"I never laugh until I’ve had my coffee.†– Clark Gable. "Dengan rasa pahitnya, secangkir kopi mampu membuatmu tertawa. Mungkin karena bisa merepresentasikan segala kepahitan yang ada di hidupmu"
Rahasia Cinta
“I never laugh until I’ve had my coffee.” – Clark Gable.
‘Mencintai kopi bukanlah kesalahan. Yang salah adalah ketika dirimu mencintai sesuatu dengan cara berlebihan. Mencintai tidak perlu alasan. Karna cinta yang beralasan akan melahirkan kebohongan – kebohongan untuk menutupi kesalahan’.
Kopi mempunyai berjuta rasa yang berbeda di tiap kotanya, dan di tangan yang berbeda akan berbeda pula rasanya. Seperti ketika dua kemasan kopi sama diseduh dengan takaran air berbeda, tentu akan menghasilkan rasa yang berbeda. Tidak masalah. Karna lidah setiap manusia tentunya beragam dalam merasakan rasa. Namanya opini. Tak ada yang berhak memenjarakan makhluk hidup atas pendapat yang tak sama. Tak terkecuali pemimpin paling berkuasa di suatu negara.
Papua, tepatnya di pedalaman Mbua aku dan sukarelawan lainnya mendarat pukul 07.30 WIT. Perjalanan yang tak mudah mengingat letaknya yang sulit dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor. Di sana kami bertemu dengan Om Andri, “Pak Guru” yang sudah lebih dulu mendedikasikan sebagian hidupnya di pedalaman Mbua. No listrik, No koneksi internet, No sinyal gadget.
Sudah hampir sepekan kami berada disini tanpa berhubungan dengan dunia luar kecuali saat ada hal mendesak seperti kekurangan obat medis atau mengambil bantuan dana dari kota. Itu pun harus ditempuh dengan jalan kaki selama 2 hari semalam jika tak ada transportasi udara.
“Maaaaay lihat deh sinyal hpku, arrrgghhhhh.... bisa gila aku lama – lama disini,” Rendi histeris dengan sikap lebaynya menghampiri posko tempat kami berkumpul. Aku menggeleng tak peduli sambil terus memasukkan beberapa perlengkapan untuk mengajar bersama Om Andri. ‘Ini’ yang aku maksud jangan pernah mencintai dengan ‘alasan’. Ketika alasan itu hilang, ketulusan akan berubah menjadi keterpaksaan. Saking senangnya berselfi dan menyebar segala sesuatu di medsos, Rendi dikenal dengan sebutan ‘Si Gila Selfi’.
Om Andri tersenyum melihat tingkah kekanakan Rendi. “Alangkah senangnya jika listrik dan koneksi internet sampai kesini. Namun, akan lebih melegakan lagi jika dunia menyadari adanya kehidupan di sini, maupun pedalaman lainnya.”
Aku menggangguk membenarkan. Karna sampai kapanpun, peradaban manusia tak akan bertahan jika manusia sendiri tak ada yang berusaha mempertahankannya.
Perlahan – lahan aku mulai mengerti cara berpikir Om Andri yang simple dan tepat sasaran. Pantas saja beliau sangat dikagumi oleh masyarakat Mbua. Kini, murid Om Andri mencapai hampir 400 orang yang terdiri mulai dari usia anak kecil hingga lanjut usia. Hatiku tergerak tatkala melihat semangat ibu – ibu menyusui di Mbua yang rela menggendong anak sambil tetap mengikuti pembelajaran dari Pak Guru Andri.
Masing – masing sukarelawan yang datang bersamaku semua mempunyai tugas dan perannya sendiri. Mellisa dan Robert ahli dalam bidang kesehatan, mereka melakukan pemeriksaan dengan pembagian jadwal kategori balita, anak – anak, dewasa, hingga lanjut usia. Sesekali aku membantu mengatur persiapan obat – obatan dan menenangkan anak – anak yang ketakutan hendak diberi suntik imun semampuku.
Di lain tempat, kelompok Icha dan Kiki sibuk memberikan pengetahuan mengenai pemanfaatan lahan untuk memberdayakan kekayaan alam.Miris rasanya melihat lahan yang tak pernah dimanfaatkan karna masyarakat pedalaman Mbua minim ilmu pengetahuan tersebut.
