Berusahalah jangan takut menghadapi kenyataan paling pahit, kejarlah matahari sebelum ia terbenam
Berusahalah jangan takut menghadapi kenyataan paling pahit, kejarlah matahari sebelum ia terbenam
Ada seorang anak yang lahir dari keluarga militer, dia terlahir sebagai anak kolong dan dia memiliki orang tua seorang tentara yang bukan lain adalah ayahnya yang berpangkat Kopral Satu. Meskipun ia terlahir dengan memiliki ayah yang hanya berpangkat Kopral dan tidak seperti teman sebayanya yang memiliki ayah berpangkat perwira menengah dan keatas tapianak itu sangat mengagumi ayahnya, setiap hari dia bermimpi dan bercita-cita bahwa suatu hari dia pasti akan menjadi seorang tentara bahkan bisa lebih baik dari ayahnya. Menjadi anak kolong seperti ditinggal ayahnya pergi ke medan tugas adalah hal biasa, hampir setiap tahunnya dia di tinggal tugas ayahnya yang tidak tahu kapan ayahnya akan pulang. Suatu ketika ayahnya sebelum diberangkatkan pergi ke medan tugas tak lupa ayahnya berpesan kepada keluarganya bahwa semua akan baik-baik saja jika kita percaya kepada Yang Maha Kuasa, dan tak lupa ayah tersebut berpesan kepada anaknya
“Nak kau jika kau ingin meraih cita-citamu itu, kau harus belajar dengan sungguh-sungguh, kau harus bekerja keras dan kau harus kuat dalam menjalani hidup percayalah bahwa Tuhan tidak pernah menolak doa, dia pasti akan mengabulkan dengan caranya sendiri. Berusahalah jangan takut menghadapi kenyataan paling pahit, kejarlah matahari sebelum ia terbenam”
Kata-kata itu masih teringang di telinga anak itu sampai kepergian ayahnya yang pergi ke medan tugas untuk beberapa bulan.
Hari demi hari ia jalani tanpa seorang ayah, yang setiap hari membawa nya ke lapangan untuk sekedar bermain-main. Tapi ia tak pernah mengeluh dia selalu ingat pesan-pesan ayahnya bahwa ia harus belajar dengan sungguh-sungguh. Seperti biasa disekolahnya dia selalu mendapat nilai yang buruk, dia selalu mendapat omongan yang kurang mengenakan di hati dari teman-teman dikelasnya, bahkan dia pernah hampir tinggal kelas karena selalu memikirkan cita-citanya yang ingin menjadi tentara dan lebih memilih menggambar di buku halaman belakang daripada menyimak guru yang didepan nya yang sedang menerangkan pelajaran. Suatu hari di pagi yang cerah, hari dimana hasil ulangan semester dibagikan membuat guru dan anak-anak dikelas dimana anak tersebut menimba ilmu kaget bukan main dan sangat tidak percaya, bahwa anak kolong yang sehari-harinya di sekolah lebih terlihat menggambar daripada menyimak pelajaran itu mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan dengan teman-temannya, hal itu pun juga teman-temannya menaruh curiga bahwa dia mendapat nilai tersebut dengan cara-cara yang curang
“ah paling dia nyontek kan yang duduk dibelakang dia si orang nomor satu”
“ia nih aku juga ga percaya masa sih dia mendapat nilai tertinggi, padahal aku lihat dia kerjaan nya hanya menggambar terus”
“apa jangan-jangan dia membuat kunci jawaban sehari sebelum ulangan?”
Kata-kata yang keluar dari mulut teman-temannya itu membuat dia sangat sakit hati bahwa ia sehari sebelum ulangan ia selalu belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan ketika teman-temannya mencemooh dirinya ingin sekali dirinya meluapakan kekesalannya tapi dia kembali teringat pesan dari sang ayah bahwa ia harus kuat dalam menjalani hidup.
Suatu hari disekolahnya akan diadakan sebuah acara berbagai macam lomba juga telah disiapkan oleh panitia semua anak sangat antusias mendaftarkan dirinya untuk mengikuti lomba tak terkecuali anak tersebut, ia juga mendaftarkan dirinya di lomba yang ia pilih, lomba lari. Semua anak yang telah mendaftar kemudian berkumpul di lapangan hari itu untuk mereka akan bersaing dengan peserta lain, anak itu sangat yakin bahwa usaha pasti tidak akan mengkhianati hasil sebab hari-hari sebelumnya ia telah berlatih dengan sungguh-sungguh. Sebelum bertanding tak lupa ia berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta diberi kelancaran dalam perlombaan. Setelah semua peserta bersiap pluit pun dibunyikan pertanda bahwa lomba sudah dimulai, sorakan dari bangku penonton yang menyemangati mereka yang lomba begitu ramai. Anak itu berlari dengan sungguh-sungguh dan sangat cepat meskipun begitu dia belum bisa menyusul peserta yang lainnya, putaran demi putaran ia lewati dengan mulus. Akan tetapi ketika anak itu hampir menyusul peserta paling depan, tiba-tiba pandangannya buram dan kemudian langsung terjatuh. Ketika anak itu bangun dia ternyata telah dinyatakan gugur, alangkah kagetnya anak itu mendengar kalau dia ternyata gagal dalam meraih juara, ternyata persiapan dia sebelum lomba belum benar-benar matang. Dirinya pun merenung dan tiba-tiba ia teringat kembali pesan sang ayah bahwa “tuhan pasti akan mengabulkan doa dengan caranya sendiri” ya mungkin kali ini dia belum dikasih kesempatan untuk menjadi juara.
