SaniOrion

Berjanjilah padaku bahwa kamu akan tetap ingat, kamu lebih berani daripada apa yang kamu yakini, lebih kuat daripada yang kamu lihat, dan lebih pintar daripada yang kamu pikir. (A.A. Milne, Winnie the Pooh)

Menggenggam Janji, Merangkup Amanah

Sore ini masih sama dengan sore-sore yang kemarin. Aku duduk di sampingnya, menemaninya menanti senja. Senja yang kelak akan menggantikanku menemaninya. Entah kapan saat itu tiba, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku yang tersisa.

Dia. Dia masih sama dengan dia yang dulu. Seorang wanita yang sejak empat puluh tiga tahun lalu mencuri seluruh perhatianku dan menyita hatiku. Meski sekarang rambutnya telah memutih dan badannya tidak lagi tegap, aku tahu, dalam raganya masih tersimpan tulang rusuk yang lebih dari kuat untuk menjaga hati yang menyimpan perasaan yang kutitipkan padanya.

Ayar. Korneaku masih bisa menangkap rona merah pipinya tatkala melihat senja sore ini. Ketika langit meredup, lampu taman mulai menyala. Ayar menggenggam tanganku lalu ia berkata, “La, senja telah hilang. Mari kita pulang.”

“Mengapa kita tidak menunggu sebentar? Pasar malam akan dibuka sebentar lagi.”

Ayar menunduk melihat baju yang dikenakannya. Aku pun mengerti apa yang dimaksudnya. Kami pun memutuskan untuk pulang. Kami tiba di rumah lima belas menit kemudian. Aku tersenyum ketika Ayar membuka pintu.

Raut wajah heran terpancar dari muka Ayar ketika melihat kue dan hiasan bunga yang indah di ruang tamu.

“Ada apa ini, La? Hari ini bukan ulang tahunku, bukan pula ulang tahunmu. Lalu,…”

Aku langsung menimpali kalimat Ayar yang terputus, “Ulang tahun pernikahan kita, Yar.”

Ia menutup mulutnya karena terkejut. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Sedetik kemudian, dia memelukku erat hingga aku dapat merasakan detak jantungnya. Aku mulai mendengar isak tangisnya. Sembari terisak, ia meminta maaf padaku karena telah melupakan hari istimewa kami. Aku mengelus punggungnya, berbisik, “Tidak masalah, Yar.”

Kemudian, tetangga-tetangga kami datang. Mereka berkata serempak, “Selamat hari ulang tahun pernikahan, Pak Halazon, Bu Ayar.”

Aku dan Ayar menyalami mereka. Setelah selesai, Ayar memotong kue, sedangkan aku pergi ke dapur mengambil piring. Tiba-tiba, aku merasa pusing. Untuk meredakan sakitku, aku duduk sebentar. Lalu, aku kembali ke ruang tamu dan kembali merayakan ulang tahun pernikahan kami. Satu jam berlalu, tetangga-tetangga mulai berpamitan. Tinggallah aku dan Ayar.

“Terima kasih, La.” Ayar tersenyum manis. Lagi-lagi, aku melihat rona merah di pipinya.

Jantungku berdebar kencang, memutar sebuah memori.

“La, apa kamu berpikir ada yang menyukai perempuan yang penakut, lemah, dan bodoh sepertiku? Apalagi, orang tuaku sangat sulit ditaklukkan hatinya.”

Aku menjawab lembut, “Pasti ada, lah, Yar.”

Setelah mendengar jawabanku, bukannya tenang, Ayar malah membentakku. “Ada? Ada, La? Kalau memang ada, mengapa tidak datang-datang juga?”

Ayar kemudian tertunduk dan mengembuskan napas berat. Aku memegang pundaknya. Kutatap dalam-dalam wajahnya dan berusaha meyakinkannya. “Sebenarnya dia telah datang, Yar.”

Dengan penuh keputusasaan, ia bertanya lagi padaku. “Siapa, La?”

“Aku.”

Ayar mengernyit. “Jangan bercanda pada saat seperti ini, La! Tidak lucu.”

