It's hurts to let go, but sometimes it hurts more to hold on. It's time to move on, my dear...
Goodbye Love
Ella menyukai langit sore…
Tapi sayangnya dia mencintai pemuda yang memperkenalkannya pada langit jingga dan ungu itu.
Pria yang datang membawa sejuta warna baginya… tapi secepat mentari yang tenggelam dibalik awan..
Pria itu juga pergi dan meninggalkannya pada kegelapan malam…
_
Cinta. Satu kata penuh arti.
Apa cinta lebih dahsyat dari bom atom? Atau justru lebih sederhana dari tarikan nafas?
Love is can hurt.. love is can hurt sometimes
Tidak. Menurut gadis dengan rambut sepunggung itu sebaliknya.
Hanya cinta yang bisa membawa suatu kebahagiaan yang benar-benar tulus dan murni di dunia ini.
Yang menyakitkan itu perasaan cemburu, kesepian, rindu, obsesif, dan takut ditinggalkan.
Tapi mengapa? Mengapa setelah menyatakan perasaan cintanya itu ella berakhir dalam isak tangis juga?
Oh satu hal lagi yang menyakitkan saat kita mencintai seseorang.
Ditolak.
Dan itu adalah konsekuensi yang harus Ella terima dari mencintai sahabatnya sendiri.
“Maaf la, tapi gue selalu nganggap lo sebagai sahabat gue. Gak lebih dari itu”
Ella tersenyum pahit, dia tahu akan fakta itu tapi perasaan perih ini toh datang juga.
“Gue tahu Rei.. gue hanya -” ucapan gadis itu tertahan disitu. Menahan isak tangis sambil tersenyum ternyata lebih sulit dari yang Ella bayangkan. Terlebih ketika ia tahu bahwa Rei juga menyadari tetesan air mata yang terancam jatuh dari pelupuk matanya.
“Ella..” bisik Rei pelan tapi ia tidak mendekat. Tidak juga mencoba menenangkan sahabatnya sejak lima tahun lalu itu.
Ella hanya bisa tersenyum. Ia ingin menjawab panggilan pria itu tapi dia takut jika suaranya akan terlalu bergetar dan pertahanannya runtuh. Terakhir kali ia membiarkan Rei melihatnya menangis setahun lalu saat kucing kesayangannya meninggal. Saat itu juga pertama kalinya ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa dia memang menyukai Rei.
Pria yang mendekap dan menghiburnya dengan canggung. Pria yang tidak tahu apa ia lebih baik menepuk pundak Ella atau mengelus rambutnya lalu pada akhirnya berakhir menggenggam tangan Ella erat.
“Maaf la” ucap Rei lagi, wajahnya terlihat sedih. Melihat itu Ella segera menggeleng. Yang salah disitu bukan rei, yang menumbuhkan perasaan terlarang di keduanya bukan rei, dan karenanya dialah yang akan menyelesaikan itu semua.
Ella menarik nafas panjang. Ia memaksakan senyum yang lebih lebar lagi
“Rei lo gak perlu minta maaf. Lo gak salah kok”
Tapi rei tetap memandang ella nanar. Dalam hati ella hanya bisa mengutuk diri sendiri. Gadis itu akhirnya memilih duduk di salah satu ayunan di taman yang sepi itu, sedikit bernostalgia pada setiap momen yang keduanya habiskan disana.
“Karena gue udah ngakuin itu semua. Gue boleh bertindak lebih egois lagi gak?”
Rei mengangkat alis, tapi hanya terdiam. Diantara keduanya memang rei selalu menjadi si pendengar sedangkan ella akan jadi teman yang cerewet dan banyak mau. Mereka berdua terlalu berbeda. Ella bisa mengingat berapa banyak pertengkaran yang keduanya lalui karena beda pendapat atau salah mengerti.
Ella kira perbedaan itu adalah apa yang menyatukan keduanya tapi ternyata dia salah.
Ella tidak menunggu jawaban rei karena dia tahu rei tidak akan menolak tapi ella baru membuka mulut ketika pria itu memutuskan duduk pada ayunan di sebelahnya.
“Gue selalu nganggep lo itu nyebelin” mulai ella “Lo tuh keras kepala, kalau diomongin gak pernah mau dengerin walau kadang harus gue akui lo bisa benar juga, tapi kebanyakan kasus lo udah terluka dulu baru mau ngakuin kesalahan lo” ella ternyum sebentar sambil menikmati langit sore yang kini berwarna jingga dan pink.
“terus lo tuh selalu sok tahu dan sok pintar banget walau yang lo katakan itu ujung-ujungnnya benar juga tapi tetap aja lo tuh neyebelin. Apalagi kalo udah sok ngelarang gue buat ini itu. Kadang gue kesal sama sikap over protective lo, tapi lo tahu gak? Jujur gue senang karena itu artinya lo peduli”
Rei masih tidak bersuara tapi ella yakin cowok itu sedang mendengarkan.
