Ananurd

Usahamu tidak akan pernah mengkhianati hasilmu

Hero
Azis berlari kecil mengejar langkah ayahnya yang jauh lebih lebar dibandingkan langkah kecilnya. Dia terus berlari sambil meneriaki ayahnya yang semakin menjauh dari hadapannya. Dia tidak ingin ayahnya pergi meninggalkannya, apalagi setelah dia kehilangan ibunya untuk selama-lamanya. Dia tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain ayahnya. Dia tidak tahu harus bagaimana jika ayahnya pergi meninggalkannya.
“Ayah..!!” teriaknya dengan suara parau. Namun, ayahnya terus saja melangkah tak menghiraukannya.
Azis kecil berjongkok di tengah jalan sambil menangis memanggil nama ayahnya. “Ayah..” cicitnya dengan suara lirih. Oh, betapa kejam dunia ini baginya. Ibu yang sangat disayanginya harus pergi meninggalkannya karena sebuah penyakit yang jika diobati sangat mahal biayanya. Dan sekarang, ayahnya pergi meninggalkannya sendirian, tanpa siapapun, hanya demi seorang wanita yang tidak di kenalnya. 
Azis berdiri menyeka air matanya dengan kasar. Tangannya mengepal erat dengan rahang yang mengeras. “Aku akan buat ayah menyesal telah meninggalkanku. Aku akan buat ayah sadar betapa berharganya aku.” Janji itu terucap dari mulut kecilnya. Mengumpal menjadi tekad yang sangat besar untuk mewujudkannya.
“Apa ini..??” Azis mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku celananya. Dibukanya lipatan kertas itu hingga terbaca sebuah tulisan. “Alamat rumah siapa ini..??” tanyanya kebingungan. Dia tidak ingat pernah memiliki kertas itu. Apa kertas itu, kertas yang sama yang diberikan ibunya secara diam-diam sebelum menghembuskan napas terakhirnya? Ah, mungkin saja iya. Tapi untuk apa ibunya memberikan alamat rumah ini kepadanya?
“Mungkin ibu ingin aku pergi ke alamat ini. Tapi, alamat rumah siapa ini sebenarnya..??”
“Mm… aku harus ke rumah ini. Siapa tahu saja ada yang bisa membantuku.”
Dengan langkah kebingungan dan penasaran, Azis mencoba menuju rumah yang tertera di kertas tersebut. Beberapa jam dia berjalan menuju rumah tersebut dengan berjalan kaki. Dia tak punya pilihan lain karena dia tak punya sepeser pun uang. Namun dengan tekad, dia akhirnya sampai di rumah tersebut. Rumah yang sangat besar dan mewah. Mungkin lebih tepatnya disebut istana.
“Permisi..” teriaknya di depan gerbang yang sangat tinggi. “Permisi..” teriaknya lagi, dan lagi. Begitu pun terus hingga sampai lima belas menit. Saat dirasa suaranya serak, Azis berjongkok di depan gerbang, menyandarkan punggungnya pada besi pagar. 
“Apa jangan-jangan rumahnya kosong..??” Azis menghela napasnya lelah. “Kalau rumah ini kosong, lalu untuk apa aku kesini..?? Percuma saja.”
Tepat pada saat itu, tiba-tiba pintu gerbang yang disandarinya terbuka hingga membuatnya terjungkal kebelakang. “Astagfirullahal’adzim… gerbangnya buka sendiri..” pekiknya sambil mencoba berdiri dengan tergesa-gesa. 
Sebuah mobil sport hitam keluaran terbaru melaju kearah Azis lalu berhenti tepat di depannya. Seorang pria tampan keluar dari dalam mobil tersebut. “Kau siapa..?” tanya pria itu sambil membuka kacamata hitamnya. Terlihat jelas jika pria itu kebingungan melihatnya disana. 
“Sa-saya Azis, pak.” Jawab Azis terbata. Entah kenapa dia merasakan aura intimidasi yang sangat kuat.
Pria itu menatap penuh selidik kearah Azis, “Darimana kau berasal..??”
“Sa-saya dari kampong ujung pak..” jawab Azis sambil melirik pria di depannya sedikit takut.
“Kampong ujung..??” pria itu mengerutkan dahinya. “Untuk apa kau disini..??” 
Azis mendongakkan kepalanya perlahan, menatap pria di depannya yang jauh lebih tinggi darinya. “Saya tidak tahu pak. Saya hanya menemukan alamat rumah ini dari saku celana saya.”
Pria itu menatap Azis bingung, namun seolah mulai tahu sesuatu. “Apa nama lengkapmu..??”
