Ayah dan ibu adalah rumah bagi anak-anaknya Dan rumah adalah tempat terbaik untuk pulang
Pulang
Ayah dan Ibu adalah rumah bagi anak-anaknya
Dan rumah , adalah terbaik untuk pulang
Dering telpon membuatku terbangun. Aku melihat jam beker yang duduk manis di ujung meja. Siapa yang menelpon pukul 2 pagi ? Sambil mengerjapkan mata, aku bangun dan meraih ponsel yang tergeletak di meja di samping tempat tidurku. Aku menyernyitkan dahi , layar ponsel menunjukkan sederet nomor yang tidak kukenal. Dengan ragu aku mengangkat telpon itu, bukan apa-apa, sekarang banyak sekali penipuan lewat telpon. “Hallo”. Sapaku ragu. “Rani, kamu harus pulang. Bapak menunggumu”. Suara Mas Dito, Kakakku terdengar cemas. Aku bertanya ada apa tapi penjelasan Mas Dito berikutnya seperti timbul tenggelam di telingaku. Tanpa terasa, pipiku sudah basah oleh air mata. “ kenapa bunda menangis ? ”. Aku tidak menyadari kapan putriku masuk ke kamarku. Aku hanya diam, mengusap rambutnya. “Ayo sayang, bersiap. Kita akan ke rumah kakek”.
Aku berulang kali mendesah, melihat melalui kaca mobil tapi tidak jelas apa yang menjadi fokus pandanganku. “Jangan cemas, bapak akan baik-baik saja”. Aku hanya mengangguk. Suamiku harus berkonsentrasi dengan jalan di depannya, tidak seharusnya aku membuatnya cemas. Aku menoleh ke bangku belakang. Airin, putri bungsuku tertidur sambil memeluk boneka beruangnya. Aku terpaksa meninggalkan putri sulungku karena ia sekarang sudah kelas XII, tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian. “Semoga kita tidak terlambat”. Bisikku. “. Aku mendesah lagi, tiba-tiba ingatanku berputar-putar, aku seperti bisa melihat kembali masa kecilku.
***
“Bu, sekolahku jauh. Kenapa aku tidak bawa sepeda saja ?”. Kataku sambil meletakkan piring yang selesai kucuci di rak piring. “Sepeda siapa ? Sepeda kakakmu kan juga dipakai. Coba kalau sekolah kalian satu arah, kan bisa berangkat sama-sama”. Jawab ibu, tidak mengalihkan perhatiannya pada tungku yang menyala di depannya. Saat itu, jarang sekali ada orang yang memasak menggunakan kompor, bahkan yang mempunyai komporpun bisa dihitung dengan jari, apalagi bagi masyarakat yang tinggal di desa seperti kami. Kami biasanya memasak di atas tungku yang dibuat dari batu bata dengan lubang berbentuk lingkaran di tengahnya atau biasa disebut luweng. Bahan bakarnya tentu saja kayu bakar. Di desa masih mudah mencari kayu bakar. “Sepeda bapak kan ada”. Kataku lagi, masih belum menyerah untuk membujuk ibu. “Lha terus bapak kalau ke sawah jalan kaki begitu ?”. Aku cemberut. “Ada apa ribut-ribut bu ?” Aku menoleh. Bapak masuk ke dapur, menggantungkan capingnya di dinding. Caping adalah topi berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman bambu. “Ini lho pak, Masa Rani mau minta naik sepeda bapak kalau berangkat ke sekolah. Lha terus bapak kalau ke sawah bagaimana ?”. Aku hanya diam, agak menyesal mengajukan permintaan itu tadi. “Sekolahnya Rani kan memang jauh. Kasihan dia kalau jalan kaki. Yasudah, mulai besok pakai saja sepeda bapak”. Aku tersenyum cerah. “Lalu bapak ?”. tanyaku. “Gampanglah itu, jangan memikirkan bapak. Yang penting kamu sekolah dengan baik supaya jadi orang yang berguna untuk banyak orang. Bapak dan ibu memang tidak berpendidikan tapi anak-anak bapak dan ibu harus lebih baik”.Kata bapak seraya mengusap rambutku. Aku tersenyum dan memeluk bapak.
Esoknya dengan semangat 45 bagai pejuang yang hendak berangkat ke medan perang, aku menghabiskan sarapanku dengan cepat. Berulang kali ibu mengingatkan aku tidak perlu tergesa-gesa, tapi aku sedang gembira. Akhirnya aku tidak perlu berjalan kaki lagi ke sekolah. Mas Dito hanya geleng-geleng kepala melihat aku yang senyum-senyum sejak kemarin sore. Setelah mencium tangan ibu dan bapak, aku mengayuh sepedaku , sepeda bapak tepatnya, ke sekolah. Di jalan, aku melambaikan tangan pada para tetanggaku yang sudah memulai rutinitasnya. Asap mengepul dari bagian belakang setiap rumah yang kulewati. Tanda bahwa para ibu sedang memasak. Suara ternak, sapi, bebek-bebek yang ribut menambah semarak pagi di desaku. Saat itu aku tidak tahu bahwa kelak aku akan merindukan suasana seperti ini. Pohon-pohon mahoni berjajar rapat di sepanjang jalan. Jalan berbatu membuatku sepedaku terpental-pental, tapi aku sedang gembira.
