Kesempatan Tak Hanya Datang Sekali
Ada yang mengatakan kesempatan itu hanya datang sekali.Tapi siapa yang tahu kalau Tuhan bisa memberikan kesempatan itu lebih dari sekali.
***
Sebuah malam di penghujung bulan Juni tahun lalu.Aku tidak ingat betul kapan hari itu, tapi yang kau ingat adalah bagaimana kau seperti layar perahu yang kulihat dari bibir pantai.Menjauh.Pernahkah kau ingat bahwa aku pernah ada di sana?Menantimu pergi berlayar bersama perahu lain?Bukankah sebuah perahu nantinya akan kembali ke daratan?Aku akan tetap di sana, di bibir pantai itu jika kau ingin mencariku. “Jadi, seperti itu kamu menanti Ryan?”Karin, rekan kerja baruku.Kisahnya hampir-hampir sama denganku, tapi dengan ending yang berbeda.Dia memilih untuk mengakhiri penantian tak pastinya.Dia lebih memilih mencari seseorang baru. “Ya, sudah lima belas tahun.Dan tahun lalu adalah saat Ryan pergi menyusul Irene, dan sekarang aku tak tahu bagaimana kabarnya,”aku menopang dagu.Ada semilir angin menyusup masuk ke balik hijabku.Membawa rasa dingin yang membuat bulu romaku berdiri. “Vi, dengar ya.Kamu sudah tiga puluh tiga tahun, kalau kamu nggak cepat-cepat cari orang lain kamu bisa-bisa mati sebagai perawan tua,”Karin menodongku lagi dengan kata-kata perawan tua.Padahal baru dua minggu lalu kami resmi menjadi rekan kerja.Entahlah mungkin karena dia pernah mengalami sendiri masa-masa itu.Dipanggil perawan tua sampai akhirnya dia menikah tahun lalu. “Ya, nanti kau coba pikirkan.”obrolan kami hanya sebatas itu.Tak ada lagi obrolan-obrolan berat seputar mencari jodoh.Aku sendiri sudah tak bisa berargumen dengan Karin, kami memutuskan untuk pulang lebih cepat.Malam ini malam Minggu, dan ia sudah ada rencana dengan suaminya untuk yah, sesuatu yang tak bisa kujelaskan.Kami berpisah di parkiran, arah rumah kami berlainan.Aku baru menyewa apartemen yang jauh dari rumah.Dan entah mengapa aku tetap tak bisa jauh dari pantai.Sekedar untuk menyaksikan matahari terbenam.Aku pun mampir dengan sepatu yang terkait di jari-jari.Sekelumit ingatan tentang masa-masa akhir SMA terlintas.Ah, hal yang paling aku sesali selama empat belas tahun hidupku.Kenapa selama empat belas tahun Ryan ada di dekatku dan aku tak pernah mengatakan apa-apa padanya? Malam itu setelah prom night yang melelahkan, aku mendapat kabar Irene mengalami kecelakaan.Ia koma, dan Ryan tidak pernah beranjak dari sisinya.Tak sedikit pun menoleh padaku walaupun aku selalu ada di sampingnya.Selama bertahun-tahun Irene tak kunjung membuka mata.Hingga keajaiban itu datang, seorang dokter dari Jerman membawa Irene ke negerinya.Dan dengan ajaibnya Irene seperti bangun dari tidur panjangnya.Ryan segera menyusulnya tanpa bilang apa-apa padaku.Aku setengah mati menyusulnya ke bandara dan yang ia katakan. “Terima kasih sudah menunggu dan merawat Irene denganku.Semoga kau bisa lebih bahagia,” Tidak tahukah kau bahwa hatiku sudah pecah berkeping-keping?Maaf Ryan, tapi doamu tidak terkabul.Aku tidak pernah bahagia sejak kau pergi waktu itu.Kesempatanku satu-satunya untuk memilikimu telah hilang Ry.Dan tidak akan kembali lagi.Aku duduk memeluk lutut.Mataku tiba-tiba terasa panas.
