viollasilviana

" Apapun yang terjadi didalam hidup ini merupakan proses yang Tuhan izinkan, termasuk cinta. Kita dapat memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta tetapi jika Tuhan tidak berkehendak tidak perlu khawatir karena rencana Tuhan bukan yang tercepat, melainkan terindah. "

Apakah Aku Layak ?

Aku terjebak dalam cinta yang sangat dalam, cinta yang bahkan kurasa ia tidak pernah merasakannya. Aku tak dapat menebak seperti apa perasaannya? Untuk siapa hatinya? Apa yang ia pikirkan? Yang aku tau dia baik padaku, dan aku harus menjaganya. Tetapi bagaimana aku bisa menjaganya? Jika berada di sisinya saja sangat tidak memungkinkan. 

Jam menunjukan pukul 06.15, Carol berdiri dari sofa, memakai atribut sekolah lengkap lalu berjalan menuju sekolah setelah memastikan tali sepatunya terikat dengan benar. Ia berangkat lebih pagi karena hari ini adalah hari dimulainya PLS ( Pengenalan Lingkungan Sekolah ). Ia adalah salah satu wanita cantik berkulit putih, tak hanya itu ia juga pintar dalam segala hal. Wajar saja kalau ia di angkat sebagai Wakil Ketua Osis disekolahnya. 

Ia bergegas naik ke Angkutan Umum yang tidak terlalu ramai penumpangnya. 

Hampir 20 menit perjalanan melewati pepohonan rimbun hingga gedung-gedung tinggi akhirnya Angkutan Umum berhenti tepat dihalaman sekolahnya.

" Eh Carol, jangan lupa ya nanti buat siswa/i baru yang ga tau ruangan PLS nya lo tunjukin, kita di aula ya, lo jaga didepan gerbang sini aja. Gue ke atas dulu, sini tas lu gue bawain. " Kata Stefano tergesah-gesah. 

" Oh okee siap. " Jawab Carol. 

Stefano adalah pria berkulit putih, berambut hitam. Pria yang dicintai Carol. Mereka dekat sejak awal resmi menjadi Ketua, dan Wakil Ketua Osis. Ia salah satu pria idaman disekolahnya, tak heran jika 80% perempuan disekolahnya memilih ia menjadi Ketua Osis. 

Carol menunggu siswa/i yang masuk satu persatu. Raut wajahnya cemberut. Bukan karna malas menunggu, melainkan keinginannya yang seharusnya bisa untuk lebih dekat dengan Stefano malah harus menunggu didepan gerbang sendirian bersama angin. 

Bel berbunyi. Carol meninggalkan gerbang menuju ke aula ketika melihat murid-murid sudah mulai sepi di lorong. 

Suasana aula hening. Semua murid baru memperhatikan para osis yang sedang memberi intruksi di depan aula. 

Osis-osis memberikan pengumuman untuk siswa/i tentang barang apa saja yang harus dibawa besok. Kemudian siswa/i diperbolehkan pulang karna hari pertama hanyalah perkenalan dan intruksi dari osis. 

Para osis memberi id line untuk memastikan info yang kurang jelas dapat ditanyakan langsung. Satu persatu murid meninggalkan aula, osis-osis mengadakan rapat sejenak lalu meninggalkan aula. 

"Carol, lu pulang sama siapa? " Tanya Stefano. 

"Sendiri, naik angkot. " Jawab Carol. 

"Bareng gue aja yuk sekalian makan padang, gue bayarin dah. " 

"Bener nih? "

"Iyaaa, ayuk. "

Carol dan Stefano menuju Rumah Makan Padang. Bukan hanya pada Carol, Stefano memang royal ke semua teman dekatnya. Bukan karena ia orang yang mapan, melainkan sahabat adalah segalanya baginya. 

"Pak, nasi rendang 2 yaaa. " Kata Stefano. 

"Ah lu tau aja gue doyan rendang. " Saut Carol.

"Iya dong apa sih yang gue ga tau tentang lu? " Kata Stefano sambil tertawa. 

Mereka menunggu sambil memainkan ponsel masing-masing. Carol membuka Instagram dan tiba-tiba ponselnya bergetar. 

