Gabu

“Tolong … Beri aku kesempatan lagi … aku … aku masih ingin menikmati keindahan dunia ini .…”

Satu Hari Lagi

 

“Tolong … Beri aku kesempatan lagi … aku … aku masih ingin menikmati keindahan dunia ini .…”

***

Hari ini aku pulang kerja lebih awal. Bukan karena kebijakan kantor, melainkan karena aku mengundurkan diri. Aku sudah muak dengan pekerjaan ini. Bosku menyebalkan dan semua teman kerjaku juga memuakkan. Entah kenapa, aku merasa seolah-olah alam semesta membenciku. Tidak hanya pekerjaanku yang hancur, tetapi semuanya—percintaan, pertemanan, bahkan hubunganku dengan keluarga. Oleh karena itu, hari ini aku bermaksud untuk menemui sang pembuat masalah itu.

Tali ini bagus, panjangnya dan bahannya pas. Selain itu, harganya juga cukup murah. Dengan teknik yang pernah kupelajari, aku mulai memasang tali ini. Sudah pas, pikirku. Tuhan, tidak peduli siapa diri-Mu, seperti apa wujud-Mu, aku akan membuat-Mu membayar perbuatan-Mu kepadaku, gumamku sebelum mengenakan tali ini. Krek ….

Eh, kenapa aku masih hidup? Sial, ternyata tali ini putus. Dasar penipu, katanya tali ini kualitas impor, umpatku. Umpatanku terhenti karena mendengar ponselku berdering. Akhirnya, kuputuskan untuk membuang tali sialan ini dan mengangkat telepon.

“Halo,” ucapku membuka percakapan.

“Halo, perkenalkan saya adalah perwakilan dari perusahaan Rielaz. Sehubungan dengan kontes yang kami adakan beberapa minggu lalu, kami telah memilih pemenangnya dan anda adalah juara satu dalam kontes ini. Oleh karena itu, seperti dalam peraturan, anda berhak untuk menjadi karyawan kami. Silakan datang ke kantor kami besok pukul 9 pagi untuk menerima hadiah anda.”

“Eh, tunggu sebentar, anda tidak salah ‘kan?” tanyaku sambil bergetar.

“Tentu saja tidak. Karya anda sangatlah bagus, layak untuk menjadi pemenang.”

“Te-terima kasih.”

“Baiklah, sekali lagi selamat. Kami akan menunggu kedatangan anda besok,” ucapnya sebelum menutup telepon.

Berita itu sangatlah mengejutkan. Aku tidak menyangka kalau aku akan memenangkan lomba yang iseng kuikuti itu. Yah, setidaknya sekarang aku mendapat pekerjaan baru.

Tok … tok, suara ketukan pintu membuyarkan khayalanku. Ada apa lagi ini? Tanyaku dalam hati. Semoga saja ini bukan Ibu pemilik apartemen yang mau menagihku.

“Eh, Ibu? Kenapa Ibu ada di sini?” tanyaku setelah membuka pintu.

“Ah, kamu pulang pagi, ya hari ini?”

“I-iya, si-silakan masuk, Bu,” ucapku bohong.

“Baiklah. Ah, kamu pasti jarang membersihkan kamarmu, ya?” komentar Ibu.

“Be-begitulah. Oh, iya, Ibu mau teh?” tawarku.

“Tidak usah, Ibu hanya mampir saja.”

Entah kenapa, tiba-tiba Ibu sekarang berada di sini. Hubunganku dengan orang tuaku tidak terlalu baik. Bahkan, terakhir kalinya aku menelepon orang tuaku adalah 1 tahun yang lalu.

“Nak, Ibu sudah dengar mengenai kabarmu dengan Sarah. Ibu turut menyesal, tetapi yakinlah ini adalah yang terbaik untukmu,” ucap Ibu membuka percakapan.

“Baik, Bu ….” ucapku lirih. Sarah adalah tunanganku yang meninggalkanku beberapa minggu lalu. Memang benar, aku masih belum bisa melupakannya. Ibu benar, seharusnya aku tidak perlu memikirkannya lagi.

“Nak, hidup ini masih panjang. Nikmatilah hidup ini selagi kamu bisa. Penyesalah selalu datang di akhir. Tuhan tidak menciptakan manusia tanpa alasan. Saat kamu merasa bahwa alam semesta membencimu, tetaplah bertahan. Percayalah, alam semesta pasti sedang menyiapkan sebuah hadiah untukmu,” nasihat Ibu.

“Baik, Bu. Terima kasih.”

“Ah, sepertinya cukup sampai di sini saja. Maaf, Ibu harus pergi sekarang. Terima kasih, Nak. Tetaplah semangat,” ucap Ibu sambil tersenyum dan mencium keningku.

