Karena Cinta Tak Hanya Memiliki Tapi Juga Merelakan
Kata-kata Ayah "Karena Cinta Tak Hanya Memiliki Tapi Juga Merelakan" aku tak paham -Amira
***
Amira mengernyit, memandangi sepatu yang berjejer dengan sepatu bunda.Sepatu Om Arif.Dan Amira benci pada pria itu.Sudah dua bulan ini rekan kerja bunda itu mampir ke rumah.Setiap sore!Dan yang membuat Amira makin kesal adalah kenyataan bahwa bunda dan Om Arif sedang dalam hubungan serius.Amira tak akan pernah rela posisi ayah digeser orang lain.
"Amira kenapa nggak masuk?"bunda berdiri di depan pintu.Di belakangnya Om Arif ikut mengintip.Entah mengapa senyum pria itu terlihat sangat menjengkelkan bagi Amira.Tanpa aba-aba ia segera berbalik dan lari.Tak ada keinginan untuk sekedar menoleh pada bunda yang mulai menjerit khawatir.Hanya ada satu tempat Amira bisa pergi sekarang.Ke tempat Ayah.
***
Dalam sebelas tahun hidupnya Amira sangat menyayangi ayah.Bukan berarti ia menomorduakan bunda, tapi ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama ayahi.Ayah bukanlah seorang karyawan kantor ataupun pria berdasi seperti Om Arif.Tapi seorang yang sangat mencintai Amira dan selalu menjadi tempat Amira untuk berbagi segala hal.Seringkali ayah mendengarkan kicauan-kicauan Amira seputar pembicaraan anak SD yang sedang dilanda cinta monyet atau Pak Bayu guru Bahasa Inggris yang berlogat medok.Tanpa mengeluhayah selalu ada di sana.Menjadikan hari-hari Amira seperti lebih bermakna.Bagi Amira ayah juga seperti seorang pesulap.Tanpa Amira mengeluarkan kata-kata ayah langsung bisa menebak dengan benar apa pikiran Amira.
"Jadi kamu lari dari rumah karena ada Om Arif?"dan tebakan ayah selalu mendapat poin sempurna.Tanpa bertanya pun ayah pasti tahu kenapa Amira berlari sambil menangis sesenggukan.Amira mengangguk-angguk tanpa ada niatan untuk bersuara.Suaranya pasti terdengar aneh karena habis menangis.
"Amira,"ayah memanggilnya lembut.Mengambil posisi di samping Amira dan membawanya pada pelukan hangat."Jangan lakukan itu lagi ya Amira."ucap ayah lembut.
"Kenapa aku nggak boleh begitu?"suara Amira tercekat-cekat.Efek dari lari sambil menangis membuat paru-parunya serasa menjerit.
"Yang kamu lakukan itu menyakiti hati bunda.Dan Om Arif tentunya."Ayah mengelus rambut hitam Amira.Membagi sedikit rasa nyaman pada putri kesayangannya.Ada sedikit rasa bersalah di hati ayah.Membiarkan putrinya harus menanggung rasa kecewa karena tidak bisa merawat Amira semasa dulu.Saat ia dan istrinya masih dalam ikatan sah pernikahan.Apalagi mantan istrinya sekarang ingin menghadirkan pria baru dalam hidup Amira.Dan orang itu Om Arif.
"Aku nggak merasa menyakiti hati Om Arif.Dan lagi aku ngak suka dia.Aku suka ayah.Aku nggak mau Om Arif jadi pengganti ayah,"Amira dengan lantang meluapkan uneg-unegnya.Seakan gadis kecil itu lupa sudah menangis sesenggukan tadi.
"Lho kenapa?Om Arif kan orangnya baik dan pintar, dia kan atasan bunda.Nanti kan kehidupan Amira dan bunda bakal terjamin kan?"tanya ayah.
"Apa gunanya kalau nggak ada orang yang selalu ada buat Amira?Bunda pergi kerja terus, pulangnya sore jadi nggak ada waktu lagi buat Amira.Amira capek sendirian di rumah terus, Amira kangen ayah di rumah terus jagain Amira,Ayah sayang Amira kan?"
Ayah hanya bisa memandangi putrinya dengan getir.Iya, dia memang selalu bersama dengan Amira.Tapi itu dulu.Sekarang sudah saatnya Amira untuk mendapat seseorang yang layak untuk terus menjaganya.Ah, matanya terasa seperti dimasuki serbuk cabai.Ada air mata yang menggumpal di sudut mata ayah tanpa Amira sadari.
"Amira, dengarkan ayah.Apa Amira sayang ayah, cinta ayah?"ayah melepas pelukannya.Ia menatap kedua mata coklat Amira dalam-dalam.
"Amira sayang banget sma ayah!"jawaban Amira yang sangat ceria membuat ayah emngulas senyum.
"Tapi apa Amira tahu cinta itu apa?"
"Cinta itu ya harus selalu bersama dong yah!"jawab Amira polos.