“Maaaayyy Mayaa...” di kejauhan kulihat Rendi berlari kearahku. Masalah apalagi yang dia lakukan kali ini ? di tempat sebelumnya, anggotanya pernah salah sekali memasukkan bahan makanan yang akhirnya hampir semua pegungsi terkena diare. Walau bukan sepenuhnya salah dia. Tetap saja, kehebohan yang dia timbulkan membuat keributan di kalangan pengungsi. Beruntung tim medis waktu itu banyak yang turun tangan memberikan pengobatan.
“Are you doing again, hmm ?” sindir Mellisa tajam.
“A – adha..... kejang.. hhh...” Rendi menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Ada anak kejang – kejang,” lanjutnya masih terengah – engah.
Mellisa dan aku mengikuti Rendi menuju tempat kelompok Rendi melakukan demo masak sehat. Benar saja. Ada satu anak balita mengalami kejang – kejang. Mellisa segera memberikan pertolongan pertama sementara yang lain menyiapkan tempat untuk membaringkan sang anak. Pikiranku mulai mengembara ke kejadian beberapa tahun silam. Meski waktu itu aku ataupun om Andri tidak disini, namun berita mengharukan yang datang dari Papua sempat mengguncang dunia medis. Puluhan anak meninggal secara mendadak dan misterius. Seolah ingin mengatakan pada dunia bahwa mereka membutuhkan pertolongan yang bukan sekedar mampir karna tugas negara melainkan juga berkomitmen untuk bersama – sama membangun daerah yang tentram, nyaman, dan sejahtera.
Kami baru bisa bernapas lega setelah Mellisa dan tim medis lain memvonis bahwa anak balita bernama Yudis Kristian mengalami sakit Step.
***
Aroma kopi membelai lembut hidungku. Sisa – sisa uap mencair dan menetes ke tatakan gelas. Udara malam mulai membaur dengan dingin. Dari posko tempatku menikmati segelas kopi dapat kulihat honai – honai –sebutan rumah di Papua- mulai dipenuhi cahaya lentera dan lillin kecil. Jalanan yang jauh dari Honai seperti jurang gelap nan curam mengingatkanku pada cerita horor. Tepat setelah aku selesai menyesap kopiku, tiba – tiba sesosok kepala muncul di hadapanku, membuat tetesan kopi terakhir dalam mulutku tersembur keluar.
“Astaga Patros, mengagetkan saja kamu ini,” ujarku setengah kesal. “Sudah kukatakan jika bertemu orang lain kamu seharusnya menyapa bukannya malah mengagetkan seperti tadi. Ini sudah yang kesembilan dalam sepekan, ingat !!!”
“Kaka, ko jang marah – marah kaahh. Nanti ko cepat tua,” sahut si pemilik kepala sambil terkekeh bahagia karna berhasil mengejutkanku.
Patros Antoine, dia adalah murid SD tingkat akhir Om Andri yang tadi pagi sempat kuberi tugas menghafalkan lagu kebangsaan Indonesia Pusaka. Sebelumnya aku diminta Om Andri mengajar SD. Ada beberapa diantara mereka yang bahkan tidak hafal lagu kebangsaan Indonesia. Itulah sebabnya aku sering memberi tugas menghafal beberapa lagu nasional di akhir kelas. Alasan utama sih untuk membantunya dalam memperbaiki huruf ‘p’ yang sering dibaca sebagai ‘v / f’.Sekali perintah dapat dua hasil. Begitulah orang – orang Mbua sering menyebutnya.
“Ngomong – ngomong ada apa ko kemari ?” tanyaku dengan logat daerah yang masih saja terdengar kaku. Rekan – rekanku yang lain terkikik geli dibelakangku mendengar bahasa campuran itu.
“Begini kaka, sa tadi dah usaha hafal lagu indonesia fusaka, eeh.. fbu-usaka yang kaka bilang. Tapi sa tra hafal liriknya. Bagaimana kaka ? boleh tra kaka kas’ tau sa liriknya ?”
