tamimemeh

karena mimpi yang sudah dibuat, harus dipertanggung jawabkan.

_Cheers For Our Dreams_

Pagi itu terasa begitu dingin sampai menembus tulang ku rasanya ada hal baru yang membuat perasaan ku…. “Yura kamu sudah bangun ?” suara itu sedikit mengejutkan ku , “Iya bu”. Ibu yang biasanya subuh-subuh sudah dengan suara seriosanya dapat mengelegarkan dunia, dipagi itu berubah menjadi suara ibu peri dalam sinetron bidadari. “Ayo pergi mandi sayang ! nenek, kakek, dan yang lain sudah menunggu”… kemudian hening, “Aigo, apa ini hari senin ?” Tanya ku pada diri ku sendiri. “Kak Yura buruan !” teriak adik-adik ku yang katanya sudah 2 jam menunggu.  

Ternyata hari itu senin 17 Desember 2012, tanggal yang aku tunggu-tunggu selama hampir dari 1 tahun belakangan ini, hari dimana aku akan memulai hidup baru ku sebagai perantau di negeri ginseng (Korea Selatan), rasanya usaha ku 12 tahun terbayar lunas tuntas. Dari SD, walaupun gak sempet TK aku punya mimpi untuk sekolah di luar negri karena kedengarannya itu sangat sulit sekali. Tapi aku selalu berusaha-berusaha dan berdoa, pagi siang sore malam aku mati-matian belajar tapi SMP gak bisa keluar kota, orang tua gak memberi ijin, SMA sama masih tetap seperti itu dan rasanya sama saja yang beda cuma tinggi badan ku, berat badan, umur, warna kulit, cara ngomong dan layaknya pertumbuhan pada umumnya. Mungkin saat itu aku egois, ibu paling tau apa yang aku rasakan selama bertahun-tahun itu, ibu punya seribu alasan untuk tidak melepaskan ku tapi ibu punya miliaran alasan untuk membahagiakan ku. Diam-diam ibu mendaftarkan ku disuatu program pertukaran pelajar Indonesia-Korea Selatan dan akhirnya 17 desember 2012 aku harus pergi ke Korea, walaupun tahun ajaran di Korea dimulai pada bulan maret 2013. Aku akan memulai les bahasa Korea terlebih dahulu.

“Ibu, jam tangan aku dimana yaa ?” , “Coba liat di samping meja belajar !”  ibu memang benar-benar memperhatikan setiap gerak-gerik ku. “Yura.. Yura.. buruan nak kakek dan nenek sudah lama menunggu !” suara ayah mengalihkan lamunan ku, kemudian bergegas menuju ruang keluarga. “Yura, jangan lupakan kewajiban mu sebagai manusia beragama ya dan jangan mudah terpengaruh !” kata kakek dengan wajah sedihnya, “Yura jangan lupa jaga kesehatan, makan yang teratur !” dengan nada yang melow nenek memeluk ku “Ingat ya…!” “Jangan ini yaa… !” “Jangan itu ya…!” begitulah nasihat nasihat dari kakek, nenek, om, tante dan kakak serta adik-adik kecil ku. Rasanya bising kemudian sedikit hening aku bahkan tidak mengeluarkan satu katapun, karna yang ada difikiran ku bagaimana aku, apa aku benar-benar bisa jalani ini sendiri aku baru 18 tahun. Tapi aku pasti bisa aku yakin ini mimpi ku dan ini hadiah dari ayah ibu ku. “Sudah jam 11, ayo kita kebandara !” gegas ibu menghilangkan raut sedih diwajahnya.