Dan begitulah setiap hari, selalu sama. Aku tidak pernah tahu. Mas Dito juga tidak. Hari itu, aku pulang lebih sore dari biasanya. Aku tidak lewat jalan yang biasa kulewati. Entah mengapa, aku melewati jalan di sepanjang areal persawahan. Aku bersandung pelan, terbawa suasana dengan langit yang berubah jingga di atas sana. Dan burung-burung terbang ke peraduannya. Aku masih sibuk menikmati desir angin sore, ketika aku melihat bapak berjalan sambil memanggul seikat rumput di pundaknya. Aku mengentikan sepedaku. “Bapak baru pulang ?”. Sapaku. Sepertinya bapak terkejut bertemu denganku disini karena memang aku jarang lewat jalan ini jika pulang ke rumah. Tapi bapak tersenyum , menunjuk rumput yang dibawanya. Maksudnya, bapak terlambat pulang karena mencari rumput terlebih dulu. “Untuk apa bapak cari rumput ?”. Tanyaku heran, kami memang tidak punya ternak. Bapak hanya bekerja sebagai buruh lepas di sawah milik tetangga kami yang kaya, punya sawah luas. “Iya nduk, bapak sekarang membantu merawat ternaknya Pak Karman”. Jawab bapak, aku mengangguk. “Ayo pak, rumputnya ditaruh di atas sepeda saja”. Kataku. Dan sore itu, kami berjalan bersisian di sepanjang sawah yang mulai menguning. Bapak menuntun sepeda yang ditumpangi rumput. Aku berjalan di sampingnya. Bapak menceritakan banyak hal, tentang sawah yang digarapnya, tentang rencananya untukku dan Mas Dito, tentang rencana kepala desa membangun kincir air di sungai. Dan entahlah, aku hanya diam memandangi punggung bapak. Tuhan, jika kau tidak mengabulkan doaku tidak apa, tapi kabulkan semua doa-doa yang bapak lantunkan setiap malam. Doa supaya kami, anak-anaknya, hidup lebih baik darinya. Aku tahu bahwa Kau Maha Mendengar.
Aku tahu bahwa bapak bekerja keras untuk kami, anak-anaknya. Tapi aku tidak tahu bahwa bapak sengaja bekerja lebih keras, termasuk merawat ternak milik tetangga kami untuk membelikanku sebuah sepeda. Bukan sepeda baru, tapi lebih bagus dari sepeda milik bapak dan Mas Dito. Aku menangis alih-alih senang dengan kehadiran sepeda baru itu di rumah kami. Bapak menatapku cemas. “Ada apa nduk ? Kamu tidak suka sepedanya ?”. Aku menggeleng, terisak semakin keras. “Maafkan Rani pak, Rani selalu saja merepotkan bapak. Belum bisa membalas semua jasa bapak”. Kataku terbata-bata, di sela-sela isakan. Bapak tersenyum, senyum yang menangkan seperti biasa. Bapak mengusap rambutku, berkata “Bapak tidak pernah merasa bahwa mencukupi kebutuhan anak-anak bapak adalah sebuah beban. Dan bapak juga tidak meminta balasan apapun. Kalian hidup lebih baik dari bapak dan ibu saja, bapak sudah bersyukur”. Aku mengangguk, dalam hati berjanji bahwa aku akan belajar lebih keras, agar aku menjadi orang yang berhasil, dan tentu saja membuat bapak dan ibu bangga.
Setelah lulus dari sekolah menengah atas, aku mencari beasiswa untuk bisa kuliah. Mas Dito sendiri lebih memilih berwirausaha setelah lulus sekolah. Hari-hariku terasa berat, tapi setiap kali mengingat bapak yang berjalan pulang sambil memanggul rumput aku merasa bahwa perjuanganku ini tidak ada apa-apanya. Setiap kali aku mengeluh karena harus berjalan jauh dari kos ke kampus, aku selalu ingat bahwa bapak tidak pernah protes walau harus berjalan karena sepedanya kupakai. Aku menjalani hari-hari dengan terus memegang janjiku pada diri sendiri.
