Problems make us better, we're just too late to understand.
A Son
Aku adalah satu-satunya cucu laki-laki kakek. Bisa dikatakan aku dan kakek cukup dekat selama ini. Kakek lebih memanjakanku dari pada cucunya yang lain, karena aku cucu laki-lakinya. Apa yang aku minta pasti kakek menyanggupinya. Mobil-mobilan, sepeda, motor. Apa pun itu.
Hingga aku lulus dari SMA. Aku ingin sekali masuk salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta, salah satu yang terbaik di negeri ini. Ayah dan ibu tentu saja mendukungku. "Terserah kamu mau di mana, yang penting serius," kata ayah. Aku belajar, les ini-itu, mengikuti tes ini-itu, dan akhirnya aku lulus. Ya, memang tidak semudah kedengarannya, tapi begitulah aku bisa masuk Perguruan Tinggi yang aku impikan. Tanpa komando aku menelepon kakek. Aku tak sabar untuk menyampaikan kabar gembira bahwa aku diterima kuliah di Jakarta. Namun, apa yang aku sampaikan bukanlah kabar gembira bagi kakek, justru ini menyebabkan bencana di antara aku dan kakek.
"Jakarta? Kan sudah kakek bilang, kuliah di Jogja saja! Kamu ini paham tidak sih?" kakek berteriak kecewa padaku di seberang telepon.
Kakek terus memaksa agar aku kuliah di Yogyakarta, tempat kelahirannya. Katanya, di sana biaya hidup murah, banyak saudara, kota pendidikan, ayahku juga dulu di sana. Mungkin ini menjadi satu-satunya permintaanku tak dapat dituruti kakek. Tapi, aku tak peduli dengan kata-kata kakek. Toh, aku yang memutuskan masa depanku. Persetujuan dari ayah dan ibu saja sudah cukup bagiku. Kakek? Biarkan saja!
Tiba saatnya untuk merantau ke Ibu Kota. Ayah memintaku untuk meminta izin kakek terlebih dahulu sebelum berangkat. Aku enggan, karena aku tahu kakek tak mungkin begitu saja mengizinkan.
"Tidak mau!" aku menolak dengan gaya bak umurku 5 tahun.
"Setidaknya berpamitan padanya," pinta ayah.
Akhirnya, dengan agak terpaksa, aku dan ayah pergi ke rumah kakek. Jarak rumah kami dan rumah kakek sekitar 1 jam menggunakan kendaraan. Sepanjang 1 jam itu, aku terus memikirkan apa yang harus aku katakan pada kakek. Apa kakek mau bicara denganku?
Setibanya, kakek tengah duduk di kursi kesayangannya. Kakek memang manusia yang telah hidup lebih dari setengah abad, namun ia masih terlihat bugar sehingga aku masih takut jika tahu-tahu ia memukulku karena aku tidak menuruti keinginannya. Kedatanganku tidak disambut seperti biasanya. Kakek terus duduk dan tidak tertarik untuk beranjak menjemputku dari mobil. Dan tentu saja ayah mendorongku menuju kakek, mendorongku menjadi seorang yang tidak pengecut.
"Ada apa?" tanya kakek padaku ketika aku menyalami tangannya. Nada suaranya terdengar malas. Aku mulai merasa grogi, di hadapan kakekku sendiri.
"Bayu mau berangkat kuliah ke Jakarta, ke sini mau pamitan sama bapak," ayahku yang menjawab. Aku merasa sedikit lega.
"Ya," kakek merespon dengan cepat dan singkat. Ucapannya membuatku menunduk.
Ayah melirikku sesaat. Aku yakin, ayah tahu aku sedang dalam posisi yang tidak baik. "Ya sudah, ayo Bay! Nanti ketinggalan kereta," lagi-lagi ayah menyelamatkanku dari kondisi yang tidak dapat ku selematkan sendiri.
...
Hidup di kota metropolitan tidaklah seindah kelihatannya. Tidak semerdu kedengarannya. Aku itu anak kampung, sangat tidak terbiasa dengan keadaan kota sebesar Jakarta. Aku begitu mudah terjerumus ke dalam pergaulan yang entah itu baik atau buruk. Yang jelas, sejak awal masuk kuliah aku dikelilingi anak-anak kota, anak-anak gaul. Hampir setiap hari kami nongkrong di tempat-tempat dengan harga-harga yang menjulang di daftar menu. Kadang bahkan sering aku gelisah tak karuan dibuatnya. Aku sebagai perantau mau tak mau harus ikut. Bagiku, hidup di suatu tempat berarti harus mengikuti kebiasaan orang-orang di sana. Pemikiran itu membuat hidupku jadi terbalut oleh gangsi.
Kebiasaan itu membuatku boros dan sering kali kehabisan uang mendadak. Aku jadi terlalu sering meminta uang pada ayah. Aku jadi semakin tidak tahu diri. Terkadang aku meminta uang untuk bayar kepentingan ini, kepentingan itu, yang nyatanya hanya untuk main-main saja.