Rasa haru mulai menyelimuti disetiap wajah mereka, ayah, ibu, kakek, nenek, om, tante, kakak-kakak dan adik-adik ku. Rasa berdosa sedikit muncul dibenak ku karna telah memberi raut kesedihan pada orang-orang yang selalu mengiringi ku dengan kasih sayang. Tapi aku percaya air mata itu memiliki banyak makna, setidaknya rasa bangga itu menjadi dominan didalam air mata mereka dan aku harus kuat memberikan mereka senyuman indah sebagai tanda mampu dan siapnya aku memulai mimpi ku dinegeri orang sebagai sebatang kara. “Yura pesawatnya 15 menit lagi take off nak..”, “oh iya yah, kalo begitu yura berangkat yah, bu, nek, kek, ya’, om, tante… sampai jumpa tahun depan ya kak,dek !”. lambaian mereka menegaskan langkah ku, kehadiran mereka selalu menenangkan ku, omelan ibu layak sumber semangat dalam hidup ini bakal jarang terdengar, nasihat singkat ayah yang menjadi sumber motivasi hiduppun bakal lebih jarang terasa karna ayah selalu dengan gaya bijaknya hanya dapat berujumpa langsung 1 tahun sekali. Aku terlalu lemah untuk membayangkan kesendirian ini, aku harus ingat penantian panjangku hingga aku dapat berdiri tegak, melangkah pasti berjalan dalam mimpi yang telah jadi kenyataan ini.

“Annyeonghaseyo, eoseo oseyo !” sambutan dibandara korea begitu hangat “Chonun Indonesia saramiyeyo, can you speak English ?”, “ I wish i could, what can I do for you ?”, “ where is Seoul National University ?” , “ not far from here!”, “Can you tell how to get there?”….. dan akhirnya berkat bantuan seorang tour guide aku sampai diapartemen deket kampus, bahasa korea hanya sedikit yang aku fahami yang paling susah dalam menggunakan bahasa korea adalah pronunciationnya, suara mereka lebih keras dari pada suara bicaranya orang indonesia. But that’s not a problem, I will try ! layaknya manusia biasa yang selalu berbicara pada diri sendiri lebih dari 5000 kata perharinya, pada hari pertama itu aku bahkan lebih dari 10000 kata berbincang dengan diri ku sendiri, bertanya dan menjawabnya sendiri, dan itu wajar kan anak baru, iya baru merantau J

Hari terus berlalu dan waktu terus berputar maju, sudah hampir seminggu memulai hal baru ini tidak terlihat berat namun sedikit berliku. Wajarlah hidup memang seperti ini namun mental tetap bersikeras mampu, otak terus menjanjikan sanggup. Budaya korea yang sangat berbeda dengan Indonesia makin hari makin kental terasa, suara berisiknya macet dan teriknya panas matahari berbanding 180o saat berada di korea, dingin yang sangat dingin membuat aku diserang flu, demam selama seminggu dan itu wajar, tubuh ku yang mungil ini sedang beradaptasi. Harus kuat dan harus berani karena setiap mimpi memiliki risikonya masing-masing dan sang pemimpi harus siap atas hal itu.

Aku Yura 19 tahun, seorang mahasiswa Seoul National University jurusan Psychology. Dengan mimpi besar ku, aku siap untuk menghadapi dunia walau harus pergi sejauh ini. Setiap manusia didunia ini, siapapun itu, bagaimanapun kondisinya, pasti ia punya mimpi, sekalipun ia merasa hidupnya tidak berarti dan tidak ada tujuan, percayalah hati kecilnya selalu punya rencana, alam sadarnya selalu ingin bahagia.

Terkadang terlintas dalam lamunan betapa beruntungnya diriku saat ini, sangat kangum dan bangga kepada ayah dan ibu telah mendidik ku seperti ini, bukan hanya akademik yang mereka tuntut. Ayah dan ibu juga sangat menghargai bakat ku sebagai perenang. Sejak umur 5 tahun aku sudah dapat berenang dikolam yang kedalamannya 2 meter, Walaupun tidak dengan teknik renang yang baik dan benar. Oleh karena itu, sejak itu ayah dan ibu mendaftarkan aku untuk les renang. Bukan hanya renang sebenarnya aku juga adalah atlet lompat tinggi walau tanpa les dan latihan yang benar, hal ini tiba-tiba saja terjadi saat aku masih duduk dibangku SMA. Saat itu guru olahraga ku mendaftarkan aku ke lomba tingkat provinsi dan akhirnya aku mendapatkan juara 3. Hal itu tidak berlangsung lama karena aku sebenarnya tidak dapat melompat dengan baik, aku lebih suka renang.

