KuroNeko

Berjuanglah !!! Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil

Hari ini, guru bahasa indonesia kami memberikan tugas untuk  membuat sebuah cerpen. Sejujurnya aku tidak tau apa yang harus aku tulis. Maka, selama beberapa jam lembaran kertas tugasku masih terlihat bersih tak bernoda. Akupun menyandarkan punggungku pada sandaran kursi, berharap mendapat inspirasi untuk tugas kali ini.  nihil, aku masih belum tahu apa yang harus kutulis. Bersandar seperti ini justru membuatku teringat diriku beberapa tahun silam.

Waktu itu, aku tinggal di asrama dan hanya sesekali dijenguk oleh orang tuaku. pihak sekolah mewajibkan setiap peserta didiknya untuk tinggal di asrama yang disediakan sekolah selama mengikuti proses belajar mengajar disekolah ini. Walaupun jauh dari rumah, aku tidak merasa kesepian karena disini ada teman-teman.

Setiap tahun ajaran baru, sekolah kami menempelkan daftar kelas beserta nama-nama siswa yang menjadi penghuninya di papan pengumuman. Hari itu, semua siswa berkerubung didepan papan pengumuman. Mencari tahu dimanakah nama mereka ditempatkan. Begitu juga aku dan teman-temanku.

“kamu dapat kelas apa?” tanyaku.

“wah, aku masuk kelas A” jawab seorang temanku.

“aku kelas C” kata temanku yang lain.

“namaku di kelas B.” Ucapku.

Sudah dimulai ya .... ucapku dalam hati. Tahun terakhirku sebagai siswi SMP. Aku menghela napas ... semoga tahun ini berjalan dengan baik tanpa ada masalah apapun. Hanya itu harapanku di tahun ini. Besok kami akan mulai masuk kelas. Aku akan bertemu orang-orang yang baru lagi tahun ini.

Keesokan harinya, saat aku masuk kelas. Tidak banyak wajah baru yang kulihat hanya beberapa orang yang dulunya dari kelas A dan C. Di setiap kelas disediakan satu kursi dan satu meja untuk setiap siswa. Aku duduk dikursi barisan ketiga paling kiri. Duduk dimanapun dan sebelah siapapun tidak pernah aku permasalahkan. Beberapa orang hanya ingin duduk disamping orang yang dekat dengan mereka. Tapi, kupikir semua orang bebas memilih disamping siapa mereka duduk. Tepat sebelum bel berbunyi, seorang gadis bertubuh ataletis masuk. Lalu, dia duduk disampingku.

“apa kursi ini kosong?” tanyanya.

“iya, silahkan saja duduk.” Jawabku.

“tidak perlu sekaku itu.” katanya “karena tahun ini kita akan duduk bersebelahan, mohon bantuannya ya. Namaku Ruri. Namamu?” ucapnya sambil tersenyum.

“aku Zalya.”

Tepat setelah aku memperkenalakan diriku pada Ruri. Wali kelas kami masuk, dan pelajaran hari itupun dimulai.

Satu semester telah berlalu. Aku dan Ruri cukup akrab dikelas. Karena asramaku dan Ruri berjauhan maka kami sangat jarang bertemu diluar jam pelajaran. Jam pelajaran pertama Hari ini adalah pelajaran mengarang. Wali kelas kami menyuruh kami untuk mengumpulkan PR dan menyuruh yang tidak mengerjakan untuk berdiri. Saat aku mengecek tasku, aku baru sadar kalau bukuku tertinggal di asrama. Maka, akupun berdiri bersama beberapa siswa yang tidak mengerjakan PR. Salah satu temanku, Lia terbelalak melihatku berdiri. “seorang Zalya ikut berdiri? Ranking dua di kelas ini tidak mengerjakan PR? Tidak bisa dipercaya !.” katanya. Aku hanya tersenyum ke arahnya.

“jadi Zalya, kenapa kamu tidak mengerjakan PR?”

 “bukannya saya tidak mengerjakan PR pak. Saya mengerjakan, hanya saja buku saya tertinggal di asrama.” Jelasku pada pak guru.

Setelah itu, pak guru hanya menegurku dan menyuruh saat istirahat ke ruang guru untuk mengumpulkan PR.

Suasana kelas tiba-tiba terasa begitu berbeda di semester kedua ini. Mungkin, karena beberapa bulan lagi kami akan menghadapi Ujian Nasional atau biasa disingkat UN. Beberapa hari setelah kami memasuki semester kedua, kami mulai mengikuti kegiatan pengayaan sepulang sekolah. Saat pengayaan, guru kami mengulang pelajaran dari kelas satu hingga kelas tiga. Terkadang ketika guru kami berhalangan hadir, kami membentuk kelompok-kelompok belajar baik itu dengan teman sekelas maupun dengan teman kelas lain. Kami jadi lebih sering menghabiskan waktu dikelas daripada di asrama. Dan itu membuat kami menjadi lebih akrab bahkan dengan teman yang dulunya sekedar ngobrolpun jarang.