“Mm.. nama lengkap saya Azis Rahadian.”
Pria itu terlihat sedikit terkejut, “Oh, aku mengerti sekarang.” Gumamnya pelan. Pria itu menatap kearah Azis disertai senyum tipis, “Perkenalkan, namaku Alex. Jangan panggil aku pak, panggil saja mister Alex.”
“Mister Alex..?? Baiklah, akan aku panggil seperti itu.” Balas Azis.
“Apa kau butuh pekerjaan..??” tanya Alex sambil memakai kembali kacamata hitamnya.
“Iya mister, saya butuh pekerjaan.” Jawab Azis sumringah. Dia memang sangat membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup. “Apa mister memiliki pekerjaan untuk saya..??”
“Tentu, ikuti aku.” Alex berjalan kembali menuju rumah yang jaraknya lumayan jauh dari gerbang. Azis berjalan di belakang Alex membuntuti dengan terkagum-kagum melihat keindahan rumah mewah itu. Sangat jauh dari bayangannya. Dia kira rumahnya tidak akan sebesar ini, bahkan rumah ini mungkin jika disamakan hamper mirip dengan luas kelurahan di kampungnya.
Mereka berjalan ke sebuah pintu yang sangat besar dan kokoh di bagian paling belakang rumah. Saat pintu tersebut dibuka, terlihat beberapa orang yang tengah mengatur beberapa barang seperti minyak wangi. Jumlah minyak wangi itu sangat banyak, tersusun dan terbungkus rapi, siap di pasarkan.
Alex berhenti di depan tumpukan dus minyak wangi, mengambil sebotol dan menyerahkannya kepada Azis. “Mulai sekarang, kau bisa membantuku menjual minyak wangi ini. Kau akan mendapat keuntungan dari setiap botol yang kau jual.”
Azis menganggukan kepalanya mengerti, “Baiklah. Tapi, kemana aku harus menjual minyak wangi ini..??” 
Alex mengangkat bahunya, “Kemana pun.”
“Aku akan mencoba menjualnya ke pasar.” 
Pada saat itu, Azis memutuskan untuk berjualan di pasar. Pada awal dia berjualan, tak satupun minyak wanginya laku terjual karena harganya yang sedikit mahal. Dia terus berusaha menjual dagangannya di pasar, hingga dari hari ke hari dagangannya sedikit diminati. Beberapa orang mulai berdatangan untuk membeli minyak wangi jualannya. Mereka mulai menggemari minyak wangi jualan Azis, dan semakin hari akhirnya produk yang di tawarkan Azis terkenal dan banyak diminati.
Melihat kemajuan penjual Azis, Alex berinisiatif memberikan pinjaman kepada Azis untuk membangun sebuah ruko di pasar. Tepat pada saat Azis berulang tahun yang ke-17 tahun, Alex memberikan sebuah ruko dalam bentuk pinjaman yang nantinya akan diganti oleh Azis. Azis tentu saja sangat gembira dengan hadiah yang diberikan Alex. Dia berjanji akan bekerja sekeras mungkin untuk menyicil ruko yang diberikan Alex.
Beberapa tahun pun berlalu dengan begitu cepat. Kini, usaha yang di geluti Azis semakin berkembang dan membuahkan hasil yang memuaskan. Setiap bulan, Azis menyetorkan hasil penjualan yang cukup besar kepada Alex, sehingga dengan sukarela Alex memberikan ruko yang dulu diberikannya kepada Azis. Bukan hanya karena hasil penjual Azis yang membuatnya seperti itu, tapi karena sifat Azis juga yang jujur dan mau belajar. Azis tidak pernah mengurangi hasil penjual dan selalu mau belajar dari setiap kesalahan yang dilakukannya. Itulah yang membuat Alex senang dan merasa pantas memberikan apapun kepada Azis.
“Zis, bagaimana menurutmu jika aku membuat usaha baru..??” tanya Alex di suatu sore di depan ruko milik Azis. Mereka sedang duduk disana sambil bercengkrama  menatap kendaraan yang hilir mudik. 
“Mm… menurut saya tidak masalah mister. Asal usaha itu mampu menghasilkan keuntungan yang besar dengan pembuatan yang tidak terlalu sulit dan sumber daya manusianya yang tidak banyak, tidak masalah.” Balas Azis berkomentar.
Alex terlihat berpikir sejenak, “Mm… Mudah dan murah..?? Baiklah, aku akan mencari ide untuk membuat sebuah usaha yang baru.” Putus Alex akhirnya.
“Memang kenapa mister ingin membuat sebuah usaha yang baru..??” tanya Azis karena dia sedikit penasaran dengan keinginan Alex.
