ifah132

sesuatu yang mudah diucapkan namun sulit dilakukan salah satunya adalah 'mengikhlaskan kepergian seseorang yang berharga dihidupmu'

Matahari telah menampakkan sinarnya pagi ini, pertanda setiap orang akan melaksanakan aktivitasnya. Namun tidak teruntuk gadis itu, ia masih tetap bergelung didalam selimutnya dengan tenang.

“Oppa, kau tampan sekali aku sangat menyukaimu.” Igauan gadis ini terdengar di telinga gadis lain yang baru saja masuk ke kamar tersebut.

“Yaampun anak ini mengigau lagi.” Desahan malas terdengar seiring dia berjalan mendekati ranjang untuk membangunkan gadis yang masih setia dengan selimutnya.

“Vio bangunlah, jangan sampai kita terlambat lagi.” Gadis ini mengguncang tubuh gadis yang dia sebut Vio tersebut, beberapa kali dia mengguncangnya hingga menyibakkan selimutnya gadis bernama Vio itu tidak terusik sedikitpun dengan tidurnya.

“Yaampun bagaimana lagi aku membangunkan anak ini.” Gerutu gadis ini.

“Vio, Oppa-mu ada disini.” Bisik gadis ini akhirnya pada Vio, tiba-tiba Vio terbangun dengan membelalakkan matanya.

“Dimana-dimana Oppa-ku Ly, Hoseok Oppa eodiya?” Vio beranjak dari tidurnya tergesa sambil mencari Oppa-nya.

“Cepatlah mandi, ku tunggu diluar.” Ucap gadis lain sambil beranjak meninggalkan Vio dikamarnya.

“Ya! Lily kau membohongiku lagi, dasar menyebalkan.” Vio mendesah kecewa ternyata Lily membohonginya lagi seperti sebelumnya.

Tak terasa waktu yang digunakkan Vio untuk bersiap hampir setengah jam, akhirnya dia dan Lily segera berangkat sekolah karena waktu telah menunjukkan pukul 7 dan itu artinya setengah jam lagi masuk.

~~~~~

Tak terasa mereka sudah sampai disekolah, pas sekali mereka duduk dan belpun berbunyi beruntungnya mereka.

“Hey Ly kau tau bahwa comeback BTS sangat bagus, apalagi Hoseok Oppa dia tampan sekali.” Vio mulai ke mode ceritanya, dimana dia akan berceloteh ria tanpa lelah sedikitpun.

“Bisakah kau kesampingkan Oppa-mu itu dulu jika disekolah Vi, aku yakin kau lupa jika hari ini ada ulangan.” Tanggapan Lily ketika Vio mulai bercerita.

“Yaampun kenapa kau tidak mengingatkanku, aku sama sekali tidak ingat.” Vio mulai gelisah dan mengambil buku catatannya di dalam tas untuk dia baca.

“Aku sudah mengingatkanmu dari semalam kan.” Jawaban malas Lily

“Benarkah? Mungkin iya, maaf ya sepertinya aku semakin pelupa.” Vio menanggapi dengan senyum konyolnya.

Vio sangat sibuk dengan bukunya hingga tidak menyadari seorang wanita paruh baya sedang memanggilnya.

“Violin Anastasia.” Serunya sekali lagi

Lily mulai menyikut Vio yang tak bergeming sambil terfokus pada bukunya itu.

“Apa Ly? Daritadi kau menyikutku terus menerus.” Akhirnya Vio jengah atas kelakuan Lily dan menatapnya kesal.

“Saya memanggil anda dari tadi Violin Anastasia.” Belum sempat Lily akan menjawab, indra pendengaran Vio mulai menangkap suara didepannya.

“Eh? Maafkan saya bu.” Ucap Vio

“Baiklah, sekarang fokuslah! Violin Anastasia dan Lily Febrina kalian berdua kelompok terakhir, minggu depan pengumpulan
tugasnya. Saya hari ini ada urusan mendadak jadi itu saja.” Seiring kata terakhir itu, Bu guru meninggalkan ruangan kelas.

“Hei apa yang kulewatkan? Tidak jadi ulangankah?” Vio masih dalam mode bingungnya dengan semua ini.

“Sedaritadi kau terlalu fokus, tidak jadi ulangan dan diganti tugas kelompok.” Penjelasan Lily pada Vio. Vio hanya ber-oh ria saja menanggapinya.

“Ly, kau ingatkan minggu depan hari apa?” Tanya Vio pada Lily yang sedang berada disampingnya menggunakan earphone, Lily hanya menganggukan kepalanya untuk jawaban.

“Tentu saja, kita bersahabat sudah lama sekali kan.” Ucap Vio bangga sambil tersenyum.

“Lalu apakah kau sudah menyiapkan kado untukku?” Tanya Vio pada Lily dengan senyum yang masih setia bertengger di bibirnya.

“Kau sudah besar Vi, tidak perlulah kado lagi.” Jawaban Lily pada Vio sambil membuka sebelah earphone nya, setelah mengucapkan itu dia kembali memasangkan earphone nya lagi.

“Kau benar-benar menyebalkan Ly, aku kan baru SMP kelas 3.” Ucap Vio sambil cemberut.

Vio pergi dari bangkunya yang biasa dia gunakan duduk dengan Lily disampingnya, Vio benar-benar marah pada Lily saat ini sampai menukar tempat duduk seperti itu. Lily hanya menanggapi dengan gelengan kepalanya, karena menurutnya sudah biasa jika sifat kekanakan Vio akan muncul secara tiba-tiba yang menyebabkan mereka tidak akur seperti saat ini.