Akhirnya setelah 8 semester, aku lulus. Aku bekerja untuk membayar ongkos kendaraan bapak dan ibu supaya bisa menghadiri wisudaku. Aku juga membelikan mereka baju batik. Bapak tak henti-hentinya tersenyum dan aku merasa selangkah lebih dekat dengan janjiku.
Waktu terus berjalan. Aku sudah bekerja. Kira-kira 3 bulan sekali aku pulang. Rumah kami masih sama. Mas Dito sudah menikah dan tinggal bersama istrinya. Bapak masih bekerja di sawah , meskipun Mas Dito melarang. Kebutuhan kami sudah terpenuhi, tapi bapak berkata tidak enak hanya diam di rumah. Aku akhirnya mengizinkan asalkan bapak tidak sampai kecapekan. Tahun berikutnya, aku menikah. Aku adalah anak bungsu. Seharusnya aku tinggal di rumah bersama bapak dan ibu. Tapi suamiku juga anak bungsu dan ibu mertuaku memintaku untuk tinggal di rumahnya karena beliau hanya tinggal sendiri. Ayah mertuaku sudah meninggal. Berat hati aku meninggalkan bapak dan ibu, tapi bapak tersenyum lembut. “Sudahlah nduk, jangan khawatirkan kami. Kamu sekarang sudah memiliki kehidupan sendiri. Lagipula, Masmu kan rumahnya dekat, sering mampir kemari”. Aku menangis di pelukan bapak, berjanji akan menjenguk mereka sesering mungkin.
Setelah anak pertamaku lahir, aku masih bisa menyempatkan waktu 3 bulan sekali untuk pulang ke rumah. Anakku juga sangat senang berada di rumah kakek neneknya. Apalagi bapak sering mengajaknya berjalan-jalan di sawah saat pagi hari. Mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Begitu anak keduaku lahir, aku semakin sibuk. Janji itu, rasanya sulit untuk kutepati. Yang awalnya 3 bulan sekali, menjadi 6 bulan sekali. Kemudian menjadi setahun sekali saat lebaran. Tapi bapak tidak pernah protes. Bapak selalu berkata di telpon. “Tidak apa nduk, anak-anak kan harus sekolah. Kalau bisanya kemari saat liburan ya tidak apa-apa. Jangan cemas. Kami baik-baik saja”.
***
Rumah kami ramai oleh para sanak kerabat begitu aku turun dari mobil. Aku sampai melupakan Airin yang masih tertidur di mobil. Aku berlari masuk , mendapati Mas Dito duduk di ruang tamu dengan ibu di pelukannya. Mas Dito berdiri begitu melihatku. Ibu tertunduk di kursi. “Mana bapak mas ?”. Aku bertanya, panik. Mas Dito menepuk bahuku. “bapak baru saja pergi” Bisiknya. Meskipun Mas Dito mengucapkannya dengan lirih, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku menatap Mas Dito, kemudian ibu. Aku terisak. “bapak, maaf Rani datang terlambat”. Kataku terbata-bata sambil menjatuhkan diriku di kursi, di samping ibu. Aku memeluk ibu yang juga terisak. “Bapak bilang bapak bangga sama kamu nduk”. Aku menggangguk. Aku sudah tahu. Walaupun bapak tidak pernah mengatakannya, pijar hangat dari kedua matanya telah menyiratkan perasaan itu. “Bapak bilang kangen sama kamu”. Aku mengangguk. “Kenapa ibu tidak pernah bilang kalau bapak sakit jantung bu ?”. Tanyaku. “Bapak yang minta, supaya kamu tidak khawatir katanya. Bapak sakit sudah lama. Tapi bapak bilang berusaha kuat supaya bisa melihat cucu-cucunya lebih lama”. Aku mengusap air mata yang membanjiri pipiku dengan punggung tangan. “Sudah, kita ikhlaskan saja. Supaya bapak tenang disana”. Aku menoleh pada suamiku yang tengah menggendong Airin. Aku mengambil alih Airin, menciumnya. Bapak, dari bapak aku belajar banyak tentang perjuangan dan pengorbanan. tentang bagaimana menjadi orang tua yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaan anak-anaknya. Seharusnya aku bisa memeluk bapak lebih lama karena hangatnya pelukan bapak membuatku selalu merasa aman. Seharusnya aku lebih banyak menemaninya bercerita karena bapak pasti kesepian semenjak aku dan Mas Dito meninggalkan rumah. Seharusnya aku tahu bahwa bapak sakit supaya aku bisa merawat bapak seperti bapak merawatku. Kelak, rumah ini akan terasa berbeda tanpa cerita-cerita dan nasihat-nasihat bapak. Tuhan, jika dulu aku memintamu menangguhkan doa-doaku , kini aku mohon kabulkan doaku. Doaku, Kau pasti tahu , karena Kau Maha Mendengar.
***
Pulanglah, selagi masih ada rumah untuk pulang