rhyme

Di dalam setiap diri kita terdapat jiwa petualang, pengembara, mereka yang mengelana lautan bintang.

12 April

Luna: Tes, tes. Eh, ini udah benar nggak pakainya?

Astra: Iya, udah ke-read, kok.

Luna: Oh, syukurlah.

Luna: Ini baru pertama kalinya saya pakai app chatting kayak gini. Jadinya ya... hahaha.

Astra: Loh, baru pertama!? Trus, selama ini kamu belum pakai?

Luna: Ya gitu deh... nggak apa-apa kan?

Astra: Sama sekali nggak kok! Cuma kaget aja, hehe.

Luna: Oh, hahaha.

Astra: Ya udah, kita udah kenalan pas di matkul tadi siang...

Astra: Tapi di sini lagi nggak apa-apa kan?

Luna: Harus begitu ya caranya?

Astra: Nggak juga sih, cuma akunya aja yang mau.

Astra: Nama aku Astra. Kata orangtuaku namaku berarti ‘yang ada di antara bintang’.

Astra: Romantis banget, kan!

Luna: Hehe, iya. Aku Luna.

Astra: Aku jadi senang milih matkul ini. Nggak nyesa! Hahaha.

Luna: Memangnya kenapa?

Astra: Soalnya aku jadi bisa temenan sama kamu!

28 Juni

Astra: Luna, Luna, tadi seminar yang dibawakan ama Pak Gilbert tadi keren banget kan!?

Luna: Pak Gilbertnya emang keren dan tampan.

Astra: Duh, bukan orangnya! Maksudku materi yang ia bawakan!

Astra: Tapi Pak Gilbertnya memang keren...

Luna: Iya, kan! Kamu setuju, kan!

Astra: Aah! Bukan itu yang aku ingin bicarakan!

Luna: Kalau nggak salah materinya itu yang tentang preservasi sumber daya lautan itu kan?

Astra: Yes! Panel Tentang Pentingnya Preservasi Sumber Daya Lautan Bumi!

Luna: Kamu sampai hapal, ya...

Astra: Air, binatang dan tanaman, serta mineral yang terkandung di dalam air itu termasuk dalam satu sumber daya lautan. Seiring dengan bertambahnya populasi manusia, maka eksploitasi sumber daya ini juga makin meningkat.

Astra: Dalam beberapa tahun ke depan pasti akan tiba saatnya di mana jumlah sumber daya yang dibutuhkan tidak akan mampu seimbang dengan jumlah manusia di bumi.

Luna: Astra, kamu peduli banget dengan masalah ini, ya?

Astra: Tentu saja aku peduli.

Astra: Bagaimana pun juga ini menyangkut tempat tinggal kita semua.

Astra: Karena itu juga aku tidak menyukai mahasiswa lainnya yang tidak serius dalam studi mereka!

Astra: Hanya karena orang lain bisa terlahir pintar bukan berarti orang seperti kita yang berusaha keras bisa dicampakkan begitu saja.

Astra: Ah, sori. Jadinya terlalu bersemangat.

Luna: Nggak apa-apa kok, aku senang kalau kamu bersemangat seperti ini.

Astra: Iih~! Kamu memang sahabat aku yang terbaik!

Astra: Seandainya kita bisa kenalan sebelum lahir pasti lebih seru!

Luna: Kayaknya nggak bisa begitu, deh...

Astra: Bercanda! Oh, iya, tujuan kamu ke universitas ini apa, Lun?

Astra: Luna?

Astra: Uit~! Eh, jangan-jangan kamu tidur lagi!?

Luna: Aku ingin membuat duniaku lebih luas lagi.

Astra: Oh... jadi seperti seorang pengelana?

Luna: Pengelana?

Astra: Kamu tahu bagaimana penjelajah dan pelaut jaman dulu berlabuh ke lautan demi membuat dunia mereka sendiri?

Astra: Tapi mengarungi lautan yang luas adalah hal yang mustahil.

Astra: Mereka yang pergi selalu berangkat dengan keyakinan bahwa mereka tidak akan selamat kembali, namun mereka tetap melakukannya.

Luna: Jadi mereka selalu gagal? Tenggelam?

Astra: Yah, lautan di Bumi itu selalu bertambah luas, kan? Jadi bicara dengan logika, menjelajahi seluruh lautan dalam hidupmu itu mustahil. Pasti akan ada halangan yang menghadang.

Astra: Dan jika halangan datang, maka selalu ada kemungkinan kapalmu juga ikut tenggelam.

Luna: Tapi bagaimana kalau kapalya tidak bisa tenggelam?

Luna: Jika kapal seorang pengelana mampu bertahan di lautan apa mereka bisa melihat seluruh dunia?

Luna: Halo? Jangan-jangan giliran kamu yang tidur?

Astra: Itu dia Luna!

Luna: Ha?

Astra: Aku akan membuat kapal yang tidak akan dapat ditenggelamkan!

