Penyesalan ataukah Kebahagiaan? Apakah itu suatu pilihan?
Kebanyakan dari kita mungkin sering berpikir mengenai apakah kebahagiaan atau kesedihan adalah pilihan. Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan kesedihan tapi bukan berarti kesedihan adalah suatu hal yang tidak penting. Jika ditinggal oleh seseorang yang dicintai, kita pasti akan merasa putus asa atau sedih dan hal itu lumrah. Apabila kita ditinggalkan oleh mereka lalu kita merasa senang, bahagia dan bersuka cita itulah hal yang aneh dan rasa kasih sayang itu perlu dipertanyakan. Quote ini muncul pertama kali karena perkataan guru-guru saya yang telah bersusah payah mengajar saya. Kebahagiaan bukanlah pilihan tetapi adalah hadiah. Hal tersebut yang sampai sekarang saya ingat terus menerus. Ditambah lagi dengan perkataan seperti ini. Sementara penyesalan, itulah pilihanmu. Dengan kata lain orang yang berbahagia adalah anugerah atas pemberian-Nya tetapi bergantung kepada kita apakah kita akan bersyukur atau bersedih atas apa yang diberikanNya. Memang benar jika Ia tidak memberikan hadiah selamanya terkadang Ia memberikan ujian.
Dahulu saya suka sekali dengan olahraga. Kapten tim basket itu sudah jadi hal wajar bagi saya. Tetapi waktu berkata lain. Saya jatuh sakit dan dokter mendiagnosis saya sakit epylepsi hingga sekarang. Kegiatan saya dibatasi oleh penyakit ini. Awalnya saya sangat tertekan dengan kondisi saya. Saya hanya merasa seperti orang yang pingsan yang ketika bangun seluruh tubuh terasa sakit, mulut penuh luka gigitan, dan kepala terasa pusing. Saya tidak menemukan satupun alasan untuk saya berbahagia dengan kondisi seperti ini. Orang lain hanya berkata kepada saya untuk santai, jangan tertekan, dan sebagainya. Saya sontak berpikir kalau mudah bagi mereka untuk mengatakan hal demikian tidak ikut merasakan penderitaan yang saya alami. Otak saya sudah di scan MRI yang dicurigai dokter sebagai penyebab epilepsy namun tidak ditemukan adanya kerusakan apapun. Sontak saya merasa aneh dengan kondisi seperti ini. Saya bertanya kepada Tuhan secara berulang kali. Mengapa engkau memberikanku musibah seperti ini? Mengambil hal yang kusuka? Sehingga untuk menghibur diriku, aku bertingkah seperti orang bodoh di sekolah agar orang lain dapat menertawakanku yang setidaknya memberikanku sedikit kebahagiaan yang berasal dari orang lain. Tapi ternyata hal itu tidak semudah yang saya pikirkan dan hal itu tidak terjadi seperti yang saya harapkan. Mereka seperti menganggap bahwa saya benar-benar bodoh karena saya bertingkah laku seperti orang bodoh. Saya merasa tidak terima dikatain sebagai orang bodoh maka saya tunjukkan kalau saya bisa menjadi orang yang pintar tetapi sayang, saya telah membuang waktu-waktu saya demi hal yang tidak penting. Saya merasa tersesat dan tak tahu lagi apa yang bisa saya lakukan. Saya bertanya ke sana ke mari tidak menemukan jawaban. Saya mencoba berbagai pengobatan tetapi masih belum sembuh hingga sekarang. Karena merasa tertekan dan tidak memiliki pekerjaan apapun maka saya memutuskan untuk lebih memfokuskan ke jalur akademik atau bahasa kerennya menyerah pada situasi.
