Do Not Go Through Life, Grow Through Life
“Mana Elisa?” tanyaku kepada Amel yang membukakan pintu rumah.
“Di kamar. Biasa.. Lagi nangis.” Jawabnya singkat.
Aku dan Amel segera menghampiri Elisa ke kamarnya. Terlihat seorang wanita sedang menangis sesungukan di atas ranjang dengan banyak tisue di sekitarnya. Parasnya yang cantik tampak memudar dengan bengkak di matanya akibat menangis seharian.
“Elisa? Kenapa lagi?” tanyaku spontan, “Apa curhat sudah dimulai? Apakah aku terlalu terlambat datangnya?” tanyaku pada Amel.
“Belum kok. Elisa belum cerita apapun. Dia menunggu kamu supaya tidak cerita berkali-kali. Tapi sejak aku datang, keadaannya begini terus. Menangis tanpa henti.” Jelas Amel.
Aku dan Amel menatap Elisa dengan sabar, berharap Elisa dapat menahan tangisnya dan mulai bercerita. Elisa menggigit bibirnya dan memejamkan matanya dengan keras untuk menahan tangisnya. Kemudian mulutnya mulai bergetar dan ceritapun tampaknya akan dimulai sebentar lagi.
“Alexxx, Mellll.. Alexxx, Vaa..” ujar Elisa. Kata-kata pembukanya sungguh tidak jelas. Tapi setidaknya aku dan Amel sudah mulai memahami permasalahannya. Ya, hubungan Elisa dengan Alex, pacarnya, tampaknya sedang bermasalah.
“Alex tega-teganya ninggalin aku di rumahnya sendirian waktu aku datang ke rumahnya! Aku mau putus!!” kata Elisa setengah berteriak. Aku dan Amel spontan kaget. Alex dan Elisa sudah berpacaran lebih dari lima tahun dan memang belakangan ini semenjak mereka memutuskan untuk menikah dan mulai mempersiapkan pernikahan mereka, satu persatu masalah mulai muncul. Berbagai cerita kami dengar, namun baru kali ini Alex meninggalkan Elisa di rumahnya sendirian.
Hubungan Alex dan Elisa selalu manis pada mulanya. Alex adalah pria yang rajin. Dia bekerja di kantor hingga subuh, bahkan setelah pulang ke rumah ia masih mengurus online shopnya yang sangat ramai sehingga melampaui gaji kantornya. Benar-benar kerja keras setiap hari hingga saatnya Elisa protes karena berkurangnya waktu untuknya.
“Ada apa lagi sih? Kan terakhir kamu minta dia resign. Sekarang dia sudah resign, terus sekarang masalahnya kenapa lagi? Apa lagi yang kalian ributkan??” tanyaku penasaran.
“Itu diaa! Setelah dia resign, dia seperti kehilangan semangat hidup. Setiap hari bangun siang. Paling cepat bangun jam satu siang. Hari ini bisa sampai jam tiga sore baru bangun! Padahal setiap hari tidurnya jam sepuluh malam! Aku protes padanya bahwa dia sudah tidak serajin yang dulu dan penghasilannya mulai menurun setiap bulannya dari saat kita memutuskan untuk menikah! Dan kamu tahu apa balasannya? Read only ! Tidak ada balasan sama sekali! Dan sampai sekarang bahkan chat-ku sudah tidak dibaca!” jelas Elisa panjang lebar.
Alex dan Elisa memang sudah lebih dari lima tahun berpacaran. Keputusan-keputusan besar mereka ambil bersama. Termasuk keputusan untuk berbisnis online shop saja, tanpa bekerja kantoran lagi mengingat hasil penjualan online shop lebih besar daripada gaji bulanan di kantornya. Dan mereka hasilkan itu tanpa lembur sehari pun.
“Menurutku wajar kalau dia tidak balas, El. Resign adalah kemauan kamu dan dia sudah meng-iya-kan. Jadi kalau sekarang efeknya seperti ini, sebagian besar sebabnya berasal dari kamu.” Tukas Amel dengan tajam.
“Aku tidak menyangka kalau setelah ia resign dari kantornya, dia akan menjadi semalas ini. Alex rajin apabila ada yang mengontrolnya. Ada jam kerjanya. Aku tidak menyangka bahwa dia tidak bisa mengatur waktunya sendiri untuk berbisnis!” kritik Elisa dengan penuh penyesalan.
“Sudah berapa lama tidak berkomunikasi?” tanyaku tepat sasaran.