“Terima kasih, Ibu,” ucapku dalam hati.

Kunjungan Ibu membuka mataku kembali. Tanpa kusadari, pipiku terasa basah. Aku merasa menyesal karena telah mencoba untuk mengakhiri hidupku beberapa saat lalu. Aku masih ingin hidup. Rasanya, aku harus berterima kasih kepada penjual tali itu. Aku kembali merenungkan nasihat Ibu tadi. Sepertinya, aku memang terlalu menyalahkan alam semesta. Aku hanya melihat sisi buruknya saja tanpa memperhatikan hal indah yang sudah diberikannya. Terima kasih Ibu.

Hari ini terasa seperti mimpi bagiku. Berbagai kejutan silih berganti menghampiri diriku. Mungkin Tuhan sedang baik kepadaku hari ini.

***

Ah, sang raja siang sudah mulai pulang. Langit sore ini terlihat sangat indah. Warnanya oranye keemasan terlihat sangat indah. Sekarang sudah hampir malam, lebih baik aku berjalan-jalan sembari membeli makan malam.

Kurasakan angin musim semi berembus. Terasa sangat enak, tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Bintang-bintang mulai menampakkan dirinya. Untunglah langitnya cerah sehingga para bintang itu bisa bersinar dengan sangat indah. Kemunculan bulan sabit turut memperindah malam ini. Langit terlihat seolah-olah tersenyum kepada penduduk bumi.

“Permisi, Bu. Roti lapis daging satu, ya!” pesanku.

“Baik, silakan tunggu sebentar,” jawab Ibu itu ramah.

Mungkin kamu akan heran dengan makan malamku ini. Namun, aku tidak peduli. Roti lapis ini adalah yang terenak di kota ini.

“Silakan, ini roti anda,”

“Terima kasih.”

Aku tahu tempat terbaik untuk menikmati malam ini. Tentu saja di taman. Taman kota adalah tempat terbaik untuk menikmati malam seindah ini. Untunglah hari ini bukan hari libur jika tidak taman pasti ramai.

Sesuai dugaanku, taman kota sepi hari ini. Cerahnya langit menyinari taman ini. Hamparan bunga Petunia berwarna ungu turut memperindah taman ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk duduk di bangku yang berada di tengah-tengah taman. Pemandangan di sini sangat indah karena tepat berada di tengah-tengah hamparan bunga.

Sembari memakan roti lapis, mataku seolah terpaku pada langit malam. Aku merasa seolah-olah mereka sedang tersenyum kepadaku. Malam ini, angin berembus dengan kecepatan sedang. Karena sekarang sudah masuk musim semi, angin terasa sangat nyaman. Ah, andai malam ini bisa berlangsung untuk selamanya.

***

“Selamat pagi, Tuan,” sambut suara berat di sampingku.

“Se-selamat pagi?” ucapku bingung. Sepertinya aku ketiduran.

“Apakah tidur anda nyenyak?”

“Te-tentu saja. Eh, siapa kamu?” tanyaku kaget karena sosok itu mengenakan jubah hitam yang menutupi mukanya.

“Baguslah kalau begitu. Silakan duduk, Tuan,” ucap sosok yang sudah duduk di depanku itu.

“Si-siapa kamu? Apakah ini penculikan?”

“Bukan begitu, Tuan. Anda salah paham. Izinkan saya memperkenalkan diri saya. Saya adalah yang biasa kalian sebut Azrael, Izrail, Azra, Azrail, atau biasa dikenal sebagai Malaikat Maut.”

“A-apa?!” teriakku kaget.

“Bu-bukankah tali itu putus?” tanyaku takut.

“Ahahaha, tentu saja tidak. Lihatlah lehermu.”

“...” aku tidak bisa berkata-kata lagi. Leherku ternyata patah. Aku sangat ketakutan.

“Ke-kenapa, aku masih hidup?” tanyaku lagi.

“Yah, mudahnya karena aku sedang bosan,” jawabnya santai.

“A-apa? I-itu jahat! Kenapa kau melakukannya?” tanyaku tidak kuasa menahan tangis.

“Karena kau adalah orang yang menarik,” jawabnya sambil mendekatkan wajahnya dengan wajahku.

“Aku memberimu waktu 1 hari untuk tetap hidup. Aku penasaran dengan manusia.”

“I-itu kejam ….”

“Jika aku tidak kejam, aku tidak akan menjadi Malaikat Maut.”

“Baiklah, waktumu sudah habis. Terima kasih karena telah menjadi bahan percobaanku. Adakah kata-kata terakhir?”

“Tolong … Beri aku kesempatan lagi … aku … aku masih ingin menikmati keindahan dunia ini .…”

“Penyesalan selalu datang di akhir, manusia. Selamat malam, nikmatilah tidurmu.”