Di kelas 10 saya baru niat belajar secara sungguh-sungguh, yah walaupun menurut saya itu sudah terlambat tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Akhirnya saya bertemu dengan guru agama saya yang sering bergurau dengan saya. Beliau memberikan teladan kepada saya bukan melalui perkataannya tetapi melalui tindakannya. Ia tampak seperti orang yang selalu tersenyum yah walaupun keseringan memberikan candaan yang jayus sehingga saya secara terpaksa harus tertawa agar menyelamatkan gengsinya tetapi ia tampak tidak mempermasalahkan hal itu. Saya menjadi tertarik dengan kepribadian seperti ini sontak saya berpikir, "Kebahagiaan sebesar apa yang ia miliki hingga penderitaanpun dapat dilaluinya dengan mudah?" Akhirnya saya mencoba untuk mendekatinya dan lebih sering berbicara dengannya. Ia telah menjadi seperti seorang kakak bagi saya. Pada jam istirahat saya luangkan sedikit waktu saya untuk setidaknya bertatap muka dengan dirinya sekaligus menatapinya bila ada perubahan emosi menjadi pemarah atau yang negatif lainnya. Akhirnya saya menyerah karena menurut saya mencari kekurangan orang lain itu adalah tindakan yang sia-sia sehingga saya memutuskan untuk bertanya kepadanya secara langsung mengenai sumber kebahagiaannya. Ia hanya menjawab, "Kalau kamu belum bisa mengasihi dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa mengasihi orang lain?" Hal itu membuat saya diam seribu bahasa karena itulah kebenaran dan saya merasakan hal itu. Akhirnya saya menemukan seseorang yang mengasihi saya melebihi siapapun dan ia selalu bersama-sama dengan saya, ialah Tuhan saya, Allah saya.
Setelah saya mengenalNya saya seperti terpisah dari dunia, tidak lagi mengindahkan dunia. Saya merasa sagat bersyukur dengan anugerah yang ia berikan kepada saya seperti penyakit epilepsy. Apabila Ia tidak memberikan penyakit semacam itu kepada saya, mungkin saya sekarang akan menjadi pemain basket dengan nilai sekolah yang buruk atau bahkan menjadi orang bodoh sungguhan. Apabila saya tidak diberikan penyakit semacam hal itu, saya akan menjadi seseorang yang sombong dan liar. Saya akan memandang rendah siapapun yang berdiri di depan saya dan yang terlebih penting, saya tidak akan bisa bekerja karena tidak memiliki kepandaian dalam bekerja. Tentu saja akan ada beberapa orang yang menganggap saya hanya menghibur diri saya sendiri yang terlepas dari bukti jika saya memang benar-benar bahagia. Hal itu tidak dapat saya salahkan karena itu adalah hak beropini semua orang. Yang ingin saya garis bawahi adalah RencanaNya untuk hidupmu melebihi rencana siapapun. Sia-sia saja menyesali apa yang sudah terjadi. Penyesalan selalu berada dibelakang, karena kalau berada di depan tidak akan ada yang namanya penyesalan. Terkadang kita melihat apa saja yang berada di permukaan air tetapi kita tidak tau kalau dibawah permukaan air ada bahaya atau tidak. Perumpamaan yang saya sukai adalah seperti ini. Di danau yang tenang berdiri seorang pria. Pria tersebut dilempari pisang oleh kera yang berada diatasnya, sontak pria tersebut langsung melempari si kera dengan batu dipinggir danau. Si kera tidak putus asa dan melemparinya kembali dengan kulit pisang. Karena geram pria tersebut memanjat pohon dan mencoba memukul si kera. Akhirnya ia berhasil memukul kepala si kera hingga berdarah. Tiba-tiba buaya besar keluar dari dalam danau ke tepian untuk menyantap si kera. Sontak pria tersebut kaget dan merasa menyesal karena telah membunuh si kera, ia merasa beruntung karena diselamatkan si kera. Itulah yang sering terjadi dalam hidup manusia, terkadang kelihatannya seperti danau yang memiliki air yang tenang tetapi di dalamnya terdapat buaya ganas yang siap menerkam.
Berbahagialah orang yang bijak yang mengetahui apa yang harus ia lakukan pada saat situasi genting. Jika diperbincangkan pasti akan ada banyak sekali penyesalan yang terasa karena inilah manusia. Terima kasih telah membaca dan semoga bermanfaat.