( Line Message )

From: Hans

Melihat mu untuk pertama kali, aku yakin kaulah wanita yang harus aku bahagiakan. 

"Hah, siapa nih orang? bikin gue bahagia? kenal aja engga, malah bikin gue takut." Carol kebingungan. 

"Weh Stef, liat deh masa ada cowo ga jelas yang line gue kaya gini." Kata Carol sambil mengarahkan ponselnya. 

"Ciee ciee.. ada fans tuh kayanya." Stefano meledek. 

"Ih serius, ini siapa ya? kok aneh banget bikin gue takut ajaa."

"Ya elah biasa aja kali, gue sering di line kaya gitu, orang jaman sekarang mah emang iseng." Jawab Stefano dengan santai. 

"Kalo lo sih wajar, lo ganteng, ya pasti banyak yang modusin lah." Carol berkata-kata dalam hati. 

Menu yang dipesan telah diantar dan siap dihidangkan. Stefano langsung memakannya dengan lahap. 

"Laper amat kayanya lo Stef, Hahaha."

"Emang kenapa?"

"Muka lu kaya orang belum makan seminggu."

"Tai lo carol."

"Ih kasarr.. "

"Taingin ku lepaskan maksudnya, Hahaha." Kata Stefano sambil tertawa. 

"Ih ni cowok makin bikin gue baper aja, apa dia juga suka sama gue? ini bukan pertama kalinya dia gombalin gue, ah tapi ga mungkin, tau ah." Carol berbicara dalam hati. 

Mereka menghabiskan makanannya, setelah itu bergegas pulang. Stefano membonceng Carol dengan motor jupiternya. 

"Carol, lu kenapa jomblo? ga laku ya?" Stefano memulai percakapan. 

"Ya enggalah, gue belom mau pacaran aja sampe lulus nanti. ( Ih ni cowo ga peka apa gimana sih, jelas-jelas gue nunggu elo )." Carol berbohong karena takut mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan. 

"Oh gitu, gue besok mau nembak cewe nih, gue udah deket sama dia lama, bahkan sekarang makin deket. Tapi kayanya dia ga mau pacaran deh. Gue jadi takut ditolak. "

"Coba aja dulu, masa cowo takut sih? Ga gentle lo, payah. "

"Iya gue coba deh besok, gue udah siapin semuanya. "

Entah mengapa Carol deg-degan. Karna selama ini hanya Carol teman terdekatnya. Dan ia dingin pada perempuan lain. 

"Kok gue jadi deg-degan gini sih? Jangan jangan dia mau nembak gue? Aduh malah keringet dingin lagi. Sabar Carol lo harus nahan, malu banget kalo dia tau gue kege-eran." Carol berkata-kata dalam hati. 

"Weh udah nyampe coy, kok malah bengong?"

"Eh iyaiya maap tadi gue lagi mikir kunci rumahnya gue taro mana."

"Lah gimana? udah ketemu belum?"

"Udah udah, nih ada dikantong jaket."

"Oke gue pulang yaaa, byee. " Stefano pamit sambil mengelus rambut Carol. 

"Aaaaa dia selalu bikin gue salah tingkah."

Carol memasuki rumah. Ia menaiki anak tangga satu persatu. Ia mengisi daya baterai ponselnya sambil melihat notifikasi yang ada. 

( Line Message )

From: Hans

Kak kok ga bales kak? Aku anak baru yang tadi di PLS in sama kakak. 

Kak? 

Kakak sibuk yaah? 

Carol kebingungan, tetapi tidak ada salahnya jika ia membalas pesan adik kelasnya itu. Ia berfikir akan membalasnya atau tidak. Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi. Ia membalas dengan setengah niat. 

( Line Message )

From: Hans

Kak, kakak jurusan apa? 

   - Aku Ipa, sorry ini Hans yang mana ya? 

Besok aku samperin kakak deh. Biar kakak tau aku yang mana. 

   - Ga usah, send picture aja. 

( Gambar Dikirim )

Itu aku yang pake baju putih kak. 

   - Oh ok

Kakak lagi ngapain? 

