Allah tau kamu kuat. maka Dia mengujimu dengan suatu hal yang lebih hebat. Maka untuk kamu yang mendapat ujian dari-Nya, jangan pernah menyerah. Buktikan bahwa kamu dapat menjadi orang yang kuat, walaupun kamu merasakan ujian dari-Nya begitu berat.
MY LIFE
Namaku Salma, Raniya Salma Shafiya. Seorang perempuan yang hanya berumur 14 tahun. Aku tidak tinggal dengan ayah dan ibuku. Aku tinggal di sebuah pesantren yang terletak di Bogor. At-Taqwa Islamic Girl Modern Boarding School. Dan sekarang aku menduduki bangku kelas IX. Sudah hampir tiga tahun aku mukim di pondok ini. Semua hal, baik manis maupun pahit kuhadapi sendiri. Tanpa orangtua. Ini memang kemauanku untuk menuntut ilmu di sebuah pesantren. Karena kufikir, itu keren. Tinggal tanpa orang tua dan memiliki banyak teman.
Sekarang ini, aku sedang banyak sekali ujian. Dan sekarang aku sedang di sibukkan oleh Try Out dari sekolah. Baru saja minggu kemarin aku selesai menjalani Try Out 1. Dan minggu ini adalah Try Out ku yang ke dua kalinya. Meskipun ini sebuah pesantren. Tapi pondokku bukan sebuah pondok salafy. Dari namanya saja sudah ‘modern’. Pesantren ku masih ada di bawah bimbingan kedinasan. Jadi, kami juga mempelajari pelajaran layaknya anak SMA lainnya. Hanya bedanya kami tinggal di asrama dan mempelajari beberapa pelajaran agama dengan lebih dalam. Kami juga menghafal Al-Qur’an. Bisa kalian bayangkan? Betapa banyak ujian yang harus kami jalani. Ujian kedinasan, ujian pondok, ujian tahfidz, dan lain sebagainya.
“Sal, makan yuk” ajak salah seorang teman ku. Namanya Isma atau biasa ku panggil Ima. Aku merapihkan alat tulisku dan pergi dengan temanku untuk makan. Ruang makan di pondok kami ada di lantai satu.
“Malam ini makan pake apa Im? ” tanyaku yang tidak pernah hafal jadwal makan malam. Karena jadwal makan malam tak jauh dari “3T”. Yep, telor, tempe dan tahu. Ya, walaupun begitu aku tetap mensyukurinya. Daripada tidak makan sama sekali?
“Tempe sama sawi putih Sal..” aku mengangguk. Sesampainya di ruang makan. Kami disambut oleh antrian yang panjang. Yap. Namanya pesantren, tinggal seatap dengan orang-orang yang sekalipun itu adik kelas atau kaka kelas. Tetap saja semuanya harus ANTRI. Aku dan Isma pun ikut mengantri. Selesai mengantri dan mengambil makanan, aku dan Isma duduk di meja makan bersama teman kami yang lainnya. Angkatan ku terdiri dari 25 orang. Dikit? Memang iya. Namanya pesantren baru kuota muridnya masih sedikit.
“Eh pelajaran pertama bakal TO besok apaan si?” tanya Adis sambil menyantap makanannya. Coba, besok try out dan sekarang baru nanya pelajarannya apah. Hebat kan?
“Bahasa Indonesia ama Mtk dis..” jawab Anin santai. By the way si anin ini jago Mtk, jadi santai aja dia mah besok pelajaran Mtk juga. Aku mah boro-boro deh. Besok TryOut aja aku belajar sekarang..ck ck ck.
Setelah selesai makan aku kembali ke kamar dan mengambil buku pelajaran yang akan diujiankan besok. Aku kalau belajar biasanya di pendopo. Soalnya enak, sejuk sepi gimana gitu. Kalau malam juga ada lampunya, jadi engga gelap. Pokoknya pendopo is the best ever. Aku belajar bareng isma dan juga lidia. Karena kalau malam sendiri kurang berani. Namanya anak manusia wajar aja kalo takut.
