hirr_mahier

di balik kenangan pahit ada makna yang berharga di baliknya

 “hahahahaha......” tawa seseorang dari mereka yang masih sedikit sadar, dikarnakan di antara mereka dialah yang paling sedikit minum mungkin ini baru kali pertamanya melakukan pesta mabuk-mabukan selama hidupnya, dia masih bisa mengontrol tubuhnya meskipun badanya terasa mati rasa dan kepalanya sangat pusing. Dengan berjalan terompang-amping dia melangkah ke arah jalan keluar dari tempat penuh kilauan cahaya lampu warna-warni.

Dia melewati sebuah gang kecil tapi masih memiliki penerangan yang baik, terdengan samar-samar suara seseorang membaca lantunan ayat suci Al-Quran. Entah mengapa ketika ia mendengarkanya membuat kepalanya semakin pusing seakan-akan kepalanya ingin pecah. Penasaran dengan suara tersebut dia mengikuti asal suara itu dengan bermodalkan langkah terompang-amping dan sedikit kesadaran dalam dirinya dia berjalan sampai akhirnya dia tiba di perempatan dekat dengan asal suara tersebut, dia berhenti saat melihat seorang wanita sebaya dengannya menggunakan setelan mukena berwarna putih dengan bercorak bunga, wanita itu sedang berjalan dari arah tempat asal suara tersebut.

“hey....cewek sok suci bisakah kau diamkan suara yang membuat kepalaku mau pecah” dia memanggil wanita itu dengan wajah yang sudah berwarnah merah padam.

“asthfirullah riko, kamu mabuk kan” wanita itu mendekati seorang yang dia panggil dengan nama riko untuk mencoba membantu riko berjalan.

“bodoh....jangan sentuh aku” brontak riko saat tangannya di pegang oleh wanita itu.

“isthifar riko, isthifar” wanita itu berkata sambil membopong tangan riko tanpa memperdulikan riko yang terus memberontak sampai akhirnya riko berhasil mendorong wanita itu sampai wanita itu terpental membentur tembok yang membentang sepanjang gang itu.

“dasar wanita tidak tau diri” riko mengambil sebuah kayu yang besarnya kira-kira sama dengan sebuah tongkat baseball lalu dengan nafas yang berat wanita itu, dia Cuma bisa pasrah ketika sebuah tongkat sudah siap untuk menghantam dirinya yang Cuma bisa pasrah. Tongkat itu dengan cepatnya mengayun kearah wanita itu dan...

Brukk... tongkat itu terjatuh bersamaan dengan sebuah tubuh yang terhuyung kehilangan keseimbangan.

“riko...riko...sadarlah...” sebuah suara berteriak-triak namun tidak ada jawaban.

*******

Sejauh mata memandang cuma tanpak warna putih tanpa ada batas apapun di ruangan itu seakan-akan tidak ada ujungnya. Tuhan salahkah jalan yang aku lalui ini, apa masih bisakah aku kembali kejalanmu dan masih adakah pintu taubat untukku ya tuhan. Berlahan-lahan ruangan putih itu retak sedikit demi sedikit dan di gantikan oleh bayangan warna hitam yang semakin besar seiring dengan retaknya ruangan putih tersebut sampai akhirnya hampir semua bayangan hitam itu menyelimuti ruangan. Hanya tertinggal sedikit bagaian retakan putih yang berada tepat didepan namun sama halnya dengan lainya retakan putih itu sedikit demi sedikit retak dan menghilang. Sekarang semuanya tinggal kegelapan.

“riko, terimalah hukumanmu!” tanpa di sadari riko sesosok mahluk besar sudah ada dibelakangnya dan meneriakinya sangat keras.

“apakah salahku? Aku tidak pernah berbuat salah apapun” bantah riko sambil mencoba untuk berlari menjauh tapi tidak disadarinya kedua tangan dan kakinya sudah terikat kuat dengan sebuah rantai yang sangat kuat, dengan sekuat tenaga riko berontak mencoba untuk melepas tubuhnya dari rantai itu tapi percuma rantai itu semakin mencekram erat tangan dan kakinya sampai riko tidak bisa berbuat apapun.

