ratnasatyavati

"Fatherhood requires LOVE, not (just) DNA"

SURAT

 

Rosa terpaku menggenggam selembar kertas usang di tangannya.

Sebuah surat yang tampaknya sudah sangat lama, terlihat dari warna kertasnya yang telah menguning.


Hujan turun dengan deras sejak siang tadi. Rosa duduk di meja belajarnya yang menghadap jendela. Sorot matanya mengambang menatap bulir-bulir air hujan yang turun membasahi kaca di depannya. Detik-detik terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Tiba-tiba ia merasa asing terhadap segala hal di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri. Tak terasa air mata pun mengalir membasahi pipinya.


Jika ada hal yang harus disesali dalam sembilan belas tahun kehidupannya, maka ia akan menyesali keputusannya satu jam yang lalu. Keputusan untuk membaca sebuah surat yang ia temukan di gudang rumahnya ketika ia mencari buku cerita anak-anak miliknya yang ia butuhkan untuk sebuah kegiatan bakti sosial. Sebuah surat yang membuat hidup Rosa tak akan pernah sama lagi. Sebuah surat yang membuat Rosa mengetahui bahwa ternyata ia bukan anak kandung ayahnya.

 

***

 

Rosa berjalan gontai dengan mata sembab memasuki ruang tamu rumahnya. Ia baru saja pulang dari menjenguk makam mendiang ibunya selepas kuliah. Ibu sudah pergi menghadap Tuhan dua tahun lalu karena kanker payudara yang dideritanya. Kanker yang tidak pernah terlihat gejalanya dan seketika merenggut nyawa ibunya dalam hitungan bulan setelah diketahui sudah mencapai stadium lanjut. 


Rosa belum pulih benar atas kepergian ibunya. Ditambah tiga hari yang lalu ia harus menerima kenyataan dari surat yang dibacanya, bahwa ternyata ia bukan anak kandung ayahnya.

Segalanya kini terasa begitu membingungkan.
Dalam surat yang ditujukan kepada mendiang ibunya itu, tertera sebuah tanggal, 10 Desember 1999, tepat di hari ulang tahun Rosa yang pertama. Surat itu berasal dari seorang pria bernama Gandha, yang ditujukan untuk Ratih, ibunya.

Di dalam surat yang tak terlalu panjang itu, penulisnya hanya mengucapkan selamat ulang tahun untuk Rosa dan menitipkan hadiah boneka Teddy bear yang kemudian menjadi boneka kesayangan Rosa hingga hari ini.

Penulis surat itu berkata kepada ibunya bahwa ia meminta maaf atas segalanya, dan meminta ibunya untuk menjaga Rosa baik-baik. Ia berkata bahwa ia akan pergi jauh ke Eropa untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang seniman besar di bidang seni rupa. Ia juga berkata bahwa sebaiknya ibunya segera melanjutkan hidupnya dan mencari lelaki yang lebih baik, untuk dirinya dan untuk Rosa.


Penulis surat itu... Ia adalah ayah kandung Rosa.


Rosa merasa dunianya tiba-tiba terasa runtuh. Segala yang ia tahu tentang keluarganya yang bahagia selama ini tiba-tiba terasa tidak bisa ia pahami. Ia ingin bertanya tentang segalanya namun tak tahu harus bertanya kepada siapa. Ibu sudah tiada, dan beliau adalah anak semata wayang eyang putri yang juga sudah tiada. Eyang kakungnya tidak pernah ia jumpai karena sudah berpulang pula sebelum ia lahir ke dunia. Paman dan bibi dari ayahnya, ayah yang ternyata bukan ayah kandungnya, berada di luar pulau dan tak terlalu akrab dengannya. Bertanya langsung pada ayahnya? Rosa tak sanggup.


Maka itu sepulang kuliah Rosa memilih untuk menumpahkan tangis, amarah dan pertanyaan dalam benaknya di pusara ibunya. Ia berkali-kali menggumam dalam tangisnya, bersama seikat bunga mawar putih yang ia bawa, "Kenapa bu? Kenapa ibu tidak pernah cerita? Kenapa semua orang merahasiakan hal ini? Kenapa?" Di depan pusara ibunya, ia menangis dan terus menangis hingga ketika langit sudah mulai gelap, Rosa baru beranjak dari area pemakaman dan memacu Vespa maticnya menuju rumah. 


