Be your own kind of beautiful
Keseharian Seorang Remaja
Menurutku menjadi seorang remaja tuh melelahkan. Semuanya dinilai. Semuanya digossipin. Tetapi, itulah kenyataannya.
Namaku Ana, aku duduk di kelas X, setiap aku mau pergi ke sekolah, hal pertama yang kulakukan adalah melihat kaca. Apa yang ku lakukan? Melihat apa di mulutku masih ada sisa makanan yang menyangkut di sela-sela gigiku? Seperti sayur, cabai dan makanan lain yang warnanya mencolok. Melihat apa didekat mulutku ada noda yang mengering? Seperti air liurku yang mengering karena mimpi indahku atau susu yang membuatku seperti mempunyai kumis. Melihat apa rambutku acak-acakan seperti bola disko ataupun ketombe yang “say hello!” diantara helaian rambut. Melihat apa didekat mataku terdapat benda yang menghalangi penglihatanku. Hal kedua yang kulakukan adalah memakai senjata super ampuh, kalau tidak aku tidak akan pede, disebut juga deodorant. Ini senjata yang sangat ampuh, apalagi sewaktu pelajaran olahraga.
Nah, setelah siap dan mengecek diriku, baru berangkat sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku ujian, dan ujian di sekolahku ini cukup berbeda. Saat ujian, semua siswa akan diacak dan mendapat ruang ujian tersendiri. Satu ruang ujian dapat memuat kira-kira 30-40 siswa. Meja yang digunakan sekolahku itu meja lama, jadi satu meja dapat dipakai berdua, siapa teman sebangkunya tidak ada yang tahu. Dan ternyata, aku mendapat teman sebangku dengan seorang siswa kelas XII. Aku tidak mengenalnya, tetapi aku melihat daftar absensi dan tertulis Jeremy.
Kebetulan hari ini aku sedikit tidak enak badan. Hidungku berair yang membuatku sulit bernafas. Bilaku keluarkan di kelas, semua akan menengok dan mencari tahu siapa yang mengeluarkan suara yang begitu keras, jadi kutahan-tahan hingga ujian selesai karena saat ujian siswa tidak diperbolehkan mengeluarkan ruang ujian. Selain hidung mampat, aku juga masuk angin, perutku kembung dan mengeluarkan suara-suara aneh. Ini pertanda buruk! Aku ingin buang angin! Selama ujian, aku bersemedi dan berharap dapat kutahan hingga ujian selesai. Huahh, ternyata perutku sudah tidak dapat menahannya. Aku hanya menunduk dan berharap suaranya tidak begitu keras. Disaat yang sama, aku mendengar suara speaker yang berarti ada pengumuman yang akan disampaikan. Wah, kebetulan sekali, mungkin dapat kukeluarkan saat pengumuman, pikirku. Jadi ini rencanaku. Saat speaker sekolah menyala, akan terdengar lagu pendek. Saat lagu tersebut, aku mempersiapkan diriku untuk membuka gerbang kemenanganku, saat pengumuman baru kuluncurkan, semuanya pasti akan sibuk mendengarkan suara dari speaker tersebut. Sesuai rencana, saat terdengar lagu pendek, aku sedang sibuk mempersiapkan diri. Tetapi, saat pengumuman berlangsung, gerbang kemenanganku masih belum terbuka. Aku ingin membatalkan luncuran, tetapi gagal. “Fire in the hole!” terdengar suara keras yang kubuat saat suasana hening. Jeremy langsung menengok dan menatapku. Ya ampun, aku malu sekali. Selain suaranya yang begitu menggelegar, tercium pula aroma terapi yang membuat orang pusing. Aku berharap setelah ujian ini selesai, aku tidak bertemu Jeremy lagi.
****
Setelah melalui penderitaan selama seminggu, sekolah diliburkan. Seperti biasa, aku chat di group sosmed dan berencana dengan beberapa temanku yang gaul untuk pergi makan di café lalu main ke sebuah mall ternama untuk menonton film. Teman-temanku setuju untuk menggunakan baju croptop yang sedang tren, highheels dan makeup. Ya ampun, sulit juga bermain dengan orang gaul. Kami berjanji untuk kumpul jam 11 pagi, jadi, aku bangun jam 6 untuk siap-siap. Aku mandi, lalu mencukur bulu berlebih di bagian ketiak, scrub muka, karena mukaku sangat kasar seperti amplas kayu, jika tidak discrub akan susah untuk merias wajah. Setelah semua selesai, aku mencatok rambutku, supaya terlihat gaul juga. Aku menggunakan baju berwarna putih dan celana pendek berwarna biru tua ditambah highheels berwarna hitam. Setelah semua siap, sepeti biasa aku melihat kaca untuk memastikan semuanya sempurna. Disaat yang sama, aku melihat kuku kakiku. Ewhh, sangat mengerikan, karena biasanya aku menggunakan sneaker. Dengan secepat kilat aku mengambil gunting kuku juga kutek milik mamaku. Gawat! Berantakan! Aku mengambil nail remover lalu menghapus kutek tersebut. Tidak! Tidak dapat hilang! Kuku kakiku! Tidak boleh ada yang melihat ini! Dengan cepat, aku mencari stocking berwarna kulit, tetapi tidak ada, hanya terdapat warna pink. Aku mengambil stocking tersebut dan memakainya. Astaga! Ini terlihat mengerikan! Aku berpikir keras agar kukuku tidak terlihat. Ahh, aku tahu, pakai perekat luka saja. Dengan cepat aku mengambil benda tersebut dan memakainya. Setelah selesai mengatasi masalah kuku kakiku. Aku mempunyai masalah kedua. Pusarku. Ini gawat! Pusarku jarang kurawat jadi warnanya lebih gelap daripada warna kulitku. Karena tidak ada waktu lagi, aku menggunakan perekat luka lagi untuk menutupi hal mengerikan itu. Wah, ternyata, perekat luka juga sangat berguna di dunia mode. Setelah semua siap aku langsung berangkat. Kira-kira 25 menit berada di perjalanan, akhirnya sampai juga. Aku melihat teman-temanku sedang asyik berselfie.