“Im ajarin mtk dong..” ujar lidia yang juga ku setujui. Jujur, diantara kami bertiga yang paling jago mtk nya itu si Isma. Tapi, Isma ini orangnya malu-malu harimau. Bilangnya mah gabisa, padahal mah bisa hahaha. Belum lama kami belajar waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Kami harus masuk ke asrama. Waktu tidur kami ditentukan oleh bagian keamanan. Telat masuk kamar pasti akan disuruh jongkok sampe masuk kedalam kamar. Kami pun bergegas untuk masuk ke dalam dan naik ke lantai atas menuju kamar kami.
X X X
Hari pertama try out berjalan lancar. Begitupun hari kedua dan hari ketiga. Rabu depan tanggal 05 Maret 2014 kami akan field trip atau lebih tepatnya kunjungan ke Islamic Book Fair. Kunjungan terfavorit. Aku suka sekali membaca. Dan kalau ke Islamic Book Fair aku bisa beli buku yang harganya murah. Dan barang favorit kedua yang aku beli itu kaus kaki. Murah banget. Biasa anak muka hemat mah susah.
“Sal, ada telepon tu” Novi menghampiriku seraya memberikan handphone pondok kepadaku. Pondok aku punya hape khusus buat telepon dan sms. Lumayan kalau mau menghubungi orang tua. Minta bawa ini dan itu saat minggu penjengukan nanti. Aku pun menerima telepon itu dan mulai menjawab.
“Halo Assalamu’alaikum bu? Kenapa telpon salma bu? Tumben”
“Wa’alaikum sayang.. bapak masuk rumah sakit nak.. kamu siap siap ya, bisa pulang sendiri kan sayang? Nanti kerumah sakit mitra keluarga ya. Atau minta antar sama ustadzah..”
DEG! Bapak masuk rumah sakit?. Entah kenapa dadaku terasa sesak. Aku langsung saja lari ke lantai bawah dan masuk ke kamar ustadzah. Dan akhirnya ada yang bisa mengantarku kesana. Tanpa basa-basi aku langsung saja pergi bersama Ustadzah Ani ke RS.Mitra Kluarga. Sesampainya di sana aku langsung menuju ruang UGD tempat bapak di rawat. Akupun masuk ke dalam dan mendapati ibu yang sedang duduk di samping bapak. Ada adikku juga. Namanya Shelina Angelia.
“Bu, bapak kenapa bisa kaya gini?” tanyaku yang tidak tega melihat kondisi bapak. Bapak menggunakan alat bantu nafas dan yang sangat membuatku sedih. Mata bapak dalam keadaan terbuka namun ia tidak bisa berkedip dan matanya merah sekali. Aku sangat tidak tega melihatnya.
“Tadi bapak jatuh di kamar mandi sayang.. bapak stroke..” Airmataku mengalir tanpa disengaja. Stroke?. Astagfirullah. Kasihan bapak. Kupeluk bapak dan ku berbisik di telinganya.
“Ya Allah pak.. bapak.. ini Salma..” aku berusaha untuk membuat bapak meresponku. Aku menangis dan menciumi punggung tangan bapak. Tangan bapak bergerak tanda merespon ucapanku. Kulihat mata bapak mengeluarkan air mata.
“Pak, ini kaka.. bapak yang kuat ya pak.. bapak pasti dikit lagi sembuh..” ku usap air mata yang turun ke pipi bapak.
Setelah satu jam aku di RS. Aku pun meminta ijin kepada bapak dan ibu untuk kembali ke pesantren. Karena aku hanya diberi batas sampai jam lima untuk berada di RS.
Sesampainya di pondok suasana terasa hening. Ya, karena para santriwati sedang melaksanakan shalat berjamaah di aula. Aku mendapati Novi yang sedang menjemur pakaiannya. Aku menghampirinya sekalian mencuci kakiku sebelum masuk ke kamar.
“Gimana bapak Sal?” tanya Novi kepadaku. Aku memeluk Novi dan menangis. Novi membalas pelukanku. Aku tidak bisa menahan tangisku.
