Terkadang pengalaman lebih berharga dari sebuah kemenangan. Sementara kemenangan merupakan pengalaman yang amat berharga jika kita memaknainya bukan untuk disombongkan.
​​​​
"Terkadang pengalaman lebih berharga dari sebuah kemenangan. Sementara kemenangan akan menjadi pengalaman yang amat berharga jika kita memaknainya bukan untuk disombongkan."
Hari itu aku berangkat seorang diri. Tiba di depan pintu gerbang, aku diam sejenak. Memperhatikan segala hal yang ada di sekelilingku. Yang lain terlihat ramai-ramai diantar keluarganya. Ada yang diantar oleh orang tua, kakak, adik, atau bahkan mungkin pasangannya.
Setelah kuamati beberapa lama, aku bukan satu-satunya yang datang sendiri ke tempat itu.
"Ah, leganya..." batinku sambil bersemangat mulai masuk melangkahkan kaki lagi. Tak henti-hentinya orang-orang keluar masuk gerbang tersebut. Ada yang menampakan wajah sumringah, bingung, kecewa, bahkan ada yang matanya terlihat sembab. Maklum, tes ini sepertinya jadi salah satu tes bergengsi untuk anak-anak negeri.
Aku penasaran dengan diriku sendiri saat keluar gerbang ini nanti. Entahlah, aku juga tak begitu berharap kelayakan untuk menang. Namun, euforia itu juga selalu terbayang-bayang seandainya aku bisa lolos tes yang diikuti puluhan ribu orang ini. Siapa pula yang tak menyukai kemenangan? Tapi tidak semua orang membenci kekalahan.
Sebelum masuk ke bagian registrasi, aku bertemu dengan salah satu teman satu kampungku. Diantar oleh kedua orang tuanya, dia sudah bersiap untuk kembali pulang. Dia telah mengikuti tes pada sesi ketiga, sementara aku ikut tes di sesi setelahnya. Senang sekali rasanya aku bisa bertemu dengan orang yang kukenal di tempat yang asing.
Mereka menyapaku dan kami pun saling berbincang sebentar. Ternyata kebahagiaan yang kudapat karena bertemu dengan orang-orang satu kampungku itu hanya sesaat.
"Yesi, kamu ikut daftar yang bagian umum ya?" tanya ibu temanku tersebut.
Aku mengangguk tersenyum.
"Kalau Dela ikut yang bagian cumlaude, lho. Masa iya aja kalau Dela nggak lolos." Kata ibunya lagi dengan bangga.
"Oh, alhamdulillah, dong, Dela bisa lolos. Semoga tahap selanjunya bisa lolos juga, ya, Del." Tanggapku lagi-lagi dengan senyuman.
"Oh, iya, dong. Dela kan waktu kuliah aja menang prestasi ini dan itu. Ya, masa nggak lolos." Tambah ayahnya.
"Iya, Om. Dela kan pinter. Ya, pasti lolos." Rasanya aku ingin cepat-cepat masuk ke dalam gedung meskipun waktu tesnya dimulai sekitar satu jam lagi.
Kuperhatikan Dela sendiri tersenyum lebar. Pastilah, Dela bahagia. Bahagia sekali.
"Yesi, kalau nanti nggak lolos jangan putus asa, ya. Tenang, siapa tahu ada kesempatan di tempat yang lain."
Itu kalimat terakhir Dela sebelum mereka pamit pulang lebih awal. Aku berusaha untuk tidak marah, tidak sedih, tidak kecewa. Tapi ujung-ujungnya dadaku terasa sesak sekali. Sudah biasa menghadapi keluarga Dela yang rumahnya percis di depan rumahku. Orang tuanya sering kali membanding-bandingkan aku dan Dela. Terlebih lagi, saat tahu bahwa ibuku hanya lulusan SMP dan ayahku seorang Sarjana tidak jadi. Sementara orang tua Dela, keduanya lulusan S2 kedokteran. Sejak lulus kuliah , dengan IPK yang tidak sememuaskan Dela, aku berusaha untuk melamar pekerjaan kesana kemari, tapi hasilnya masih nihil. Aku pun semakin menjadi bulan-bulanan keluarga Dela.
Sampai akhinya, ibuku memberi aku kekuatan untuk hanya selalu mendengarkan dan menyerap kata-kata yang berguna sekalipun itu keluar dari orang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.
Sebelum benar-benar memasuki ruang tes, aku mempersiapkan diri sebaik mungkin. Terus berdoa karena itu satu-satunya sejataku. Aku memilih menunggu di basement. Duduk di sebuah kursi yang memang disediakan panitia untuk tempat tunggu. Di sebelah kananku ada seorang nenek yang menawarkan aku minuman.
"Terima kasih, Bu. Aku udah bawa minum."
"Ikut tes yang terakhir ya, Dek?" tanya Nenek yang terlihat seumuran dengan nenekku.
Aku mengangguk lalu balik menawarkan beberapa makanan yang kubawa sebagai bekal.
"Aduh, nenek mah udah gak kuat makan keripik pisang, Dek. Giginya udah nggak kaya dulu." Katanya sambil tertawa. Ah, aku jadi merasa bersalah. Untunglah ada beberapa bungkus roti dan akhirnya kuberikan pada nenek tersebut.
Setelah lama mengobrol, ternyata nenek tersebut mengantar cucunya untuk ikut tes. Karena kedua orang tuanya sudah meninggal, jadi sejak cucunya masih kecil, beliau dan suaminyalah yang merawatnya. Jadi terharu mendengar cerita nenek yang satu ini.
"Oh, iya, Nek. Cucu nenek sekarang di mana?" aku penasaran dengan sosok cucu yang diceritakan nenek itu.
Sang nenek pun menunjuk seorang gadis dibelakangnya.
"Oh, halo! Aku Yesi." Sapaku yang baru menyadari kalau yang duduk di belakang nenek itu adalah cucunya sendiri.
Bertemu nenek tadi dan cucunya membuat aku lipa kejadian beberapa menit sebelumnya yang benar-benar menguji kesabaranku. Beruntung aku bertemu nenek itu. Hingga akhinya, saat aku keluar gerbang seusai mengikuti tes, aku tak kecewa sama sekali meskipun aku tidak lolos.
"Hasil itu bukan segalanya. Yang penting prosesnya. Kalau hasilnya kecapai tapi bikin kita lupa sama Yang Maha Kuasa, itu sama aja bohong, Dek. Nenek juga cuma lulusan SD, tapi pengen banget anak-cucu harus lebih baik dari nenek. Cucu nenek ikut tes ini juga, ya lolos atau nggak mah pan yang penting dapet pengalaman, cucu nenek pernah ikut tes cpns. Kan bisa diceritain lagi pan ama anak-cucunya nanti."
Semoga nenek sekeluarga sehat, ya, Nek. Terima kasih atas pelajarannya hari itu. Aku yakin, Allah tidak diam saja. Yang penting seperti kata nenek. Do'a dan usaha. Menang atau kalah, asalkan kita bisa memaknainya dengan benar, pasti akan selalu jadi pelajaran dan pengalaman yang berharga.