Luna: Loh, kok tiba-tiba begini?

Astra: Besok aku akan jelaskan lebh detilnya!

Astra: Aku tidur dulu sekarang. G’night~!

Luna: Hah? Jangan tidur dulu!

2 Agustus

Astra: Lun, aku dengar kalau kamu dirawat di rumah sakit sekarang? Emang benar ya?

Astra: Duh, Lun. Harusnya kamu kasih tahu aku dong!

Luna: Astra, aku lagi pingsan gimana caranya kasih tahu kamu.

Astra: Kamu sampai pingsan!?

Luna: Duh, kecoplosan...

Astra: Kamu sakit? Udah makan belum? Kamar kamu nomor berapa?

Astra: Kalau kamu butuh sesuatu tinggal panggil aku aja, ya?

Luna: Nggak apa-apa kok, Astra.

Luna: Sekarang aku udah jauh baikan, kok. Cuma masih agak lelah saja.

Astra: Berarti sekarang aku menghalangi istirahat, ya? Ya udah, kamu istirahat saj dulu.

Astra: Get well soon.

Luna: Eh, nggak tunggu.

Luna: Nggak apa-apa kok.

Luna: Lagipula aku juga butuh teman bicara sekarang ketimbang tidur melulu.

Astra: Serius nggak apa-apa? Ya udah, kita semalaman chatting aja terus!

Luna: Nggak segitunya juga...

Astra: Kamu memangnya sakit apa sampai pingsan begitu?

Luna: Bukan apa-apa kok...

Luna: Mungkin cuma kecapean saja, kamu kan tahu kalau aku tidak bisa kerja terlalu berat.

Astra: Sudah aku bilang kalau kau butuh sesuatu tinggal panggil aku saja kan?

Luna: Eeeh...

Luna: Tapi akunya nanti cuma merepotkan kamu aja kan?

Astra: Nggak mungkin. Kita ini teman, kan? Nggak ada yang namanya merepotkan.

Luna: Astra...

Luna: Iya, aku mengerti sekarang.

Astra: Nah, begitu dong!

Astra: Oh iya, setelah sembuh nanti aku punya berita bagus untukmu!

Luna: Jangan bilang ini tentang rencana tentang kapalmu?

Astra: Kapal kita!

Luna: Heee....

Luna: Kamu seharusnya tidak usah berusaha sekeras itu, Astra.

Astra: Lun, kalau kamu pikir kamu hanya merepotkan maka kamu salah besar tahu.

Astra: Kamu itu temanku yang sudah menunjukkan apa impianku selama ini.

Astra: Tanpa kamu mungkin aku akan berakhir sama seperti pelajar lainnya. Jadi jangan sekali-kali pikir kamu ini hanya merepotkan saja, oke?

Luna: Aku senang punya teman, bukan, sahabat sepertimu, Astra.

Luna: Tapi... ada satu hal yang ingin kusampaikan sebelumnya.

Astra: Ya?

Luna: Mungkin setelah ini kita tidak akan bisa bertemu lagi.

Astra: APA!?

Astra: Kenapa? Kok tiba-tiba begini?

Astra: Jangan-jangan sakit kamu lebih parah dari yang kamu bilang, ya?

Luna: Keluargaku yang menyuruhku untuk beristirahat lebih banyak, antisipasi kalau kejadian seperti ini terjadi lagi.

Luna: Aku juga sudah berusaha keras, Astra. Tapi keputusannya sudah final.

Luna: Setelah cukup sehat nanti aku disuruh untuk berisitirahat di villa keluarga untuk sementara.

Luna: Tapi aku yakin, nanti aku akan kembali kok dan kita bisa bersama lagi.

Astra: Janji?

Luna: Yup, janji!

Astra: Kamu akan tetap menghubungi, kan?

Luna: Pasti.

10 Agustus

Astra: Lun, kamu ini anak tajir, ya?

Luna: Kok tiba-tiba gini nanyanya?

Astra: Ngg... cuma kepikiran doang.

Astra: Soalnya setiap ngomongin ayahmu, dia kesannya seperti protektif banget sama kamu.

Luna: Ya... mau bagaimana lagi... hanya tinggal aku yang ia punya sebagai keluarga.

Astra: Eh.

Astra: Ibu kamu sudah...

Luna: Iya. Ibu sudah lama meninggal. Kamu nggak perlu canggung ya, soalnya itu udah lama!

Astra: Uuh, maaf ya jadi nggak enak gini.

Luna: Tuh, kan! Nggak apa-apa kok.

Luna: Anggap ini pelajaran agar kamu lebih sayang sama kedua orangtua kamu!

Astra: Iya, iya. Itu pasti kok!

Astra: Bagaimanapun juga, impian papa dan mama juga adalah impianku!

Luna: Eh.

Luna: Astra, maksud kamu...

Astra: Duh, dosennya udah datang. Nanti kita lanjut aja, ya Lun!

Luna: Kamu ini ya...

