Kata sahabat itu sederhana tapi bermakna luar biasa
DATANG UNTUK PERGI
Tok...tok...tok... ”permisi...” Terdengar suara ketukan dari luar. Aku segera meletakkan majalah yang kupegang ke atas meja dan beranjak dari tempat duduk untuk membukakan pintu. Seorang gadis berambut hitam panjang dan lurus tengah berdiri membelakangiku. Sekilas aku merasa dia tak asing bagiku namun aku tak mengingatnya, mungkin teman lama atau rekan kerjaku yang baru, entahlah. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya dan menyentuh bahunya, tapi belum sempat kulakukan ia sudah membalikkan badan, dan ternyata....
“Flora!!!” Sapanya lalu menghampiriku dan memelukku.
“Fania!!!” Aku kaget bercampur senang. Tak kuasa aku menahan air mata karena terharu. Sahabat terbaikku yang telah lama pergi, kini dia berada di hadapanku.
“Flora aku kangen banget sama kamu, gimana kabar kamu sekarang?” Tanya Fania sambil melepaskan pelukannya.
“Aku baik-baik saja!” Jawabku. “kamu sendiri bagaimana Fan?” Tanyaku kemudian.
“Seperti yang kamu lihat Ra, aku juga baik”. Ucapnya sambil tersenyum.
Kemudian aku mengajak Fania masuk ke dalam rumah. Kami berbincang, bertukar cerita dan melepas rindu bersama, sekian lama aku tidak bertemu dengannya. Tanpa kabar, tanpa salam perpisahan dia pergi, bahkan komunikasi pun tak pernah kami lakukan. Fania tiba-tiba menghilang begitu saja. Tapi sekarang dia ada dihadapanku pertanyaan yang selama ini bersarang di kepalaku sudah tak penting lagi, karena orang sangat kurindukan telah hadir dihadapanku. Fania, sahabat terbaikku dia telah kembali.
“Ra, kamu ada waktu nggak, kita jalan yuk.” Ajak Fania kemudian.
Dengan senang hati aku menerima ajakannya. Ketika hari sudah menjelang malam kami berangkat menggunakan mobilku. Keliling kota, menikmati udara malam, melihat indahnya ombak pantai dari dalam café. Tempat ini adalah tempat favorit kami, bahkan tempat duduk pun adalah tempat duduk yang sering kami pesan waktu SMA dulu. Tempat duduk yang menyimpan banyak kenangan. Puluhan, bahkan ratusan kisah telah kita ukir diatas kursi bersejarah ini. Tempat yang menjadi saksi persahabatan kita, suka dan duka pernah tertuang diatas meja berbentuk lingkaran dihadapanku ini.
“Mau pesan apa mbak?” Tiba-tiba seorang pelayan menghampiriku sambil menyodorkan menu makanan kearahku.
“Eh...em…a…aku sama kayak kamu aja deh Fan”. Kataku tergagap sambil menoleh kearah Fania yang tersenyum melihat tingkahku.
Selesai makan Fania mengajakku ke bioskop. Sudah ku tebak Fania pasti memilih film barat. Maklum kami berdua adalah penggemar berat film Hollywood. Film yang kami pilih berjudul “The Last Friendship” mengisahkan tentang dua orang sahabat, laki-laki dan perempuan yang bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Tanpa mereka sadari, benih-benih cinta telah tumbuh di hati dua insan itu. Ketika mata mereka saling bertemu ada perasaan lain di hati keduanya. Tapi sayang, takdir berkata lain, disaat mereka menyadari akan datangnya cinta yang telah lama bersemi. Kanker otak stadium akhir merenggut nyawa sang lelaki. Aku ngeri membayangkannya.
Hingga filmnya selesai mata kami masih sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Aku berharap semoga hal seperti itu hanya ada dalam film. Tidak terasa kami sudah hampir sampai. Sebelum berpisah, Fania memberiku sepucuk surat yang terbungkus amplop biru muda, warna favoritku. Aku senang karena Fania masih mengingat warna kesukaanku. Setelah memberikan surat itu Fania langsung keluar dari mobilku.
“Fan, ini apa?” Tanyaku tidak mengerti.
“suatu saat nanti kamu akan mengerti.” Jawabnya penuh dengan teka-teki.
“maksudnya apa?” Tanyaku lagi setengah berteriak, kali ini aku ikut keluar dari mobil. Fania hanya tersenyum tanpa memberikan penjelasan.
“Fania..!” Seruku memanggil namanya, tapi yang kupanggil malah melambaikan tangan, senyumnya terlihat walau hanya disinari dengan cahaya rembulan. Aku membalas lambaian tangannya dan terus memandang tubuh mungil itu yang semakin menjauh hingga tubuhnya lenyap ditelan gelapnya malam.