“Rei gue gak tahu sejak kapan gue suka sama lo. Gue juga gak tahu kenapa gue bisa suka sama lo. Entah begitu aja gue jadi sering gugup kalau dekat sama lo, gue jadi suka sebel sama setiap cewek yang cari perhatian sama lo, gua gak suka lo perlakuin mereka special, gue hanya mau lo senyum ke gue, bicara sama gue, dan selalu ada disisi gue. Gue jadi egois, rei” ella tertawa pelan setelah mengatakan itu
“gue tahu gue udah egois dari sananya tapi ini beda. Gue jadi egois sama lo. Dan mungkin karena itu juga.. gue jadi ngehancurin persahabatan kita” ucap gadis itu
Rei berbalik pada ella dan membuka bibirnya hendak mengatakan sesuatu tapi lalu menutupnya lagi.
“Gue suka banget sama lo Rei, gue harap lo tahu itu. Lo bisa anggap gue jahat karena lebih milih nyatain perasaan gue dibanding jaga persahabatan kita. Tapi gue harap lo mau maafin gue. Gue hanya gak tahan lagi harus ngehindarin lo supaya bisa ngelupain perasaan ini, gue gak sanggup ngebohongin lo kalau gue sibuk padahal gue hanya gak mau lihat wajah lo. Dan itu sebenarnya sakit banget, karena kenyataannya gue lebih rindu sama lo daripada lo rindu sama gue”
Saat itu ella sudah bisa merasakan air matanya yang mulai mengalir turun. Ella menggigit bibir. Dadanya sesak, dia harap dia punya seseorang yang bisa memeluknya dan bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi apa yang bisa ella lakukan jika orang tersebut adalah orang yang sama melukainya?
“Lo ingat gak pertama kali lo bawa gue kesini?” ujar ella sedih “Sebenarnya gue gak suka sama taman yang sepi ini. Gue gak suka pohon-pohonnya yang terlalu rindang juga perjalanannya yang harus mendaki dan naik tangga yang buat kaki gue pegal-pegal . Gue gak suka wahana permainannya yang gak lengkap, gue gak suka tanahnya yang gak berumput dan selalu becek saat hujan”
“Tapi satu hal yang buat gue jatuh cinta sama taman ini adalah langit sorenya. Lo tuh kayak langit sore Rei”
“Gue pernah bilangkan ke lo kalau disini adalah tempat terbaik untuk lihatin sunset kan? Tapi semakin gue pikirin semakin gue sadar kalau gue sebenarnya ngebohongin diri gue sendiri”
Ella menyeka matanya dan menghapus sisa air mata dipipinya sebelum berbalik pada cowok disampingnya.
Rei membalas tatapan matanya dalam diam, membuat ella tersenyum tanpa sadar
“Gue suka tempat ini karena lo, Rei. Karena setiap waktu yang kita habisin disini adalah saat yang membahagiakan untuk gue. Gak peduli kapanpun itu, gak peduli keadaan langit saat itu/ Selama lo ada disini, gue udah senang banget” senyum gadis itu semakin merekah sebelum akhirnya dia tertawa
“Kok gue sok puitis yah? Gak cocok banget kan?” ujarnya di sela tawa yang membawa lagi air mata yang kembali menuruni pipinya.
Dengan cepat tawa itu berubah menjadi isakan. Ella menunduk dan meremas tali ayunan erat. Mencintai sahabatnya adalah pilihan terburuk yang pernah ella buat. Tapi ella tidak ingin menyesalinya. Sekalipun ia menangis dan tersakiti seperti ini. Mencintai rei tetaplah hal terbaik yang pernah ella rasakan.
“Ella..” gadis itu merasakan sentuhan hangat di tangannya. Perlahan ella mengangkat wajahnya, ia menatap rei yang berlutut dihadapannya. Pria itu ternyum kecil.
Tangan hangat rei kemudian menyentuh lembut wajahnya, dengan pelan ia menghapus air mata ella.
Ella membulatkan mata, menahan nafas.
“La gue tunggu di mobil” ucap rei, lalu setelah menatap ella sekali lagi cowok itu berdiri dan pergi.
_
Perjalan pulang itu hanya diisi keheningan. Ella harap dia bisa menghapus kecanggungan yang meliputi keduanya dan mengoceh tanpa peduli seperti biasanya tapi bibirnya kelu, ia hanya bisa terdiam dan menatap keluar jendela.
Mobil itu akhirnya berhenti di depan pagar rumah ella yang tertutup. Ella melepas sabuk pengamannya dan berbalik pada rei.
“Makasih rei udah nganterin”
Rei menggangguk tapi tidak menatapnya sedikitpun.
Gadis itu menahan perasaan perih yang mulai menggerogoti hatinya, kemudian memutuskan untuk segera pergi. Tapi setelah turun ella terdiam. Ia harus mengakhirnya
“Rei..” panggilnya pelan “Kita gak usah ketemuan atau berhubungan lagi yah setelah ini. Kita udah lulus, sekarang kita punya arah dan tujuan yang beda, setelah lo pindah ke luar kota kita juga gak bakal sering ketemuan lagi, karena itu…” ella menarik nafas panjang, rasanya sangat berat untuk mengatakan perpisahan
“Good bye Rei, makasih karena udah jadi sahabat terbaik yang pernah gue punya, makasih untuk segala hal dan maaf karena gue udah buat lo sedih dan kecewa” ujarnya pelan dan berat
“Gue sayang lo rei, hati-hati dijalan” akhir ella lalu segera menutup pintu mobil dan berbalik pergi. Gadis itu kembali menangis di balik pintu.
