Dimana aku mulai tersadar betapa dunia ini sangat luas, dia sudah memperlihatkan kepada ku saat hujan di senja hari aku sadar aku ini siapa, aku ini bukan apa-apa.
Bodoh bukan berarti nakal, pintar bukan berarti dialah segala-galanya. Kata ini kudengar dari sebuah penayangan iklan motivasi. Aku mengerti apa maksud dari kalimat itu, namun hal itu tidak bisa ku hindari. Sekali bodoh ya tetap bodoh dan nakal, selalu kalimat itu yang mengelilingi otakku. Terkadang aku juga sering menghkayal bahkan bermimpi didunia fantasi, semua yang ku bayangkan berkebalikan dengan isi otakku yang sebenarnya.
Di dalam dunia itu aku terlihat cantik, memakai pakaiaan gaun yang indah, serta membayangkan aku sangat terkenal didunia dengan kecerdasanku. Berkelana mengitari dunia yang tanpa batas ini aku pergi menggunakan jet pribadi milikku. Bahkan aku bisa mencabuti bulu burung yang sedang terbang didekat jet ku. Waw itu sangatlah mustahil bukan.
Melihat beberapa gerombolan orang berjalan di Gurun Sahara serta diikuti oleh unta-unta yang mengekori mereka. Namun brak.... bunyi pukulan keras menghantam ketelingaku., aku terbangun dan mimpiku seketika luntur. Semua mata memandangiku “Kamu keluar dari kelas saya!!” aku pun langsung berdiri setelah mendengar ucapan Pak Hartono.
Ketika aku berjalan keluar kelas bisikan-bisikan halus oleh teman-temanku terdengar nyaring ditelingaku. Aku tak peduli apa yang mereka katakan, dan segera ku percepat langkah ku keluar kelas.
Aku duduk di taman belakang sekolahku, seraya menatap hasil ulangan ku yang mendapati tinta merah alias tidak tuntas. “aku tau aku bodoh, aku tau aku gak bisa di semua pelajaran semuanya bakalan hancur kalau aku ikut campur tangan” aku berbicara sendiri sambil memikirkan apa yang salah dengan diriku.
“Bukan karena lo yang bodoh dan bukan lo yang nakal atau semacamnya, tapi usaha lo yang ngak ada” segera ku menoleh kebelakang, aku mendapati Daniel yang sedang berjalan kearahku.”Lah, kenapa lo berdiri Bill ?” ucapnya sambil tertawa geli.
Bagaimana aku tidak kaget, Daniel orang yang tak pernah berbicara kapada ku, tak pernah menyapa ku walaupun kita satu kelas.
“Kamu ngapain kesini?” tanya ku agak tebata-bata.
“Emangnya gue gak boleh kesini?”
Daniel langsung duduk di kursi yang ku duduki tadi. Aku langsung berjalan meniggalkan tempat itu tanpa menghiraukan ucapan Daniel. Setiap orang yang ingin berbicara padaku, pasti ia akan ikut ketularan bodoh dengan ku. Itulah anggapan teman-teman sekolahku padaku. Mana mungkin aku bisa berbicara dengan Daniel orang yang selalu mendapat peringkat terbaik disekolahku.
“Lo bisa aja nganggap diri lo itu bodoh, tapi dari sekian kekurangan lo itu dibaliknya pasti ada kelebihan tersembunyi” Daniel berhasil membuat langkah kaki ku terhenti. Dia berjalan kearahku dan memberikan secarik kertas ketanganku.
“Nilai yang bagus Salsabilla, temui gue besok ditempat ini, ketika senja akan menyapa langit” Dia berhasil membuatku terpengah oleh kata-katanya, dan ini untuk pertama kalinya aku mencerna kata-katanya yang tak masuk akal sambil menatapi punggungnya yang lebar menjauh dari pandangan ku.
***
Ucapan Daniel tadi masih terngiang-ngiang dikepala ku ketika senja akan menyapa langit, sungguh jangan buat aku menjadi Insomnia oleh perkataannya tadi. Tapi suara ketokan pintu itu berhasil membuat pikiranku blur.
