Jangan pernah melepaskannya, karena penyesalan selalu datang di akhir
LOST~
When I first met you
Gadis kecil dengan baju pink penuh renda memasuki halaman bermain milik Farah. Farah kecil, yang mempunyai rambut coklat sebawah telinganya belum pernah bertemu siapapun, ia tak memiliki keberanian untuk keluar dari ruangan kaca yang dibuatkan khusus untuknya. Tak jauh dari tempatnya, ibunya sedang asyik mengobrol dengan ibu sang gadis kecil itu. Tapi, gadis kecil itu tanpa ragu melepaskan tangan ibunya dan menghampiri Farah yang ada di dalam ruangan kaca. Lalu mengambil gitar hitam yang besar dan memainkannya.
“Namamu siapa?” Tanyanya sambil melemparkan senyuman manis, jarinya yang mungil berhenti memainkan gitar hitam itu.
“Farah,” Jawab Farah malu-malu, ini pertama kalinya ia melihat seorang gadis kecil memainkan gitar kakaknya. Selama ini, ia selalu beranggapan bahwa tangannya belum mampu untuk memainkan senar panjang di gitar itu. Tetapi, kakaknya bersikeras untuk tetap memberikan gitar itu kepadanya.
“Aku Izza. Tempat ini bagus ya, banyak mainan dan buku cerita warna-warni. Orang tuamu baik deh, kamu pasti suka disini ya,” Kata Izza mendekati Farah, mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Farah tersenyum. Senang rasanya, bisa mendapatkan teman seperti sekarang ini.
You accepted me
Hani dan teman-temannya menatap sinis kearah Farah. Tetapi Farah tak tahu apa yang sudah diperbuatnya akhir-akhir ini. Bahkan, dalam ingatannya ia tak melakukan kesalahan apapun. Izza, orang yang dari tadi ditunggunya tak kunjung datang juga. Padahal, ia berkata bahwa hanya akan meninggalkannya sebentar. Hanya karena uang sakunya tertinggal, Izza harus kembali ke kelas untuk mengambilya. Tapi sekarang Farah sudah mengeluh, ia tak bisa berlama-lama di tempat itu karena tatapan dari Hani dan teman-temannya.
“Maaf lama Fa,” Kata Izza yang baru saja datang dengan senyumnya yang sudah tak asing bagi Farah. Tadinya, Farah hendak merengut kesal kepada Izza, sahabatnya. Tapi melihatnya tersenyum, ia mengurungkan niatnya dan pergi bersama meninggalkan tempat itu.
Found my way
“Hei! Mereka kenapa sih?” Bisik seorang gadis dengan rambut coklat sebahu, Farah. Matanya masih saja tak henti melirik Hani dan teman-temannya.
“Gak tahu, udah gak usah dipikir. Gak penting ah,” Balas Izza dengan cueknya. Tangannya menarik lengan Farah dengan keras, ia berusaha agar sahabatnya itu mengalihkan pandangannya dari mereka.
That would be the last
Berjalannya waktu mengubah semuanya, Hani dan teman-temannya yang sebelumnya selalu menatap Farah dengan tatapan sinis. Kini telah menghilang. Bahkan, Farah, Izza, dan Hani menjadi teman baik. Karena waktu juga, jarak Farah dan Izza menjadi tak sedekat sebelumnya.
“Farah, besok kita main bareng yuk! Tapi mobilku hanya cukup untuk 1 orang lagi,” Kata Dzatu sambil menepuk pundak Farah.
“Oke, aku ajak Hani deh,” Kata Farah tersenyum. Tak mungkin baginya, menolak ajakan Dzatu untuk bermain. Karena kesempatan seperti saat ini tak mudah untuk didapatkan. Apalagi, kali ini ia akan bermain ke salah satu tempat favoritnya.
“Izza gimana dong?” Tanya Dzatu memastikan, ia sangat menyadari jarak Farah yang kini semakin jauh dengan Izza.
