Even a girl with a scar has her own beauty.
Berbicara tentang seorang anak manusia, tentang sejarah hidup, salasilah dan pengalaman, aku bukanlah orang yang tepat untuk bercerita mengenai diriku sendiri, aku orang yang sederhana dan agak tertutup. Apa yang aku tuliskan hanyalah untuk berbagi sebuah cerita biasa tentangku, karena seperti yang kita tahu bahwa setiap jiwa itu berbeda, dan setiap orang mengalami kisah dan pengalaman yang tidak sama. Begitu juga halnya denganku.
Namaku diberi oleh kedua orang tua tercinta yaitu Fatimah Zuhra. Nama seorang tokoh wanita hebat idola setiap muslimah shalihat termasuk juga diriku. Meski demikian, kepribadianku tidak setanding dengan nama indah ini, sehingga terkadang aku merasa malu sendiri, malu memegang nama agung ini. Aku seorang anak kampung yang membesar di kota. Aku lahir di Aceh Utara tepatnya di Meunasah Cangguek, Tanah pasir pada tanggal 8 September 1997. Apa yang bisa ku ceritakan mengenai tempat dan tanggal lahirku tidaklah begitu menarik. aku sendiri tidak pernah merasakan tinggal di Aceh sebelumnya, aku tidak tahu apapun mengenai Aceh, kecuali ia adalah salah sebuah provinsi di Sumatra Indonesia (yang ku pelajari di pelajaran Geografi ketika di bangku sekolah). Dan mengenai tanggal lahir, 8 September 1997 itu tidak tercatat dimana pun dan tidak ada hitam putihnya. Aku sendiri baru mengetahui bahwa itulah tanggal lahir asliku ketika berumur 17 tahun, karena di KTP dan Sipil Kelahiranku tertera tanggal 10 November 1997. Namun berapa pun tanggalnya tidak aku permasalahkan, lagi pula menurutku, apalah arti sebuah tanggal lahir bagi seorang Fatimah Zuhra.
Lanjut mengenai diriku, aku merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Aku punya seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Adik laki-lakiku telah kembali bertemu Allah pada saat dia baru bisa melihat dunia beberapa detik. Jadi, hanya tinggal kami betiga. Kami dibesarkan dan diasuh oleh kedua orang tua tercinta di negara Malaysia. Aku dibawa kesana ketika berusia dua tahun, abangku ketika itu berusia empat tahun dan adik kami setelah itu lahir di Malaysia dan berkewarganegaraan Malaysia. Aku berasal dari keluarga yang istilahnya “broken home” (orang-orang beranggapan inilah sebabnya mengapa aku memilih jurusan Psikologi, dan aku tidak menyangkal itu.) selama hidupku, apa yang aku inginkan adalah bagaimana aku bisa menemukan identitas diriku sesungguhnya dan bagaimana kami sekeluarga bisa rukun dan bahagia? Menurutku, itulah juga apa yang diinginkan oleh kakak dan adik. Kami sama-sama ingin bebas dari ketegangan yang wujud dalam keluarga kami sehingga pada akhirnya kami bertiga berpisah, mengikuti alur hidup masing-masing demi menemukan apa yang kami cari: sebuah identitas yang hilang.
Dari kecil sehingga dewasa, aku sudah terbiasa hidup dengan penuh aturan-aturan yang wajib dipatuhi. Istilahnya seperti robot yang hanya bergerak sesuai cip eletronik yang telah diprogramkan kepadanya, begitu jugalah kami bertiga. Aku sejak kecil tidak pernah diberi kebebasan memilih dan memutuskan kemauanku. Semua tentangku, mulai dari bangun pagi sehingga tidur lagi, segala perilaku dan aktivitasku semua telah diatur oleh ayah. Entah itu apa yang aku makan, kemana aku pergi, baju warna apa yang harusku pakai, peringkat berapa didalam kelas, aku berteman dengan siapa, sehingga hobi dan cita-citaku juga semua harus sesuai aturan yang ditetapkan. Begitu juga dengan kakak dan adik. Sebagai seorang anak kecil aku masih bisa menerima semua aturan-aturan itu, namun seiring dengan beranjaknya keusia remaja, aku mulai menjadi anak yang sangat keras kepala dan memberontak. Meski demikian, semua itu tidak berlangsung lama. Ayah, dengan menggunakan kuasa diktatornya sebagai kepala keluarga pada akhirnya berhasil menundukkan jiwa remajaku yang sangat kacau. Sehingga pada akhirnya aku memendam apa saja keinginanku jauh kedalam jiwa bawah sadar, dan berusaha keras untuk menerima semua aturan-aturan yang telah ditetapkan dan takdir apa yang memang tertulis untuk diriku. Bermula dari situlah aku menjadi seorang anak yang pemendam, pendiam, minder, penakut dan tidak punya wawasan yang jelas dalam hidup.
Seperti rata-rata anak remaja lainnya di Kuala Lumpur, kehidupan setelah tamat SMA itu adalah kemerdekaan sementara bagi kami. Selesai mengikuti Ujian Nasional (UN) aku dan teman-teman sudah merencanakan liburan bersama. Namun, aku seolah-olah terlupa bahwa aku masih tinggal di bawah kediktatoran sang ayah, maka apapun yang aku sukai, akan menjadi sesuatu yang dibenci ayah. Entah dimana salahnya, aku sendiri kurang mengerti. Ayah menginginkanku untuk bekerja mencari uang sendiri daripada berkeluyuran tidak jelas. Sebenarnya apa kata ayah ada benarnya, iya ku akui itu. Maka proses mencari kerja pun dimulai sehingga dengan izin Allah aku diterima bekerja menjadi pembantu klinis di salah satu rumah sakit di pinggir kota. Hampir empat bulan bekerja, aku mulai gelisah memikirkan teman-teman yang lain sudah mulai kuliah. Sebagai seorang anak yang ilmunya masih terlalu sedikit, aku juga punya mimpi untuk melanjutkan sekolah seperti teman-teman lain. Kerunsinganku itu aku utarakan kepada orang tua, dan akhirnya setelah beberapa kali bertengkar mulut dengan ayah, aku mendaftarkan diri di Kolej Tingkatan Enam Petaling Jaya, melanjutnya Diplomat selama kurang lebih dua tahun di jurusan sastra Inggris, yang juga jurusan pilihan ayah.