Rosa baru akan melangkahkan kakinya menuju anak tangga ketika ayahnya tiba-tiba muncul dari arah dapur. Di tangannya ada sebuah panci yang mengepul. Aroma sup merah tercium dari sana, begitu sedap. Rosa tiba-tiba teringat ia belum makan sejak pagi. Hanya sepotong brownies yang sempat ia berikan untuk lambungnya di kampus tadi. Tapi ia betul-betul masih gundah hingga selera makannya pun seperti hilang entah ke mana.


"Lho, sudah pulang, Nak? Ayah nggak dengar suara motor kamu masuk. Apa suara TV-nya terlalu kencang ya?" ujar ayah sembari meletakkan panci berisi sup itu di atas meja makan dan menata dua buah mangkuk serta sendok di atas meja. "Kamu pasti belum makan, kan? Ayo lekas ganti baju dan kita makan malam. Ini ayah buatkan sup merah kesukaanmu," sambung ayahnya.


Rosa tak bergeming. Wajahnya terasa panas. Air mata Rosa terasa mulai terbit kembali. Rasanya ingin sekali ia memuntahkan segala pertanyaan itu kepada ayahnya, satu-satunya orang yang saat ini bisa menjawab segala hal yang ia kalutkan. Rosa hampir saja membuka mulutnya dan bertanya, "Kenapa..." ketika ayahnya tiba-tiba menoleh dengan rautnya yang sabar ke arahnya. Mulut Rosa terasa kembali terkunci. 

Ia tak bisa. Ia tak tega. Ayahnya begitu baik dan sayang padanya  selama ini. Bahkan, ketika mendengar cerita kawan-kawannya, betapa mereka kadang terlibat cekcok dengan kedua orangtuanya hingga kabur dari rumah, Rosa tak bisa membayangkan mengapa pertengkaran semacam itu bisa terjadi.

Orangtua dan keluarga adalah hal terbaik yang diketahui Rosa dalam kehidupan ini. Ibu yang lembut dan penyayang, bersuara merdu dan juga mahir menarikan jemarinya di atas tuts piano. Ayah yang hangat dan sabar, seorang pendengar yang baik dan koki terhandal di dunia. Ya, kehidupan Rosa begitu manis dan indah. 


"Mengapa surat terkutuk itu harus kubaca..." batin Rosa setiap saat.

Ayahnya mengernyitkan dahi menatap Rosa.
"Kamu kenapa, Nak? Sakit? Kok pucat dan lesu begitu?" tanyanya.


Rosa menggeleng pelan. "Rosa langsung tidur aja ya, Yah. Capek banget dan tadi sudah makan di kampus," ujarnya berbohong.


Wajah ayahnya mengerut curiga. Sudah tiga hari ini Rosa bersikap aneh, tak seperti biasanya yang riang dan banyak bercerita, meski tak seriang ketika ibunya masih hidup.


"Yakin kamu baik-baik saja, Nak? Kok Ayah merasa ada yang aneh, ya?" tanya Ayahnya lagi.


Rosa menggeleng. "Rosa capek banget, Ayah. Please, Rosa cuma mau tidur," ujarnya setengah merajuk. Air matanya terasa hendak tumpah, namun ia tahan dengan sekuat tenaga. Ia tak mau menangis di depan ayahnya.


Ayahnya menatap Rosa dengan sedih dan bertanya-tanya. Andai Rosa tahu, jika ada hal yang bisa melukai hati ayahnya begitu dalam, itu adalah ketika melihat anak perempuannya sedih atau sakit.


"Rosa ke atas ya, Yah. Good night, Ayah," ujar Rosa sembari membalik tubuhnya dan berjalan menaiki anak tangga. Ayahnya hanya diam memandangi punggung Rosa yang berlalu dan menghilang di kelokan tangga.


