Putrinap

"Sesungguhnya Sang Pencipta adalah Maha Adil. Tetapi, yang di ciptakan-Nya terkadang keluar dari jalan terbaik yang di tetapkan-Nya"

Indah dan Wina sudah saling mengenal sedari kecil. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Jika Indah adalah seorang yang pendiam, maka Wina adalah seorang periang. Jika Indah lebih suka mendengarkan maka Wina lebih suka berbicara. 

Mereka sedang mengunjungi salah satu toko buku yang menjual berbagai macam peralatan sekolah, saat hujan mengguyur wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
" Akhirnya kita bisa satu sekolah ya Win". Kata Indah dengan tersenyum bangga karena bisa bersekolah bersama sahabatnya. 
" Hahaha bener Nda, kita selalu beda sekolah, dan akhirnya pas SMA kita bisa satu sekolah deh". Kata Wina tak kalah bangganya. 

Mereka terus mencari peralatan yang di perlukan nanti sambil menunggu hujan reda dan merencanakan apa yang akan di lakukan di sekolah baru mereka bersama-sama. Hingga Indah pun tak menyadari bahwa ponselnya bergetar sedari tadi tanpa henti. 

"Kayanya punyaku cukup Nda". Kata Wina sambil melihat keranjangnya yang berisi buku, pulpen, penggaris dan juga stabilo.
Indah juga melihat ke keranjang yang dibawanya. "Yaudah, ayo kita ke kasir". Kata Indah sembari menggenggam tangan Wina yang kosong. 

Setelah mereka selesai berbelanja, mereka pun memutuskan pulang kerumah masing-masing menggunakan angkot. Karena angkot yang mereka tunggu tidak kunjung tiba. Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, Indah pun membuka ponselnya yang penuh dengan panggilan tak terjawab.

"Wow, banyak banget". Kata Indah dengan mulutnya yang berbentuk huruf O karena terkejut dengan panggilan dari Neneknya.
"Kamu kenapa? Sampe segitunya". Kata Wina yang penasaran.
"Eh, ini Nenek telepon aku segini banyaknya. Ada apa ya?". Kata Indah sambil memperlihatkan ponselnya ke arah Wina.
"Ah paling si Nenek nyuruh kamu pulang". Kata Wina sambil mengayunkan tangan kedepan, memberhentikan angkot yang datang. Indah pun hanya mengangguk setuju.

Setibanya ditempat tujuan, mereka pun turun dari angkot dan pulang ke rumah masing-masing.
"Dah Indah, hati-hati oke". Kata Wina di pintu gerbang rumahnya sambil mengacungkan jempol untuk Indah. Indah pun membalasnya dengan melambaikan tangan.

Masih ada berpuluh-puluh meter lagi untuk Indah sampai kerumahnya. Langkah demi langkah pun Indah sampai di rumahnya. Indah membuka pintu gerbang dan dapat melihat Neneknya sedang duduk dibangku dekat pintu masuk kedalam rumah, sambil terus menerus melihat Indah dengan tatapan khawatir. 


"Nenek ngapain malem-malem diluar, ayo masuk. Disini dingin apalagi tadi habis hujan". Ajak Indah sambil menggenggam tangan Neneknya. Kulitnya yang kenyal dan tidak kencang lagi, langsung dapat Indah rasakan.

Mereka duduk disofa ruang keluarga, sambil melanjutkan percakapan yang belum usai itu. 
"Nenek khawatir Neng, kamu ditelepon ga di angkat-angkat". Kata Nenek menjawab pertanyaan Indah tadi.
"Nih lihat Nek, aku habis pergi ketoko buku sama Wina. Gasabar deh buat sekolah besok". Kata indah tersenyum sambil memamerkan belanjaannya. 
"Akhirnya Indah satu sekolah juga Nek sama orang yang udah Indah kenal. Seneng deh". Kata Indah melanjutkannya. 
"Alhamdulillah ya Neng, jadi kamu ga terlalu diem lagi disekolah". Kata Nenek, karena Nenek tau Indah tidak mudah bergaul dengan orang-orang baru. 

Saat Indah TK maupun SD, Nenek yang mengantar jemput Indah sekolah karena Ibunya sibuk bekerja dan Ayahnya telah meninggal dunia saat Indah berumur 4 tahun akibat kecelakaan. Dan pada saat kelas 2 SD Ibunya menyusul sang ayah pergi selama-lamanya karena penyakit jantung. Sungguh, Indah adalah anak yang membutuhkan seseorang yang penuh kasih sayang.

