Nothing is impossible, the word itself says, "i'm possible!"
TERKUKUNG DI ANTARA PERMADANI HIJAU
Antara senang dan sedih melihat dia sudah tidak di sini, selangkah lebih maju dariku. Andaikan waktu itu aku mendengarkan nasihatnya aku pasti akan seperti dia, menerjang angin di antara awan.
***
Aku melangkahkan kaki sambil berlari-lari kecil melintasi sungai yang tepat berada di belakang rumahku. Air sungainya sedikit meluap karena hujan turun sejak pagi. Hujan rintik-rintik yang masih juga belum berhenti ditambah angin yang berhembus terus menerus menjadikan udara terasa dingin menembus kulit. Pakaian yang kupakai tidak dapat membantu menghangatkan tubuhku karena sudah terlanjur basah terkena air.
Aku menyukai suasana seperti ini, langit mendung dan udara dingin sehabis hujan disertai suara gesekan ranting-ranting pohon di sekeliling sungai terkena hembusan angin sambil bermain air menangkap ikan di sungai. Aku dan temanku, Ayu sedang berlomba menangkap ikan di sungai dengan tangan, kami bercanda dan tertawa sambil sekali sekali saling menyiramkan air ketubuh kami. Terkadang kesal juga karena ikan tersebut jauh lebih lincah dari kami. Tatkala sedang asik-asiknya bermain terdengar suara seorang ibu yang sudah aku kenal dengan baik memanggil Ayu.
“Ayu, ayo pulang! Sudah hampir dua jam kalian bermain di sana,” kata ibunya Ayu.
“Nanti Bu, sebentar lagi, ikannya belum dapat,” balas Ayu sambil sibuk terus mencari ikan.
“Sekarang sudah pukul 18.00 sore, PR sekolah belum kamu kerjakan,” kata Ibu Ayu yang terlihat mulai hilang kesabarannya.
“Sudah Yu, ayo kita pulang, nanti Ibumu marah,” kataku sambil menarik Ayu.
Walaupun Ayu merasa tidak puas, tapi akhirnya kami pun keluar dari sungai. Kami pulang bersama sambil berjalan bertelanjang kaki. Kami bertetangga. Rumah kami tepat bersebelahan. Setelah berpamitan dengan Ayu dan Ibunya, aku pun berjalan menuju rumahku yang terbuat dari bilik bambu. Aku pun membuka pintu yang sudah reyot, langsung tercium aroma sedap masakan ibuku. Kulihat Ibuku sedang duduk di atas bangku kecil mendadar telur di atas tungku untuk makan malam. Ternyata ibu sudah menyiapkan beberapa masakan yang sudah ditata di atas tikar. Ada goreng tempe dan goreng tahu serta sambal terasi kesukaanku. Perutku langsung terasa lapar terlebih setelah bermain air di sungai selama dua jam, aku ingin cepat-cepat menyantap masakan buatan Ibuku.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku, Ibu dan Ayahku duduk berkumpul di atas tikar menikmati makan malam buatan Ibuku. Nasi hangat, lauk pauk serta sambal terasi rasanya nikmat sekali. Setelah selesai menyantap makan malam, Ibu pun membereskan peralatan makan kami, dan aku pun mulai mengerjakan PR Matematika dan Bahasa Indonesia hingga pukul 21.00 malam. Setelah selesai mengerjakan PR, aku pun tertidur karena besok pagi aku harus berangkat ke sekolah.
***
Aku bangun pukul 05.00 pagi setelah dibangunkan oleh Ibuku, aku mempersiapkan diri dan pergi ke sekolah. Karena aku dan Ayu satu sekolah maka biasanya aku pergi sekolah bersama Ayu. Tetapi hari ini ada yang berbeda, warung ibu Ayu yang biasanya sudah buka hari ini masih tutup. Sudah kuketuk pintunya beberapa kali, tetapi tidak ada balasan, akhirnya aku memutuskan untuk pergi sendirian. Setelah berjalan sekitar 10 menit, tibalah aku di sekolah. Kelasku berada di pojok kanan dekat dengan ruang guru. Aku pun memasuki kelas tersebut dan mulai belajar tepat di pukul 07.00 pagi.
Setelah jam sekolah berakhir aku pun pulang kerumah, aku berencana mampir ke rumah Ayu sambil ingin menanyakan mengapa ia tidak masuk sekolah hari ini. Setelah sampai di rumah Ayu aku melihat warung Ibunya Ayu masih juga belum buka. Karena penarasan aku mengetuk pintu rumahnya. Ibunya Ayu membukakan pintu, ia terlihat lelah. Walaupun begitu ia tetap berusaha ramah padaku.
“Wah, Asih, ayo masuk! Ayu ada di dalam kamarnya,” katanya sambil tersenyum.
“Terima kasih, Bude,” sahutku.
