tan27

Perjuangan adalah sukses yang sesungguhnya

 

Masa putih abu-abu adalah masa yang sangat menggebuh-gebuh,  kenakalan-kenakalan sering terjadi, mulai dari yang konyol hingga serius, akibat pergaulan yang semakin menjadi.

Tak terkecuali Tari, siswa SMA yang tomboi, lahir dari keluarga yang terpandang di lingkungannya, memiliki 6 saudara kandung (pada masa itu memiliki banyak anak adalah hal biasa), ayahnya yang tempramental membuatnya mulai minum alkohol sebagai pelarian.  Tak jarang sebilah rotan secara bergantian melukai sekujur tubuhnya, karena sang ayah mengetahui kelakuannya itu, tapi itu tidak membuatnya berhenti. 

Akhirnya Tari lulus SMA dan lanjut kuliah, bermodalkan tekadnya untuk belajar bahasa inggris ia sampai ke Kota. Kebiasaan merokok dan minum Tari berkurang karena tumpukan tugas yang harus segera di tuntaskan. Tidak hanya sekedar belajar tetapi Tari juga menjalin kasih dengan pria satu jurusannya yang bernama Rudi, seorang mahasiswa yang kritis dengan musuh dimana-mana.

Keduanya memutuskan untuk membangun rumah tangga, lewat sepucuk surat Tari menyampaikan kabar itu kepada orang tuanya, ayahnya tidak setuju jika Tari menikah sementara kuliah, ayahnya sangat murka hingga mengucap sumpah dan menyatakan Tari bukanlah anaknya. Sejak saat itu semua fasilitas yang dimiliki Tari ditarik mulai dari rumah hingga uang.

Tari hidup dalam keserdehanaan dengan suaminya di sebuah asrama di kamar yang kecil, jauh dari kata mewah. Hidup Tari berubah total, ia mulai irit terhadap segala hal ditambah lagi kenyataan bahwa ia akan segera memiliki seorang anak. Sejak awal mengandung Tari tidak pernah menyentuh rokok dan alkohol lagi, rasa cinta terhadap sang buah hati lebih besar dari rasa cintanya terhadap rokok dan minuman keras.

Buah hati yang dinanti-nantipun  lahir, seorang perempuan yang cantik, ia diberi nama Tri, sangat sulit untuk bisa membagi waktu kuliah dengan menjaga anak, jika Tari kuliah maka sang suami yang bertugas menjaga Tri, begitupun sebaliknya jika Rudi yang kuliah, Tari yang aka menjaga Tri. Terkadang Tri harus dititipkan ke tetangga karena kedua orang tuanya memiliki kesibukan masing-masing. Karena kurangnya biaya hidup mereka terkadang hidup dari belas kasih tetangga serta teman-temannya.

Tari lulus kuliah dengan pestasi yang cukup membanggakan, berbanding terbalik dengan sang suami yang di persulit untuk lulus karena aksi protesnya terhadap kebijakan kampus selama ini. Setelah cukup lama lontang-lantung di kota orang, Tari tak kunjung dapat pekerjaan membuat Tari memutuskan untuk kembali ke kampung halaman bersama sang buah hati di temani sang suami. Meski telah membawa gelar sarjana tak membuah hati ayah Tari luluh, ia tetap tidak terima keberadaan Tari yang bahkan memohon maaf dengan lutut menyentuh tanah sambil menggendong anaknya.

Mulailah mereka hidup bertiga dengan numpang di setiap atap rumah yang sedia untuk menampung mereka. Dengan bantuan kerabat serta gelar sarjananya, Tari berhasil kerja sebagai Guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah yang di bangun untuk siswa-siswa bermasalah yang di keluarkan dari sekolah umum. Meski beresiko besar tari tetap menyanggupinya, dengan modal pengalaman di masa mudahnya yang tidak jauh berbeda dengan anak-anak tersebut, Tari mampu menangani kondisi tersebut. Meski hanya Guru Honorer Tari sudah mampu menghidupi keluarganya di bantu dengan suaminya yang kerja serabutan.