***
Matahari belum mau menampakkan sinarnya. Dan ayampun masih enggan untuk berkokok membangunkan orang-orang yang masih terlelap dengan di baluti selimut tebal di atas tubuh mereka. Kulirik jam waker ternyata masih menunjukkan pukul 03.40, entah kenapa aku sudah terbangun di pagi yang masih buta ini. Hawa subuh yang dingin membuatku mengurungkan niat untuk keluar dari kamar. Aku hanya duduk diatas ranjang sambil memandang kearah jendela, hanya kesunyian yang kutemukan.
Ingatanku kembali ke hari kemarin. Hari yang sangat membahagiakan dalam hidupku, hari dimana aku bertemu kembali dengan sahabat terbaikku. Kupikir Fania sudah melupakanku, tapi ternyata aku salah, dia masih mengingatku dan menganggapku sebagai sahabatnya.
Tiba-tiba sesuatu dari atas meja berbunyi, memecahkan lamunanku. Aku bergegas mengambil handphone yang kutaruh di meja belajar tak jauh dari tempat tidurku. Ternyata dari nomer yang tidak kukenal. Dengan malas aku mengangkat telephon itu.
“halo.” Sapaku.
“Flora, ini kak Raline.” Jawabnya dari dalam telepon. Kak Raline adalah kakanya Fania.
“oh…kakak, iya ada apa kak?” Tanyaku kemudian.
“Ra, kakak mau mengabarkan berita duka, kakak harap kamu tabah mendengarnya.” Kata-kata kak Raline tidak bisa aku serap sepenuhnya, mungkin karena efek bangun tidur dan berita membingungkan.
“maksud kakak apa?” Tanyaku penasaran.
“beberapa jam yang lalu penyakit Fania kambuh, dan kami langsung membawanya kerumah sakit, tapi tak berapa lama Tuhan mengambil nyawanya.” Jelasnya sambil terisak. Aku bagai disambar petir, HP yang kupegang tiba-tiba jatuh suara kak Raline dari telepon tak lagi kudengar. Tetesan air mata berjatuhan kepipiku.
“Fania…sahabatku…” Rapalku nelangsa.
Seingatku baru kemarin dia datang menemuiku setelah sekian lama kami berpisah. Dia datang dengan membawa senyuman yang mengembang di bibirnya. Dia berlari memelukku. Tak kuasa aku menahan air mata karena terharu. Tapi kenapa setelah dia menanyakan kabarku, dia pergi meninggalkan aku. Padahal belum sempat aku melepas rindu dengannya. Belum sempat aku bercerita banyak padanya dia sudah pergi meninggalkanku. Apa kau datang menemuiku hanya untuk pergi dariku. Apa kau kembali hanya untuk mengucapkan selamat tinggal kepadaku.
Surat itu…tiba-tiba aku teringat akan pesan yang ditinggalkan Fania kemarin. Aku segera mengambil surat itu dan mulai membacanya
Hai Flora, bagaimana kabarmu hari ini? aku harap kamu dalam keadaan baik ketika membaca surat ini. Sebelumnya aku minta maaf karena tidak jujur kepadamu.
Sebenarnya, sekian lama aku meninggalkanmu tanpa kabar karena aku pergi keluar negeri untuk berobat, aku sangat senang ketika tahu operasi itu berhasil dan tinggal menunggu pemulihan. Tapi sayang beberapa bulan setelah operasi, penyakit itu kembali lagi kepadaku. Dan kali ini lebih parah dari sebelumya. Kanker darah telah menggerogoti sebagian tubuhku. Semua usaha telah aku lakukan untuk menghilangkan penyakit ini. Hingga akhirnya dokter menyatakan bahwa umurku sudah tidak lama lagi. Aku hampir putus asa. Aku tidak berani menemuimu, karena aku takut kalau kamu tidak mau menganggapku sahabat lagi. Tapi rasa rinduku ke kamu mengalahkan rasa takut itu. Aku memutuskan untuk kembali dan menemuimu. Sesampainya di rumah aku tak kuasa untuk menceritakan semua itu ke kamu. Dan aku hanya bisa menulis surat ini.
Ra, mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah tenang di alam sana. Permintaan terakhirku, aku tidak ingin ada air mata kesedihan setelah aku tinggal pergi. Dan aku sangat bahagia bisa menjadi sahabatmu sampai kapanpun.
Sekian surat dariku, semoga surat ini bisa mengobati kerinduan kita berdua. Aku meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah ku perbuat selama kamu mengenalku.
Sahabatmu
Fania Canceriana
Aku berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata, tapi sekuat apapun aku menahan, tetes demi tetes air mata itu jatuh, semakin kuat aku menahan semakin deras air mata yang keluar. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya mampu mengingat semua kenangan yang telah kami lalui bersama, hingga semua lenyap oleh waktu. Sungguh pertemuan yang singkat bagiku. Tapi akan selalu membekas dalam hatiku.