Dua tahun tak berasa terlalu singkat, disaat aku merasakan sudah hampir menemukan identitas yang hilang itu, disaat aku mulai menghadiri kelas konseling rutin dan ikut berpartisipasi dalam semua seminar jati diri yang ada disekolah dan diluar, sehingga aku mulai mengenal apa itu organisasi dan teman baru, dua tahun tersebut telah berakhir. Aku meninggalkan Kolej Tingkatan Enam Petaling Jaya dengan sangat berat hati dan berharap bisa menyambung kuliah keperingkat Sarjana. Hanya saja, diwaktu itu takdir belum menyebelahiku. Disaat teman-teman yang lain sudah kuliah beberapa semester di Universitas lokal dan luar negeri, aku harus bersedia untuk bekerja lagi karena kondisi keuangan keluarga yang belum memungkinkanku untuk melanjutkan kuliah. Dengan rela hati aku pasrah dan bekerja sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di salah satu sekolah swasta. Selama kurang lebih lima bulan bekerja dengan harapan bisa mengumpul uang untuk kuliah, namun ada ketika aku sadar bahwa sudah menjadi tanggungjawabku untuk bisa membantu keluarga juga, dan dengan gaji yang tidak seberapa, aku menguburkan impian untuk kuliah lagi. Sehingga pada suatu ketika aku sudah tidak tahan lagi dengan segala masalah dan ujian yang terus menerus menimpa, aku kemudiannya memutuskan untuk berhenti berkerja dan pulang ke kampung dengan tujuan awalnya adalah sekadar “refreshing”. Dengan tiket pesawat yang memang sudah ku “booking” sejauh-jauh hari, aku pulang ke tanah kelahiranku di Aceh, tanpa tahu pasti takdir apa yang menantiku disana.
Tanggal 14 Mei 2017, adalah tanggal dimana aku istilahnya “melarikan diri” pulang ke kampung tanpa seizin ayah. Ayah pastinya kecewa dan marah besar karena aku menyia nyiakan pekerjaan yang sedang ku jalani. Namun, sebagai seorang anak remaja yang masih muda, emosiku pada ketika itu sangat terganggu dan aku tidak dapat berfikir dengan jelas. ‘Bagaimana kedepannya nanti?’,‘Apa yang harusku lakukan jika aku kembali ke Malaysia?’ ‘Bagaimana dengan kuliah sambilan kerja?’ Pertanyaan demi pertanyaan yang ku utarakan sendiri tidak terjawabkan dan ku biarkan berputar-putar didalam kotak pikiranku. Ketika di Aceh, di kota yang penuh peradaban dan ilmu agama, aku mulai merasakan kedamaian. Kalau kata orang waktu sehabis SMA itu kemerdekaan sementara, bagiku ketika dikampung itulah aku merasakan kemerdekaan dan kebebasan yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Mungkin benar kata orang, seenak enaknya tinggal di negeri orang, lebih enak lagi dinegeri sendiri. Dan pada ketika itulah aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Aceh, bagaimanapun caranya, tentunya dengan seizin Allah.
Berkat doa dari ibu tercinta dan keluarga, alhamdulillah aku diterima masuk di salah sebuah Universitas lokal di Aceh tepatnya di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, sebuah Universitas yang menjadi jantung hati rakyat Aceh. Bermulalah kehidupanku sebagai mahasiswa, pada usia 20 tahun dan alhamdulillah dengan biaya penuh SPP dari beasiswa Swasta. Aku kembali menemukan identitas yang hilang itu dan diriku yang sesungguhnya, Hubunganku dengan ayah juga sudah semakin baik, apabila ayah sudah bisa menerima kalau aku juga mempunyai keinginan tersendiri dan aku juga tidak mahu lagi hidup dengan segala aturan masa lalu. Walaupun dengan pelbagai ujian dan rintangan harus aku tempuh sebelumnya, akan ku akui amat sulit terlahir dan membesar di sebuah keluarga yang kurang harmonis, tetapi pada akhirnya, kitalah yang bertanggungjawab untuk merubah masa depan kita sendiri sebelum terlambat.
Jawaban bagaimana aku menemukan diri didalam diriku, menurutku berbaliklah pada Allah. Mungkin ada ketika aku sudah terlalu jauh dari Allah sehingga aku tidak lagi bisa melihat siapa aku sesungguhnya dan apa tujuan hidupku jika aku tidak pernah bisa mengekspresikan diri. Akan tetapi sebenarnya, kebahagiaan itu bukan sahaja ketika kemauan kita terpenuhi, tetapi ketika Allah meredhai setiap perjalanan hidup kita, meski itu bukan jalan yang kita pilih, tetapi bisa jadi itulah jalan terbaik yang ditakdirkan Allah buat kita, tentu saja dengan hikmah yang tidak kita ketahui. Bisa jadi apa yang menurut kita baik, belum tentu baik juga dimata Allah, begitu juga sebaliknya.
Pokoknya harus tetap semangat.
