Kerjarlah impianmu, setinggi langit, seluas dunia.
“Kejarlah Impianmu. Setinggi Langit, Seluas Dunia”
Di antara gugurnya dedaunan zelkova di sekitarku, aku menyaksikan semuanya berlangsung dengan hikmat.
Aku tahu aku seharusnya ikut bersama orang-orang berpakaian jas hitam itu, namun ada bagian dari diriku yang menolaknya. Kalau mau aku bilang ini adalah pembangkanganku yang terakhir kalinya. Sebuah cara yang mengatakan bahwa aku menolak kenyataan yang ada di hadapanku.
Di sana, diangkut oleh orang-orang itu adalah peti mati yang berisi tubuh dingin ayahku—
“Kai, kau yakin tidak ingin ikut? Ini terakhir kalinya kau akan melihat beliau, bukan?”
Yang bertanya dengan nada sedih adalah temanku, Zen, yang kini ikut bersandar di sampingku pada pohon raksasa yang telah lama tumbuh di samping gereja ini.
Kami sudah berteman sejak kecil dan karena itu juga ia mengenal dekat ayahku.
“Tidak perlu. Aku sudah mengucapkan perpisahanku ketika di dalam tadi. Dan juga, berdiri di antara teman-teman ayahku membuatku tidak enak.”
“Memangnya kenapa?”
Soalnya aku tidak ingin dihibur oleh orang-orang yang memberi senyuman dan tangisan palsu kepadaku dan menggunakan ayahku sebagai alasan untuk berpura-pura baik kepadaku.
“Ya, tidak suka saja.”
“Kamu ini aneh, ya…”
“Kamunya yang lebih aneh mau berteman denganku.”
Kami berdua tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu dan hanya menatap langit biru tak berawan di atas. Cukup lama kami hanya berdiri di sana sebelum selembar daun zelkova mendarat di wajahku atau lebih tepatnya di hidungku.
Saat itulah aku mengingat sesuatu yang amat penting.
“Aku pergi dulu, kelupaan sesuatu tadi.” kataku.
“Loh, sudah mau pergi?” Zen ikut berdiri. “Kalau ada apa-apa kau bisa tinggal sementara di rumahku. Ibu dan kakakku merindukanmu, tahu!”
“Iya, iya. Terima kasih!”
Aku berlari kecil, melewati bangunan gereja tua, melewati pepohonan dan dedaunan yang berserakan di tanah, melewati gundukan tanah yang baru saja digali (aku sempat menengok sesaat) hingga akhirnya aku sampai di gerbang keluar.
Aku tidak butuh waktu lama sampai ke tujuanku, karena tempat yang aku tuju adalah bangunan yang tidak jauh dari gereja tersebut: sebuah galeri seni. Di sini berbagai hal yang berkaitan kesenian dilakukan. Pentas musik, konser tarian, dan juga… pameran lukisan.
Resepsionis cantik yang ada di lobi depan memberiku senyuman singkat ketika aku melangkah menuju elevator yang membawaku ke lantai tiga bangunan galeri.
Lantai tiga memang dikhususkan sebagai galeri-galeri untuk para pelukis menampung dan juga mengerjakan karya-karya mereka. Dan tentu saja, ruangan yang saat ini aku tuju berada di ujung lorong ini.
Ruangan yang dulunya digunakan ayahku sebelum penyakitnya makin parah.
Memutar kunci yang kubawa bersamaku, aku langsung disambut oleh aroma cat kering khas ketika membuka pintu ruangan itu.
Deretas kanvas-kanvas putih dengan isi yang setengah selesai, kaleng-kaleng yang dinodai oleh kaleidoskop warna berbeda, serta sinar dari matahari yang hampir terbenam yang merambat dari arah jendela. Tidak ada yang berbeda, tidak ada yang berubah.
Inilah pemandangan terakhir yang dilihat oleh ayahku, dan juga pemandangan pertama yang aku lihat ketika memasuki ruangan ini.
Namun melebihi semua itu, yang menjadi bintang utama dari ruangan ini adalah lukisan ‘itu’.
Sebuah lukisan diletakkan persis di tengah ruangan, kain putih yang menutupinya melambai pelan tertiup angin. Aku mengangkat kain itu dengan pelan, dengan lembut, dengan penuh kehati-hatian.
“Indah…”
Nafasku hilang, pandanganku merapat dan jantungku berdetak kencang. Ini adalah lukisan terakhir dari ayahku, ia, yang dijuluki sebagai seniman terhebat di seluruh negeri ini. Sebuah karya yang ia buat sebelum penyakitnya merenggut kekuatannya.