Sesampai di kamar, yang dilakukan Rosa adalah langsung mengunci pintu dan menghambur ke atas tempat tidurnya. Ia membenamkan wajahnya ke dalam bantal dan kembali menangis terisak-isak. Tangan kanannya meremas surat itu, yang ia letakkan di balik bantal. Surat yang mengubah segalanya dalam hitungan detik. Surat yang memaksanya menerima bahwa ternyata kehidupannya tak sesempurna yang ia pikir. Rosa menangis dan terus menangis hingga malam semakin larut dan ia pun jatuh tertidur.


Di ruang makan, Ayahnya duduk termenung ditemani semangkuk sup yang hanya ia makan beberapa sendok saja, serta suara televisi yang sudah tiga kali berganti tayangan.

Di hadapannya, ada sebuah mangkuk tertutup yang telah ia siapkan dan tidak disentuh oleh putri kesayangannya...

 

***

 

Hari demi hari berlalu dengan hambar di rumah Rosa, hingga tak terasa sudah hampir sebulan terlewat sejak kejadian surat yang ia sesali seumur hidup itu.

Ketika berpapasan atau makan semeja dengan ayahnya, Rosa lebih banyak diam, hanya berbicara jika ditanya. Ayah Rosa pada awalnya sangat khawatir akan keadaan putrinya, dan ia ikut menjadi lebih pemurung daripada biasanya. Namun sejak beberapa hari yang lalu, ayahnya kembali seperti biasanya. Tetap berusaha mengajak Rosa bicara, meski putrinya itu hanya menjawab dengan sepatah dua patah kata.


Seperti pagi ini, hari Minggu yang cerah.

Ayahnya tidak berangkat menengok kebun kopi yang ia kelola bersama rekan-rekannya. Biasanya ia akan berangkat pagi-pagi bersamaan dengan Rosa yang juga berangkat kuliah. Sore harinya ia akan tiba sebelum Rosa dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

Dahulu ketika masih ada ibunya sekalipun, tetap saja ayahnya yang lebih sering memasak dan menyiapkan hidangan untuk dua wanita tercintanya. Bagi ayahnya, tidak ada yang lebih membahagiakan dibanding melihat istri dan anak perempuannya bahagia, termasuk ketika menikmati masakannya dengan lahap.


"Jadi bagaimana dengan Aldi? Kalau dia beneran suka sama kamu, sini ajak ke rumah, ngobrol sama Ayah," celetuk ayahnya sembari memotong sandwich keju yang masih hangat di atas piring.


"Apa sih Ayah ini," sahut Rosa tak bersemangat menanggapi gurauan ayahnya sembari mengaduk-aduk susu cokelatnya tak tentu arah.


Ayahnya hanya tersenyum.


"Ya, sebagai satu-satunya orangtuamu yang masih ada, Ayah ingin tahu orang-orang yang dekat dengan putrinya. Itu wajar, kan?" selorohnya sembari menyuap sepotong sandwich.


Rosa terkesiap. "Satu-satunya orangtua yang masih ada? Tidak! Bukankah aku masih punya satu orangtua lagi? Tapi hal itu kalian rahasiakan dariku! Bahkan hingga ibu tiada, kalian masih merahasiakannya!" jerit Rosa dalam batinnya. 


Gejolak emosi Rosa yang belum kembali stabil membuatnya jauh lebih mudah menangis sekarang. Dan saat inipun airmata Rosa kembali merebak, meski ia tahan sekuat tenaga agar tidak jatuh.

Rosa tidak tahu jika ayahnya memperhatikan perubahan air mukanya. Rosa membuang muka ke arah kebun belakang rumah yang terlihat dari ruang makan dan menahan tangis sekuat tenaga.


"Baiklah, maaf. Maksud Ayah, salah satu orangtuamu yang masih ada," sambung ayahnya kemudian sembari menghela napas.


Jantung Rosa seakan berhenti berdegup.

Ayah membahasnya. Ayah membahasnya! Dari mana ia tahu hal itu yang mengganggu pikiran Rosa hampir sebulan ini? Rosa tak menceritakan hal itu kepada siapapun. Dari siapa ayah tahu? Rosa yakin, ini bukan sebuah kebetulan.


Rosa tetap menatap lurus ke arah kebun, tidak menjawab. Namun detik ini airmatanya sudah menetes dan ia membiarkannya. Sesekali Rosa menghapus air matanya dan susah payah menelan ludah karena tenggorokannya terasa tercekat.


