istikus

Kadang kenangan muncul tiba-tiba. Seperti rintik hujan yang turun ketika matahari sedang hangat-hangatnya.

SEPOTONG SYAL MERAH MAROON

 

Aku duduk di sudut coffee shop yang ramai. Cangkir di mejaku masih setengah penuh. Namun kopiku sudah digin. Sedingin kenangan tentangmu yang baru saja menghantam kepalaku dengan tiba-tiba. Beberapa menit yang lalu aku masih bisa tertawa bersama beberapa orang teman lama. Sebelum akhirnya kalimat itu terucap dari bibir Rini, yang membuatku kehilangan kemampuan untuk tertawa lagi. Bahkan untuk tersenyum pun rasanya berat sekali. 

“Perasaanku saja, atau kau selalu memakai syal itu setiap kali kita bertemu? Sepertinya syal yang sangat istimewa.” 

Kalimat yang berhasil mengubah suasana hatiku dalam sekejap. Aku sedikit beruntung mengajak Mirna dalam acara reuni sekolah ini. Dia yang tahu betapa istimewa syal ini untukku berhasil mengalihkan pembicaraan. Membuatku tak harus berkata apa-apa. Namun kepalaku terlanjur dipenuhi oleh kenangan tentangmu. Seolah aku ditarik secara paksa kembali ke masa lalu. Di bulan yang sama, tiga tahun yang lalu.

***

Waktu itu bulan Februari. Bulan spesial untukku dan Angga, kekasihku. Banyak momen istimewa terjadi di bulan yang kata orang adalah bulan penuh kasih sayang itu. Aku dan Angga secara kebetulan yang menyenangkan, lahir di tanggal dan bulan yang sama. Secara kebetulan pula, kami mulai berkencan di bulan itu. 

Malam itu aku dan Angga merayakan ulang tahun kami berdua. Tahun-tahun sebelumnya kami hanya akan jalan-jalan, nonton film atau makan malam sederhana untuk memperingati hari istimewa kami itu. Namun malam itu berbeda. Ia memintaku untuk mengenakan gaun dan sepatu terbaikku dan juga dandan secantik mungkin. Katanya, dia ingin mengajakku makan malam romantis di sebuah restauran terkenal di kota. Aku pun melakukan apa yang Angga minta. Setengah jam sebelum dia datang menjemputku, aku sudah siap dengan penampilan terbaikku. Berkali-kali aku memandang cermin di dinding kamar hanya untuk memastikan semuanya sempurna. 

Setengah jam kemudian Angga datang. Aku bergegas keluar kamar. Tak lupa membawa sebingkis kado ulang tahun untuk kekasihku itu. Malam itu Angga terlihat tampan sekali dengan blazer hitam pemberianku di ulang tahun sebelumnya. Rambutnya rapi sehabis dipotong. Dan kacamatanya berbeda dari yang dipakai saat kami bertemu seminggu yang lalu. Kacamata baru. Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, lengkap sudah penampilannya malam itu. 

Sepanjang perjalanan aku bisa melihatnya tak berhenti tersenyum. Dia tampak bahagia sekali. Aku merasa ada yang ia sembunyikan dariku, atau ada hal mengejutkan yang akan dia lakukan untukku. Makan malam romantis? Itu bukan kebiasaan kami. Aku tahu dia merencanakan sesuatu. Aku tahu itu. 

Dan benar seperti apa yang aku bayangkan. Malam itu memang istimewa, bukan makan malam ulang tahun biasa. Dia memperlakukanku seperti seorang putri dan dialah pangerannya. Sesaat sebelum meninggalkan restauran itu, kami bertukar kado ulang tahun. Aku yang terlebih dahulu memberikan kadoku untuknya. Angga membukanya dengan hati-hati. Masih dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Senyuman favoritku, yang selalu berhasil membuat senyumku turut mengembang hanya dengan melihatnya. Senyum Angga semakin mengembang setelah dia berhasil membuka bingkisan kadoku. Sebuah syal merah maroon yang aku rajut sendiri selama berbulan-bulan. 

“Hey, aku membuatnya dengan penuh cinta di setiap rajutannya. Berjanjilah kau akan sering memakainya.” Ucapku waktu itu. 