“percuma, orang seperti kamu pantas mendapatkan siksaan ini sebelum empat puluh hari semua amal ibadahmu takkan di terima oleh tuhan, engkau orang kafir!” ucap mahluk itu sembari melangkah menjauh dari riko dan menghilang seperti debu yang diterbangkan angin.

Tuhan benarkah yang dikatakan mahluk itu aku sekarang kafir. Haruskah aku bertaubat sekarang? Tapi aku sudah mati.btuhan izinkanku hdup sekali lagi dan memulainya kembali untuk menebus dosa-dosa yang telah aku berbuat ya tuhan. Tiba-tiba perut riko membesar hingga besarnya sepeti orang hamil bahkan jauh lebih besar dari itu dan keluar ulat kecil berwarna putih mengeliat keluar dari perut yang sangat buncit itu dan lama kelamaan memenuhi semua tubuh dari riko.

Rasa sakit yang amat menyakitkan tak kunjung berhenti seakan perut riko tidak bisa berhenti untuk membesar hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya dan sepertinya perutnya sudah mau mengeluarkan isi yang kian lama semakin mendorong dinding perutnya. Keluarlah perlahan lahan cairan dari dalam perutnya yang penuh dangan nanah dan ulat-ulat kecil.

“bruk...” suara bentuaran sebuah tubuh dengan lantai yang jatuh dari sebuah sofa. riko tersentak keringat dingin menjalar keseluruh tubuhnya detak jantungnya memompa lebih cepat dari pada biasanya seperti dia habis melakukan lari marathon yang membuat keringat membasahi tubuhnya dan membuat basah seluruh pakaian yang ia kenakan.

“dimanakah aku ini? Mimpikah aku tadi” otaknya mencoba mengingat hal yang barusan terjadi dalam mimpinya.

“tapi paman, riko kan masih lemas biarkanlah dia beristirahat dulu” sebuah suara samar-samar terdengar cukup jelas di telinga riko. Riko berlahan berjalan mendekati suara itu meskipun tubuhnya mesih terasa lemas dia berhenti di depan sebuah pintu dan menyandarkan tubuhnya ke pintu untuk menguping pembiaraan mereka.

“sudahlah orang seperti itu tidak perlu dikasihani, seharusnya kau biarkan dia tergeletak di sana saja dinda” suara seorang lelaki itu membuat hati riko teriris-iris. Sehina itukah aku, kepala riko tiba-tiba kembali pusing dan menjadi sangat berat ia kehilangan keseimbangannya dan membuatnya terhuyung badanya membentur knop pintu membuat pintu itu terbuka dan dia jatuh tersungkur di depan mereka. Di kiranya riko masih belum sadar tapi tidak disangka riko telah menguping pembicaraan mereka.

“Ini ihat sendiri dinda, bukti dia tidak pantas dikasihani dia itu lancang!” pria itu berkata dengan nada tinggi sambil jarinya sambil jarinya menyuding-nyuding ke arah riko. dinda Cuma bisa berdiam sorot matanya mengarah kearah riko yang juga Cuma bisa menunduk diam tanpa berkata apapun saat pria itu menyeret riko dengan cara kasar.

“Paman...tolong hentikan kasihan riko, biarkan aku saja yang membawa riko keluar” dinda berkata dengan suara yang bergetar dimataya mulai terlihat butiran air putih memenuhi kelopak matanya.

“terserah, cepat kau singkirkan pria tidak tau diri itu” sang paman melepaskan tangannya dari tubuhnya dari tubuh riko dan berjalan menjauh menuju kamarnya.

Jangan dimasukan kedalam hati riko” dinda berkata sambil meraih tangan riko dan di kalungkan di pundaknya untuk membantu riko berjalan menuju pintu keluar rumah dengan lagkah yang sedikit diseret. Dinda mengantarkan riko sampai digerbang depan rumah.

