Seberapa pahit pun kejujuran, itu akan selalu lebih manis dibanding semanis-manisnya kebohongan
Aku berdiri didepan sebuah gedung cukup tinggi, langit kelabu dengan awan yang menggantung, kilat dan guntur menghiasi kota sejak siang tadi. Sekarang sudah pukul empat sore, taksi yang aku pesan belum juga datang, sedikit menyebalkan tapi ada untungnya juga, sekarang aku dapat merasakan semilir angin yang cukup menentramkan meski tak setentram angin yang aku dapatkan dipegunungan atau dipantai.
Tiba-tiba ponselku berdering, aku menyentuh layarnya yang menyala, ternyata hanya sebuah email spam. Aku mendengar suara deru mobil dan ternyata taksi pesananku sudah tiba. Aku melangkah dan masuk kedalam taksi yang berwarna biru.
“Maaf mbak sedikit terlambat, jam segini jalanan mulai macet”. Gumam sang sopir yang tampak masih sangat muda,dia menginjak pedal gas dan kami sudah melaju membelah jalanan yang kebetulan masih lengang. Aku hanya mengangguk, tak mau menambah persoalan dengan berdebat atau menghakimi dia yang datang terlambat.
Taksi perlahan menepi, aku sudah sampai ditujuanku lebih awal. Sebuah rumah minimalis dengan sedikit sentuhan gaya klasik, sangat kontras dengan hunian lainnya yang ada dikomplek itu. Aku tertegun, kagum, setelah sekian lama tapi rumah itu tidak banyak berubah.
“Mbak, sudah sampai”. Gumam sopir itu, aku sedikit tersentak tapi aku segera mengendalikan diri. Aku memberi uang tip pada sopir itu, sesuatu yang memang pantas dia terima karena daat membawaku lebih cepat ketempat ini. Wajahnya telihat sangat sumringah.
“Terima kasih mbak, lain kali tidak akan terlambat lagi”. Seru sopir itu sebelum melaju pergi. Perhatianku kembali pada rumah yang ada dihadapanku ini, bercat warna telur asin dan putih, pagar yang hanya setinggi bahu, aku benar-benar seperti terlempar pada sewindu yang lalu.
“Lia!”. Seru seseeorang yang hampir tidak dapat kenali, dengan wajah yang tak muda lagi, tubuh yang sudah renta, dia wanita yang telah melahirkanku kedunia. Ibu.
“Ibu”. Aku memeluk erat tubuh itu, ada banyak beban yang menguap, air matapun tak terbendung lagi. Sebenarnya aku ingin memeluknya lebih lama lagi, tapi dengan perlahan aku melepaskannya, ada banyak hal yang pelu diutarakan, ada banyak cerita dan tanya yang ingin disampaikan.
“Kapan kamu tiba di indonesia? Sudah sangat lama tidak ada kabar”. Ucap ibu sambil mengusap air matanya, dari wajahnya aku dapat melihat ada haru dan kesal. Aku tersenyum lemah, terlalu banyak kebohongan dan aku tidak mau semua itu diceritakan dalam keadaan seperti ini, diluar rumah dengan langit yang makin gelap bersama guntur yang terus bergemuruh.
“Sebenarnya sudah lama, sejak satu bulan yang lalu”. Gumamku. Sejenak Ibu tertegun tetapi dia segera tersenyum, entah apa yang ada dipikirannya.
“Baiklah, sebaiknya kita masuk”. Ucap ibu sambil menarik lenganku perlahan, menuntunku masuk kedalam rumah. Rumah ini mungkin memang tak banyak berubah, tapi aku sadar kalau banyak yang berubah pada ibu. Dia terlihat lebih kurus dan kurang bersemangat, dan entah benar atau tidak, aku merasa sikap ibu sekarang sangat kaku, dia benar-benar orang yang tidak aku kenali.
“Ayo masuk”. Ajak ibu saat melihatku terhenti diambang pintu, aku kembali fokus pada interior rumah. Semuanya tetap sama, persis seperti terakhir kali aku lihat.