“Aku udah sering sama dia, sampai bosan malah. Sekali-kali sama Hani deh,” Jawab Farah dengan mantap.
But I didn’t know
“Farah, kita satu SMA!” Sapa Hani, salah satu temannya sejak sekolah dasar. Kini wajah ceria selalu menghiasi Hani dalam keadaan apapun. 4 tahun yang lalu, ia dan sekelompok temannya sempat memusuhi Farah karena alasan yang sebenarnya Farah sendiri tidak mengerti.
“Waa, kenapa tiba-tiba kamu sekolah disini?” Tanya Farah dengan heran, rambut coklatnya yang kini telah tumbuh sepanjang pinggangnya diikat dengan rapi karena hari ini adalah hari pertamanya masuk SMA.
I looked up to you
Izza hendak mengambil uang sakunya di kelas 6B, jaraknya memanglah lumayan jauh dari tempatnya saat ini. Tak ingin membuat Farah lelah, ia meninggalkan Farah sendirian di halaman sekolah.
Sesampainya di kelas…
“Izza, kamu harus jauhin Farah sekarang juga. Ini perintah Hani, kalau enggak kamu bakal kita jauhin,” Kata Yana, salah satu temannya.
Izza tak mendengarkan, ia sibuk mencari uang yang diletakkan di salah satu bagian tas ranselnya. Setelah itu, ia pergi tanpa mendengarkan beberapa temannya yang memohon kepadanya.
“Maaf lama Fa,” Kata Izza yang baru saja datang dengan senyumnya yang sudah tak asing bagi gadis itu.
By my side you said
Izza melangkah sendirian menuju tempat Hani berada. Wajah yang biasanya ceria itu, kini telah berubah menjadi garang.
“Kenapa kamu kayak gitu sama Farah?” Sentak Izza sedikit berteriak, Hani menatapnya tajam dengan tatapan menantang dia berkata bahwa Farah adalah orang yang sok cantik.
“Lalu kamu iri dengannya?” Tanya Izza lagi. Izza bertaruh, Farah adalah teman yang baik. Hani sempat terdiam sesaat.
Lalu, mereka berdua membuat kesepakatan. Selama seminggu penuh, Hani akan mencoba untuk mendekati Farah agar bisa membuktikan bahwa Farah tidak seperti yang dipikirkannya. Tapi jika yang dikatakan Izza adalah omong kosong, Hani dan seluruh kelas akan menjauhi mereka berdua.
Without you I am nothing
“Kamu belum tahu cerita lama itu?” Tanya Hani mengkerutkan dahinya, menatap Farah yang terbelalak kaget. Walaupun dengan baju putih abu-abunya, jika Farah memasang ekspresi yang terlalu berlebihan, itu membuat wajahnya tampak seperti anak kecil. Kenapa selama 9 tahun bersama Izza, ia tak mengetahui cerita kecil itu. Cerita terakhirnya bersama Izza di kelas 6 SD. Karena, tak lama setelah itu Farah selalu sibuk bermain dengan Hani dan teman-temannya. Bahkan, sekarang ia tak tahu kabar Izza setelah 5 tahun tak melihatnya.
Don’t worry even if I leave
Farah, masih ingat Izza? Izza kehilangan ingatannya karena kecelakaan tadi pagi. (Pengirim: Ibu Izza)
Sebuah pesan masuk yang membuat Farah meninggalkan bangku sekolah. Kakinya berlari tanpa bisa berhenti. Bahkan, ia tak peduli jika setelah itu ada ujian sekolah yang menantinya. Masih dengan mengenakan seragam putih abu-abu, Farah mengendarai sepeda motornya. Pak satpam yang selalu menjaga gerbang pun tak mampu untuk menghalangi Farah pergi. Hanya satu yang dipikirkan Farah, ia ingin melihat Izza yang 5 tahun telah menghilang dari sisinya.
Don’t ever feel sorry to me
Kamar no.302
Tangannya yang bergetar, sedikit membuka pintu rumah sakit itu. Matanya yang kini sedikit berair, masih bisa ditahannya. Terlihat seorang ibu dengan baju coklat, mengelus kepala seorang gadis yang tak asing untuk Farah.