“Cepat Ana, timernya sudah mau habis,” kata salah seorang temanku sambil memegang handphone putih.
Dengan sigap, aku langsung lari menuju tempat perkara. Sayangnya, highheels ini mengganguku sehingga aku tidak dapat berlari dengan cepat. Aku tidak tahu bagaimana penampilanku saat lari menggunakan highheels ini karena kakiku tidak seimbang akibat pergelangan kakiku tertekuk ke kanan dan ke kiri.
“ Cepat Ana, 5 detik lagi” teriaknya lagi.
Aku langsung melompat, juga bergaya. Serasa sedang loncat indah. Dan, cekrek. Terdengar suara dari handphone yang berarti gambar tersebut sudah diambil. Semua sibuk mendekati handphone tersebut dan mencari dirinya masing-masing untuk melihat bagaimana hasilnya, begitu pula denganku. Wah,tak kusangka, ternyata aku juga masuk.
“ Wah Ana, hidungmu sangat mancung ya hehehe,” kata salah seorang temanku. Memang sih hanya hidungku saja yang masuk, tetapi tetap saja itu bagian dari tubuhku. Setelah puas mentertawakan hidungku, kami memesan makanan. Aku tidak mengerti, kami ke café untuk makan tetapi kami sibuk selfie dengan beraneka pose. Tapi anehnya setiap aku melihat kamera, aku seperti terhipnotis, aku langsung meninggalkan makananku dan ikut berpose. Seperti, duckface, sillyface , wink dan pose aneh lainnya, sampai-sampai mataku perih terkena flashlight secara terus-menerus. Setelah puas berfoto kurang lebih 2 jam baru kami makan.
“ Heii, kalian tahu tidak? Si A kemarin makan di café xx pakai baju yang sudah dia pakai waktu pestanya si B,” kata salah satu temanku yang memulai pembicaraan.
“ Eh,eh, tau ga? Si A juga dapat banyak likes di sosmednya. Jangan-jangan dia beli likers?”
Aku pusing sendiri mendengar topik pembicaraan mereka. Saat teman-temanku sedang sibuk bergossip, aku melihat sekelilingku, dan tak sengaja aku melihat salah seorang teman yang duduk disebelahku sedang melirik ketiak temanku yang lain saat sedang mengangkat tangannya. Ternyata teman-temanku sama sepertiku, senang mengintip ketiak orang lain, hanya sekedar ingin tahu apakah di ketiaknya itu tumbuh sesuatu yang lebat.
“Aku tahu apa yang kamu lihat lho,” bisikku kepada teman yang berada disampingku.
“ Iyah niih, aneh ya, kok ketiak dia bisa mulus sih?” balasnya sambil berbisik.
“ Mungkin dilaser? Atau ditutup pakai concealer?”
Bla…bla…bla…kami bercerita hingga lupa waktu.
Setelah selesai makan, kami pergi ke mall untuk menonton film. Selama kami berada diperjalanan semuanya sibuk dengan handphonenya masing-masing untuk selfie, termasuk aku . Setelah sampai, kami langsung menuju ke bioskop, setelah medapat tiket bioskop, kami sibuk menfoto tiket tersebut. Entah apa yang menarik dari tiket bioskop tersebut. Setelah menfoto tiket, kami membeli popcorn untuk cemilan. Setelah mendapat popcorn, kami sibuk lagi menfoto makanan tersebut. Sebelum masuk ke teater, kami ke toilet terlebih dahulu, dan, seperti biasa, di toilet terdapat cermin besar yang membantu kami untuk mirrorselfie. Setelah itu baru kami masuk ke teater, setelah mendapat tempat duduk masing-masing, kami selfie lagi. Huft, benar-benar melelahkan menjadi perempuan itu! Sebelum nonton saja sudah selfie beberapa kali. Otot pipiku mulai kram! Setelah selesai menonton film, kami pulang ke habitat masing-masing. Sesampainya di rumah, group sosmedku mulai aktif. Ada yang berkata, “Post foto yang ini saja, lucu banget…”,” Kapan main lagi gengs?”,” Film tadi rame bingitsss!” dan lain-lain. Setelah memposting beberapa foto di sosmed, aku mandi lalu makan malam. Setelah itu, aku masuk ke kamar dan bersiap untuk tidur, mendapatkan istirahat yang cukup untuk melakukan aktivitasku sebagai seorang remaja di keesokan hari.
Benar, menjadi remaja itu melelahkan!
TAMAT