veenoona

There's some people I'm glad I'm not close anymore

Friend (Part 1)

Surabaya 9 April 2017, minggu malam di bulan April. Malam ini, meskipun hujan yang turun sejak pagi hari sudah reda. Hawa dingin yang di tinggalkan masih sangat terasa. Sisa sisa  hujan dibulan April.

Aku sangat merindukan musim panas. Apalagi di saat seperti ini.

Kenapa aku ada disini ? Kenapa aku mau melakukan ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terucap dalam pikiranku berkali-kali. Sudah hampir setengah jam aku berdiri di trotoar pinggir jalan ini. Dan berkutat dengan hawa dingin di malam hari yang aku benci. Masih dengan pikiran kosong &  bertanya-tanya apa yang aku lakukan disini. Di seberang jalan sana ada tempat yang akan aku tuju. Tempat yang aku berharap tidak pernah memasukinya. Tapi, kenapa aku disini ?

Ketika beberapa waktu lalu teman kuliah ku tiba-tiba mengirimi pesan. Aku sudah bisa menebak apa isi pesan itu. Sejak kami lulus kuliah, tidak ada pesan basa-basi diantara kami. Tidak ada pesan diantara kami yang bisa kami sebut dengan hubungan pertemanan.

Mereka ingin mengadakan reuni di minggu malam bulan April, itulah isi pesannya. Sebenarnya hubungan kami tidak lah terlalu buruk. Hanya saja, aku merasa tempat mereka bukanlah tempatku. 10 tahun lalu saat usia ku 20 tahun aku berpikir bahwa aku sudah dewasa. Bisa menentukan jalanku sendiri tanpa harus memperdulikan pendapat orang lain di sekitarku. Kenyataanya, bukannya menjadi gambaran dewasa seperti yang aku inginkan. Pada akhirnya aku menjadi pecundang dalam arti sebenarnya.

Saat aku datang ke kota ini di usia ku yang masih 20. Aku datang dengan membawa harapanku. Aku tahu pasti tidak akan mudah. Dan ternyata benar-benar tidak mudah & diluar apa yang aku bayangkan. Rasa takut menjadi sendiri dan berbeda selalu menghantui pikiranku di usia ku yang masih 20. Aku pun pada akhirnya menjadi bunglon di kumpulan sosial tempat ini. Memaksakan keberadaanku di tempat yang bukan tempatku.

Tit..tit.tit,terdengar suara lampu penyebarangan telah di tekan. Hal itu seketika membuyarkan lamunanku. Okay, aku sudah terlanjur disini. Mau tidak mau aku harus menuju tempat itu. Bertemu dengan mereka, kumpulan mahluk sosial yang pernah aku kenal & aku sebut sebagai TEMAN.

Dengan tangan yang sedikit bergetar aku membuka pintu cafe. Tempat acara reuni ini berlangsung. Aku mencoba untuk berjalan sambil sedikit menaikkan senyum di wajahku. Agar tidak ada yang melihat betapa takut & gemetarnya aku saat akan bertemu dengan mereka. Hatiku pun sedikit berbisik “akhirnya aku menjadi bunglon lagi”.

“Aku kira kamu tidak datang Liz” sebuah celetukan dari suara yang aku kenal.

“Kenapa aku harus tidak datang, Toni”

“ Kamu bahkan tidak balas chat ku saat aku info ada reuni ini”

“ Ahh.. aku lupa balas chat, sorry”

“Woooahhhh, si Lizzy datang sodara-sodara” Teriakan Nadia yang masih belum berubah.

Sontak tatapan mereka tertuju kepadaku. Aku hanya menjawab semua tatapan mereka dengan senyum secukupnya. Akupun memilih tempat duduk disamping Nadia, karena dengan aku disampingnya aku berharap tidak menjadi sasaran ocehannya.

“Eh, ada yang bagi-bagi undangan loh” Nadia mulai kembali membuka ocehannya padaku.

“Oh ya, siapa Nad” Aku membuat ekspresi kaget senatural mungkin, walaupun aku sebenarnya tidak begitu peduli dengan isi undangan itu.

“Si Kevin, dia bulan depan mau nikah sama pacarnya”

“Ahh....”

“Ini undangan buatmu, eh kamu gak nyesel dulu pernah nolak dia. Dia sekarang jadi karyawan yang sukses banget loh. Kerjanya di perusahaan elit”

“Ehhhmmm, maybe” jawabku sekenanya.