~~~~~

Sejak kejadian dimana Vio marah pada Lily, sampai hari ini pun tidak ada yang mau mengalah, wajar saja mereka masih terbilang remaja jadi labil adalah sifatnya pasti. Menurut pemikiran Vio seharusnya Lily meminta maaf setidaknya, namun Lily berfikir ini hanya masalah sepele yang tidak perlu penanganan berlebihan. Beberapa hari ini juga Vio jarang bertemu Lily, tidak ada kabar tentangnya juga sama sekali. Padahal hari ini adalah hari penting dihidup Vio. Mungkinkah Lily sedang menghindari Vio? Vio terus-terusan memikirkannya sambil memandangi bangku didepannya yang telah kosong berhari-hari itu.

“Sudahlah lebih baik aku tidak perlu memperdulikannya.” Gumam Vio akhirnya.

Sepertinya ketidakhadiran Lily menambah suasana hati Vio kini semakin memburuk, mungkin malam ini dia akan menghabiskan malam penting hanya dengan keluarganya saja. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dia bersama Lily selalu mengajak teman-teman sekelas untuk makan bersama ketika malam telah tiba. Tidak buruk juga menghabiskan waktu dengan keluarga sekali-kali, itulah yang ada difikiran Vio. Bel sudah berbunyi sejak tadi, namun Vio masih enggan beranjak dari bangkunya. Apakah dia harus mengunjungi Lily dirumahnya? Atau langsung pulang saja bersikap tidak peduli? Apakah terlalu jahat? Vio benar-benar berfikir terlalu banyak hari ini sepertinya. Dia mulai beranjak untuk pulang, sepertinya dia akan bersikap egois dan kekanakan lagi untuk kali ini, memutuskan pulang kerumahnya dan beristirahat menjadi pilihannya.

Sesampainya didepan rumahnya Vio terheran-heran, pasalnya rumahnya? Mengapa jadi berbeda begini. Bukan bentuknya tapi suasananya kenapa menjadi sangat ramai, setahunya tidak ada kerabat yang akan datang. Masih setia memandang bangunan didepannya Vio seperti ragu untuk melangkah masuk, hanya memandangi sampai seorang wanita paruh baya cantik yang sangat mirip seperti Vio menghampirinya.

“Sayang, kamu sudah pulang? Ayo lekas ganti baju, pesta akan segera dimulai.” Ucap lembut Mamah Vio.

“Pesta Mah? Apakah ada kerabat kita yang datang?” Vio masih menunjukkan wajah bingungnya.

“Bukankah hari ini ulang tahunmu sayang, teman-temanmu sudah datang. Lily yang membuat ide ini, katanya sekali-kali dirayakan dirumah tidak ada salahnya kan.” Mamah Vio mulai menjawab kebingungan yang Vio tampilkan sedari tadi.

“Lily Mah? Apakah Mamah bertemu Lily? Kapan Mah? Vio belum melihatnya lagi disekolah beberapa hari ini.” Akhirnya pertanyaan yang ingin Vio tanyakan sedari tadi dia utarakan.