“Bahkan, aku sudah meminta restu pada kedua orang tuamu sebelum ini. Kamu masih tidak percaya, Yar?”

“Lalu, apa tanggapan mereka?”

“Mereka hanya mengangguk. Apa itu artinya?” Aku balik bertanya.

Ayar tersenyum manis dan semburat merah menjalar di pipinya. Aku bisa melihat jelas hal itu.

“Tapi, kamu harus berjanji satu hal padaku bahwa kamu akan ingat, kamu lebih berani daripada apa yang kamu yakini, lebih kuat daripada yang kamu lihat, dan lebih pintar daripada yang kamu pikir. Dari situlah, kita bisa saling melengkapi.” Kataku.

“Terima kasih, La.” Tatapannya bertemu dengan tatapanku. Mulai hari itu, aku menitipkan perasaan spesialku padanya.

“Kamu mau terus melamun atau pergi ke pasar malam, La?”

Suara Ayar membuyarkan lamunanku.

“La?”

Eh, eh, iya, tapi… kamu tidak jadi ganti baju?”

Ayar menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu. “Oh, iya, ya. Hehehe, aku lupa.”

Sembari menunggu Ayar, aku membereskan ruang tamu. Tiba-tiba, aku mencium aroma wangi. Secara spontan, aku membalikkan badanku. Di hadapanku ada sosok bidadari berambut putih. Dalam hati, aku tertawa, Ayar, Ayar, sudah tua, tapi kalau urusan dandan tidak ada duanya.

“Berangkat sekarang, La?”

“Baiklah, putri.” Aku menekuk tanganku di pinggang dan membiarkan lengan Ayar menguncinya.

Kami pun berjalan beriringan. Malam itu, dunia seolah-olah hanya milik kami berdua. Kami mengabaikan ratusan pasang mata yang menatap iri pada kami. Sebelum menyeberang, kami berdua bertemu dengan seorang anak kecil. Kami dan anak itu menunggu lampu merah di tepi jalan. Entah mengapa, tiba-tiba anak itu mendongak pada kami. Kami tersenyum padanya. Akan tetapi, anak itu membalas kami dengan melempar senyum masam. Seketika, aku menjadi jengkel pada anak itu. Di tengah kejengkelanku, Ayar membisikkan sesuatu di telingaku, “Lucu, ya?”

Aku mengerutkan dahi pada Ayar yang sekarang tertawa kecil sembari menatap anak itu. Lampu merah menyala. Anak itu langsung berlari meninggalkan kami yang berjalan pelan. Tidak lama, kami sudah sampai di pasar malam. Gemerlap lampu berwarna-warni menyambut kami.

Mulanya, kami bingung hendak membeli apa. Setelah tujuh menit berkeliling, Ayar tertarik dengan sebuah kios yang menjual topi. Ia segera masuk dan memilih satu dari sekian banyak topi yang tertata rapi. Aku menghampirinya dan bertanya, “Untuk apa kita membeli topi, Yar?”

Sontak, Ayar memasangkan topi itu padaku dan berujar, “Setidaknya, topi ini bisa menutupi kepalamu yang mulai botak itu, La.”

Aku melihatnya tertawa, tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Andaikan kamu tahu, Yar, rambutku rontok bukan hanya karena bertambahnya usiaku, melainkan juga karena penyakit yang kuidap selama ini tanpa sepengetahuanmu. Kata-kata itu menjelma senyum getir yang terlontar dari bibirku.

Tidak berselang lama, aku mendengar teriakan pedagang topi, “HEI, ANAK KECIL! KAUBAWA KE MANA TOPIKU?!”

Aku menoleh. Anak kecil yang kami temui tadi berlari dengan sebuah topi biru di tangannya. Lalu, anak itu mengitari salah satu lapak di tengah lapangan sambil berteriak, “HOREE!”

“Sudah, Pak, biar kami saja yang membayar. Iya, kan, La?”