“Kemana orang-orang?”. Tanyaku saat melihat rumah yang lengang. Setahuku, Rais bersama istri dan anaknya tinggal disini bersama ibu. Setidaknya itu yang aku ketahui sejak sebulan yang lalu, tentang adikku sudah menikah dan memiliki putra. Sebenarnya kabar yang menjengkelkan, bahkan aku sendiri kakaknya yang terpaut umur empat tahun masih belum menikah juga.
“Pergi”. Jawab ibu singkat sebelum hilang dibalik pintu.
Aku duduk disebuah sofa dengan cover kulit imitasi berwarna hitam, ibu datang dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi dengan aroma harum dan mengepul. Aku kembali tertegun, lagi-lagi ibu bersikap seperti aku ini orang asing atau seorang tamu, padahal sebenarnya bisa dikatakan aku ini sedang pulang bukan sedang berkunjung.
“Ayo minum, pasti kamu kedinginan”. Ucap ibu sambil duduk disofa tepat dihadapanku, aku hanya mengangguk. Jujur, ini tidak seperti yang dibayangkan, aku tidak pernah mengira atau berpikir kalau ibu akan seperti ini, sekaku dan sedingin ini. Terlalu banyak waktu yang aku bunuh sendiri.
Ruangan itu dalam sejenak lengang, hanya ada suara jam dinding yang berdetak.
Kami terdiam dengan lamunan masing-masing. Senja dipinggiran kota berwarna kelabu, hujan turun lebih deras lagi, atap seng rumah seakan dilempari batu, sangat bising.
“Ekhm.. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan”. Aku berusaha memulai pembicaraan, perlahan ibu menatapku dengan tatapan dingin. Kerongkonganku tiba-tiba terasa kering. Aku kembali berpikir, apa harus sekarang? Aku baru saja bertemu dia setelah sekian lama, apa secepat ini menghancurkan hatinya?.
Aku tatap mata ibu yang sendu,
“Sebenarnya selama delapan tahun ini saya tidak hanya pergi kuliah”. Akhirnya kalimat itu dapat meluncur keluar, aku segera menundukkan kepala, antara malu dan takut, aku telah menyembunyikan sesuatu dari ibu dan sayangnya sesuatu itu telah menjadi petaka, berubah menjadi gulungan benang kusut yang sangat besar.
“Hmm..”. Ibu bergumam kemudian menghela napas panjang.
Sore itu didalam hujan yang deras tangisku tak tertahan lagi, dalam diam aku berusaha mengontrol diri. Jangan secengeng ini Lia!. Aku mengusap air mataku dan mencoba berkata meski terbata.
“Ayah.. Plak!!”. Kalimatku tertahan karena tiba-tiba tamparan keras mendarat diwajahku, aku segera mengangkat kepala dan menatap wajah ibu yang sudah memerah. Aku mengernyit, antara merasakan rasa sakit dan kebingungan.
“Hal ini yang ingin ibu lakukan sejak dua tahun yang lalu”. Gumam ibu dengan gemetar, aku menatap kedalam bola matanya, ternyata ada satu hal yang aku lewatkan, aku tak pernah tau kalau ibu sudah mengetahuinya. Dari cara dia menamparku tadi, sudah sangat jelas kalau dia sangat terluka.
“Kenapa kalian berbohong?! Kenapa kamu sembunyikan? ibu tak akan semarah ini”. Lanjut ibu, aku masih menatapnya. Aku tak berani berbicara, aku harus tahu sampai mana ibu mengetahuinya.
“Kenapa kamu tak pernah bilang kalau ayahmu itu terkena kangker? Kenapa kamu bilang mendapat beasiswa untuk kuliah diluar negeri? Padahal sebenarnya kamu disana bekerja sebagai pelayan! Ibu malu!”. Ibu berdiri dari tempat duduknya dan pergi, dia menghilang dibalik pintu, terdengar beberapa kali suara barang yang terjatuh. Aku tertegun, ternyata ibu telah mengetahui seluruh ceritanya.
Aku bangun dari sofa itu dan berjalan ketempat ibu tadi, tampak terdengar suara gemerisik dari dalam ruangan itu. Saat aku hendak berjalan lagi munuju sofa, tiba-tiba sesuatu menghantam punggungku dengan keras, aku tersengkur kelantai hingga hidungku berdarah.