“Aku takut bapak kenapa-napa Nov..” tangisku pecah.
“Salma.. InsyaAllah bapak ga kenapa-napa kok, kamu doain aja terus bapak biar cepet sembuh..ya?” Aku mengangguk mengiyakan. Novi melepas pelukanku dan meletakkan kedua tangannya di pundakku dan menatapku intens.
“Sal, ujian datang dari Allah untuk menguji seberapa besar kesabaran kamu dalam hal ini.. kamu tau kan, Allah gabakal ngasih cobaan yang melampaui batas kemampuan hambanya. Kamu jangan nangis lagi ya? Mending sekarang kamu ambil wudhu abis itu shalat ashar”
“Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim... Aku mencintai bapak, sembuhkanlah bapak jika memang itu yang terbaik untuknya ya Allah, jangan kau ambil dulu dirinya dari kehidupan kami ya allah, aku belum siap ya allah.. sembuhkanlah bapak ya allah”. Selesai aku melaksanakan sholat aku mengambil kitab suci Al-Qur’an dan membaca surah Ar-Rahman. Entah mengapa aku ingin membaca surah Ar-Rahman.
Selesai membaca Al-Qur’an aku melakukan aktifitasku seperti biasanya. Hari ini adalah jadwalku untuk menyuci baju. Setelah mencuci baju mungkin aku akan belajar. Walaupun di sibukkan dengan berbagai macam kegiatan tetap saja aku tak bisa tidak memikirkan bapak dengan kondisinya yang seperti sekarang ini. ‘Ya Allah semoga bapak baik-baik saja’.
XXX
Hari ini tepatnya tanggal 10 muharram atau pada tanggal 04 Maret 2014 pada hari Selasa. Pesantrenku mengadakan acara santunan untuk anak yatim. Pukul 09.00 acara akan dimulai. Kami berkumpul di Aula pondok. Acara pun dimulai. Pembukaan serta sambutan dari para panitia sudah berakhir. Dan sekarang masuk ke dalam acara inti. Santunan untuk anak yatim.
Aku duduk di samping Isma dan Lidia. Karena sedikit bosan aku menulis tanggal dan hari ini di tembok Aula. Dan aku bergumam ‘Semoga aku tidak menjadi anak yatim seperti mereka’ Isma mendengar gumamanku dan langsung mengusap pundakku seraya berkata “Insya Allah engga Sal.. kan hari ini bapak kamu boleh pulang ke rumah..”
Aku tersenyum mengingat yang ibu katakan. Ya, hari ini adalah kepulangan bapak ke rumah. Hari ini juga adalah hari terakhir aku melihat bapak di Rumah Sakit. Alhamdulillah. Nanti sore aku akan ke Rumah Sakit untuk mengantar bapak pulang ke rumah
Satu jam berlalu. Acara santunan pun berakhir. Adzan dzuhur berkumandang. Para santriwati dan ustadz juga ustadzah lainnya bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat dzuhur berjama’ah di Aula. Setelah semuanya berkumpul di aula. Komat pun dikumandangkan. Dan kami memulai shalat dzuhur berjama’ah.
“Terima kasih Ya Allah, akhirnya bapak bisa pulang hari ini..” doa ku dalam hati. Setelah shalat selesai. Kami para santriwati pun kembali ke asrama.
“Balik yuk!” ajak Lidia kepadaku dan Isma. Kami pun kembali ke asrama. Etelah ampai ke asrama aku mauk ke dalam kamarku. Satu kamar berisi sepuluh orang, dan aku sekamar dengan Lidia juga Novi.
Sore ini aku akan ke Rumah Sakit dan di antar lagi oleh Ustadzah Ani. Selama perjalanan Ustadzah Ani hanya diam dan tak bicara apapun. Aku sudah tidak sabar ingin ketemu bapak. Sesampainya di sana aku langsung lari untuk ke ruangan bapak. ku lihat ibu sedang duduk di sana. Aku menghampiri ibu dan bertanya. Air mataku? Kenapa aku mengeluarkan air mata?
“Ibu.. kenapa?”