Rambut hitamnya yang bergelombang, matanya yang indah, dan bibirnya yang pucat. Balutan perban membalut tangan kanannya, tetapi gadis itu masih bisa tersenyum melihat ibunya.
“Maaf tante, saya Farah…” Sapa Farah dengan suaranya yang bergetar. Ibu itu menoleh, tersenyum ke arah Farah dan mempersilahkannya untuk menyapa Izza.
Tanpa disertai rasa malu yang biasa mengelilinginya, Farah memeluk Izza dan mengeluarkan semua air mata yang telah dibendung sedari tadi. Sudah lama ia tak memeluk tubuh kecil ini, hangat rasanya. Beberapa kenangan muncul kembali. Kenangan menyakitkan yang telah ia rasakan di masa-masa sekolah dasar.
“Kamu siapa?” Tanya gadis itu heran, ia sama sekali tak mengingat seseorang yang kini sedang memeluknya. Farah melepaskan pelukannya, menatap Izza dengan seksama. Semua kenangan itu, kini hanya miliknya. Hanya tinggal bersamanya tanpa siapapun disampingnya.
Bahkan Farah tak sanggup untuk menjawab pertanyaan Izza, jika ia berkata bahwa ia adalah sahabatnya. Itu kejam. Semua perilakunya yang telah dilakukannya sejauh ini, tak mencerminkan seorang sahabat. Ia telah membuang sahabat terbaiknya. Ia yakin, setelah ini ia akan hidup dalam penyesalan. Dengan suara yang semakin bergetar, Farah menyentuh lembut tangan Izza.
“Maaf Izza. Tapi aku berjanji aku tak akan melepaskanmu lagi, tak peduli dimanapun kamu berada,”
Lost my way
Sebuah gitar dengan warnanya yang hitam pekat masih rapi di tempatnya. Sudah 5 tahun lamanya, Farah tak menyentuh gitar itu sedikitpun. Tepat di depan gitar itu menetap, berdirilah Farah dengan mata sayu. Farah sama sekali tak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari ruangan kaca itu. Ruangan kaca yang berukuran medium, di kelilingi lumut yang tumbuh diluarnya. Rumah pohon yang menghiasi pojok halaman, dan rumput-rumput yang tak bisa menghambat pertumbuhannya telah berkeliaran disekelilingnya.
You say don’t leave like this Farah tak menggariskan senyumnya sedikit pun seharian ini. Setelah mengetahui cerita kecil yang membuatnya terkejut, juga mendengar kabar bahwa Izza mengalami kecelakaan. Langkahnya perlahan mendekat, hendak membuka pintu ruangan kaca. Tapi hasilnya nihil, pintu itu terkunci rapat. Tanpa berpikir panjang, Farah mengambil sebuah batu besar yang berjejer didekatnya. Lalu ia menghempaskan dengan kasar ke ruangan kaca itu. Sampai beberapa pecahan kaca disana berceceran, bahkan ada beberapa pecahan mengenai lengannya. Membuat darah segar Farah mengalir, disetai dengan air mata yang perlahan jatuh di pipinya. Tapi semua itu mengalahkan goresan luka yang ada di hatinya, kerongkongannya yang mulai kehabisan suara tetap mengeluarkan isakan.
We laughed, we cried
Those days with you, those moments…
Are now in memories
I said, grasping my crushed shoulder
I neglected you when I once yearned for you so
I really can’t do anymore
Every time I wanted to give up
In the corner of my childhood house with the colorfull my memories.
Girl, let me know if it’s your last.
Because, I just wanna know.
Please girl, save me. Please girl, back to me.
Kini tatapanmu telah memudar, tetapi mengapa kenangan itu tidak mau lenyap? Mengapa mereka tidak mau lenyap?
Jadi cukup katakan sesuatu padaku.
Maafkan aku yang bodoh dan idiot ini.