“Mamah bertemu dengannya seminggu yang lalu sayang, sudah cepat ganti bajumu pestamu akan segera dimulai.” Akhirnya Mamah Vio mendorong Vio masuk kekamarnya agar segera berganti baju.

~~~~~

Pesta berjalan dengan sangat meriah dan menyenangkan, tapi tidak dengan Vio yang sedari tadi tidak tenang menatap kerumunan teman-temannya yang sedang bercengkrama. Dia beberapa kali menatap kerumunan itu berharap seseorang yang telah memberi Mamahnya ide pesta ini datang, tapi sedikitpun batang hidungnya tidak ada tanda-tanda akan menampakkan sosok tersebut. Vio benar-benar terlarut dengan dunianya sendiri hingga tidak menyadari seseorang mendekatinya.

“Hey sayang, selamat ulang tahun ya.” Ucap orang tesebut sambil menepuk bahu Vio, Vio sedikit tersentak hingga menolehkan kepalanya.

“Tante, terimakasih sudah mau datang.” Vio menjawab dengan wajah bahagianya.

“Ini kado dari tante, dan ini dari Lily Vi.” Tante yang ternyata adalah Ibu dari Lily memberikan bingkisan pertama yang ada ditangan kanannya disusul bingkisan yang lebih besar.

“Makasih banyak tante, lalu dimana Lily?” Vio semakin bahagia ketika menerima bingkisan tersebut.

“Tante mau ajak kamu ke suatu tempat habis pesta ini, kamu bisa ikut Vi?” Ibu Lily berusaha menahan agar air matanya tidak turun lagi, ini tempat bahagia Vio sahabat putrinya, tentu saja dia tidak mau sampai merusaknya.

“Tentu saja tante.” Vio tidak mengerti dengan jawaban dari Ibu Lily, bukannya menjawab pertanyaannya malah mengajaknya pergi? Namun Vio merasa tidak enak untuk menolak ajakannya sehingga dia mengiyakannya.

Tak terasa acara telah usai, kini saatnya Vio pergi bersama Ibu Lily. Selama perjalanan Vio hanya memandang keadaan luar dengan pandangan bingungnya, setahunya ini bukanlah jalan menuju kediaman keluarga Lily. Mereka telah sampai ditempat yang membuat Vio gemetaran dan rasanya ingin menangis saja. Ibu Lily juga hanya diam menuntun Vio hingga kini mereka telah sampai didepan sebuah batu nisan bertuliskan ‘Lily Febrina’, jika ini sebuah mimpi buruk tolong segera bangunkan Vio sekarang juga. Dia sudah tidak kuat berdiri sekarang, air mata telah turun dengan derasnya sedari tadi. Ini sungguh menampar Vio lebih dari apapun, katakan semua ini hanya bohongan cepatlah jangan permainkan Vio di hari bahagianya ini. Tatapannya kini beralih kesampingnya dan bersitubruk dengan manik hitam lainnya yang juga telah menangis dalam diamnya.

“Apa maksudnya ini tante? Katakan pada Vio, jangan membuat lelucon yang tidak lucu tante.” Vio hanya dapat mengeluarkan suara lirihnya.

“Sayang ini titipan Lily, tante harap dari sini kamu bisa mengikhlaskannya.” Usapan lembut yang Ibu Lily berikan menambah perasaan sakit menggerogoti relung terdalam hati Vio, Vio hanya mampu memeluk Ibu Lily sambil meremas surat yang diberikan Ibu dari sahabatnya ini.

~~~~~

Setelah sampai dirumahnya, Vio benar-benar blank tidak dapat memikirkan apapun,  dia terduduk di ranjangnya dan segera membuka surat dari Lily.

To : Violin Anastasia

Hey sahabat cengengku, aku pastikan kau sedang menangis sekarang. Maafkan jika sikapku terlalu acuh, aku hanya tidak ingin kau mengkhawatirkan atas sakitku ini secara berlebihan. Kau ingat ketika aku hanya terserang flu? Kau benar-benar tidak mengijinkanku beraktivitas dan itu benar-benar menjengkelkan. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kau telah mau menjadi sahabatku selama ini, terima kasih masih bertahan dengan sahabat menyebalkanmu ini. Jangan mengkhawatirkanku kini aku bahagia dan berada ditempat yang lebih baik. Satu hal lagi jangan terlalu asyik dengan dunia khayalanmu bersama Oppa Vi, kembalilah ke kehidupan nyata. Baiklah yang satu ini aku hanya ingin membuatmu ngambek, aku bercanda. Terakhir kalinya aku benar-benar ingin mengucapkan banyak terima kasih dan banyak maaf juga, aku sangat bahagia selama bersahabat dengamu. BTW aku membelikanmu kado yang sangat kau inginkan, kuharap kau menyukainya.

From : Lily Febrina

Sepertinya air mata ini benar-benar tidak akan berhenti dalam waktu dekat, segukan pengiring betapa sakitnya yang Vio rasakan benar-benar akan membuat yang mendengarnya merasakan juga.

“Aku belum sempat meminta maaf atas pertengkaran terakhir kita Ly.” Ucap Vio lirih disela tangisnya.

“Bagaimana bisa kau meninggalkanku dengan cara seperti ini. Aku sangat sangat berterimakasih kau mau menjadi sahabatku, meskipun aku mendapatkan sahabat lain kau tetap mempunyai tempat tersendiri Ly. Karena setiap sahabat mempunyai satu tempat khusus masing-masing. Sepertinya aku akan menyukai semua jenis bunga mulai sekarang, terutama bunga Lili.” Ucap Vio disertai senyumnya.

( Sahabat adalah keluarga kecil diluar rumah, sulit untukmu mendapatkan sahabat tulus diantara beribu teman yang ada. Berbahagialah bersama sahabatmu sampai kau dan dia tidak dapat bersama lagi ).

END

deli

Amazinggg😭😍


ifah132

tengkiyu :*