Malam itu, aku belajar di teras kelas. Kulihat Ruri sedang asyik ngobrol dengan seorang anak laki-laki dari kelas sebelah, kelas C. “Zalya, sini deh.” Panggil Ruri. Akupun menghampiri Ruri. “apa?” kataku. “dia pengen belajar bahasa inggris.” “kamu kan ahlinya kalo bahasa inggris” Lanjutnya. “oke” jawabku. Lalu, aku dan teman Ruri itu berkenalan.

“aku Deri.” Katanya sambil mengulurkan tangan.

“aku Zalya.” Ucapku sambil bersalaman dengannya.

Sejak itu, beberapa kali kami belajar bersama. Dan pada suatu malam, Deri bilang bahwa dia suka aku.

“maaf. Aku Cuma ingin berteman saja. Dan terima kasih.”

Tentu saja, dengan jawabanku yang seperti itu hubungan kami tidak berlanjut kemana-mana. Kami masih sering berkomunikasi sampai sekarang sebagai teman biasa.

            Beberapa minggu setelah diadakannya pengayaan kami mengikuti try out yang pertama hasilnya dari tiga kelas hanya 5 orang siswa yang dinyatakan lulus. Aku adalah salah satu yang lulus dan sisanya siswa kelas A. Kelas A memang hebat .... pikirku. “selamat ya ... kamu lulus try out” kata teman sekelasku. “ hehehe .... terima kasih.” Jawabku sambil tersenyum. Kemudian diadakan try out yang kedua hasilnya kali ini ada 15 orang yang lulus. Ada tiga orang yang lulus di kelasku. Yang pertama adalah aku, kedua Farhan, dan ketiga Heni. Besoknya, saat jam pengayaan kosong Farhan menghampiriku.

“hei Zalya, ayo kita taruhan siapa yang dapet nilai paling tinggi di pra UN.”

Aku menutup buku yang kubaca. Dan menatap matanya yang berapi-api.

“boleh, taruhannya apa?” tanyaku.

“yang menang boleh minta apa aja sama yang kalah.” Jawabnya.

“oke. Ayo kita taruhan.”

“aku pasti menang.” Ucap Farhan masih dengan mata yang berapi-api.

Hari demi hari berlalu. Farhan menunjukkan niatnya untuk menang dariku, dia belajar dengan tekun. Dia sangat pandai dalam matematika yang merupakan kelemahan terbesarku. Melihat Farhan yang berjuang begitu keras membuatku seolah tak ingin menyerahkan posisi tertinggi lulus try out berturut-turut di kelas ini padanya. Aku menghapal rumus matematika sebanyak yang aku bisa. Ketika ada waktu luang aku melatih pemahaman matematikaku dengan mengerjakan beberapa soal. Aku juga tidak lupa belajar pelajaran lain yang diujikan ketikan UN. Aku terus belajar dengan sungguh-sungguh hingga 2 hari menjelang Pra-UN, kuputuskan dua hari itu untuk beristirahat. Belajar secukupnya. hanya mengulang-ulang apa yang telah kupelajari. Hari diumumkannya hasil pra-UNpun tiba. Aku telah berjuang sekeras yang aku bisa. Kini, biarkan takdir yang menentukan pemenangnya. Aku memejamkan mataku. Satu per satu nama yang lulus pra-UN disebutkan. Seperti biasa, kelas A selalu unggul dengan nilai rata-rata yang paling tinggi. Namakupun disebut baru kemudian disusul nama Farhan. Aku berhasil. Aku menang. Tanpa kusadari seulas senyum merekah dari bibirku. Sebuah senyum kemenangan. Sebuah senyum tanda kepuasan terhadap hasil yang kucapai.

Singkat cerita, kami semua lulus dalam Ujian Nasional. Semua wajah yang kulihat begitu berbinar-binar, hati itu tak ada satupun raut kesedihan yang muncul. Semuanya begitu sumringah. Semuanya tersenyum. Semua tertawa. Dan tentu saja semuanya bahagia. Aku bersyukur kami semua lulus UN. Tapi, kami sadar ujian yang sebenarnya baru saja dimulai. Ujian sekolah akan segera tiba.

            Sekolah kami adalah sekolah swasta jadi dalam hal ujian sekolahpun sekolah kami sedikit berbeda dengan sekolah kebanyakan. Sekolah kami tidak mengenal ujian dengan pilihan ganda. Ujian di sekolah kami adalah ujian dalam bentuk essay. Kau mungkin boleh lulus dalam UN tapi bila gagal dlam ujian sekolah maka kau tetap harus mengulang. Sekolah  kami memang tidak mengenal toleransi tapi itulah yang membuatnya menjadi salah satu sekolah favorit. Sekolah kami menghasilkan banyak alumni yang membanggakan. Kembali lagi soal ujian sekolah, minggu ini adalah minggu tenang. Yang artinya satu minggu yang dikhususkan untuk belajar atau bisa disebut mempersiapkan diri untuk menghadapi ujiian sekolah.