"Asikkkk, iya dong Nek". Kata Indah bertepuk tangan seperti merayakan kemenangan. 
"Yaudah sana tidur, temenin Kak Likha" Kata Nenek. 
"Loh, ada Kak Likha? Udah ga kerja lagi di Medan?". Indah bertanya kepada Nenek. 
"Masih, tapi udah diizinin sama bosnya buat dateng kesini". Jelas Nenek. 
"Kenapa gak bilang dari tadi Nek, aku kan gak perlu lama-lama disini sama Nenek". Kata Indah memasang wajah cemberut mencoba menggoda sang Nenek. 
"Eh, kok kamu gitu sama Nenek. Yaudah, tidur sana besok sekolah". Kata Nenek membalas dengan wajah pura-pura sedih.
"Dah Nenek, aku mau tidur sama Kak Likha". Kata Indah melambaikan tangan.

Esok harinya, mereka bertiga sarapan bersama-sama.
"Kak Likha, kok bisa diizinin buat pulang kesini sih?". Kata Indah membuka pembicaraan.
"Bisa dong, orang bosnya nurut sama aku kok". Kata Kak Likha sambil tertawa.
"Ih, mana ada bos nurut sama karyawan". Kata Indah terheran-heran. 
"Ada dong, kalau si bos gak nurut sama Kakak, bakal Kakak pecat. Apa lagi sampai gak ngizinin buat ketemu Nenek sama kamu". Jelas Kak Likha.
"Kamu ini Lik, suka banget bikin adiknya bingung, jadi bosnya ini pacarnya Kak Likha Neng". Kata Nenek membenarkan. 
"Ih, Kakak kok gak pernah cerita apa-apa sama aku, yaudah ya aku berangkat dulu". Kata Indah sambil mencium tangan Nenek dan Kak Likha. Indah berangkat sekolah tanpa peralatan yang aneh khas siswa siswi yang mengikuti MOS, karena itu telah dilarang

Sesampainyaa di sekolah, Indah kebingungan mencari keberadaan Wina. Indah sendiri sedang berdiri didepan koperasi sekolah sambil mengamati orang-orang yang berada di lapangan. Indah sangat tidak menyukai suasana yang seperti ini. Suasana yang penuh dengan orang-orang baru, tidak kondusif, suara teriakan siswa dan siswi saling bersahutan satu sama lain hanya membuat Indah pusing. 

Tidak lama kemudian sosok Wina terlihat di sekumpulan orang-orang yang sepertinya sedang berkenalan satu sama lain. Dan pada saat itu juga terdengar suara yang menyuruh seluruh siswa siswi baru berkumpul di lapangan sekolah.

Indah langsung pergi kearah Wina. "Win". Kata Indah sambil menepuk pundak Wina.
Wina pun menengok kearah Indah. "Eh, Kamu baru dateng Nda". Kata Wina.
"Aku tadi nyari kamu dari sana". Kata Indah sambil menunjuk kearah koperasi. Wina pun hanya mengangguk saja untuk mengiyakan pernyataan Indah. 

"Win kayanya kita sekelas deh, tapi gatau juga si". Kata seorang siswi yang tidak aku kenal. 
"Amin, pasti seru nih kalau kita sekelas" Mereka berdua pun tertawa bersama.
Aku hanya tersenyum melihat mereka, seperti orang yang sudah lama saling kenal, tak canggung sedikitpun. Tak lama kemudian, Angggota OSIS menyuruh siswa siswi untuk mencari kelas mereka masing-masing dengan cara melihat daftar nama yang ditempel disetiap jendela-jendela kelas. 

"Ayo Nda". Ajak Wina. Mereka berkeliling mencari dimana kelas mereka sebenarnya. 
"Yes, benerkan apa kataku tadi, kita IPS 1 Win". Kata Wulan dengan wajah bahagia. 
"Kita beneran sekelas Lan?". Kata Wina dengan wajah bahagianya juga. 
Indah melihat daftar nama yang tertempel dijendela, mencari cari nama Indah Permata tapi tak kunjung Indah temukan. 
"Yah Nda, kayanya kita gak sekelas deh Nda". Kata Wina mengerucutkan bibirnya.
Indah tersenyum "Gapapa kok, kan masih bisa ketemu, kayanya kelas IPS 2 disebelah kelas kamu". 
"Oke, kamu bisa sendirikan kekelas kamu?". Kata Wina bertanya.
"Emmm bisa". Kata Indah sambil mengangguk.

Bel pulang sekolah sudah terdengar, Indah menuju kekelas Wina untuk pulang bersama. Tapi, Indah tidak menemukan keberadaan Wina. Indah pun pergi ke toilet untuk mencuci tangannya yang terasa kotor. 

"Loh, aku kira kamu udah pulang. Tunggu ya aku cuci tangan sebentar dulu". Kata Indah berbicara kepada Wina yang ternyata sedang berada di toilet bersama Wulan. 
"Eh, kayanya aku gak pulang bareng kamu deh Nda, maaf ya". Kata Wina memberi tahu.
"Iya nih, maaf ya aku ajak Indah pergi dulu hari ini". Kata Wulan kepada Indah.
"Oh gitu ya, yaudah gapapa kok". Kata Indah masih bisa tersenyum.
"Dah Indah, maaf banget ya". Kata Wina melambaikan tangan. 
Terlintas sedikit perasaan yang mengganggu Indah, Indah merasa Tuhannya tidak adil terhadap Indah. Indah menggeleng-gelengkan kepala untuk menghapus prasangka buruk itu.