“Hampir dua minggu.” Jawab Elisa lemas, nada suaranya mulai menurun.
Alex adalah satu-satunya orang yang aku temui di era modern ini yang amat sangat bisa melepas smartphone-nya. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak ketergantungan dengan smartphone-nya bahkan jika smartphone-nya tertinggal atau rusak sekalipun, dia tidak peduli. Bahkan terkadang Elisa yang membantunya membalas chat-chat yang masuk ke smartphone-nya, tentunya dengan persetujuan Alex.
“Aku sudah telepon ke rumahnya, minta tolong adik dan kakaknya, bahkan ibunya untuk menghubungkan teleponku kepadanya. Tapi dia menolak semuanya! Sama sekali tidak mau berbicara padaku! Kalau dia sudah tidak mau melanjutkan hubungan ini lagi, setidaknya ia mengangkat teleponku, berbicara kepadaku, dan mengakhiri hubungan kita! Supaya aku tidak merasa digantung seperti ini!” kata Elisa mulai histeris kembali.
Amel langsung dengan cepat memeluk Elisa berharap dapat menenangkannya. Tapi begitulah wanita. Ia tidak mau pacarnya sibuk, tetapi ingin pacarnya tetap mendapat banyak penghasilan. Sungguh bertolak belakang. Dalam posisi seperti ini, aku dan Amel pun tidak bisa menyalahkan Alex, namun tidak bisa juga menyalahkan Elisa. Kami cuma bisa memberikan pengertian kepadanya.
“Jadi tadi kamu ke rumah Alex?” tanyaku to the point.
“Iya. Dan aku ketemu langsung dengan dia lagi nonton tv di kamarnya. Dia sedang tertawa, kemudian langsung diam ketika melihatku! Kemudian ia mengambil jaket dan langsung pergi dengan motornya, meninggalkan aku tanpa berkata sepatah katapun! Ini pertama kalinya ia seperti ini!” jelas Elisa.
Ya, aku dan Amel sudah sering mendengar cerita tentang Alex mengacuhkan Elisa setiap kali bertengkar. Alex tipe yang penyendiri. Ia selalu tidak ingin berkomunikasi saat ada masalah dengan Elisa. Dia selalu menenangkan dirinya dan memberikan waktu kepada Elisa untuk berpikir, hingga Elisa datang ke rumah Alex dan mereka selalu berbaikan. Tapi berbeda hal nya dengan kasus hari ini. Elisa datang, tetapi Alex pergi meninggalkan Elisa sendirian di rumahnya. Ini berarti Alex sudah amat sangat marah dengan tingkah Elisa.
“Dan kalian tahu, waktu aku hendak meninggalkan rumah Alex, hujan deras turun! Dan kalian tahu rumahnya yang sudah setengah reyot itu? Bocor di mana-mana! Aku masih sempat-sempatnya mengambil beberapa ember dan pel. Aku pel hingga tidak becek di mana-mana lagi. Lalu aku baru pulang dengan ojek. Kalian tahu kan betapa sayangnya aku kepada Alex dan keluarganya!” jelas Elisa membela diri. Aku dan Amel sempat kehabisan kata-kata. Antara iba dan ingin tertawa. Rasanya tidak etis kalau aku dan Amel harus tertawa di saat seperti ini. Jadi kami hanya bisa menahan tawa.
“Sudahlah. Tunggu sebentar lagi. Sebentar lagi juga dia kembali seperti biasa. Semakin lama berpacaran, kamu akan semakin tahu segala keburukannya. Dan bersiaplah setelah kamu menikah nanti, kemungkinan besar kamu akan mendapat versi yang lebih buruk daripada yang sekarang. Tapi apa yang bisa kamu perbuat? Kamu sudah dilamar dan sudah siap menjajaki hubungan yang lebih serius. Kamu cuma bisa menerima dia apa adanya dan dia juga harus menerima kamu apa adanya. Masalah seperti ini bisa dibahas bersama nanti. Ketika keduanya sudah lebih tenang. Dan aku rasa ini bukan masalah besar dan masih bisa dibicarakan. Bukan masalah perselingkuhan atau apapun yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi.” Rayuku.
“Tapi ini sudah hampir dua minggu, Vaaa. Aku dan Alex tidak pernah tidak berkomunikasi selama ini.” Jelas Elisa. Sementara Amel sibuk dengan smartphone-nya.