Kabar mengejutkan menghujam jantung Tari, Ayahnya meninggal dunia membawa serta semua kebenciannya kepada Tari. Semua sanak keluarga menganggap Tari penyebab semua ini. Berjalan menuju jasad Ayahnya di sertai cacian para tetangga, tangis tak dapat terbendung di ujung mata, di bisikannya kata maaf di telinga Ayahnya untuk terakhir kali.

Hari berlalu, dengan tangan hangatnya Ibu Tari mengajak Tari untuk kembali ke rumah, karena selam ini Tari numpang di rumah tetangga dari satu atap ke atap lainnya. Tari memutuskan untuk pindah ke kediaman orang tuanya, sepetak kamar menjadi tempatnya beserta keluarga kecilnya, Ibu Tari pun memberi tanah warisan untuk Tari membangun rumah.

Rudi yang terampil dalam mengolah kayu, dan memiliki jiwa seni yang tinggi membangun rumah mereka sendiri di bantu dengan rekan-rekannya. Setelah satu bulan berlalu kerangka rumah telah terbentuk, karena bermasalah dengan keuangan membuat pembangunan rumah Tari berlangsung sangat lama

Karena kesalahpahaman kecil dengan saudaranya, Tari di usir dari rumah sang Ibu, tak ada tempat lain untuk berteduh selain rumah mereka yang mashi berubah rangka-rangka tanpa atap, dengan bantuan dari tetangga disekitar Rudi mampu membangun rumah darurat, meski hanya beralaskan tikar dan beratapkan tenda biru.

Tari bekerja sangat keras, dari mulai terbit sang fajar hingga kembali terbenam, peluh keringat tak terhitung lagi, hampir setiap sekolah di daerah itu telah ia masuki untuk mengajar meski kadang harus pulang berjalan kaki karena tidak memiliki uang, tetapi tidak pernah ada keluh kesah dari mulutnya. Begitu pula dengan sang suami, Rudi, ia bekerja serabutan dan bahkan menjadi tukang kayu, dengan upah berupa sisa -sisa kayu di tempatkan kerjanya untuk membangun gubuk kecilnya sendiri.

Waktu terus berlalu, berkat pengabdiannya Tari di angkat pegawai dengan gaji yang cukup banyak, ia menjadi guru tetap di sebuah sekolah pedesaan yang jauh dari tempatnya. Kabar baik itu terjadi bersamaan dengan selesainya rumah kecil Tari, dinding yang dilapisi karung-karung bekas telah menjadi kayu dengan pahatan yang rapi bagi seorang pemula, atap dari tenda biru telah diubah menjadi seng dengan warna yang sangat menarik, lantai yang semula tikar-tikar kumuh menjelma menjadi tehel dengan corak yang menawan, meski bukan rumah yang besar namun sudah sangat layak untuk ditinggali oleh keluarga kecil itu.

Setelah cukup lama, Rudi akhirnya bisa lulus dan mendapat gelar sarjana. Kini pemikirannya yang kritis telah dilengkapi dengan ijasah, membuat ia dengan mudah meluncur ke dunia politik. Kabar bahagia tak kunjung berhenti, Tari dan Rudi di karuniai anak laki-laki yang diberi nama zanul, dua tahun setelahnya mereka di karunia bidadari keci yang diberi nama Zahra.

Tahun terus belalu, keluarga kecil mereka telah menjadi keluarga besar, Rudi yang dulunya pengangguran kini telah mendapat peran yang sangat penting dalam dunia politik, semua orang mengenalnya dengan politikus yang bersih dan tentunya sebagai politikus sekaligus seniman. Tari yang dulu di gunjungi oleh tetangga, kini telah menjadi Guru Besar yang di segani oleh semua orang dan yang paling penting ia menjdi guru yang sangat di cintai oleh murid-muridnya, ia tidak pernah malu menceritakan tentang masa suramnya waktu SMA, dan selalu mampu menginspirasi murid-muridnya tentang perjuangannya dalam hidup, mulai dari kisah cinta hingga cita-cita.

Ini adalah kisah seorang perempuan yang hebat, yang melatah dari keterpurukan hingga mampu bangkit, yang melatah dari kesengsaraan hingga serba berkecukupan. Kisah perjuangan seorang wanita yang memiliki hidup yang suram hingga menjadi bercahaya. Perjuangan cinta dan perjuangan dalam hidup.