istikus

Satu langkah kecil yang kamu ambil, bisa jadi langkah paling penting dalam hidupmu.

SATU KALIMAT YANG SULIT TERUCAP

 

Sore itu, seperti akhir pekan biasanya, aku duduk di salah satu bangku di peron stasiun. Menunggu kedatangan kereta yang akan membawaku pulang ke kota tetangga. Biasanya aku bisa mengejar jadwal kereta jam 6 sore, tapi karena ada sedikit urusan di kampus, aku ketinggalan kereta itu. 

Jarum jam menunjukkan pukul setengah 7 malam. Tiket untuk kereta jam 7 sudah di tangan. Masih setengah jam lagi aku harus menunggu. Stasiun di akhir pekan memang selalu ramai. Banyak yang pergi dan banyak pula yang datang. Aku duduk sendiri, membaca novel untuk menghilangkan kejenuhan sambil sesekali melihat kereta yang singgah di stasiun itu. 

Deg. Jantungku serasa berhenti ketika tanpa sengaja aku melihat sesosok laki-laki yang aku kenal, duduk di bangku seberang. Dia duduk sendirian, dengan kemeja flanel yang kancingnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaos polos hitam di dalamnya. Sama seperti diriku, dia juga sedang membaca buku. 

"Reza.." ucapku lirih. Aku melihatnya dari jauh, memastikam memang itu orang yang aku maksud. Dan ya, memang benar. Dia Reza, teman SMA ku dulu. Sahabat baikku. Atau mungkin lebih tepatnya mantan sahabat baikku. 

Aku tersadar dari lamunan ketika petugas stasiun mengumumkan bahwa sebentar lagi kereta yang aku tunggu datang. Aku berdiri, begitu pula Reza. Ya, aku tahu kami menunggu kereta yang sama, untuk pulang ke kota yang sama. Dalam hati aku berharap agar dia tak melihatku, agar kami tidak masuk di gerbong yang sama. 

Kami berdiri berhadapan, dipisahkan satu lajur rel kereta. Aku terus menunduk, kemudian memakai masker dan kaca mataku. Berharap dia tidak melihatku. Aku masih menunduk, sampai akhirnya kereta datang. Aku sengaja berjalan ke kanan agar tidak masuk di gerbong yang sama dengan Reza. 

Kereta di akhir pekan, selalu ramai. Sudah bukan rahasia lagi kalau aku harus siap berdiri selama satu setengah jam. Dan apesnya, waktu itu aku memang harus berdiri di antara mahasiswa dan pekerja kantoran yang masih memakai seragam kerja mereka. Aku memasang headset, bersiap mendengarkan musik favoritku selama perjalanan berlangsung. 

Deg. Lagi-lagi jantungku serasa berhenti. Aku melihatnya, sosok yang aku hindari. Dia duduk di dekat jendela, masih dengan buku bacaan di tangannya. Aku mengalihkan pandangan, bergeser agar jarak kami menjauh dan memastikan dia tidak melihatku. Ya, sepertinya aku berhasil menghilang dari jarak pandangnya. 

***

Aku menatap langit-langit kamarku. Kepalaku masih dipenuhi oleh wajah Reza. Sudah 3 tahun lamanya kami tak bertemu meskipun berada di kota yang sama. Reza adalah alasan di balik ketidakhadiranku dalam reuni sekolah. Dia pula yang menjadi alasan di balik aku yang selalu menjadi "tiba-tiba sibuk" ketika ada acara buka puasa bersama satu angkatan. 

"Dia belum berubah. Wajahnya masih sama. Apakah hari ini dia melihatku? Apa dia membenciku? Apa dia sudah lupa denganku?" tanyaku pada diri sendiri. Aku menghela napas. Rasanya sungguh aneh ketika tanpa persiapan apa-apa justru aku melihatnya lagi. 

Aku mengambil handphone-ku. Membuka aplikasi instagram. Kuketik nama reza di tab search, berharap menemukan akunnya. Dan benar saja, dari sekian banyak nama Reza Anandika yang muncul, wajah Reza muncul paling atas. Aku berniat melihat-lihat galeri instagramnya, tapi kemudian mengurungkan niat itu. Entah karena apa. 

Aku kembali memandang langit-langit kamarku. Dan seperti mesin waktu, ingatanku kembali pada 3 tahun lalu. Terakhir kali aku bertemu dengan Reza. 

Tiga tahun yang lalu, di sebuah cafe kecil di kota ini. Aku duduk berhadapan dengan Reza. Kami bertengkar. Aku merasa Reza terlalu mencampuri urusan asmaraku. Aku merasa Reza memperlakukanku seperti anak kecil yang tak bisa menilai baik dan buruk seorang laki-laki. Aku merasa Reza hanya cemburu karena waktuku untuknya berkurang. Aku merasa Reza iri karena aku lebih dulu memiliki kekasih dibanding dia. 

"Dis, aku cuma pengen kamu hati-hati sama Aldo. Dia temen SMP-ku. Aku kenal dia, aku tau dia kaya apa." ucapnya waktu itu. 