“Cepat pergi darisini!”. Teriak ibu dengan suara melengking, aku berusaha berdiri meski punggungku terasa sangat sakit, aku melirik benda yang menghantamku tadi, ternyata sebuah koper dengan ukuran cukup besar.
“Tapi semua uang yang aku terima itu semua untuk ayah, itu semua untuk pengobatan ayah”. Sergahku, aku menatap koper itu lagi.
“Percuma! Semua uang itu nyatanya tak ada sepeserpun yang digunakan untuk pengobatan, karena adik sialanmu itu menghabiskan semunya untuk berfoya-foya”. Ucap ibu dengan seluruh tubuh yabg bergetar, aku diam, mendengar semua itu aku terdiam. Aku kira semua berjalan lancar saat aku pergi, ternyata semuanya tidak ada yang baik.
“Cepat pergi! Ibu sudah mengusir adikmu tadi pagi dan sekarang giliranmu yang harus pergi”. Lanjut ibu dengan memalingkan wajahnya. Aku tahu sebenarnya ibu tak sanggup melakukan semua ini, dia sebenarnya tidak rela tapi amarahnya lebih besar dibanding perasaan lainnya saat ini.
“Ibu merasa malu karena telah melahirkan kalian berdua! Melahirkan dua orang penipu!”. Lanjut ibu lagi, aku masih berdiri ditempatku. Kenapa semuanya menjadi serumit ini? Padahal aku hanya ingin menyampaikan kebenaran, kenapa semuanya sepahit ini.
“Tunggu apa lagi? Cepat pergi!”. Teriak ibu sekali lagi sambil mendorong koper itu kearahku. Tak banyak yag ingin aku bicarakan, semuanya sudah hancur. Aku berjalan keluar sambil menarik koper itu, menyisakan suara derian dilantai kayu.
Terdengar suara gumaman ibu sebelum aku melangkah keluar,
“Bahkan saat ayahmu pergi kau tidak pernah pernah pulang, padahal disaat itu aku membutuhkanmu bukan sekarang”. Aku terdiam mendengar ucapan ibu, sebenarnya itu yang ingin aku sampaikan, aku ingin berkata jujur. Dua tahun lalu, saat ayah sekarat dirumah sakit, aku tahu persis itu karena aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri, didalam ruang operasi dengan orang-orang yang berpakaian hijau, hari itu adalah hari pertama aku menjadi asisten dokter dalam ruang operasi.
Namun, sayangnya hari itu juga adalah hari terakhir aku melihat ayah, dia terlalu lemah untuk menjalani operasi tapi dokter tetap memaksa. Aku tahu semua itu akan terjadi, ayah meninggal didalam ruang operasi.
Sebenarnya itu yang ingin aku katakan, menghapus semua tanya besar tentang mengapa aku tidak pulang kerumah meski tahu ayahku sendiri meninggal.
Aku terlalu takut, malu dan kesal, kenapa mesti ayah yang menjadi pasien pertamaku, dan kenapa dia juga mesti pergi. Seharusnya dia hidup lebih lama, bukannya mati.
Dan untuk kejujuran yang lainnya, sebenarnya aku tidak terus menghabiskan waktu menjadi pelayan, aku bertemu dengan sepasang suami-istri asal Indonesia yang tinggal dijepang, mereka tidak punya anak dan mengangkatku sebagai anak mereka.
Hanya sekitar setahun aku bekerja menjadi pelayan, lima tahun sisanya aku habiskan untuk kuliah.
Padahal aku ingin berbagi semua itu, kejujuran yang manis selain kejujuran yang pahit. Berbohong memang tak pernah mengubah sesuatu menjadi lebih baik, meski diawal manis tetap saja kebohongan akan membawa kepahitan, bahkan merubah sesuatu yang telah manis menjadi pahit.
Senja telah terbenam, langit mulai gelap, aku pergi dari rumah dengan koper yang aku jinjing. Hujan mulai reda tapi permasalahan yang aku hadapi sungguh jauh dari kata reda, masalah ini malah semakin deras, dan aku yakin ini bukanlah akhir dari segalanya, aku pasti dapat membuat ibu mau menerimaku lagi meski aku yakin luka yang ada dihatinya tak kan pernah sembuh sampai kapanpun.