Di kanvas itu dilukiskan dengan penuh detil, dengan penuh kasih yang lembut namun juga kekuatan yang pasti adalah sebuah pohon sakura pada puncak musim semi. Tiap dedaunan yang berguguran diciptakan dengan penuh keuletan olehnya, tiap bilah rumput hijau yang mendukung warna merah muda dari pohon itu diwujudkan dengan begitu sempurna olehnya.
Ayahku, yang pernah berkata tidak akan melukiskan sebuah pemandangan dunia berhasil menangkap pesona dan keindahan alam di dalam kanvasnya dengan begitu mudahnya. Di hadapan lukisan yang begitu sakral aku menyadari betapa tidak berharganya diriku sebagai pelukis.
Aku yang hidup di bawah bayang-bayang ayahku yang lebih hebat hanya bisa pasrah ketika dihadapkan dengan mahakarya seperti ini.
Rasanya seperti tamparan keras pada diriku.
Kini, dengan meninggalnya ayahku aku tidak akan pernah bisa menyainginya lagi. Tentu, aku bisa menjadi pelukis yang lebih baik, lebih ulet dibanding dirinya namun ayahku kini hidup dengan abadi dalam lukisannya. Ia kini berada di antara awan-awan yang tidak akan bisa dicapai lagi.
Menyadari itu semua, aku hanya bisa menendang kaleng cat yang ada di dekatku dengan penuh amarah.
“Mengapa kau melukiskan ini?” tanyaku.
Pemandangan dan romantisisme adalah salah satu genre lukisan terbaik milikku. Ayahku, yang lebih memilih surrealisme selalu mencemoohku oleh karenanya. Tapi karena itulah aku lebih memilih melukiskan dunia ini dibanding dirinya… itulah caraku untuk memberontak darinya.
Jadi, kenapa pada akhir hidupmu kau melukiskan pohon sakura ini?
Tidak ada. Tidak ada jawaban.
Perlahan, tanganku bergerak menuju kanvas itu. Dengan amat pelan dan lembut aku menggerakkan ujung jariku seakan lukisan itu begitu rapuh.
Dan di saat itulah aku menyadarinya—
Ada yang kurang dari lukisan itu. Ayahku tidak sempat menyelesaikannya… tidak, mungkinkah, mungkinkah ia sengaja tidak menyelesaikannya?
Langit dan terang.
Pohon dalam lukisan itu berdiri dengan gagahnya di antara rerumputan hijau. Namun langit di baliknya hampa, putih. Tanpa langit sendiri, tidak ada matahari atau pun bulan dan bintang di dalamnya sehingga cahaya dan gradasi dalam lukisan itu tidak ada.
Mengapa ayah meninggalkan bagian itu?
Sebuah dorongan membuatku menyambar mengambil kuas yang diletakkan di atas meja itu. Tanganku memainkan kuas itu sesaat, bersiap untuk mengulas lukisan di hadapanku.
“Apakah ini caramu memberi tantangan?”
Aku tersenyum.
Aku hanya menatap lukisan itu, terhipnotis olehnya untuk waktu yang lama. Membayangkan kesempurnaan yang dapat dibuat olehnya, oleh diriku sendiri.
“Kejarlah impianmu, setinggi langit dan seluas dunia.”
Kau mungkin sudah hidup abadi di antara bintang-bintang dan karyamu diketahui di seluruh dunia. Oleh karena itu kau ingin aku mencoba untuk mengalahkanmu? Itukah yang kau ingin bilang, ayah?
Jika iya, maka aku menerima tantanganmu.
Aku mengangkat lukisan itu dan membaringkannya di atas lantai. Aku ingat ada kantong kertas yang dapat digunakan untuk membungkus lukisan di dalam lemari dalam ruangan itu.
Dengan sangat hati-hati aku lalu membungkus lukisan itu dan mengangkutnya.
Pandanganku menyapu ke seluruh galeri di mana ayahku menghabiskan hari-harinya dan mengangguk mantap kepada kanvas dan cat di dalamnya seakan mengatakan ‘tunggu saja aku’.
Aku lalu menutup pintu itu dengan susah payah dengan menggunakan tanganku yang masih membawa lukisan besar itu sebelum memutuskan untuk berjalan menuju rumah keluarga Zen.
Rasanya berat, namun berat lukisan itu juga terasa begitu manis.