“maaf Cuma bisa mengantarmu sampai sini, dan ini untukmu” dinda melepaskan tangan riko yang digengamnya lalu mengeluarkan tiga lembar uang berwarnah merah dan memberikanya kepada riko sambil tersenyum. Tiko hanya menatap datar kearah tanpa ekpresi dan mulai berpaling melangkah menjauh tanpa menoleh kearah dinda.

“riko apa yang terjadi padamu, semoga kamu bisa kembali menjadi dirimu yang seperti dulu” dinda tak kuasa menahan air mata yang telah terbendung dikelopak matanya sambil melihat kearah punggung riko yang semakin lama semakin menjauh.

******

“pak berhenti disini saja” riko menyentuh punggung supir ojek yang di tumpanginya. Sepeda motorpun menyamping kearah pinggir jalan dan berhenti.

“berapa pak ongkosnya” riko turun dari sepeda motor dan merogo saku celananya untuk mengambil uang ongkos naik ojek.

“mas mau mondok ya? Ongkosnya dua puluh ribu” sang sopir itu bertanya sambl melihat sebuah gerbang yang dihiasi denga tulisan arab dan ukiran bunga disekitarnya.

Riko tersenyum

“ini mas ongkosnya” riko menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribuan dan mulai berjalan memasuki gerbang itu. Langkah demi langkah ia pijakkan. Semakin teringat sebuah kenangan masa lalu ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ia berjalan dilorong asramanya dan melihat brosur sebuah lomba qiroatul qur’an tertempel di papan pengumuman asrama. Matanya berbinar, ingin sekali ia mengikuti lomba itu namun ada perasaan ragu menyelimutinya. Ia merasa bahwa suaranya belum cukup bagus dan belum cukup lancar untuk melantunkan ayat suci al-qur’an.

“nak, kamu inggin ikut lomba itukan” sebuah suara dari belakangku itu membuat aku menoleh dan mengangguk. Seorang berumur sekitar empat puluh tahunan menggunakan sebuah peci warna putih membuatnya terkesan berwibwa.

“eh...pak kyai” aku bersalaman dengannya sambilku cium tangannya. Dia adalah guru sekaligus temanku saat aku sedang seedih atau sendiri.

“tapi aku belum cukup lancar membaca al-qur’an” aku merunduk menyembunyikan rasa maluku.

“tidak apa-apa, nanti sore datang kerumahku aku akan ajari” ucapnya sambil mengelus-elus kepalaku lalu pergi menjauh.

Aku berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu bagus tapi rumah itu mengandung banyak kenangan yang pernah aku lalui dulu. Teringat saat sedang belajar dihalaman samping rumah itu, belajar bagimana cara membaca ayat al-qur’an dan lain-lain tapi ada suatu ingatanku yang masih belumku ingat seolah-olah ingatan itu sangat penting bagiku.            dulu aku belajar tidak sendirian aku punya teman, tapi siapa? pikiranku jauh menerawang masa lalu, teringat samar-samar seorang perempuan tengah duduk bersamaku. Aku belajar dengan seorang perempuan, tapi siapakah dia? otakku kupaksa untuk berusaha mengingat hal itu,

“nak riko yah” sebuah suara membuyarkan lamunanku, suara yang sangat kurindukan, seseorang yang berada dalam pikiranku kini berubah menjadi sesosok yang nyata di hadapanku. Wajahnya tetap berwibawa seperti duu tapi ada sedikit yang berbeda, ada kerutan di wajahnya yang membuatnya terlihat bertambah tua dan dia tidak lagi berjalan seeperti dahulu kala kini dia duduk di sebuah kursi roda. Melihat kondisinya hatiku sangat sedih, air mataku menetes deras dipipiku. Tubuhku terasa lemas, aku bersujud di telapak kakinya sambil menciumnya menumpahkan seluruh rasa rinduku yng telah lama kupendam.