Aku pun masuk ke dalam rumah melewati warung milik Ibunya Ayu. Rumah Ayu dijadikan warung sejak Ayahnya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya lumpuh. Rumahnya begitu sepi, tidak terdengar sedikit pun suara. Aku berjalan menuju ruangan di pojok kanan. Aku pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Terlihat Ayu sedang belajar Matematika. Di atas meja belajarnya kulihat ada beberapa lembar kertas berserakan yang telah digambar oleh Ayu. Ia menggambar beberapa desain baju yang sangat indah. Ayu memang senang menggambar. Tidak heran kamarnya dipenuhi oleh gambar-gambar baju. Ayu berhenti mengerjakan Matematika begitu tahu aku masuk ke kamarnya. Kulihat matanya kuyu sekali. Tatapannya begitu sedih, menggambarkan hatinya yang sedang kacau.
“Asih, ayo duduk! Maaf ya berantakan,” katanya sambil mengajakku untuk duduk.
Aku pun duduk terdiam. Aku melihat Ayu murung dan tidak semangat.
“Kamu kenapa, Yu?” tanyaku penasaran.
Awalnya dia terdiam membisu hingga membuatku semakin penasaran.
“Hari ini aku dimarahi oleh Ibu,” katanya sambil melanjutkan mengerjakan Matematika.
Aku hanya mengangguk-angguk tanpa membalas kata-katanya.
“Ibu bilang bahwa hidup kami semakin susah semenjak Ayahku mengalami kecelakaan. Ditambah hari ini aku sakit sehingga Ibu tidak bisa membuka warung karena harus menjagaku. Sepertinya, saatnya sekarang aku harus membantu orangtuaku. Aku akan mengajukan beasiswa untuk SMP di luar kota,” katanya sambil menerawang.
“Kenapa harus ke luar kota?” tanyaku keheranan
“Karena sekolah itu sekolah favorit dan aku akan tinggal bersama Pamanku,” jawabnya singkat.
“Kamu mau ikut mengajukan beasiswa juga tidak?” lanjutnya dengan penuh semangat.
“Ah, orangtuaku ingin aku sekolah sampai tamat SD saja. Tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah,” jawabku sedih.
“Ya, aku mengerti perasaanmu. Mereka pasti berkata,’untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau berakhir di dapur?’ Tapi aku tidak ingin seperti itu. Aku ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa lebih. Aku ingin merubah nasib hidupku dan orangtuaku menjadi lebih layak,” jawabnya penuh keyakinan.
“Kamu tahu Audrey Hepburn?” tanyanya.
Aku hanya menggelengkan kepala.
“Aku pernah membaca biografinya di perpustakaan sekolah. Dia seorang aktris Inggris yang sangat menarik. Dia memotivasiku dengan sebuah kalimat yang indah,” katanya sambil memberiku selembar kertas kecil yang bertulis “Nothing is impossible, the word itself says, ‘I’m possible!’”.
“Semua tidak ada yang mustahil, Asih, asalkan kita yakin pada diri kita sendiri, kita pasti bisa mewujudkan apa yang orang katakan itu hanyalah mimpi menjadi kenyataan,” kata Ayu menyemangatiku.
“Kamu masih punya waktu satu tahun untuk memikirkan beasiswa tersebut. Lagi pula tidak ada ruginya ‘kan kamu mencoba mengajukan beasiswa. Tidak perlu terburu-buru,” bujuknya.
“Iya nanti aku pikirkan dulu. Tetap saja aku harus memberitahukan kepada kedua orangtuaku,” jawabku
“Ah, iya, aku hampir lupa, ini ada catatan pelajaran hari ini. Aku pinjamkan padamu agar kamu tidak ketinggalan pelajaran. Aku tidak bisa lama-lama karena harus membantu Ayah dan Ibu menanam padi. Aku pulang dulu, ya,” kataku sambil memberikan kertas catatan dan bangkit lalu pamit.
Selama perjalanan pulang dari rumah Ayu, aku memikirkan terus perkataannya tentang beasiswa itu. Hatiku menggebu-gebu membayangkan Ayah dan Ibu akan berubah pikiran hingga aku dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi ternyata anganku jauh berbeda dari apa yang aku bayangkan. Ayah dan Ibu menolak keras pendapatku. Mereka tetap beranggapan bahwa aku sebagai anak perempuan yang berkewajiban membantu orangtua di dapur dan akan seperti itu hingga aku menikah kelak.
Lain ceritanya dengan Ayu. Setelah tamat Sekolah Dasar, ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke sekolah favorit di luar kota seperti apa yang pernah ia ceritakan padaku. Semenjak ia pindah ke luar kota, aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Setelah tiga belas tahun kemudian aku mendengar kabar dari salah satu teman SD ku kalau Ayu sekarang telah menjadi seorang wanita karir yang sukses. Menurut cerita temanku, Ayu mulai terlihat berprestasi semenjak memenangkan salah satu lomba mendesain baju antar sekolah. Akhirnya Ayu mulai fokus untuk menjadi fashion designer.
Sedangkan aku sekarang masih seperti dulu sibuk memasak di dapur untuk anak-anakku dan suamiku, menanam padi di sawah seperti yang Ayah dan Ibuku lakukan setiap harinya.
***
Hari ini panas matahari terasa sangat menyengat kulit. Seperti biasa aku menanam padi di sawah. Lalu terdengar samar-samar suara pesawat terbang di angkasa menerjang angin di antara awan. Andaikan waktu itu aku mendengarkan nasihatnya aku pasti akan seperti dia, terlepas dari kukungan permadani hijau ini.
TAMAT