"Apa? Kamu mau bilang dia playboy? Pecandu narkoba? Aku tahu Za. Tapi itu dulu." Aku membela Aldo, kekasihku waktu itu. 

"Orang nggak bakal segampang itu berubah Dis. Aku nggak mau kamu terjerumus jadi kaya dia." 

"Bukan berarti kamu bisa ngancem-ngancem dia seenak kamu, Za. Kamu pikir kamu itu siapa beraninya datengin dia, ngancem dia bawa-bawa namaku. Kamu pikir kamu siapa?!" 

Reza terdiam. Senyum getir tersungging di bibirnya. 

"Aku..aku orang yang...orang yang peduli sama kamu." ucapnya lirih. 

"Peduli kamu bilang? Yaudah mulai sekarang nggak usah sok peduliin aku lagi. Oke?" Aku berdiri kemudian meninggalkan Reza begitu saja. 

Di sisa malam itu, kepalaku dipenuhi Reza. Sampai akhirnya aku tertidur. 

***

Di satu akhir pekan yang lain. Aku duduk di bangku yang sama di peron stasiun. Jarum jam menunjukkan pukul 16:45. Lima belas menit lagi keretaku datang. Aku sengaja mengejar kereta yang lebih awal, berharap tidak melihat Reza lagi. 

Tapi ternyata takdir berkata lain. Di bangku yang sama di seberang rel, lagi-lagi aku melihatnya. Reza duduk, terlihat sibuk dengan handphone-nya. Aku bergegas memakai kaca mata dan maskerku, mengambil buku dan pura-pura sibuk membacanya. 

Bagaimana mungkin? Aku sengaja memilih kereta 2 jam lebih awal, kenapa dia ada di sini? Kenapa? 

Aku terus bertanya dalam hati. Terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi. 

***

Apakah kalian percaya takdir. Aku percaya. Setelah dua kali berturut-turut aku melihatnya di stasiun, menaiki kereta bahkan gerbong yang sama, hal itu masih terus berlangsung. Waktu itu kali ke-5 aku melihatnya. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhku. Campuran rasa rindu, rasa bersalah, dan rasa gengsi yang membuatku bingung. 

Aku tahu, aku bersalah pada Reza. Aku bersalah karena memutuskan persahabatanku dengannya begitu saja. Aku bersalah karena tidak percaya dengan ucapannya waktu itu. Dan yang paling membuatku merasa bersalah adalah bagaimana aku selalu menghindarinya selama 3 tahun dan malu untuk meminta maaf padanya. 

Aku sudah memutuskan. Aku akan memperbaiki semua itu. 

Kereta datang. Aku memasuki gerbong yang sama dengannya. Waktu itu masih siang, kereta tak sepenuh biasanya. Dia duduk dekat jendela. Tempat duduk di sampingnya masih kosong. Seakan semesta mendukungku untuk menghampiri dan menempatkan diriku di sampingnya. 

Aku menghela napas. Menelan gengsiku bulat-bulat. Perlahan aku berjalan ke arah Reza, kemudian duduk di sampingnya. Reza tak bergeming, sepertinya dia tak menyadari kehadiranku. Aku masih mengumpulkan keberanianku untuk menyapanya. Rasanya sangat berat untuk sekedar membuka mulut. 

"Kok tumben ikut kereta siang?" Reza bertanya, tanpa melihatku. Pandangannya masih tertuju pada buku bacaannya. Sesaat aku bingung kemudian aku sadar, ternyata selama ini dia menyadari kehadiranku. 

***

Hari ini, 3 tahun berlalu setelah langkah kecil yang aku ambil di gerbong kereta itu. Langkah kecil yang akhirnya mendamaikan aku dan Reza. Langkah kecil yang kembali menyatukan kami berdua. 

Hari ini, 3 tahun berlalu setelah aku berkata "aku minta maaf" padanya. Tiga tahun berlalu setelah aku mengucapkan kalimat yang sebelumnya teramat sulit aku ucapkan. 

Jika 3 tahun yang lalu aku tak mengambil langkah kecil itu, aku tidak akan berada di sini sekarang. Jika 3 tahun yang lalu aku masih bertahan pada gengsi dan egoku, aku tak akan bersamanya sekarang. 

 

Aku dan Reza duduk di satu bangku di peron stasiun. Menanti kedatangan kereta yang akan membawa kami, menuju tempat bulan madu di luar kota. 

hanami

Kamu temanku ya? Kenapa cerita ini seperti kisah cintaku ya? Tapi aku belum menikah. Apa cuma mirip saja?


hanami

Tolong kamu balas. Apa benar kamu temanku? Walaupun agak berbeda tapi ini ceritanya mirip dengan kisah cintaku. Tolong dibalas ya.


hanami

Kamu Desi atau Linda? Hanya mereka yang tau cerita cintaku. Tolong mengaku saja.


istikus

halo kak, aku isti bukan desi atau linda. kalo ada kemiripan cerita ini dengan kisah kakak, itu hal yg tidak disengaja. hehe