Ayah menggeleng, ia tangkap kedua tanga Amira pada genggamannya.
"Amira, cinta itu buka hanya selalu bersama.Bukan selalu memiliki, tapi juga melepas sayang."
Hening, tak ada yang bersuara selain gemerisik angin senja.
"Seperti buurng yang hidup dalam sangkar.Bila kita mencintainya maka kita harus melepasnya agar bisa menemui kebebasan.Dunia baru yang belum pernah ia jumpai, kira-kira seperti itu Amira."
"Amira nggak mau ayah digantikan orang lain.Bagiku ayahku cuma satu, yaitu ayah,Nggak ada orang lain."Amira membalas dengan kecut.Ia tak suka topik pembicaraan ini.
"Amira sayang coba dengarkan.Begini saja, Amira mungkin memang tidak ingin punya ayah yang lain.Tapi bagaimana dengan bunda?Bunda juga membutuhkan seseorang yang bisa selalu ada di sisinya.Dalam segala hal, baik itu hanya menjadi teman bicara, teman diskusi, dan anggap saja teman untuk membantu bunda membesarkan Amira.Bunda tidak mungkin membesarkan Amira sorang diri.Seorang wanita butuh pria untuk melengkapi dirinya,"ujar ayah panjang lebar.
"Tapi ayah..."
"Amira masih ingat dengan kata-kata ayah?Cinta itu tak selamanya harus memiliki sayang, tapi juga melepas.Agar bisa memberikan kebahagiaan baru.Mungkin Om Arif adalah kebahagiaan baru itu."
Amira tak sanggup untuk membalas perkataan ayah.Ia hanya mampu tertunduk dan terdiam.
"Amira, bukan sakali saja Amira pernah melepas kan?"tanya ayah.Dan Amira hanya menganguk lemah sebagai jawabanMemorinya berputar pada kenangan yang sama sekali tak ingi ia ingat."Kalau begitu lepaskan semua prasangka burukmu tentang Om Arif.Seperti dulu kau melepas ayah ,ya?"
Sunyi.hanya ada suara angin dan isak tangis Amira.
***
Bunda dan Om Arif tak isa berhenti khawatir.Hari mulai berganti malam dan belum ada kabar apapun tentang Amira.Sejak menghilang tadi siang gadis itu sudah menjadi bahan pencarian satu desa.Bunda bahkan tak bisa berhenti untuk menangis.Ia benar-benar tak bisa berpikir jernih setelah membiarkan Amira pergi.
"Bu Ira dan Pak Arif sebaiknya kita memanggil bantuan polisi.Kita sudah mengerahkan pemuda satu desa dan belum ada kabar baik mengenai Amira"Pak Kadus terlihat sama khawatirnya.Kecemasan semakin meningkat saat bunda tiba-tiba saja sudah lemas dan tak sadarkan diri.Om Arif segera menahan tubuhnya dibantu beberapa warga.
"Saya akan menguubungi polisi Pak Kadus.Tolong jaga Ira untuk saya ya,"Om Arif segera beranjak.
Suara burung malam semakin menjadi diperparah dengan gempuran angi malam yang seperti tiada henti.
"Pak Kadus mungkin Amira diculik wewe gombel,"celetuk salah satu warga.Yang tentunya disahuti dengan persetujuan warga lainnya.Pak Kadus diam saja.Ia memutar otak.
"Panggil orang pintar saja Pak Kadus!"warga lain saling bersahutan menyetujui usulan tersebut.Namun Pak kadus memiliki sebuah pemikiran yang tiba-tiba mengganjal di hatinya.
"Tidak perlu orang pintar.Biar saya cari Amira,"Pak Kadus segera beranjak.Meninggalkan tanda tanya pada setiap warga.Setengah jam berlalu dan Pak Kadus belum juga muncul.Justru Om Arif dan beberapa polisi tiba di tempat.Tak berselang lama Pak Kadus datang.Tergopoh-gopoh ia menggendong sesuatu di punggungnya yang diselimuti kain sarung.Alangkah kagetnya mereka saat mendapati Amira berada di balik sarung tersebut.Matanya tampak kosong.
"Amira!"Om Arif mengambil Amira dari gendongan Pak Kadus.Gadis kecil itu mendadak mengedipkan matanya berulang-ulang.
"Ini di mana?"tanya Amira polos.
"Ini di rumah sayang,"Om Arif menjawab pelan.
"Amira minta maaf ya Om.Amira janji nggak bakal kabur lagi.Soalnya Om adalah kebahagiaan baru Bunda"ucap Amira lirih sebelum akhirnya terbawa ke alam mimpi.Om Arif tersenyum, bahagia sekali mendapat restu dari Amira.
"Pak Kadus kok bisa ketemu Amiranya, kan sudah kita cari satu desa?"celetuk seorang warga.
"Saya ketemuin Amira di kuburan ayahnya, almarhum Pak Bagus."
Seketika hening.