Ada sebagian orang yang belajar dengan begitu giat dengan membawa buku kemanapun mereka pergi agar mereka lulus dengan nilai yang memuaskan. Sementara sebagian lainnya memilih untuk tetap bersantai dan mereka akan belajar saat ujian hampir tiba. Aku tidak berada dikedua kelompok tersebut. Aku adalah kelompok pertengahan. Bukannya aku tidak peduli dengan studiku tapi kupikir terlalu memaksakan diri itu tidak baik. Aku akan belajar saat waktunya belajar dan istirahat saat lelah. Entahlah mungkin aku merasa sedikit lelah karena terlalu memaksakan diri saat belajar untuk  UN.

Seminggu sebelum ujian sekolah dilaksanakan, ayah datang menjengukku. Kulihat wajahnya bercucuran peluh. Menandakan betapa lelahnya beliau. Diberikannya dua bungkus bakso yang masih hangat. Kulihat Tangan besar itu menghitam karena terbakar panasnya matahari.

“berjuanglah.” Ucap ayah kepadaku seraya terseyum.

Lalu, beliau pamit. Segera kuraih tangannya, kucium dengan khidmat. Beliau mengucapkan salam lalu, beranjak pergi dengan motor bebek kesayangannya. Bukan motor bebek terbaru, hanya sebuah motor bebek tua. Tapi, motor bebek itulah yang menjadi saksi seberapa keras ayah berjuang menghidupi keluarganya. Tak terasa air mataku menetes. Kupikir aku telah berjuang sangat keras namun, saat kubandingkan perjuanganku dengan perjuangan ayah. Perjuanganku tidaklah ada apa-apanya. Aku mencintaimu ayah, bisikku dalam hati.

Hari diadakannya ujian sekolahpun tiba. Sebelum ujian dimulai kami berdoa untuk kelancaran ujian kami hari ini. Soal pada jam pertamapun dibagikan. Aku menarik napas panjang. Waktunya berjuang. Ketika aku mulai serius dengan ujianku, semua orang terlihat lebih baik dari aku. Tapi, sekarang bukan waktunya menyerah, perjungan baru saja dimulai. “pak minta kertas lagi” ucap salah satu temanku memecah keheningan kelas ini. Semua mata serentak tertuju padanya. Fokus... fokus.... bukan seberapa banyak kertas jawaban yang kau kumpulkan tapi apa yang kau tulis di lembar jawabanmu, ini soal kualitas bukan kuantitas. Aku berusaha meneguhkan hatiku. Berusaha tak terpengaruh dengan tambahan kertas yang temanku minta. Hasilnya, aku menyelesaikan ujian jam pertama dengan hanya menghabiskan satu kertas saja. Ketika kukumpulkan kertas jawabanku, wali kelasku sedikit mengeryitkan dahi.

“ Zalya, apa kamu yakin dengan jawabanmu ini?”

“iya pak. Saya yakin. Memangnya kenapa ya pak?”

“ ah ... tidak apa-apa. Bapak melihat tamanmu mengumpulkan lembar jawaban yang lebih banyak, sementara kamu hanya mengumpulkan satu lembar jawaban saja.”

“ saya yakin kok pak.”

Dan begitulah hari demi hari kulalui. Menjawab setiap pertanyaaan dalam ujian dengan jawaban terbaik yang aku punya. Hari terakhir ujianpun telah selesai. Aku telah berjuang sekeras yang aku bisa. sisanya, kuserahkan padamu tuan takdir, kataku dalam hati.

            Akhir tahun adalah saat-saat yang paling ditunggu oleh semua siswa sekolah kami. Karena sekolah kami mengadakan perpisahan bagi siswa kelas tiga dan pengumuman juara-juara kelas serta, liburan semester. Kami bisa pulang ke rumah selama beberapa hari. Ada banyak bazar yang disedikan ketika perpisahan sekolah. Semua orang tampak menikmatinya. Acara demi acara dalam perpisahan sekolahpun telah terlaksana. Kini, tibalah momen yang paling ditunggu oleh semua orang. Pengumuman juara-juara kelas. Juara kelas dipanggil berurutan sesuai dengan kelasnya. Dan kini saatnya juara kalasku dipanggil. Untuk satu alasan aku berharap namaku disebut. Mungkin juga, nama Okta dipanggil lagi semester ini karena, semester lalu dialah sang ranking satu dikelasku.

 “untuk juara kelas Tiga B, Zalya Rizkia. Dipersilahkan naik ke atas panggung.”

Untuk beberapa detik aku terdiam. Takjub dengan apa yang kudengar. Aku seolah tak percaya namaku keluar sebagai juara kelas. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

“Zalya nama kamu dipanggil tuh.” Ucap Lia sambil mencolek lenganku.

Setelah kesadaranku kembali, aku bergegas ke atas panggung. Aku menerima sebuah piala dan alat tulis sebagai hadiah. Dari atas panggung, kulihat ayah memandang tepat ke arahku. Dari wajahnya terpancar seulas senyum kebanggaan. Aku ikut tersenyum. Aku berhasil ayah.