Mengikhlaskan Untuk Kembali Menemukan
“Mengikhlaskan Untuk Kembali Menemukan”
Pada nyatanya, Tuhan tak akan pernah salah, Dia selalu hadirkan masalah bukan karena Dia marah, melainkan untuk sebuah ujian sabar bagi siapapun yang di kehendakiNya, bukan kah semua yang Dia ciptakan itu saling berpasangan, masalah akan diciptakan dengan solusi atau jalan keluar. Apa kamu berpikir semua kekacauan mu itu hasil dari sebuah takdir ? Perlu kamu tahu, bahagia itu bukan lah sebuah takdir melainkan pilihan, kacau tidak nya dirimu, senang atau sedihnya kamu, semua tergantung pilihan mu, common, kamu memiliki seluruh hidupmu, kamu adalah seorang pemimpin atas seluruh anggota badan mu, panca indra mu dan semua pola pikirmu. Bukan salah nya dia jika kini kamu tak bisa melupakannya, bukan salah dia jika kini hatimu rapuh menyeluruh, karena pada dasarnya bukan dia lah yang salah, tapi semua asumsi mu tentang dia yang membuat mu dikenal oleh waktu jadi seorang makhluk melow yang selalu di temani si galau, ini hanya masalah bagaimana cara kamu “Mengikhlaskan untuk kembali menemukan.”
***
“Perkenalkan nama ku Mulyono.”
Aku menikmati pekerjaan baruku, menjadi seorang satpam, tidak lah sulit, sekalipun itu mall terbesar yang berada di Ibu kota. Pekerjaan yang sangat mudah, dengan fasilitas tubuh yang tinggi dan berisi aku siap berdiri di barisan depan ~ parkiran. Semua berjalan baik-baik saja, pastinya penuh dengan semangat, apalagi jika aku mengingatnya, memang anak muda semangat nya selalu berapi-api, terutama semangat untuk menghalalkan dia, ah pokoknya, kali ini aku akan bekerja keras, karena sebaik-baiknya lelaki, yaitu yang memberi mahar terbaik untuk kekasihnya. Dia bernama Laras, wanita yang umurnya satu tahun dibawah ku, dengan gaya rambut segi acak, berponi dan berkulit manis, memiliki gigi gingsul yang lucu, tidak akan ada habisnya jika aku menuliskan tentangnya. Dia adalah intisari semua keindahan.
***
Sampai akhirnya aku tiba pada sebuah kutukan waktu, ingin sekali aku menyumpahi nya, setelah aku memaki-maki menit yang berlalu di hidupku dengan kata-kata kotor, ucapan-ucapan binatang yang kasar, mungkin aku ikut mengutuk diriku.
Malam itu aku bertugas untuk memantau cctv, aku pikir itu akan menjadi tugas yang menyenangkan, setidaknya aku tak harus berdiri berjam-jam, kali ini aku bisa lebih santai, bukan hanya bisa duduk, tapi bisa sambil ngopi, main hp atau main game, uh ! Sempurna, meski tadinya sempat kesal karena malam minggu ini aku harus masuk kerja.
Seperti yang aku katakan, dalam posisi santaiku di depan monitor, aku nikmati kopi hitam yang sengaja ku buat dengan sedikit gula, meneruskan permainan mobile legend dan sesekali memerhatikan layar.
“Bro lu punya pacar gak ?”
“Punya lah, emang kamu jomblo.”
“Halah sombong lu”
“Emang saya pikirin ?! Wlee”
“Enak ya, yang malam minggunya bisa jalan keluar, apalagi jalan-jalan sama doi.”
“Iya, tapi gak apa-apa, bukan masalah, toh saya kerja juga buat bahagiain dia kelak.”
“Gaya lu tong tong, hidupnya kelak ? Emang lu yakin dia jodoh lu ?”
“Sirik aja kamu.”
Ibnu adalah teman tugas ku, seorang jomblo betawi yang ribet, selalu sirik sama orang-orang yang sedang menikmati masa pacaran.
“Bro liat tuh geli banget gue, pake cium kening segala tuh orang, di tempat umum lagi, cewenya mau-mau aja tuh.” Entah mengandung magnet apa, suara Ibnu membuat ku penasaran, melihat ke arah monitor lantai dua. Awalnya aku biasa saja, tak ada yang salah, yang satu pria dan yang satu wanita, tapi ... siapa wanita itu ? Aku terus menyakinkan batinku, ya tuhan ! Shit ! Ibnu melirik ku aneh, mungkin dia pikir aku tak waras, tiba-tiba mengumpat, memaki, menendang meja, bahkan ingin rasanya aku memecahkan monitor itu,
“Nu, saya ijin keluar sebentar.”
Tanpa jawaban persetujuan aku langsung menghampiri nya, seorang wanita dengan rambut segi acak dan gigi gingsulnya yang lucu, Arrgh ! Sial ! Mengapa kamu setega ini si Laras !
“Ras ?!” Sapa ku mencoba santai dan mengatur nafas yang setengah ngos-ngosan,
“Hei Yon.” Jawabnya dengan nada ragu,
“Thanks ya ! Kamu memang wanita hebat, salut !” Tanpa menunggu Laras aku kembali ke atas, menghampiri Ibnu yang mungkin sedang berharap aku akan kembali dan menceritakan ini semua.
“Kayaknya bakal ada yang jomblo ni.” Rayunya, kali ini aku sedang tak ingin bercanda, bahkan untuk di hibur sekalipun, saat itu juga aku ijin untuk pulang.
***
Aku tak pernah sekacau ini sebelumnya, jatuh sedalam ini, perih sesakit ini, ah damn ! Tuhan ! Apa salah saya ? Padahal tahun depan kita sudah merencanakan hal indah, hadiah atas semua kerja keras ku selama ini, mengikat dia dengan sebuah cincin yang terpasang di jari manisnya. Seketika handphone ku berdering, Laras yang mencoba menghubungiku berkali-kali, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mematikannya.