Setibanya dirumah, Indah melihat Kak Likha yang sedang menuntun Neneknya berjalan. Indah langsung terburu-buru mendekati Kakak dan Neneknya.
"Loh, Nenek kenapa Kak?". Kata Indah khawatir.
"Tadi Nenek jatuh dari kamar mandi". Jelas Kak Likha sambil duduk diatas sofa.
"Astagfirullah, udah gak sakit kan Nek?". Kata Indah menanyakan keadaan Neneknya.
"Ah gapapa, tadi Nenek sedikit shock aja". Kata Nenek sambil tersenyum mencoba tak membuat kedua cucunya itu khawatir. 

Keesokan harinya, Indah, Nenek dan Kak Likha seperti biasa sarapan bersama.
"Berangkat dulu ya Nek, Kak". Kata Indah berpamitan untuk ke sekolah.
"Langsung pulang ya Neng, jangan main dulu pas pulang". Kata Nenek sambil tersenyum.
"Siap Nek". Kata Indah sambil melambaikan tangan.

Kegiatan belajar mengajar pun selesai. Semua siswa dan siswi merapihkan peralatan mereka secepat mungkin supaya cepat sampai dirumah dan beristirahat.
Indah keluar kelas, dan saat itu ada Wina dan Wulan.
"Ndaaa". Kata Wina berteriak. Indah pun menghampiri Wina.
"Kenapa Win?". Kata Indah bertanya.
"Ke gramedia yuk, beli novel The General Wife. penasaran banget nih, pengen baca versi cetaknya". Jawab Wina. 
"Iya tuh Nda, ayo ke gramed. Masih jam 14.00, gabakal lama kok". Wulan menimpali.
Indah masih memikirkan ajakkan Wina. "Boleh, aku juga mau beli LiFe". Kata Indah tersenyum bahagia, akhirnya Indah bisa pergi bersama dengan Wina lagi. 

Mereka bertiga pun pergi membeli buku, setelah terbeli mereka bertiga pun makan bersama hingga jam menunjukan pukul 6 sore. 
"Astagfirullah, pulang yuk udah mau maghrib". Kata Indah kaget melihat jam tangannya.
"Bentar Nda, makanannya belum turun nih". Kata Wina sambil mengelus-elus perutnya.
"Yaudah, kalau gitu aku pulang duluan aja naik ojek". Kata Indah. 
"Eh, tapi aku gak bawa handphone. Pinjem handphone kamu Win". Indah melanjutkan.
"Yah... Low Nda". Kata Wina menggelengkan kepala.
"Nih, pesen aja". Wulan menyodorkan handphonenya ke Indah. 
"Dah, aku duluan". Kata Indah terburu-buru menghampiri tukang ojek. 

Pun Indah sampai di depan rumahnya, bukan satu atau dua orang lagi yang menyambut kedatangan Indah. Sudah banyak para tetangganya yang menunggu sedari tadi. 
Dada Indah berdetak tak karuan. Indah yakin ada yang tidak beres disini.

"YaAllah Neng, jam segini baru pulang. Kamu gimana sih, YaAllah". Kata Ibunya Wina sambil menahan tangis menggoyang-goyangkan tubuh Indah.
Indah tidak menghiraukan orang-orang disekitarnya dan terus berjalan masuk kedalam rumah. Ada yang berbisik-bisik, menggelengkan kepala bahkan menangis. Indah menguatkan hatinya untuk menahan tangis.

Terdengar suara menangis yang sangat ia kenal, ya Kak Likha. Indah melihat Kakaknya memeluk tubuh yang tertutupi kain dari ujung kaki keujung kepala, tak terlihat lagi kuku jari maupun sehelai rambut. Lagi, Indah tidak menghiraukan pemandangan pedih itu, Indah menarik nafasnya dalam-dalam dan bergegas menuju kamar dan menguncinya. 

Indah menangis, menyesali yang telah usai. Seharusnya Indah tidak mengubah-ubah jalan terbaik yang telah ditetapkan-Nya. Jikalau Indah mengerti apa maksud dari perubahan-perubahan kecil disekitarnya.

Bukan tanpa alasan Allah menjauhkan Indah dari Wina walau hanya sebentar. Jika saja Indah tak berburuk sangka sudah pasti kejadian ini dapat dicegah, walaupun Indah tidak bisa mengubah takdir yang menetapkan umur seseorang, tetapi setidaknya Indah tetap ada disamping orang yang Indah sayangi saat ajal menjemput.