Doengg....
Aku menepuk pelan kepalanya senang karna dia mau berusaha untuk mengerjakan tugas kecil yang kuberikan.
“Kenapa ko tra tanya yang lain ? tapi justru jauh – jauh datang kemari ?” tanyaku sambil menulis lirik lagu di kertas yang kudapat dari Robert.
“Karna kaka yang kas’ sa tugas kaahh.Kalo fbak Guru yang kas tugas, sa tanya fbak guru. Macang tu kaka, hehe..” dia nyengir lebar memamerkan gigi putihnya yang berbaris rapi, aku tersenyum sambil terus menulis. “Mace sa bilang, kalo ada yang kas tugas dan sa tra tau harus tanya sma orang tu. Kalo sa tanya yang lain, belum tentu dorang tau sma tugas sa,” lanjutnya membuatku berhenti menulis sejenak.
“Patros, mace ko benar bilang tu. Tapi, tanya orang lain pun boleh. Ko tanya sma orang yang ko percaya. Baru nanti tanya sma orang yang kasih ko tugas. Kecuali kalo orang tu bilang rahasia, baru ko jangan kasih tau yang lain,” jelasku berusaha sebaik mungkin agar dia paham.
Patros menerima tulisan yang kuberikan dengan muka penuh tanda tanya. “Kenafba rahasia ? Fba bedanya rahasia dan bukan kaka ?”
“Hmm.. karna rahasia itu spesial. Hanya orang – orang yang boleh tau saja yang diberi tau. Kalo sampai orang lain tau, jadi sudah ta spesial lagi,” aku merogoh saku dan memberikan laser jarak jauh yang berfungsi ganda sebagai pulpen. Aku berbisik pelan. “Ini namanya laser jarak jauh, tapi juga bisa untuk menulis. Barang ini kuberikan sama ko. Ini rahasia antara ko dan kakak saja.”
Mendengar hal itu, raut mukanya langsung berseri lucu.
“Kaka akan kasih ko kode rahasia juga,” ujarku pelan, Patros mendekat dengan antusias. “Kalo ko tekan tombol ini sekali dengan jeda dua detik sekali sambil ko arahkan kemari berarti ko memberi ucapan salam. Selamat tidur, selamat malam, selamat pagi dan ucapan salam lainnya,” anak itu langsung mempraktekannya. Tiba – tiba sesuatu terlintas di kepalaku. “Patros, Kalo ko tekan ini berulang – ulang dengan cepat itu artinya ko sedang butuh bantuan. Nanti aku akan beri tanda ‘ya’ dengan menekan laser jarak jauhku sekali jeda satu detik.”
Dia menggangguk paham sambil menekan – nekan tombol laser yang kuberikan.Patros tersenyum lebar. “Tenang saja kaka, kaka tra usa kuwatir. Saaap laksanakan tugass.. hehe...”
Patros berjalan meninggalkan posko sambil bersiul setelah sebelumnya membisikkan sesuatu di telingaku. Rendi yang baru pulang dari rumah anak balita yang sakit step tadi pagi menghampiriku heran melihatku terkikik geli sendirian dibawah langit tak beratap.
Clap.
Ini dia. Jeda dua detik.
Clap.
Aku membalasnya.
Ya, selamat malam Patros.
Tak lama kemudian kembali kode lain muncul. Kali ini sorotannya berada di atas genteng.
Clap.
Laser itu menggambar sesuatu yang sudah sangat ku hafal bentuknya meski tak meninggalkan garis.
“Kamu ini kenapa sih May ? siapa orang disana yang seenaknya menyorot kearah sini ?”
“Rahasia,” jawabku senang sambil membalas dengan gambar yang sama. Gambar hati.
Ya, Aku juga sayang kamu Patros, kalian semua.
***
Tak terasa sudah hampir 6 bulan kami mengabdikan diri di pedalaman Mbua, mengamati perubahan besar yang dilakukan oleh Om Andri. Banyak yang sudah bisa membaca, menulis dan membedakan huruf – huruf serta mampu menghafal beberapa kata baku. Sudah banyak sayuran yang mulai dibudidayakan di lahan – lahan yang tadinya kosong. Kedatangan kelompokku sendiri hanya sebatas bantuan kecil untuk mensukseskan impian Om Andri dalam mencerdaskan bangsa pertiwi ini.