Carol menaruh ponselnya. Melihat foto Hans yang berwajah tampang Bad Boy itu membuatnya tidak tertarik. Ia malah memikirkan kata Stefano yang membuatnya tersipu malu. 

"Besok gue dateng siangan ah, biar Stefano dateng duluan daripada gue, terus entar tiba-tiba dia nembak gue. Ah gue jadi ga sabar."

Keesokan Harinya... 

Ternyata keinginan tidak sesuai dengan kenyataan. Baru saja ia menginjakan kaki di aula, ternyata Stefano sedang memegang bunga dan mengungkapkan perasaannya kepada perempuan yang ia cintai. Adik kelasnya. 

"Hah? Dia boongin gue? Dia bilang dia mau nembak cewek yang dia deket, gimana bisa itu cewek? Tuh cewek aja baru masuk dua hari.. Astaga. Apa dia ga tau kalo selama ini gue suka sama dia? Ya Tuhan. Dia cinta pertama gue. Terus gombalan dia selama ini ke gue itu apa? Cuma sebatas temen? Terus kenapa dia elus rambut gue?" Carol berkata-kata dalam hati sambil berkaca-kaca. 

Pria berkulit putih, berambut coklat kemerahan, tinggi yang tak jauh beda dengan Carol, tiba-tiba memegang pundaknya. Ia adalah Hans. 

"Pagi kak, kok kakak bengong aja disini? "

"Haha iya, kamu siapa namanya? kok datengnya pas udah mau bel?"

"Aku Hans kak. "

"Hah?  Hans? Yang kemarin line? aslinya lebih ganteng yaa ternyata. Hahaha. " Carol tertawa berusaha menutupi kesedihannya. 

"Bisa aja kakak. "

"Udah sana duduk. "

Carol masuk ke dalam kelas. Ia berbisik kepada Stefano yang sedang amat gembira pada pagi itu. 

"Ciee itu yang lu suka? Gimana di terima ga? tadi gue udah liat lu nembak dia. "

"Iya diterima, gue seneng banget. Itu cewe yang gue bilang gue makin deket sama dia. Karena dia kan sekarang satu sekolah sama kita. Gue udah deket 7 bulan sama dia, satu tempat les. Udah yuk lanjut PLS nya dulu, udah mau mulai nih."

Carol hanya bisa menahan air matanya. Hatinya sangat hancur. Tetapi apa boleh buat? Orang yang ia cintai justru malah mencintai orang lain. 

Kegiatan PLS dimulai, mulai dari memberikan materi, upacara, sampai pada mengenali lingkungan sekolah dan tata tertib yang ada. 

Semua berjalan dengan lancar. Tiba-tiba, Hans memberikan Carol cokelat. Entah apa yang ada dipikirannya, wajahnya tidak menunjukan senang sedikitpun karna terlalu sakit melihat kejadian tadi pagi. 

"Kakak pulang sendiri?" Tanya Hans. 

"Iyaa."

"Rumah kakak dimana?"

"di Bougenville."

"Aku lewat situ, daripada sendiri bareng aja kak, tapi kalo ga mau gpp kok."

"Hmm boleh dehh."

Diperjalanan, sama sekali tidak ada percakapan. Carol hanya memikirkan Stefano yang jelas sudah menyakitinya. Sesampainya dirumah, Carol mengucapkan terimakasih dan langsung meninggalkan Hans. Hans tau jika Carol sedang tidak baik. Tetapi ia tidak enak untuk menanyakannya. 

Sesampainya dirumah, Hans langsung menelepon Carol. 

"Halo kak, boleh kan aku telepon?" Kata Hans lewat sebrang telepon. 

"Ada apa Hans?"

"Kakak kayanya lagi ada masalah ya? Kok tadi kaya sedih gitu."

" Engga kok."

"Hmm yang bener kak? Aku ga tega kalo liat kakak sedih."

"Kamu tau ga nama cewe yang dikasih bunga sama Stefano?"

"Oh itu Maureen, dia kan sekelompok PLS sama aku. Kenapa kak?"