“Iya, sayang. Aku akan memakainya selama sisa hidupku jika itu membuatmu bahagia.” Ucapnya sambil tersenyum kemudian menggenggam erat tanganku. Aku pun tak bisa berhenti tersenyum karenanya. 

Dia kemudian mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah kotak kecil berwarna emas dengan pita di atasnya. 

“Kau tahu, aku bukan orang romantis. Bahkan makan malam seperti ini rasanya sangat asing untukku. Dan maaf jika aku tidak bisa melakukannya dengan manis seperti di film-film romantis. Aku tidak akan berlutut di depanmu sekarang ini. Jujur itu akan membuatku malu,”

“Ya, aku juga akan malu setengah mati jika kau melakukannya.” Potongku.

Dia tersenyum, kemudian membuka kotak kecil di tangannya. Sebuah cincin berlian yang cantik sekali. Aku tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja aku kaget. Kaget bercampur bahagia yang teramat sangat. Bahagia yang sungguh tak terkira.

“Adhelya Rosa, maukah kau menjadi istriku?” 
Angga melamarku, tepat di hari ulang tahun kami berdua.

Tak terasa bulir hangat membasahi pipiku, air mata bahagia. Aku mengangguk perlahan, kemudian mengusap air mataku. Angga mengambil cincin itu, memasangkannya di jari manisku. Kami masih saling menatap untuk beberapa waktu. Menikmati momen yang membahagiakan itu.

Pernahkah kalian merasa teramat sangat bahagia hingga tak bisa berhenti tersenyum sepanjang waktu? Malam itu aku merasakannya. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung malam itu. Aku dilamar oleh kekasihku, tepat di ulang tahunku yang ke 24. Rasanya aku adalah makhluk yang teramat disayang oleh Tuhan waktu itu. 

***

Aku berbaring di atas tempat tidurku. Berulang kali memandang jari manis dengan senyum yang terus mengembang di wajahku. Ini benar-benar kado terindah, batinku. 

Namun semuanya berubah keesokan harinya. Aku terbangun masih dengan perasan bahagia. Sampai akhirnya aku melihat layar handphone-ku. Belasan pesan dan panggilan tak terjawab. Perasaanku berubah. Aku tahu ada hal buruk. Aku takut. Kemudian ibuku mengetuk pintu, dan masuk ke kamarku. Wajahnya pucat, matanya berair, bibirnya sedikit gemetar. Aku tahu ada hal buruk yang telah terjadi.

“Dhel,” ucapnya lirih dengan air mata yang mengalir di wajahnya. Dia seolah tak mampu berkata-kata. “Angga kecelakaan. Dia… dia pergi.” Lanjutnya sambil menangis. Aku terdiam tak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku berharap itu hanya mimpi buruk, tapi aku sadar itu bukan. 

Pernahkah kalian merasa melayang tinggi karena bahagia yang teramat sangat, kemudian terhempas jatuh dan hancur berantakan dalam sekejap? Itu yang aku rasakan pagi itu. Semua sisa kebahagiaan malam sebelumnya, menguap begitu saja. Menyisakan lubang besar di dalam hatiku. 

Bulan Februari, 3 tahun yang lalu. Saat di mana aku kehilangan Angga, untuk selama-lamanya. Saat di mana pria yang aku pikir akan menjalani sisa hidupnya bersamaku, diambil paksa dariku. Pada akhirnya, Februari menjadi bulan yang tak terlupakan olehku. 

***

Aku merasakan aliran hangat di pipiku. Aku tersadar dan menatap sekeliling. Beberapa teman sudah pulang, beberapa masih asyik berbagi cerita. Aku menggenggam ujung syal lusuh yang aku kenakan, menghapus air mata sebelum ada yang menyadari bahwa aku menangis. 


Aku duduk di sudut coffee shop yang ramai. Cangkir di mejaku masih setengah penuh. Namun kopiku sudah digin. Sedingin ingatanku tentangmu yang baru saja menyapaku. Di luar sedang gerimis, gerimis lembut di kala matahari masih hangat. Gerimis di bulan Februari. Sama seperti saat aku kehilanganmu. Aku menggenggam syalku dengan erat. Syal yang telah kau kenakan selama sisa hidupmu, seperti yang kau katakan padaku waktu itu.