Dimana ada awal, disitu pasti ada akhir. Dan di setiap pertemuan akan ada perpisahan. Itulah yang tengah kualami saat ini. Benar apa yang dikatakan oleh Om Andri di awal pertemuan kami dulu.
“Hati – hati. Karna jika kalian sudah menikmati, akan berat nantinya untuk meninggalkan tempat ini.”
Aku merasa sudah sangat dekat dengan anak – anak serta masyarakat Mbua. Rasa nyaman membuatku enggan untuk beranjak dari tanah ini. Tapi, apa yang bisa kulakukan ? misi kami masih panjang dan jauh. Kulihat beberapa rekanku mengalami hal yang serupa.
Hari masih gelap ketika Patros dan anak – anak Mbua datang ke posko yang hampir setengahnya kosong karna telah diangkut oleh helikopter milik teman Robert. Seperti biasa, di akhir pertemuan kami selalu membagikan barang – barang berharga sebagai bentuk kenang – kenangan. Begitu pula sebaliknya.
“Kaka,” ujar Patros lirih. Ini adalah moment yang paling menyedihkan. Kulihat matanya mulai berkaca – kaca begitu pula denganku. “Tra bisakah kaka tinggal lebih lama di sini ? haruskah pulang sekarang ? bisa tunda sehari ? ato setengah hari saja ? bisa tra?”
Aku menggeleng lesu. “Maaf Patros, kaka hrus ke tempat lain. Kaka tak bisa lama – lama lagi disini. Saatnya ko manfaatkan ilmu yang ko dapat. Kalo ko besar nanti, ko boleh cari kaka eh. Kaka tak pergi kemanapun. Karna kaka selalu ada disini, di Indonesia,” kuusap kepalanya yang mulai bergetar karna isak tangis sebelum kulanjutkan. “Hmm, kotamo bagi kenang - kenangan pada kaka, eh ?”
“Ketua !” panggil Robert. “Sudah saatnya kita pergi,” ujarnya mengingatkanku. Hanya tinggal aku dan Robert saja yang belum beranjak pergi.
Sesampainya di Helikopter, kulihat Patros masih menunduk terisak. Aku sedih dibuatnya.
Clap. Clap. Clap. Clap. Clap.
Patros. Ya selamat tinggal. Ah bukan, sampai jumpa kembali.
Kulihat dia menggambar sesuatu mengelilingi helikopter yang kutumpangi seolah ingin memberikan doa dan perlindungan. Aku membalasnya dengan terimakasih yang hanya aku dan dia yang tahu.
Disampingku Robert memberikan secarik kertas.
“Dari Patros,” ujarnya seakan membaca pikiranku. “Dia minta tolong padaku untuk memberikannya padamu saat kita sudah di helikopter.”
Isinya surat.
Kakak jahat.
Sa tak mo bagi kaka kenangan. Saat kita ketemu nanti, baru sa bagi kenangannya. Tunggu sa ya kak.
Patros Antoine
“Ish, dasar anak nakal,” cibirku senang.
“Aku benci mengatakan ini. Tapi sepertinya aku punya saingan,” sontak aku menoleh mendengar Robert berkata demikian.
“Saingan ?” tanyaku tak percaya. “Astaga, jangan bilang kalau kamu...”
Robert tersipu malu. Aku tersenyum salah tingkah. Astaga sejak kapan Robert...
“Whoaaaah. Padahal kamu sering memanggilku dengan sebutan ketua, ketua, ketua,” ejekku.
“Itu karna kamu memang ketua disini.”
“Wah, yang benar saja. Aku belum pernah mendengar kamu memanggil namaku bahkan di luar kegiatan ini. Coba panggil namaku. Ayo cepat !”
“Itu karna... ah sudahlah. Berhenti menggodaku,” kulihat Robert kembali tersipu malu sambil membuang muka.
Hihi. Lucu sekali.
Baiklah biar waktu yang menjawab rahasia alam dan hati ini.
***