“Billa, kamu belum makan loh dari tadi. Segera kebawah ya” ucap mama ku, dan beranjak meninggalkan kamar ku.
Namun, langkah Mama terhenti dan mendekati meja belajar ku. “Mama gak tau lagi apa yang harus mama lakukan, bahkan nilai kamu itu tidak pernah membuat mama bahagia” wajah Mama memerah seketika, ketika melihat hasil ujian ku.
“Maaf” hanya itu yang bisa kuucapkan dari mulutku.
Aku hanya bisa menunduk kepala ku dengan malu. Sungguh aku sangat malu kepada diriku, bahkan belajar pun tak pernah terniat dikepala ku. Mama langsung meninggalkan kamar ku dengan penuh kekecewaan.
Tangisan ku pecah sejadi-jadinya. Ingin rasanya aku tak perlu mengenal dunia ini, tanpa menaggung beban yang menurutku sangat berat ini. Aku ingin bisa mengubah diriku menjadi seeorang yang lebih baik, bukan Billa yang selalu dianggap remeh oleh orang lain.
***
“Kenapa nama ku gak ada dikelompok ?” tanya ku kepada Dinda, entah apa maksudnya nama ku tidak ditulis di dalam kelompok. Dinda terus bejalan tanpa menghiraukan ku, aku sedikit sakit hati kemudian aku mencekal tangannya.
“Mau lo itu apaan sih?” seisi kelas memandangi aku dan Dinda
“Kenapa nama aku gak kamu tulis?”
“Karena lo itu gak ada gunanya dikelompok, lo ngak pernah ngasih ide di dalam kelompok”
“Setiap aku mau nyalurin ide ku, kamu selalu menyanggahnya dan ngak pernah hargai pendapat ku” aku sangat kesal kepada Dinda, “Karena ide dan pendapat seperti orang bodoh dan orang yang suka biki masalah kayak lo itu semuanya sampah” aku langsung terdiam, bahkan orang tuaku pun tidak pernah menganggap ucapan ku itu sampah.
Disisi lain Daniel hanya memandangiku dengan tatapan yang tidak aku mengerti, tapi sebuah ucapan terukir dibibirnya. Daniel seperti berkata senja kepada ku. Aku kembali mengingat hal kemarin janji di taman belakang sekolah.
Kembali kulipat kedua tangan ku keatas meja dan merebahkan kepala ku yang sudah sangat blank atas kejadian tadi.
Aku tertidur pulas dikelas tanpa seorang pun yang membangunkan aku, segera kulihat jam di dinding sekolah. Jam itu menunjukkan pukul 17. 40 “gila, udah senja” segera aku bangkit dari kursi ku. Aku bahkan lupa dengan janji ku kemarin dengan Daniel.
Ini taman belakang sekolah yang sudah di janjikan Daniel tadi, tapi aku tidak melihat dia disana. Hanya pandangan luas yang kosong terpampang nyata di mataku. Mungkin Daniel sudah pergi dari tempat ini. Aku pun membalikkan tubuh ku untuk kembali pulang, tapi entah sejak kapan Daniel berdiri di belakang ku dengan wajahnya yang datar dan polos, tubuhnya yang jangkung serta bola matanya yang berwarna coklat itu memandangiku secara dalam.
Aku gugup, segera aku mengalihkan pandangan ku. “Aku kira kamu berbohong” aku terus menundukkan kepala ku tanpa menatap wajahnya.
“Gue udah nunggu lo dari tadi tau, rasa nungguin kucing beranak tau gak “ perkataan Daniel berhasil membuatku melukiskan senyuman. “Lo kayak Raisa tau gak kalau lagi senyum” Godanya lagi.
“Kita mau ngapain ini?” tanya ku malu sambil berjalan duluan darinya.