Luna: Selalu kebiasaan ngegantung di tengah pembicaraan gini...

7 Oktober

Astra: Semuanya masih berlabuh dengan mulus, kapten?

Luna: Pastinya dong, aku kan masih seorang pengelana!

Astra: Heeeh... kamu jangan sombong dulu. Sebentar lagi aku juga akan menyusulmu.

Luna: Oh ya?

Astra: Yep, walau bukan menggunakan kapalku tapi untuk pengalaman pertama ini sudah cukup.

Astra: Kalau mau dibilang, ini mah masih bukan kekuatan sebenarku.

Luna: Hahaha!

Astra: Ya sudah, aku mau berangkat dulu.

Astra: Kalau mau bilang ‘aku duluan’ kayaknya nggak cocok, ya? Hehe, dadah! Mmuach!

Luna: Dadah.

8 Oktober

Luna: Astra, kamu udah lihat berita tengah malam tadi?

Luna: Halo.

Luna: Kamu udah tidur, ya?

Luna: Astra?

Luna: Aku cuma ingin bilang... kalau tadi ada badai datang menghadang...

10 Oktober

Luna: Astra, gimana perjalanannya?

Luna: Sinyal di sana jelek ya, sampai-sampai kamu nggak ngebales chatku?

Luna: Atau jangan-jangan ponsel kamu nyemplung ke laut lagi? Hahaha!

Luna: Aku mohon... balas...

Luna: Astra.

8 Oktober, empat tahun kemudian

Luna: Halo.

Luna: Hei, kamu tahu tidak sudah empat tahun aku tidak pernah membuka chatlog ini?

Luna: Empat tahun juga sudah berlalu semenjak tenggelamnya kapal pesiar yang dijadwalkan berangkat beberapa jam sebelum tengah malam empat tahun lalu.

Luna: 5000 ribu lebih manusia terbunuh di kala itu, 5000 ribu orang, lenyap begitu saja.

Luna: Sehari setelah itu aku menyaksikan di berita kalau salah satu perancang kapal pesiar tersebut: sebuah pasangan suami-istri bersama putri tunggal mereka juga ikut terbunuh dalam insiden itu.

Luna: Dunia ini punya cara kotornya untuk menyesatkan para petualang seperti kita, ya?

Luna: Tidak... mungkin sebenarnya hanya kamulah yang jadi pengelana lautan selama ini.

Luna: Aku ingin mengaku suatu hal, sesuatu yang harusnya kulakukan empat tahun lalu.

Luna: Astra, aku sebenarnya menderita penyakit bawaan: aritmia.

Luna: Ibuku juga menderita hal yang sama. Aku pernah cerita tentangnya, kan?

Luna: Semasa hidupku aku harus mendapat perawatan khusus agar tidak jatuh pingsan.

Luna: Tujuanku untuk kuliah bukanlah untuk memperluas duniaku, aku hanya memberontak melawan ekspetasi ayahku. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku kuat, mampu.

Luna: Dan, yah... aku kalah.

Luna: Ketika kau bilang ingin membuat kapal yang tak bisa tenggelam untuk kita, dalam hati aku hanya mencemoohmu.

Luna: Yang benar saja, hidupku sendiri sudah menjadi kapal yang penuh dengan lubang.

Luna: Tapi, ketika berita 8 Oktober kala itu tersiar di berita, aku sadar...

Luna: Selama ini aku berpikir hidupku akan jauh lebih singkat dari orang lainnya, namun itu tidak benar. Kau dan orangtuamu yang sangat baik padaku, beserta 5000 lebih orang lainnya memperlihatkanku.

Luna: Ribuan orang telah mengarungi lautan untuk selamanya saat kapal itu tenggelam.

Luna: Waktu di hidupku mungkin singkat, mungkin esok jantungku akan berhenti berdetak selamanya.

Luna: Kapalku penuh celah dan akan karam suatu waktu, namun jika aku bisa membimbing orang-orang lain di dunia ini ke kapal yang lebih bagus aku akan melakukannya.

Luna: Ah, iya. Aku sekarang menjadi sukarelawan di negara-negara asing yang mengalami krisis atau perang.

Luna: Berada di tanah asing ini membuatku sadar masih banyak orang yang lebih malang dariku.

Luna: Tenang saja, aku masih merawat diriku, kok!

Luna: Awalnya aku berpikir untuk melanjutkan impianmu, tapi... kurasa aku akan mengejarnya dengan caraku sendiri.

Luna: Tugasku masih memanggil, Astra.

Luna: Kau kini berada di antara lautan bintang-bintang, mengarungi dunia luas itu untuk selamanya.

Luna: Terima kasih, Astra. Aku mencintaimu.

Luna: Kelak aku juga akan menyusulmu, namun untuk saat ini aku akan terus berjuang.

Luna: Hingga tiba saatnya kita mengarungi lautan luas itu bersama-sama sebagai sepasang pengelana.