“Mau bagaimana lagi? Mungkin Alex sedang intropeksi diri dulu. Kamu tahu benar seperti apa Alex. Dia butuh waktu yang lebih lama untuk berpikir dan kembali ke Alex yang dulu. Tapi aku yakin kalian pasti baikan sebentar lagi. Asalkan saat dia sudah melunak, kamu jangan memaksa ataupun protes kepadanya lagi. Alex sudah dewasa. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Percaya saja kepadanya.” Ucapku dewasa.
“Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan. Dan kita cuma bisa cocok dengan orang yang kita bisa terima kekurangannya dan dia bisa terima kekurangan kita,” kata Amel mulai menasehati, “Rasanya cuma Alex yang bisa menerima kekuranganmu. Di samping tuntutan-tuntutanmu kepadanya, aku rasa belum tentu ada cowok lain yang mampu mengikuti kemauanmu. Selama ini kamu hanya protes tentang dirinya. Pernah kamu pikirkan apa yang dia tidak suka dari kamu? Pasti ada! Tapi Alex tidak pernah mengungkapkannya. Karena dia sayang padamu. Sama hal nya dengan aku. Aku dan Ryan. Pastinya kamu belum tentu bisa tahan apabila kamu memiliki pacar seperti Ryan. Saat marah dia tidak pernah menghilang. Malah dia datang ke rumahku, tetapi untuk memarah-marahi dan mencaci maki aku, bahkan setelah aku menangispun, dia tetap memarahi aku sampai ia puas kemudian pulang. Apa kamu bisa menerima kalau kamu memiliki pacar seperti itu?” tukas Amel. “Tapi di samping itu, Ryan tetap orang yang paling mengerti aku. Meskipun keras, dia bisa membantu aku mengambil keputusan, menjemputku di kantor saat lembur, menjadi tempat curhatku, dan lain sebagainya.”
“Ya, betul. Kamu juga belum tentu bisa menerima cowok seperti David yang lamban. Segala sesuatu yang ia lakukan sangat lamban. Bahkan ketika ia mandi, ia butuh waktu 45 menit di kamar mandi! Lebih lama dibandingkan waktuku mandi. Berpikir lamban, bergerak lamban, bahkan makan dan berjalanpun lamban. Tetapi dia tidak pernah berkata kasar dan orangnya sangat rajin. Mendengarkan curhatku pun dia sanggup, bahkan tak jarang memberikanku solusi. Apabila kamu putus dengan Alex, belum tentu kamu bisa menemukan cowok ideal seperti yang kamu mau. Selalu ada kekurangan di setiap manusia. Dan yang seharusnya kamu pilih adalah yang setidaknya bisa kamu maklumi dan kamu terima kekurangannya. Begitu pula sebaliknya. Jika tidak begitu, berhubungan dengan cowok mana pun tetap saja akan berakhir dengan kata ‘putus’.” Tambahku.
“Kamu juga harus pikirkan bagaimana tingkah lakumu sekarang setelah bertahun-tahun berpacaran dengan Alex. Dia membawa efek positif kepadamu secara sadar atau tidak kamu sadari. Kamu menjadi lebih dewasa. Tidak mudah ngambek, lebih sabar, jadi orang yang lebih optimis, dan lainnya. Kita hanya perlu mencari cowok yang bisa kita terima kekurangannya, dan ia pun bisa menerima kekurangan kita. Dan bisa membawa kita ke arah yang lebih baik. Lebih positif. Do not go through life, grow through life.” Ujarku panjang lebar.
Amel dan Elisa perlahan mengangguk setuju dan rasanya hati Elisa mulai mencair. Matanya yang sembab mulai bercahaya kembali dan ‘TING TONG’, bel rumah Elisa berbunyi.
Terlihat sosok Alex datang dengan beberapa box makanan di tangannya. And we did it, Amel! Lagi-lagi kita menyatukan mereka setelah hampir dua minggu perang dingin. Pesan singkat yang dikirim Amel sepuluh menit yang lalu, tidak disangka bisa langsung membawa Alex datang menghampiri Elisa untuk berbaikan kembali. Hal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh kami bertiga. Curhat bersama, membantu mencairkan suasana, serta memberikan solusi.
Selama kita hidup, kita jangan hanya menjalaninya saja. Tetapi kita juga harus bertumbuh seiring perjalanan hidup yang ada. Mengambil sisi positif dalam hidup kita dan bertumbuh menjadi orang yang lebih baik. Namun terkadang kita juga membutuhkan beberapa orang di sekitar kita yang bisa membantu kita untuk berpikir positif dan membawa kita ke arah yang lebih baik. So, Do Not Go Through Life, Grow Through Life.