Tahun pertama ini membuatku renggang dengan keluarga. Terutama kakek. Aku tak pernah menghubunginya sama sekali. Ayah juga. Ia sesekali memarahiku karena aku tidak bisa melakukan yang ia minta: hemat.
Tahun kedua kuliah, aku merindukan kampung halaman. Sudah setahun aku tidak pulang. Saat hari raya pun aku tidak pulang. Aku merasa buruk. Aku belum siap untuk bertemu kakek. Namun, kali ini aku sudah merasa lebih siap dari sebelumnya. Aku ingin pulang. Hanya saja, tidak ada ongkos untuk pulang. Akhirnya aku menelepon ayah berniat meminta ongkos untuk pulang.
"Halo," suara ayah terdengar di seberang telepon.
"Yah, aku mau pulang, tapi tidak ada ongkos," jelasku tanpa basa-basi.
"Dasar, bisanya minta duit saja! Ayahmu itu baru dipecat, mana punya duit! Banyak utang!" suara dari seberang telepon. Aku tahu itu kakek. Seketika aku menutup telepon.
Aku kaget mendengar ucapan kakek. Apa maksudnya? Berhari-hari aku memikirkannya. Apa benar ayah dipecat? Lalu, kuliahku bagaimana? Aku bingung setengah mati. Sejak saat itu, aku tak pernah menghubungi ayah lagi.
Nasibku benar-benar akan hancur di kota ini. Aku baru sadar, aku hanyalah perantau yang tak punya apa pun di kota besar ini. Aku hanya numpang. Aku begitu keras memikirkan bagaimana hidupku selanjutnya. Aku tak mungkin meminta-minta lagi pada ayah yang jelas-jelas sudah berkorban banyak untukku. Aku tak mau jadi semanja itu. Dan aku merasa sangat bersalah, mungkinkah ayah dipecat karena aku terus-terusan meminta uang berlebihan?
Aku bertahan hingga sebulan lebih dengan sisa uang yang ada di ATM, yang memang itu dari ayah sebelum aku tahu bahwa ayah dipecat. Aku telah memutuskan untuk berhenti bergaul dengan teman-teman tongkronganku. Tidak mudah melakukan hal semacam ini, karena ini tentang pertemanan, persahabatan.
Bulan depan hidupku akan seperti apa, aku tak tahu. Yang jelas aku harus cari uang bagaimana pun caranya. Aku harus bertahan, meski tanpa bantuan ayah.
Akhirnya aku mencoba kerja paruh waktu. Memang gajinya tak seberapa, namun tidak penting. Yang terpenting adalah aku bisa dapat uang untuk makan. Aku juga mendapat saran dari salah seorang teman di kelasku agar aku menjual karya-karya seniku. Sketsa, gambar, lukisan. Aku pun melakukannya. Memang hasilnya tidak menjanjikan, namun tak apa, aku senang melakukannya.
Kata orang aku memiliki bakat seni yang diturunkan dari ayah, dan tentu saja bakat ayah turun dari kakek. Ya, mereka berdua orang yang hebat dan sangat berjasa bagiku. Mereka mewariskan bakat yang aku sendiri bangga memilikinya. Namun, entah mengapa hubungan kami bertiga jadi begitu sulit. Jujur aku rindu mereka.
Di tahun ketiga kuliah, aku masih kerja paruh waktu dan menjual karya seni yang disarankan temanku. Aku juga telah mendaftar beasiswa agar kuliahku bebas biaya dan diterima. Tahun ini hingga aku lulus aku tak usah kawatir dengan biaya per semester. Namun, hingga saat ini aku sama sekali belum menghubungi ayah, apalagi kakek. Sesekali aku menelepon ibu, sebatas menanyakan kabar keluarga di rumah. Aku tak pernah membicarakan ayah atau kakek dengannya. Sempat aku tak ada uang satu sen pun. Ada niatan untuk meminta pada ibu, karena hanya dia yang memang selalu ada di saat semuanya pergi. Namun, tentu saja aku merasa malu jika aku meminta uang pada ibu. Aku jadi seperti pengecut aeutuhnya, berani meminta uang pada ibu yang bahkan untuk meminta maaf pada ayah dan kakek aku tidak berani. Ku putuskan untuk tidak meminta uang lagi pada ayah hingga aku lulus kuliah, dan seterusnya. Begitu pun pada kakek, pada ibu.
Aku merasa aku pasti bisa mandiri, aku bisa cari uang sendiri, meski harus bersusah payah. Aku bekerja keras demi uang, demi kuliahku. Aku tahu caranya dapat uang, namun aku tak tahu caranya minta maaf. Apakah dorongan ayah agar aku tidak menjadi seorang pengecut telah sia-sia? Aku telah lebih buruk dari seorang pengecut.