Mendengar kalimat Ayar barusan, rasa jengkelku pada anak itu bertambah. Dengan berat hati, aku mengeluarkan uang dari dompetku untuk membayar topiku dan topi yang diambil anak itu. Ayar tersenyum manis padaku. Setidaknya, hatiku sedikit mendingin melihat senyumnya.

Setelah pergi dari kios itu, kami berdua duduk di sebuah kursi taman. Di situ, kami melihat keramaian yang ada. Aku menatap wajah Ayar lamat-lamat. Terlukis darinya kebahagiaan dan kedamaian. Namun, itu tidak sepenuhnya membuatku senang. Di pikiranku, terbayang bagaimana jika esok adalah hari terakhirku. Siapa yang akan melengkapi kedamaian Ayar?

***

Hari berganti. Ayar sedang menyiapkan makanan di dapur. Saat itu pula, aku mendengar ketukan pintu. Aku pun membuka pintu. Sebelum pintu sepenuhnya terbuka, tamu kami itu berlari masuk. Dia langsung memeluk Ayar. Setelah kuamati, ternyata anak itu adalah anak yang kutemui kemarin di pasar malam. Hatiku kembali memanas. Namun, itu tidak bertahan lama. Ketika aku melihat senyum bahagia di wajah Ayar, aku sadar, anak itu adalah obat untuk rindu Ayar selama ini, kerinduan akan sosok buah hati yang tak kunjung hadir.

Tidak tahu kenapa, tiba-tiba hatiku luluh ketika melihat anak itu memeluk Ayar, mungkin karena aku menyadari kekuranganku. Aku tidak akan pernah bisa memberikan Ayar keturunan.

Kakiku melangkah menuju mereka. Aku menyentuh bahu anak itu dengan lembut dan mengajaknya sarapan bersama. “Ayo sarapan. Kamu pasti belum makan, bukan?”

Anak itu mengangguk sambil meringis mendengar suara perutnya sendiri. Ia pun segera duduk dan mengambil makanan. Aku melihatnya makan amat lahap. Tiba-tiba, aku ingin menanyakan sesuatu padanya. Belum sampai satu huruf terlontar dari mulutku, Ayar sudah mendahuluiku.

“Kamu tadi dari mana?”

Anak itu menunjuk ke arah pintu.

“Kamu tidak tinggal dengan orang tuamu?” Tanya Ayar lagi.

Ia hanya menggelengkan kepala.

“Sudah begitu jauh pertanyaanmu, Yar, Yar, sampai-sampai kita belum bertanya namanya. Siapa namamu, Nak?” Aku menimpali Ayar dan bertanya pada anak itu. Sebagai jawabannya, ia menunjuk kaosnya yang bergambar matahari tenggelam.

Ayar menebak, “Senja?”

Tidak kusangka, anak itu menganggukkan kepalanya sehingga Ayar menutup mulutnya karena terkejut. Senja yang dikaguminya selama ini menjelma menjadi seorang pangeran kecil.

Sekitar sepuluh menit kemudian, aku melihat Senja melahap suapan terakhir makanannya. Kemudian, ia mengambil susu yang sudah dibuatkan Ayar untukku dan meminumnya. Setelah itu, ia langsung beranjak dari kursinya.

“Senja!” Kudengar suara Ayar memanggil Senja. Aku mendekati Ayar yang sekarang berdiri.

Senja menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kami.

“La, bagaimana jika kita biarkan Senja tinggal bersama kita?” Bisik Ayar.

Senja bersorak dan berkata, “Iya, aku mau!” Dia menghampiri kami dan menatap dalam-dalam mata kami. Sedetik kemudian, Senja mengatakan sesuatu yang tidak kusangka. “Ayah, Bunda.

Hatiku terasa melayang. Ini pertama kalinya aku dipanggil seperti itu. Aku menoleh dan melihat mata Ayar yang berkaca-kaca. Lalu, kaca itu pecah menjadi bulir-bulir kebahagiaan yang mengalir di pipinya. Kemudian, Senja memeluk kami berdua.

Mulai saat ini, hidup kami terasa benar-benar lengkap. Sayangnya, ketika ‘senja’ yang sebenarnya telah datang, aku harus meninggalkannya bersama Ayar.