Awalnya aku pernah hampir bermimpi ingin menjadi perenang handal dan terkenal diseluruh dunia, tapi setelah difikir-fikir tidak semua hobby harus ditekuni sedalam-dalamnya dan membagakan orang tua dengan prestasi akademik lebih menjadi impian ayah dan ibu. Seperti inilh jalan yang dikehendaki orang tua dan keluarga, percaya saja apa yang dikehendaki orang tua pasti semua demi kebaikan anak-anaknya, walaupun kadang seorang anak merasa perjalanan hidupnya terlalu berliku-luki. Itu semua wajar, bahkan semua orang didunia ini menjalani hidupnya dengan lika-liku yang masing-masing dari sudutnya berbeda. Sudah hampir sebulan kuliah dikorea dan aku belum bertemu orang-orang yang bisa membantu ku bergabung dan mengembangkan bakat ku sebagai perenang, sampai keseluruh sudut kota aku mencari dan terus mencari. Sampai pada akhirnya aku berjumpa dengan Rado. “ you love bulgogi so much I can see it ~ “ begitulah perbincangan awal yang dimulai rado. “ oh yes but I love swimming more” jawab ku dengan wajah memelas karena sudah beberapa hari berkelana dan belum menemukan club renang yang aku harapkan. “ you can join with us !” “oh really ?”…… setelah percakapan panjang itu aku pun bergabung dengan club renang yang ada dikampus dan akhirnya satu mimpi tersalurkan lagi.

Hari berganti hari, nampaknya aku sehat namun dipertengahan jalan studi ku dinegeri ginseng, aku divonis vitiligo. Akupun entah dengan nama asing itu, ternyata vitiligo adalah suatu kondisi dimana kulit kehilangan melanin, pigmen yang membentuk warna kulit maupun rambut, pigmen mati dan wajah ku jadi sangat mengerikan bahkan aku takut untuk melihat wajah ku sendiri. Aku minder dan aku seperti menghilang dari dunia ini, aku malu bahkan aku malu untuk berbicara didepan kelas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dosen. Aku selalu dengan masker ku kemanapun aku pergi, aku selalu menggunakan masker karena aku malu, aku sangat malu dan aku bertingkah seolah aku bukan makhluk sosial lagi yang dapat bersosialisasi dengan teman-teman ku yang lain, aku lebih menutup diri. Hobby ku adalah berenang dan 1/2  (setengah) dari hidup ku selama ini aku gunakan untuk benar-benar belajar teknik renang yang baik dan benar sampai aku dapat bergabung dengan komunitas renang terbesar dan terpopuler di seoul, aku terkenal disana dan aku punya banyak teman disana, tapi vitigo seolah merubah dunia ku bahkan aku seperti tidak mengenal diri ku sendiri.

Sekarang hobby ku berubah, aku bukan lagi perenang handal melainkan perenung handal, aku terlalu sibuk mengasihi dan bertanya-tanya mengapa aku jadi seperti ini? Mengapa vitiligo ini ada ? kenapa harus aku ? salah ku apa ? dan sekali lagi aku sudah sangat kehilangan diri ku.

Aku hampir menyerah dan ingin pulang kembali ke Indonesia tapi, tapi aku masih punya mimpi dan masih banyak hal lagi yang harus ku gapai. Sampai saat aku bertemu reika, dia tetangga ku di apartemen. Reika juga perantau, ia warga negara malaysia, saat itu aku duduk ditaman dekat apartemen ku dan reika menghampiri ku “ hi yura, nice to meet you !”, “you know me ?” jawab ku datar. Setelah perbincangan kami reika memberitau ku bahwa selama ini ia sering memperhatikan ku dan khawatir dengan masker ku, aku menjelaskan banyak hal tentang vitiligo ku dan reika ternyata.... hampir seluruh wajahnya tekena vitiligo dan aku hanya setengahnya. Reika mengajarkan ku cara menutup vitiligo ku agar lebih percaya diri. Kata Reika bukalah diri mu, jangan terlalu menyesal atas apa yang sudah terjadi,  karena sudah sejauh ini pergi, karena kamu sudah sejauh ini mengejar mimpi dan karena mimpi yang sudah dibuat, harus dipertanggung jawabkan.