"Ayah menemukan surat itu di saku jaketmu. Hampir saja tercuci. Ayah yakin kamu sudah membacanya," ujar ayah seperti mendengar pertanyaan dalam benak Rosa. "Laki-laki itu meninggalkan ibumu dan dirimu yang masih bayi bersama orang lain. Seorang wanita dari Eropa, sesama seniman yang ia temui di pameran," sambungnya berat. Air mata Rosa mengalir semakin deras.


"Ibumu begitu marah dan terpukul. Maka bersama dirimu yang masih bayi kala itu, ia menemuiku dengan berurai airmata. Meminta tolong untuk menyadarkan Gandha, ayahmu," sambungnya.


Rosa menoleh. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang teramat sangat. Bagaimana mungkin ibu menemui ayah ketika ayah kandungnya melukai hatinya dengan pergi bersama wanita lain? Rosa memang tak tahu apa-apa, dan hanya bisa menebak-nebak. Tapi skenario macam itu tak pernah mampir dalam benaknya sejauh ini.


"Kamu mungkin bingung, Nak. Tapi Gandha, ayah kandungmu itu adalah sahabat ayah di kampus dulu. Dan Ratih, ibumu, juga berteman denganku ketika berpacaran hingga menikah dengan Gandha. Maka itu, akulah yang ia mintai tolong untuk menyadarkan Gandha, ayahmu. Tapi sayangnya, Gandha lebih memilih ambisi dan perasaan sesaatnya dibandingkan dua orang wanita yang kucintai hingga ke dalam sumsumku ini, Ibumu dan dirimu," jelas ayahnya dengan suara serak.


Tangis Rosa meledak. Ia bangkit dari kursi dan menghambur ke pelukan ayahnya, menumpahkan tangisnya di sana. Ayahnya pun menangis memeluk dirinya erat.

Rosa merasa sudah begitu jahat kepada ayahnya sebulan terakhir ini. Padahal ayahnya begitu sayang padanya meski ia bukan darah dagingnya sendiri. Padahal sejak awal ayahnya telah memilih untuk mencintai ibu dan dirinya dengan segenap jiwa, sementara pilihan untuk tidak mencintai ibu dan dirinya pun sebenarnya terbuka lebar sebagai seorang bujangan yang bisa mendapatkan wanita lajang. Tetapi ayahnya memilihnya. Memilih ibunya yang terluka, dan dirinya yang tak bersalah apa-apa...


"Ayah, maafkan Rosa. Rosa sayang Ayah. Buat Rosa, yang berhak Rosa sebut ayah cuma Ayah seorang. Karena Ayah yang ada untuk Rosa dari bayi hingga saat ini, bukan yang lain..." isak Rosa dalam pelukan ayahnya.


Ayahnya membelai rambut Rosa dengan sayang.


"Ayah juga minta maaf, atas nama ayah dan atas nama mendiang ibumu. Kami hanya ingin kamu bahagia dengan yang ada, tidak perlu tahu masa lalu yang pahit itu. Kami terlalu sayang padamu, Nak..." ujar Ayahnya.


Rosa tenggelam dalam lautan tangisnya. Ia tak dapat berkata apa-apa selain memeluk ayahnya erat dan berkali-kali mengucap maaf, dan bahwa ia begitu sayang pada ayahnya.


"Terima kasih sudah ada di dunia ini untuk mengajarkan secara langsung pada Ayah tentang arti cinta yang sesungguhnya, Nak..." lirih ayahnya.


***

 

Sore begitu cerah. Musim mendung sudah berlalu.


Di bawah langit yang memendarkan jingga, sepasang ayah dan anak duduk bertelut di samping nisan wanita yang begitu mereka cintai. Seikat mawar putih mereka letakkan di atas pusara itu, beserta kerinduan yang dikirim lewat doa-doa.


Di bawah langit yang memendarkan jingga, sepasang ayah dan anak menjadi bukti bahwa menjadi orangtua tak hanya perkara darah, namun terlebih soal cinta dan keikhlasan yang abadi di dalam hati; bahkan jika masing-masing ingatan mereka harus sirna oleh sebab-sebab semesta yang selalu penuh rahasia...

(end)