“berdirilah nak” sebuah tangan yang tadinya mengelus-elus kepalaku kini mencoba mengangkat pundakku.

“Apa kabarmu nak riko, sudah lama aku tidak meihatmu setelah kematian orang tuamu” pak kyai mengingatkanku kejadian lima tahun silam saat kedua orang tuaku meninggal dalam perjalanan mengunjungiku dipondok. Mereka menjadi korban tabrak lari sebuah mobil pick up. Air mataku terus mengalir deras mengingat hal itu saat mendengar berita tentang kematian orang tuaku, rasanya aku sudah kehilangan semangat hidupku, kemana harusku pergi dan apa yang aku lalukan aku tidak tau. Kembali kepondok hanya akan menambah rasa sedihku. Itulah pemikiranku dulu saat memutuskan tidak melanjutkan pendidikanku di pondok.

Sudalah itu sudah tinggal masa lalumu, pastilah mereka telah hidup tenang dialamnya sana” pak kyai mencoba menghibur riko yang sedang berada dalam kesedihanya.

******

Sudah tiga tahun berlalu saat riko bertemu kembali dengan pak kyai setelah sekian lama tidak pernah ketemu. Luka dihati riko kini telah lebih membaik, menjadi guru khursus qiro’atul qur’an adalah pilihan riko setelah riko mendapat motivasi dan saran dari pak kyai untuk mengajar disebuah tempat les yang didirikan oleh pak kyai dan kebetulan membutuhkan guru.

“nak riko” pak kyai memanggil riko yang sedang berjalan usai dari masjid.

“ada apa pak kyai?” riko bertanya dengan heran karena tak biasanya pak kyai memanggilku dengan tiba-tiba. Pak kyai hanya tersenyum dan mengajak riko menemaninya berjalan-jalan keliling pondok.

“riko ingatkah saat kau masihku ajari tentang cara membaca aq-qur’an dengan lancar dan ketika itu kau belajar dengan seseorang yang selalu membantumu ketika belum bisa membacanya” pak kyai tau betul bahwa pikiran riko tentang masa lalunya itu ada yang belum bisa dia inggat.

“maaf saya tidak inggat pak kyai” riko menjawab dengan lesu, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri karena telah banyak melupakan hal-hal yang sangat penting.

“Mungkin ini saatnya menunjukan kepadamu nak riko” pak kyai berkata dalam hati sambil tersenyum kearah riko.

Sesampainya dirumah pak kyai betapa kagetnya riko melihat seseorang wanita yang sepertinya dia kenali sedang menyapu dihalaman rumah pak kyai.

“sedang apa dia ada disini” ucapnya dalam hatinya.

“eh...nak dinda sudah pulang” pak kyai berkata kepada wanita itu sehingga membuatnya menengok kearah belakang.

“abi...ia ini baru datang” dinda berlari kearah pak kyai dan memeluknya erat.

“abi?... kenapa dinda memanggil pak kyai dengan sebutan abi?” pikiran riko kacau, tidak bisa mencerna maksud dari kejadian yang sedang terjadi didepan matanya.

“nak riko, dinda ini adalah yang dulu selalu menemanimu beajar membaca al-quran” pak kyai berkata sambi menatap mata dinda dan riko.

Kepala riko serasa tertembak oleh sebuah pistol yang begitu cepat menancap kedalam otaknya. Riko hanya bisa berdiri mematung dan merasakan badanya mulai lemas dan kepalanya pusing. Riko kehilangan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh tak sadarkan diri.

TAMAT

 

 

BIODATA PENULIS

            Ahmad mahirul imi, pria kelahiran lamongan, 9 juni 2002 ini, pernah menganyam pendidikan di TK & SDN MENONGO dan meneruskan pendidikannya di sebuah pondok pesantren yang berada di wilayah paciran lamongan yang bernama pondok pesantren sunan drajat. Dan bersekolah di MTs Sunan Drajat, setelah lulus MTs melanjutkan pendidikannya di SMK Sunan Drajat.