Kevinpun tiba-tiba menoleh padaku. “Datang ya Liz”

“of course” jawabku sekenanya lagi.

Sepanjang acara itu, yang aku lakukan hanya tersenyum basa-basi seadanya saat mereka berbicara tentang kehidupan mereka masing-masing. Sambil aku hanya minum dan makan hidangan yang ada di meja. Mereka pun mulai satu persatu bercerita tentang betapa mulusnya perjalanan hidup mereka. Dan betapa jayanya mereka saat ini. Saling berlomba-lomba bercerita tentang kebahagian mereka masing-masing agar bisa membuat iri satu sama lain.

“Kamu kerja dimana sekarang Liz, pas jaman kuliah kamu selalu jadi sorotan. Pasti kerjamu di perusahan bagus sekarang” mulailah pertanyaan yang tidak aku suka keluar dari mulut Nadia.

“Ahhh.. realitanya jadi murid baik & teladan tidak selalu berakhir baik. Hahahahaha” Jawabku dengan nada bercanda. Dan mungkin agak memaksa.

“Aku kerja dibagian customer service di sebuah perusahaan pengiriman swasta” Aku berusaha menampilkan senyumku sekuat mungkin & sepercaya diri mungkin, saat menjawab pertanyaan ini. Sambil berkali-kali meneguk air yang ada di depanku. Berharap jawaban & tingkah lakuku berhasil membuat mereka tidak memandang rendah diriku.

Untunglah sorotan pertanyaan yang ditujukan padaku segera beralih ke topik lain. Sehingga aku bisa merasa lega untuk sesaat. Akupun melanjutkan kegiatanku dengan minum & makan hidangan di depanku. Mengalihkan perhatianku dari obrolan mereka. Mungkin karena aku lebih banyak minum daripada berbicara. Sehingga membuatku harus beranjak untuk ke toilet. Untunglah salah satu bilik toilet itu ada yang kosong. Sehingga tidak menambah kekesalanku jika harus antri di toilet.

“ Sungguh malang ya nasib si Lizzy “ Terdengar suara salah seorang temanku di balik bilik toilet.

“Iya, jadi cantik & pintar bukan segalanya” Salah satu suara yang juga dari teman kuliahku terdengar.

“Padahal dia dulu sombong banget sampai nolak Kevin segala. Seakan-akan Kevin bukan levelnya dia”

“Iya bener,  lihat Kevin sekarang, dia udah sukses. Giliran si Lizzy yang gak level sama dia. Hahahaha”.

“Padahal, aku kira dia bakal kerja di perusahaan yang oke”

“haaah... bener-bener kasihan banget dia. Yuuk cabut”

Ruang toilet itu pun seketika menjadi sepi. Aku mendengarkan dengan jelas percakapan mereka dari awal sampai akhir. Bohong rasanya jika aku bilang aku baik-baik saja saat mendengar percakapan mereka tadi. Untuk beberapa saat aku hanya terdiam di depan cermin. Sebenarnya aku sudah tahu dengan datang kemari, hatiku akan terluka mendengar ucapan-ucapan mereka. Dan aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku pasti akan baik-baik saja. Sambil menatap cermin aku berkata pada diriku sendiri “Iya, aku harus baik-baik saja”. Setelah aku merasa sedikit lebih baik. Aku kembali ke tempat dudukku sambil tersenyum. Tanpa harus memperlihatkan kemarahan & kekesalanku.  Sekali lagi aku kembali menjadi bunglon si pecundang.

“Kamu lama sekali dari toiletnya sih” Celetuk Nadia.

“Bukan cewek namanya, kalau tidak lama di kamar mandi hahahaha” Balas si Toni

Untuk pertama kalinya aku merasa berterima kasih. Karena mulut sampah Toni sanggup menjawab pertanyaan yang enggan aku jawab itu.

Aku pun melirik kedua teman kuliahku, yang sepertinya mereka adalah orang yang berada di toilet tadi. Karena ekspresi mereka mendadak berubah saat tahu aku habis dari toilet.

Beberapa saat kemudian. Aku merasa tidak tahan berada disini. Setelah sekian lama harus menjadi bunglon lagi. Aku bnar-benar merasa muak, terlebih dengan diriku sendiri.

“Aku cabut dulu ya” Ucapku kepada Nadia.