Alex tersenyum tipis, “Nanti akan kuberitahu apa alasannya.” Jawabnya yang membuat Azis mengerutkan keningnya bingung.
“Baiklah.” Azis menganggukan kepalanya akhirnya. Pasti suatu saat Alex akan memberitahu alasan kepadanya. 
Beberapa bulan setelah obrolan itu, Azis di undang pada sebuah acara yang cukup besar. Acara tersebut dihadiri oleh para pembisnis dan wirausahawan yang cukup besar. Azis berdiri disana dengan sedikit gugup disana, dia merasa kecil diantara para pembisnis dan wairausahawan itu. Oh sungguh, dia tak ada apa-apanya dibandingkan mereka semua.
Tiba pada saat acara dimulai, Alex membuka acara dengan sebuah pidato kecil dan rencananya dengan sebuah pengumuman yang Azis sendiri tidak tahu. Sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa Alex bisa membuka acara tersebut. Karena setahunya yang membuat acara tersebut bukanlah Alex. Atau mungkin juga Alex dipercaya membuka acara ini.
“Baiklah, saya akan memberikan informasi cukup penting malam ini.” Ucap Alex dengan suara dalamnya, membuat semua perhatian tertuju kepadanya. “Pada mala mini saya ingin memberitahukan kepada semuanya, bahwa saya menyerahkan hak kepemilikan perusahan Ross kepada Azis Rahadian selaku keponakan saya.”
Semua yang ada disana terkesiap mendengar berita yang di ucapkan Alex. Terlebih lagi Azis yang sama sekali tidak menyangka Alex akan melakukan itu. Dan keponakan..?? Kenapa Alex mengakuinya sebagai keponakannya..?? Oh, banyak hal yang ingin diketahuinya saat ini.
Azis segera menghampiri Alex yang baru saja menuruni panggung. Alex terlihat tersenyum simpul menatap Azis. Senyum yang baru pertama kali dilihat Azis setelah beberapa tahun mengenal Alex.
“Aku tahu apa yang ingin kau katakan.” Ucap Alex langsung saat Azis tiba di hadapannya. “Ayo, ikut ke ruang kerjaku, dan aku akan menjelaskan semuanya.”
Azis menganggukan kepalanya lalu mengikuti Alex ke sebuah ruangan yang terletak di lantai tiga gedung tersebut. mereka masuk ke dalam ruang kerja yang di dominasi warna hitam dan putih. Alex dan Azis duduk berhadapan di sofa.
“Jadi, ada apa ini sebenarnya..??” tanya Azis langsung. Dia begitu penasaran dan bingung dengan keadaan ini.
Alex menghela napasnya, “Pertama yang harus kau tahu adalah namaku Alexander Rahadian. Kau tidak tahu bukan..??”
Azis terdiam. Yah, dia tidak tahu jika Alex memiliki nama belakang yang sama dengannya. Selama ini, dia tidak berani bertanya lebih dalam soal Alex. “Yah, aku tidak tahu itu. Lalu..??”
“Aku adalah adik kandung dari ibumu, Alea Rahadian. Dan perusahaan yang kuberikan padamu adalah perusahaan yang seharusnya milik ibumu. Tapi ibumu menyerahkannya kepadaku saat dia menikah dengan ayahmu. Aku selama ini menjaganya untuk kuberikan lagi kepada ibumu. Tapi sayang, aku mendengarnya meninggal karena sebuah penyakit, dan aku sangat menyesal karena tidak dapat membantunya.”
“Tapi aku merasa sangat gembira saat kau datang pada sore itu. Disana aku mulai ingin kau menjadi pemilik perusahaan. Tapi aku tidak mau gegabah, aku tidak mungkin memberikan sebuah perusahan kepada anak yang tidak tahu apa-apa. Sehingga pada saat itu aku memutuskan untuk mendidikmu dari awal. Itulah kenapa alasanku memperkerjakanmu.”
Azis terdiam. Mencerna setiap perkataan dan kebenaran yang keluar dari mulut Alex. Dunia ini sangat sulit di tebak. Dia tidak menyangka jika dia masih memiliki keluarga selain ayahnya. Dan lagi, dia tidak menyangka jika dia diwarisi sebuah perusahaan yang besar. Padahal dia merasa sudah sangat cukup dengan hasil usahanya selama ini. Tapi ternyata, Tuhan memberikannya sebuah anugrah lagi. Dan dia harus sungguh-sungguh menjalankannya. Dia akan bertekad menjadi seorang pengusaha yang hebat dan dapat membantu orang lain dengan usahanya.