Ella salah ketika dia pikir tidak akan ada satupun penyesalan yang tersisa. Karena saat itu dia sangat menyesal. Dia harap dia bisa memandangi wajah rei untuk terakhir kalinya, dia harap dia bisa mendengar cowok itu menyebut namanya lagi.
Tapi sudah terlambat… semuanya sudah berakhir.
_
Langit sore hari itu terlihat lebih indah dari biasanya. Rasanya tidak adil karena hari itu rei akan pergi, pesawatnya seharusnya sedang dalam perjalan sekarang.
Ella tidak ingin menghitung sudah berapa hari sejak keduanya berpisah walau dia sebenarnya juga yang paling tahu bahwa sudah dua minggu dan empat hari sejak ia terakhir melihat rei.
Ella sedang duduk di taman belakang rumahnya dengan sebuah novel Harry Potter di pangkuan. Seperti yang ella minta rei belum pernah sekalipun menelpon atau bahkan mengirim pesan padanya. Ella pun sedang berusaha keras untuk melupakan cowok itu.
Yang ia butuhkan hanya waktu. Tapi apakah itu benar?
Apa dengan bertahun tahun tidak menemui rei perasaan itupun akan mati sendirinya?
Lalu bagaimana ketika ia kembali bertemu cowok itu nantinya? Apa ella yakin ia akan baik-baik saja?
Ella menghembuskan nafas panjang… ia tidak tahu.
Ella benar-benar tidak tahu. Entah mengapa masih ada sesuatu yang memberatkannya.
“Ella!”
Mendengar namanya dipanggil gadis itu sontak berbalik. Tapi yang tidak ia sangka adalah sosok pria yang berdiri tidak jauh darinya itu.
“Rei? Bukannya lo udah..” ella tidak bisa melanjutkan, terlalu kaget dan tidak percaya akan penglihatannya sendiri.
Rei maju mendekatinya “Lo tau gue berangkat hari ini”
Ella tertegun, tidak tahu harus berkata apa karena itu bukanlah pertanyaan
“Tapi lo gak datang nemuin gue” ujar rei seolah terkhianati
Ella berkata “Tapi kita udah janji gak boleh ketemu-“
“Kita? Lo yang mutusin semuanya la, gue gak pernah bilang iya”
Ella segera menutup bibirnya. Apa rei marah? Tapi ella pikir ini yang terbaik untuk keduanya
“Maaf rei..”
Rei menghela nafas panjang “Lo bilang maaf, tapi seperti biasa lo masih ngulanginnya. Lo emang egois la”
Ella menunduk, hatinya kembali perih
“Sekarang giliran gue untuk egois. Dengerin gue la karena ini akan jadi pertama dan terakhir kalinya gue bakal ngomongin ini ke lo”
“Gue gak pernah nyangka gue bakal sahabatan sama cewek cerewet dan nyusahin kayak lo. Dari awal ketemu lo tuh udah buat gue sebal karena sikap lo yang egois dan cerewet itu. Tapi sejak tahu lo lebih lama gue sadar bahwa lo tuh orang yang perhatian dan selalu mikirin orang lain sebelum diri lo sendiri. Mungkin hanya sama gue lo bisa bersikap egois”
“Ella gue gak pernah nyalahin lo untuk suka sama gue, karena gue gak akan pernah bisa ngebenci lo seberapa marahnya gue sama lo. Karena lo sahabat gue”
Ella menelan ludah, matanya mulai memanas
“Gue memang gak bisa balas perasaan lo, tapi gue juga gak mau ngakhirin persahabatan kita. Gue akan hormatin pilihan lo untuk gak ketemuan tapi gue akan tetap nganggep lo teman. Gue bakal telponan sama lo chat dan dengarin setiap ocehan lo”
Rei lalu menengadah dan bertanya
“Lo bilang gue kayak langit sore?”
“Gue gak tahu lo lihat itu dari sudut mana tapi La, kalau gue ini langit sore berarti masih ada cowok diluar sana yang bakal lo anggap sebagai langit malam”
Ella hanya bisa melongo pada rei tidak menyangka kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut cowok dingin itu
“Dan gue yakin cowok itu bakal jadi langit malam yang akan nunjukin seisi galaxy yang indah untuk lo. Cowok yang bakal ngebahagiain lo lebih dari yang gue bisa” ujar rei sepenuh hati, tersenyum.
Ella mengangkat sudut bibirnya. Ia tersenyum, kali ini tulus.
Rei memang tidak bisa menjadi cinta terindahnya, tapi untuk Ella itu sudah cukup. Cowok ini sahabat terbaiknya.
The End