“Eh, kalo lo jalan duluan sendiri hati-hati ya di belakang lo”
“Belakang aku kan kamu?” jawab ku polos, Daniel hanya tertawa dibelakang ku. “Gue mau ngajakin lo ke suatu tempat” ucapnya sambil menarik lenganku dan menyodorkan helm nya kepada ku.
“Ngapain helm lo pandangin? Ini helm punya gue, jangan jatuh cinta sama helm gue” aku hanya pasrah, Daniel sangat nyinyir. Segera kupasang helm nya dan menaiki motornya. Dalam sekejap saja motor Daniel berhenti. Motornya hanya melaju 5 menit dari sekolah ku.
“Lah kok berhenti disini?” tanya ku heran. Kenapa harus naik motor coba, kalau tujuannya Cuma di persimpangan dekat lampu merah dan itu pun jaraknya dekat dengan sekolah.
“Lo gak mau turun ya, lo mau boncengan terus ya sama gue?” sumpah perkataan yang menijijikan dari Daniel membuatku segera turun dari motornya. “Bill, helm nya mau lo bawa pergi?” wajah ku memerah karena nya, aku malu, akupun melepaskan helm di kepala ku. “Kita ngapain disini? , ini hujan loh” tanya ku heran.
Daniel mendekati ku dan menarik lengan ku untuk berteduh di kedai yang saat ini tutup. Matanya tampak memandang segerombolan pengamen-pengamen cilik dan beberpa anak-anak kecil yang tengah menjual korannya kepada setiap pengendara yang melintas didekat mereka. Sekali-kali mereka kena hardikan oleh pengendara mobil maupun motor itu.
“Lo lihat mereka, orang-orang seperti mereka tanpa alas kaki itu, dengan baju seadanya, terkadang makan, terkadang mereka menahannya laparnya selama berhari-hari” Daniel menghela nafasnya dengan sangat panjang “mereka itu ingin mencicipi pendidikan seperti kita, ingin berseragam seperi kita, ingin suskses nantinya tanpa harus berhujanan dan berjemuran seharian tanpa harus menahan lapar mereka”. Daniel terus mengamati gerak-gerik anak kecil itu.
Sekarang keadaanku terpengah oleh kata-kata Daniel,walau tidak banyak yang dia ucapkan tapi ucapannya sangat bisa ku jadikan pelajaran bagiku. “Sedangkan lo, masih bisa makan, apa yang lo ingin kan bisa lo dapetin, lo harus belajar dari mereka, lo bisa menumbuhkan motivasi lo hanya melihat disekitar kita”. Lanjutnya lagi, dan sekarang ia menatapku seperti aku mempunyai salah yang sangat banyak.
“Aku sadar selama ini, aku hidup cuma main-main saja, tanpa memperdulikan keadaan orang tuaku, mereka menghabiskan duitnya buat biaya sekolah ku, tapi aku tidak pernah membuat mereka bahagia karena ku” tes, air mata mulai berjatuhan di pipiku, mata ku tak bisa menahannya lagi. Hujan yang saat ini menemaniku saat menangis tanpa memperdulikan orang-orang disekitarku melirik kearah ku.
“Gue harap lo bisa ambil pelajaran dari hal yang sekecil ini, lo bisa ngerubah gaya hidup lo mulai sekarang, itu semua bukan karena lo bodoh, itu semua karena lo hidup tanpa mengamati hal-hal kecil di sekeliling mu”.
Aku pun menangis sejadi-jadinya, dari kejadian ini aku tau salah ku, aku tau aku sudah menyusahkan orang tua ku. Tanpa memandang hal yang jauh, cukup disekitar ku saja semuanya bisa menyadarkan diriku dari hal yang membuat hatiku tertutup seperti ini.
“Terima kasih” ucap ku terbata-bata disertai isak tangis ku ini. Aku tidak tau apalagi yang akan kuucapkan kepada Daniel.
Pada saat hujan di senja ini, Daniel telah memperlihatkan ku bahwa dunia ini sangat luas. Daniel hanya tersenyum kepada ku.