“Yaah.. kenapa pingin cepet-cepet balik sih” Nadia berusaha mencegahku pergi.

“Iya, kenapa mesti buru-buru. Toh besok tgl merah. Aaah... aku ingat, CS pasti tetap masuk juga di tanggal merah ya?” tiba-tiba Kevin menimpali. Yang entah kenapa aku merasa ada nada sindirian di perkataannya.

“Betul sekali, aku tak menyangka Kevin paham dunia customer service. Atau jangan-jangan kamu masih perhatian sama aku ? “ Jawabku sambil tersenyum tipis “Aku pamit ya”

Saat aku beranjak pergi, sekilas aku melihat raut wajah Kevin. Yang tampak merasa sangat tertampar oleh ucapanku tadi. Ingin rasanya aku tertawa sekencang mungkin saat melihat ekspresinya itu. Setidaknya hari ini aku tidak hanya diserang tapi bisa menyerang balik juga.

Malam masih menunjukkan pukul 21.00. Setelah keluar dari cafe, aku hanya berjalan kaki tanpa tujuan tertentu. Aku merasa, diriku akan terlihat sangat menyedihkan jika aku langsung pulang ke kamar kosku. Dan mengurung diri di kamar. Setelah semua hal yang aku alami barusan.

Aku mengganti sepatu high heels ku dengan sandal jepit yang aku bawa. Berharap aku bisa membuat rileks tubuhku setelah melalui malam yang penuh sesak ini. Sambil berjalan dengan pikiran bertanya-tanya, apa yang salah dengan hidupku ?

Tibalah aku di sebuah taman. Bau tanah yang basah bekas hujan tadi pagi masih sangat terasa. Genangan-genangan air menjadi tambahan hiasan di taman ini. Saling bertabrakan dengan sorot lampu taman. Kenapa aku harus merasa seperti ini di musim hujan ini. Hal ini semakin membuatku terlihat menyedihkan. Dan aku benci itu. Sisa-sisa hujan di bulan April.

Aku mencoba merogoh tasku, mengacak-acak isinya. Kutemukan juga satu pack rokok yang akhir-akhir ini sering sekali aku butuhkan. Kenapa tepat disaat seperti ini benda ini hanya tinggal sebatang. Betapa sialnya aku hari ini. Kunyalakanlah rokok itu dan mulai menghisapnya pelan-pelan.

Otakku pun masih berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama. Apa yang salah dengan hidupku ?, tidak cukup baik kah aku selama ini ? Kenapa sepertinya keberuntungan selalu menjauh dariku?. Aku berpikir, apa yang di katakan dua temanku tadi bukanlah hal yang salah. Apa yang mereka katakan adalah fakta yang sebenarnya. Kenyataanya aku memang menjadi seorang yang menyedihkan. Mungkin mereka juga benar, bahwa aku terlalu sombong dengan jalan hidupku yang seperti ini. Tapi, itulah satu-satunya kekuatanku agar tetap bisa selamat dari semua hal yang aku alami selama ini.

Aku pun mencoba memandang hidupku ke belakang. Mencoba mengingat semua yang aku lalui sepuluh tahun terakhir ini. Aku memulai kuliahku di umur 20 tahun. Dengan berharap bisa membuat dunia seperti yang aku mau. Setelah sebelumnya duniaku adalah dunia yang di bentuk orang lain. Aku berharap bisa memulai hidupku yang baru. Bisa memilih orang-orang yang pantas untuk berada di dekatku. Membuang orang-orang yang tidak pantas untuk berada di dekat ku.

Tapi sebaliknya,pemikiran itu membuatku menjadi orang yang sangat berbeda dari orang lain. Kenangan & ketakutan tentang diasingkan orang lain kembali muncul dalam diriku. Hal itu karena sisa-sisa kenangan burukku di SMA masih membayang-bayangi diriku saat itu. Bahkan mungkin saat ini juga. Satu-satunya cara bagiku agar selamat adalah menjadi bunglon. Menjadi sama seperti mereka & tidak terlihat berbeda.

Aku berharap dengan caraku itu, aku bisa selamat. Aku harap, aku mengambil jalan yang benar. Tapi sejak awal tempat mereka bukanlah tempatku. Sekuat apapun aku menyamakan diriku dengan mereka. Aku tetap tidak akan sama dengan mereka. Karena itu bukanlah tempatku.

 

To be continue.