***

Sore ini, kami bertiga pergi ke taman. Namun, setelah sekian lama menanti, teja tidak kunjung datang bahkan ketika waktu senja telah habis. Dari sekian banyak penantian yang sia-sia, baru kali ini aku melihat Ayar tidak kecewa. Dalam perjalanan pulang, Ayar menggandeng tangan Senja erat-erat, sedangkan anak itu sendiri sudah menguap beberapa kali.

Sesampai kami di rumah, ketika Ayar mengajak Senja mencuci kaki, aku merebahkan tubuhku ke kasur. Hari ini, aku merasa sangat lelah. Rasanya, aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi kecuali sakit. Mungkin, di sana, Tuhan telah menantiku. Aku perlahan memejamkan mata.

“Kamu kenapa, La?” Nada khawatir terdengar dari suara lembut Ayar.

Aku membuka mata dan berkata, “Sepertinya, Tuhan sudah menungguku.”

“Kamu bicara apa, sih, La?” Ayar mengernyitkan dahi.

“Aku tahu kamu sudah mengerti apa maksudku.”

Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan tangan kecil di pipiku. Kemudian, aku mendengar suara Senja, “Ayah, Ayah kenapa?”

Aku menggenggam tangan Senja sekuatku, begitu pula tangan Ayar. Aku pun mendengar keluhan Ayar, “La, bagaimana hidupku jika tanpamu? Tiada lagi yang melengkapi kekuranganku, tiada lagi penyemangat bagiku. Aku akan kembali menjadi seperti dulu: penakut, lemah, dan bodoh jika tanpamu.”

“Senja,” Kataku lemah. “Senja akan menggantikanku sebagai penyemangatmu. Senja akan menjagamu. Senja akan melengkapi hidupmu… tanpaku.”

Isak tangis terdengar di telingaku. Dengan sisa tenagaku, aku berpesan pada Ayar, “Kamu masih berjanji padaku, Yar, bahwa kamu akan tetap ingat, kamu lebih berani daripada apa yang kamu yakini, lebih kuat daripada yang kamu lihat, dan lebih pintar daripada yang kamu pikir.”

Setelah itu, aku sudah tidak bisa melihat dan mendengar apa-apa lagi. Yang kulihat hanyalah gelap, yang kurasa hanya dingin, dan yang menemaniku hanya sunyi.

***

Aku menggenggam tangan Senja. Anak itu menangis sedari tadi. Aku tidak tahu apa ia mengerti semua ini atau tidak. Yang aku tahu, dia merasa kehilangan. Aku mengusap batu nisan Halazon sekali lagi sebelum aku pergi.

“Apa Ayah bisa bernapas di bawah sana, Bunda?”

Aku menggeleng. “Dia sudah tidak bisa menghirup udara lagi, Senja.”

“Lalu, kenapa orang-orang menguburnya?”

Aku menjawab pertanyaannya sambil menguatkan hatiku sendiri, “Karena dia sudah tidak bernyawa lagi. Dan, Senja, jangan menanti. Dia tidak akan kembali.”

“Setidaknya, aku masih punya Bunda.” Senja mengusap air matanya dan memelukku.

Halazon, andai saja kita masih punya waktu bersama, andai saja Senja datang lebih cepat pada kita, bahagiamu akan bertambah. Akan tetapi, jika dengan kepergianmu kamu akan lebih baik, aku rela, La. Maafkan aku jika selama ini kurang memerhatikanmu. Terima kasih untuk semua kebahagiaan yang kamu bawa ke hidupku.

Aku berjalan keluar dari pemakaman diiringi Senja. Terima kasih, Tuhan, sudah memberiku kesempatan bersua dengan Halazon. Terima kasih pula, sudah mendatangkan Senja untuk menghapus laraku. Sekarang, waktunya aku menghabiskan waktu dengan mengurus Senja dan menepati janjiku. Aku akan menjadi Ayar yang pemberani, kuat, dan pintar untuk Senja dan untukmu, La.