***
Pukul tujuh lewat.Aku duduk di balkon dengan segelas teh hijau di genggaman.Kulihat beberapa perahu mulai berlayar menjauhi pantai.Pelita kecil mereka berpendar di balik gelapnya malam.Hening, inilah yang membuatku kerap berlama-lama di sini.Seakan semua beban masalahku tertiup bersama angin malam.Sebuah panggilan dari ponselku tiba-tiba mengusik.Jantungku seakan berhenti berdetak saat nama Ryan tercetak di sana. “Halo..” “Hai, Vi.Sudah lama ya” Tuhan, aku benar-benar merindukannya. “Iya.Bagaimana kabarmu?” “Entahlah, aku tersesat.Aku baru saja sampai di kota ini.Kau tidak bilang sudah pindah rumah.Bisa jemput aku?Sepertinya aku tersesat di pasar nelayan.” “Apa?Itu jauh sekali dari apartemenku?”aku bergegas mengambil sepatu dan kunci mobil.Mengabaikan bahwa jendela balkonku belum sempat kau kunci.”Jangan ke mana-mana, banyak preman di sana.” Dan sialnya kunci pintuku mendadak macet.“Pastikan jangan terlihat seperti orang hilang,..”ah, kunci ini berhasil juga.”Aku…”terhenti begitu saja.Dia sudah ada di sana, di depan pintu apartemenku.Ponsel masih tertempel di pipi dan senyumnya sangat menjengkelkan.Tapi aku sangat rindu itu. “Surprise!Vivian” Aku membatu di depan pintu, sama sekali tak membiarkan Ryan untuk sekedar mengintip ke dalam. “Boleh aku masuk?”ia bertanya.Dan hanya aku beri anggukan sebagai persetujuan. “Wah, apartemen barumu besar Vi.Kalau kau pindah ke sini pasti menyenangkan,” Aku mendelik.Dia suka sekali menggodaku. “Ada apa tiba-tiba pulang ke Indonesia?Nggak kasih kabar tiba-tiba udah sampai di sini.”aku membuat teh hijau baru, Ryan bukan tipe orang yang menolak apapun yang disuguhka untuknya. “Kalau kasih kabar nggak surprise kan?”Ryan terkekeh pelan. “Irene gimana?Sehat?”lidahku pahit, menyebut Irene seperti menelan empedu. “Sehat, perkembangannya bagus.Oh iya, bentar lagi dia menikah.Aku mau kasih undangannya ke kamu.” Cangkir teh itu meluncur ke lantai dengan cepat tanpa sempat kau berkedip.Ryan terkejut, ia segera mengahampiriku.”Kamu nggak papa kan Vi?” “Aku..cuma lelah.Besok Senin ada perjalanan ke Batam dan aku kurang tidur,”kurasakan lengan Ryan menahan punggungku.Ia membawaku ke sofa dan membersihkan pecahan gelas.Aku sudah tak punya tenaga untuk menyuruhnya tetap diam di tempatnya. “Maaf ya Ry,”aku berujar pelan. “Nggak apa-apa, aku juga gitu pas Irene ngasih undangannya ke aku.” “Apa?” “Aku nggak pernah cerita soal Irene ya.Wajar sih.Dokter yang merawatnya selama ini ternyata jatuh cinta sama Irene.Dan Irene pun juga begitu.Makanya mereka memutuskan untuk menikah,”aku bisa merasakan getir yang sama dengan Ryan.”Lucu ya Vi, aku yang jagain dia bertahun-tahun tapi dia milih orang lain?Mungkin ini hukuman buat aku.” Hukuman?Lebih cocok disebut karma Ry. “Jadi, Irene nggak pernah tahu kamu suka sama dia?”aku merasakan energi menguasai tubuhku.Aku bangun dan mendekati Ryan.Bisa kulihat tangannya tergores beling. “Ya, begitulah Vi.Dia seperti putri tidur, dan Dokter Glenn adalah pangerannya.Kalau aku peri penjaganya,haha.”dia tertawa getir. “Berarti aku juga sama kayak kamu.” Kami tertawa, mengobrol selama berjam-jam.Mencoba mengusir kekecewaan di hati Ryan.Tapi di matanya hanya ada kesedihan.Siapa yang tidak memendam kekecewaan mendalam bila lima belas tahun perjuanganmu justru dimenangkan oleh orang lain yang bahkan hanya sebentar ke hidupnya. “Vi, kesempatanku untuk mengungkapakan perasaanku ke Irene sudah nggak ada.Dan kalau pun aku bilang ke dia, sudah nggak ada gunanya.” “Dari mana kamu yakin Ry.Kamu aja belum bilang kan?” “Pas dia kasih kabar ke aku, dia cantik banget Vi.Tiba-tiba peluk aku, dan bilang ‘terima kasih buat jaga aku selam ini’.Aku kira dia juga punya rasa yang sama, ternyata masih ada lanjutannya.’Mulai sekarang Dokter Glenn yang akan jagain aku, seumur hidupnya’ dan dia kasih aku undangan ini.Dan yah, begitulah ending kisah cintaku.Miris dan ironis,” “Ya, ngenes banget sih kamu Ry.” “Makanya kalau kamu suka sama seseorang langsung ungkapin aja.Kesempatan itu Cuma datang sekali Vi,”. “Jadi aku harus bilang sekarang ya?” “Ya pasti dong!Kamu nggak mau kan berakhir kayak aku?” “Kalau gitu boleh aku bilang sayang sama kamu Ry?” Tiba-tiba hening, tak ada satu pun di antara kami yang memecah keheningan. “Kenapa Vi?”tanya Ryan lirih.Ekspresinya tak terbaca. “Dibandingkan kamu, aku sudah lebih dulu merasakan ditinggal demi orang lain Ry.Dan orang itu adalah kamu.Sejak Irene koma, kita yang menjaganya bersama-sama.Kamu hanya fokus pada Irene tanpa tahu aku juga punya rasa sama kamu.Dan saat kamu menyusulnya ke Jerman, aku merasa sudah tidak punya hati untuk disinggahi Ry.” Ryan menatapku dalam-dalam.Tapi dengan cepat dia berpaling.Apa dia membenciku?Ah, sudahlah yang penting aku sudah bisa mengatakan perasaanku sejujurnya.Hatiku terasa ringan kembali setelah lima belas tahun.Mungkin benar kata Karin, aku sudah harus mencari orang lain. “Berarti aku kena karma ya Vi?”tiba-tiba Ryan berucap.”Maaf sudah bikin kamu kesusahan lima belas tahun ini,” Dia tiba-tiba berdiri mengambil jaketnya dan sudah berdiri di depan pintu.Inikah akhirnya?Kami tak berani bicara hingga akhirnya Ryan membuka pintu.Sebelum keluar dia menatapku dalam-dalam sebelum akhirnya pergi tanpa kata.Dan aku menangis untuk kesekian kalinya.Ponselku berbunyi lagi. ‘Izinkan aku menebus lima belas tahun itu Vi.Datanglah ke pernikahan Irene bersamaku. ,Ryan p.s.besok kamu libur kan?kita jalan-jalan yuk’ Aku menangis lagi, tapi kenapa rasanya sangat bahagia?