“Bapak udah ga adaa kak...” saat itu juga nafasku tercekat. Aku mengalihkan pandangan ku pada bapak. wajah bapak pucat. Aku langsung menghampiri bapak “Bapak... ini Salma pak..” aku mengusap tangan bapak berharap bapak bangun.
“Sabar sayang, bapak sudah meninggal” entah apa yang harus aku lakukan. Aku tidak bisa menerima ini. Apa ini maksutnya pulang ke rumah?. Kenapa harus secepat ini?
“Pak.. Bapak bangun pak, ini kaka.. bapakk!!! Pak aku mohon bangun pak..jangan tinggalin Salma pak..” aku mengguncang tubuh bapak dengan sangat kencang agar bapak terbangun. Tak lama adikku datang. Dia menangis. Suasana pun menjadi sangat duka. Tangisku pecah di ruangan ini. Sementara ibu masih menangis sambil mengelusku. Ini tidak adil. Apa sekarang aku benar-benar menjadi anak yatim?!
“Ka.. udah kak.. ikhlasin kepergian bapak” YA ALLAH. Sakit sekali rasanya. Kenapa ya Allah?! Kenapa harus bapak?! kenapa harus sekarang?! Aku berteriak. “BAPAK..!”. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Kepalaku pusing.
XXX
Setelah kepergian bapak, aku merasa sangat kesepian. Entah kenapa aku masih belum bisa mengikhlaskan kepergian bapak. Setiap hari kuciumi handuk bapak. Aku rindu bapak. Terakhir aku bicara sama bapak satu bulan lalu. Saat bapak menjengukku di pondok.
“Ibu.. ibu pernah bilang ke adek.. kalo kita gaboleh nangisin orang yang udah meninggal karena itu tidak baik, dan sekarang bapak udah meninggal tapi ibu sama kakak masih nangis terus.. kata ibu kita harus tabah..” ucap adikku kepadaku dan ibu. Ibu pun memeluk kami berdua seraya berkata “Iya maafin ibu yang sayang.. ibu janji ga akan nangis lagi..”
‘ya allah bisakah aku tabah seperti adikku?’ gumamku seraya menangis di pelukan ibu. Ibu melepas pelukannya dan mengusap air mataku seraya berkata “Besok kaka balik ke pesantren ya?” aku mengangguk. Ya, sudah sekitar seminggu aku di rumah semenjak kepergian bapak.Aku harus semangat. Aku yakin almarhum bapak pasti gamau liat aku kaya ginih
XXX
Hari ini aku kembali ke pesantren. Aku menghembuskan nafas dan menghempaskannya. Ya Allah, maafkan hambamu ini yang telah lalai. Mulai sekarang aku akan menjalaninya. Aku yakin bapak senang di syurga sana jika aku tetap menjadi Salma yang bapak kenal. Selalu ceria dan pantang menyerah. Sampailah aku di pondok tercintaku.
“Bismillahirrohmanirrohim! Kamu bisa Sal, setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Semua,akan indah pada waktunya” aku masuk ke dalam dan menemui para ustadzah terlebih dahulu. Sesampainya di atas. Semua teman seangkatanku menyambutku. Memelukku. Aku sadar, aku masih punya mereka. Orang-orang yang masih menyayangiku. Aku tidak boleh berhenti di sini.
“Bapak, Salma janji. Salma akan menjadi anak yang baik. Salma akan tunjukkan yang terbaik untuk ibu dan juga bapak.. Salma janji pak..” teman-temanku masih saja memelukiku.
“Eh udah dong peluk-peluknya.. kalian ga laper? Aku bawa makanan banyak loh..” ujarku menawarkan. Mereka pun akhirnya berhenti memelukku dan kami akhirnya makan bersama dan tertawa bersama. ‘Terima kasih atas segala nikmatmu ya Allah, aku masih memiliki teman yang menyayangiku..’.
Ingatlah kawan, Dia memberimu cobaan karena Dia tau bahwa dirimu kuat dan bisa mengatasinya. Bersyukurlah kamu masih di anggap sebagai Hamba-Nya. Allah tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan Hamba-Nya.