"Hmm tak ada ruginya jika aku cerita padanya. Toh dia juga tidak akan cerita ke Stefano." Ujar Carol dalam hati. 

"Halo kak, kok diem?"

"Gini Hans, sebenernya aku suka sama Stefano, sakit aja pas liat dia tadi nembak Maureen. sedih banget rasanya."

"Oh jadi kakak suka sama Kak Stefano? Sabar ya kak, cinta kan ga bisa dipaksa. Tapi kalo aku boleh jujur, aku cinta sama kakak pas pertama kali aku liat kakak. Kakak bikin aku penasaran. Kalo kaka ga keberatan, kakak mau ga buka hati buat aku? Itung-itung sambil ngelupain dia. Aku ga mau liat kakak sedih. "

"Hah gimana bisa cinta? kamu aja ga tau semua tentang aku. Maaf untuk buka hati aku ga bisa. " Carol langsung mematikan telepon. 

"Bener-bener bad boy nih cowok, baru kenal aja udah suka,tapi bener juga sih, dia bisa gue jadiin pelampiasan buat ngelupain Stefano. " Kata Carol dalam hati. 

Hari-hari terus berlalu, Carol menjalani hari seperti biasanya. Ia berusaha melupakan Stefano yang sudah bahagia bersama perempuan lain. Setiap hari ia chatting dengan Hans. Sudah hampir 4 bulan dan rasa itu belum juga muncul. 

"Aku udah sabar menunggu supaya kakak bisa buka hati yang bahkan sampai detik ini sama sekali belum terlihat kalau kakak simpatik sama perasaan aku. Apa aku harus terus menunggu sementara yang ditunggu mengharapkan apa yang telah hilang? "

Carol sadar bahwa Hans setia menunggunya. Ia berusaha membuka hati untuk Hans. Namun seiring berjalannya waktu, Hans semakin cuek, bukan karena perempuan lain, namun ia lelah perjuangannya selama 4 bulan ini sia-sia. 

Carol baru merasakan kehilangan semenjak Hans jarang membalas pesannya. Ia baru sadar ternyata sudah ada perasaan nyaman yang muncul sejak 1 bulan kemarin. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Hans. 

"Hans?"

"Kenapa kak? tumben telepon duluan?"

"Kayanya aku udah bisa buka hati aku buat kamu deh, aku baru sadar, kamu jauh lebih baik dari Stefano, dan aku nyaman sama kamu."

"Kak, mumpung belum mulai. Kakak suka sama orang yang lebih pantas aja kak. Waktu aku patah hati, kakak kemana? Kalau saat itu kakak patah hati dan tau rasanya itu sakit, kenapa kakak ngebiarin aku ngerasain itu juga? Aku rela kakak ngebahas Kak Stefano setiap hari, aku bertahan karena rasa sayang aku lebih besar dari rasa sakit. Namun sekarang aku udah mundur kak, aku lelah. Udah seharusnya aku pergi, lagian aku lebih muda dari kakak. Kakak bisa cari yang lain yang lebih dewasa dari aku."

"Kamu dateng disaat aku belum lupain dia, dan sekarang kamu pergi disaat aku udah lupain dia? Memang aku yang salah. Aku terlalu memikirkan perasaanku. Sampai aku lupa ada seseorang yang patah hatinya karna aku. Maaf Hanss.."

"Oke kak. Aku pergi, kita bisa menjadi teman baik kok."

Untuk kedua kalinya hatiku disakiti oleh lelaki yang aku cintai. Apakah Aku Layak? Apakah Aku Layak di Cintai? Entahlah. Semua datang lalu pergi. Semakin dikejar semakin jauh. Aku tidak tau, mengapa semua meninggalkan. Seharusnya saat aku memulai mencintai aku harus menerima resiko apakah akan berakhir bahagia atau sebaliknya. Aku terlalu cepat mencintai. Mungkin Tuhan sudah mempersiapkan lelaki yang mau menerimaku apa adanya kelak. Bukan yang tercepat, melainkan yang terindah. 

PriskaMatius

w kira carol bakal jadian ama hans, lumayan keren sih gk ketebak


selma

keren bgt ceritanya, bisa berbagi cerita??