Beberapa minggu setelah perlombaan itu, dia melihat di papan pengumuman sekolahnya bahwa akan diadakan lomba lari tingkat sekolah dan dia pun berinisiatif untuk mengikuti lomba tersebut. Kemudian dia menemui guru olahraga nya untuk meminta agar dia untuk diikutsertakan dalam lomba tersebut, namun apa yang terjadi ternyata guru tersebut menolak dia bahwa dia tidak bisa diikutsertakan lomba karena lomba kemarin saja dia gugur kemudian dia kembali ke kelas dengan rasa kecewa. Akan tetapi hal tersebut tidak mematahkan semangat nya untuk menjadi juara ditambah lagi dengan pesan ayahnya yang selalu tersimpan dengan jelas dikepalanya. Hampir setiap hari dia berlatih di lapangan sekolahnya seusai pulang sekolah dia kemudian berlatih dibawah terik matahari dan disaat yang hampir bersamaan juga guru olahraga nya memperhatikan dia bahwa ternyata dia memang benar-benar sungguh ingin membuktikan bahwa dia bisa memperbaiki kesalahan. Akhirnya keesokan harinya diadakan lah seleksi lomba lari tingkat sekolah semua anak antusias mengikuti seleksi tersebut, setelah seleksi selesai dimulailah pengumuman bahwa hanya ada satu yang akan lolos dan guru itu pun menyebutkan hanya anak tersebut yang lolos anak-anak yang lain pun tak percaya bahwa seorang anak yang pernah gagal bisa lolos seleksi perlombaan yang bergengsi itu guru itupun mengucapkan selamat atas keberhasilannya.
Kemudian tibalah hari dimana semua perwakilan dari sekolah hadir untuk mengikuti perlombaan tersebut anak itu sebenarnya tau bahwa yang akan dihadapi nya bukan orang-orang sembarang melainkan dari orang yang terpilih di dalam tubuhnya semangat juara terus membara bahwa dia yakin pasti berhasil dan meraih juara tak lupa restu dari orang tua dan guru sebelum ia berangkat ke perlombaan juga tidak lupa dia berdoa kepada tuhan untuk diberikan kelancaraan dan kekuatan bagi dirinya ditambah lagi pesan dari ayahnya yang masih teringang ditelinganya membuat ia semakin bersemangat. Setelah beberapa saat kemudian dimulailah lomba lari antar sekolah tersebut, sorakan penonton dari pinggir lapangan sangat meriah mereka menyemangati sekolahnya masing-masing. Waktu demi waktu putaran demi putaran dia lewati, dia berlari dengan penuh semangat meninggalakan peserta lainnya di belakang, dan saat di putaran terakhir mendekati garis finish tiba-tiba dia mulai kehilangan tenaga lari nya pun akan sedikit melambat ketika akan berhenti dia teringat pesan ayahnya “kejarlah matahari sebelum ia terbenam”, bagai mendapat kekuatan secara tiba-tiba dia berlari sangat kencang dan penuh keyakinan bahwa ia bisa dan sampailah ia di garis finish dan menjadi pemenang di posisi ke satu dan ia berencana akan menceritakan kepada ayahnya bagaimana ia bisa meraih juara.
Satu bulan kemudian, datanglah seorang tentara yang berpangkat perwira menengah mendatangi rumah anak itu kemudian berkata bahwa ayahnya telah gugur di medan tugas sontak membuat anak itu kaget bukan main mendengar ayahnya telah tiada, anak itu menitikan air mata nya dia pun tidak menyangka sebelum ayahnya berangkat dia berpesan bahwa itu adalah pesan terakhir untuk dirinya. Semenjak kepergian ayahnya dia lebih banyak menyendiri, suatu hari dia berdiam diatas rumahnya sambil menyaksikan matahari terbenam ia pun teringat pesan ayahnya bahwa dia harus kuat dan harus bekerja keras dia tidak boleh seperti ini terus menerus mengeluh setiap hari ia harus merubah hidupnya ke yang lebih baik.
Seusai tamat sekolah dia kemudian langsung mendaftarkan diri ke salah satu sekolah tentara tes demi tes ia lalui dengan penuh keyakinan, setelah semua tes selesai tibalah pengumuman dari pengumuman tersebut bahwa nama dia tak disebutkan dan dia dinyatakan gagal perasaan kecewa di hati nya pun muncul kembali tapi, kegagalan itu dijadikan pelajaran olehnya dan dijadikan motivasi agar ia bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Satu tahun kemudian dia mendaftarkan lagi namun sekali lagi dia gagal, sudah berkali-kali ia mendaftar selalu saja gagal dia pun tersadar bahwa tahun depan adalah tahun terakhirnya dia mencoba sempat ia merasa putus asa dan ingin menyerah karena berkali-kali ia daftar namun ia selalu saja gagal kemudian dia teringat pesan almarhum ayahnya dan kini ia mencoba bangkit kembali dari keterpurukan. Setelah mencoba untuk mendaftar kembali dan untuk terkahir kalinya ternyata ia lolos dan akan mengikuti pendidikan. Setelah seusai pendidikan tibalah saatnya upacara penutupan pendidikan dan dia akan dilantik menjadi prajurit banyak tamu undangan yang hadir pada hari itu setelah ia menerima baret kehormatan kemudian ia menitikan air mata bahwa ia ingin sekali ayahnya ada disini melihat anaknya berhasil dalam menggapai cita-citanya dan dalam hati pun ia berkata
“ayah terima kasih atas semuanya terima kasih atas motivasinya berkat pesan mu kini aku tau apa arti hidup yang sesungguhnya aku akan selalu belajar dengan sungguh-sungguh, selalu bekerja keras dan harus kuat dalam menjalani hidup aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah menolak doa, dia pasti akan mengabulkan dengan caranya sendiri. Aku akan berusaha dan tidak takut menghadapi kenyataan paling pahit, aku akan mengejar matahari sebelum ia terbenam”.