Kali ini aku benar-benar kacau, apa seorang laki-laki tidak boleh menangis ? Persetan dengan semua yang terjadi kemarin, aku dan Laras sudah dua tahun pacaran, memang untuk sebagian orang itu waktu yang sebentar, tapi nyatanya Laras berhasil membuatku gila. Laki-laki itu entah siapa, aku tak mengenalinya, yang pasti, memang dia lebih keren dariku, apa semudah itu laras berpaling ?
“Maaf Yon, kita sampai disini aja, terimakasih buat semua yang kamu kasih ke aku, dan please, jangan hubungi aku lagi.”
Itu adalah WA dari Laras, yang membuat ku semakin gak karuan, ah ya tuhan !
***
Ini hari ke-7 setelah kejadian itu, masih dengan ketidakwarasanku, Ibnu sempat khawatir, dia menyuruhku untuk tidak masuk kerja, mungkin karena kondisiku yang semakin memburuk, tidak mau mkan, bicarapun aku jarang, sesekali tersenyum pun dengan terpaksa, damn ! Kenapa aku bisa sejauh ini ?
“Yon, kamu pernah dengar tuhan selalu memberikan yang terbaik?”
“Iya”
“Kamu pernah baca kalimat seperti ini “Yang baik menurut kita belum tentu baik dimataNya dan yang buruk menurut kita juga belum tentu buruk dimataNya” apa kau pernah mendengarnya ?”
“Seingatku, aku tahu.”
“Apa kau juga percaya pada hukum alam yang satu ini “Kita akan kembali menemukan setelah kehilangan” ?
“Aku tak berselera untuk debat, jika kau hanya ingin perdebatan, kau boleh pergi.”
“Aku tak tahu, sejauh mana rasa sakit mu, sekehilangan apa kamu saat ini, perlu kamu tahu Yon, tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita, jika kamu percaya kalimat itu, kau akan mengerti dengan semua hal yang terjadi, jika kau melihat sebuah kejadian itu dari sisi negatif nya sesekali kau juga harus melihat positifnya.”
“Apa kemarin ada positif nya ?”
“Tentu, semua peristiwa akan selalu ada negatif dan positif, Alam selalu mempunyai prinsip bijak Yon, kamu tahu sisi positif nya ? Selain kamu kecewa harusnya kamu pun harus bersyukur, tuhan perlihatkan sikap Laras yang sebenarnya di hadapan mu sebelum kamu mempersunting dia, tuhan punya rencana yang indah, Dia tahu Laras tak baik untuk mu, dan Dia ingin seseorang yang baik pula, seseorang yang mengerti perjuangan dan mimpimu bukan hanya orang yang mencintaimu saja, karena cinta bukan lah satu-satunya syarat untuk hidup bersama Yon.” Penjelasan Vika membuat ku terdiam, aku trus mendengarkannya, entah ! Rasanya tidak ada yang mengerti posisiku saat ini.
“Terkadang apa yang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk kita,begitupun yang buruk, belum tentu itu bisa merugikan kita, kita bukan tuhan yang tahu segalanya, tapi kita punya tuhan, yang tahu mana yang benar-benar pantas untukmu dan sebaliknya, mungkin dulu kau beranggapan Laras lah yang terbaik, tapi kau salah nyatanya dia berkhianat padamu, jika kejadian ini bagai mimpi buruk, tidak semata-mata itu semua merugikanmu, tuhan persiapakan seseorang yang akan lebih mengerti semua perjuangan mu menghargai kerja keras mu dan mengerti mimpi-mimpimu.” Tambah nya,,
“Yon, alam selalu berprinsip bijak, disaat kamu kehilangan kamu kembali menemukan, itu hukum yang akan benar-benar terjadi, berkaca lah pada masa lalu, saat kau kehilangan mantan mu sebelum laras, bukan kah kau menemukannya ? Kau menemukan kembali seseorang yang mungkin lebih baik dari mantan mu sebelumnya ? Ayolah, waktu itu berputar Bro, dan “Kita tidak akan menemukan tanpa kehilangan.” Percaya semua ini baik untukmu, percayalah tuhan ingin yang terbaik.”
“Hmm thanks, aku akan mempertimbangkan semuanya.”
“Dan satu lagi Yon, semua adalah bagimana kita mengikhlaskan untuk kembali menemukan.”
Aku menelan ludah, semua kata-kata Vika sangatlah keren, tapi entah lah, aku tak bias menilai itu luar biasa.
Hujan menemani rindu dan sendu, hmm.. Vika benar, dulu sebelum aku menemukan, aku kehilangan Devi tapi setelah itu aku menemukan Laras, dan kini saat aku kehilangan Laras aku harus percaya, tuhan akan memberikan ku seseorang yang baru, aku akan kembali menemukan dia, bukannya tuhan selalu mempunyai cara yang indah untuk menyatukan adam dan hawa ? Sekarang, bagaimana aku bisa mengikhlaskan agar aku bisa kembali membuka hatiku dan menerima dia yang baru, thanks Vik, kamu memnag teman terbaik. Laras memang cantik, dia mungkin sempat mencintaiku tapi sayang dia tak pernah mengerti perjuangan dan mimpi ku.
Kehilangan bukan lah hal yang menakutkan jika kita pahami hukum alam, jika kita mengerti alam selalu perprinsip bijak, karena tanpa kehilangan kita tidak akan kembali menemukan, percaya pada yang menciptakan mu karena Dia selalu mengerti dan tahu mana yang pantas kamu dapatkan dan apa yang berhak kamu lupakan.