya, semua tawanya lebur dan lenyap. Ia ingin mengumpulkan tawa-tawa itu lagi seperti sedia kala.
Namun tiada yang mau menitipkan sedikit saja tawa untuknya, karena ia sangat membutuhkannya.
Lalu pagi itu ia memutuskan untuk pergi, mencari tawa berikutnya.
Itulah ceritaku tentang Cherra Wabbé, si pemungut tawa. Apabila kalian pernah bertemu dengannya, kasihanilah dirinya. Ia tidak gila. Ia hanya sedang mencari sahabatnya yang telah lebur dalam tawa yang hilang,—di hati yang mana, di hati yang mana.
Aku bersyukur. Aku pernah memberinya sepenggal tawa malam itu, sebagai bekal perjalanannya yang panjang, letih dan sendiri.
Teluk Nimnwérra, 14 September 2016.