Khairunnisa

Terkadang kita lupa bahwa bahagia itu sederhana

Apa itu kebahagiaan?

Aku kerap larut dalam lamunan dan tak pernah menemukan definisi yang tepat. Kebahagiaan sejatinya tak bisa diukur dengan apapun. Aku sering melihat seseorang yang kelihatannya memiliki nasib baik, tetapi esok harinya, ia ditemukan bunuh diri.

Aku juga tak pernah bahagia.

Selama empat puluh lima tahun masa hidupku, aku tak pernah benar-benar bahagia. Aku mencarinya –menikah dengan seorang wanita cantik, membentuk keluarga, memiliki anak− tetapi kebahagiaan itu tak pernah kutemukan. Istriku bahkan meninggal dunia saat melahirkan anak kedua kami, tujuh tahun lalu.

Aku sering menonton televisi dan melihat kehidupan orang-orang kaya. Akankah mereka bahagia? Apa memiliki banyak harta dapat membuat bahagia? Aku tersenyum miris. Jika memang begitu, maka aku takkan pernah bahagia. Aku bahkan kehabisan gula sejak lima hari yang lalu dan tak punya cukup uang untuk membelinya.

“Ayah.” Anak pertamaku memanggil sembari meletakkan piring di meja. “Sarapan.”

Ubi goreng lagi. Sarapan, makan siang, atau makan malam sama saja. Perutku sudah penuh dengan ubi goreng.

Aku beranjak dari dudukku dan berjalan meninggalkan rumah –tak hirau pada anakku yang memanggil berkali-kali. Adiknya ikut berdiri di sampingnya dan memanggilku, tetapi aku tetap melanjutkan langkahku –tanpa menoleh dan tanpa lambaian tangan.

Seorang diri menghidupi dua orang anak bukan perkara mudah, terlebih lagi aku tak punya pekerjaan tetap. Anakku yang pertama masih berusia sebelas tahun, ia masih belum tahan melakukan pekerjaan berat. Kadang-kadang ia hanya membantu menjaga warung jika ada yang memerlukan bantuan. Tak ada yang bisa menolongku, aku harus berjalan dengan kakiku sendiri untuk bertahan. Kerap kali aku berpikir ingin pergi dari sini dan meninggalkan keluargaku untuk memulai hidup baru.

“Bang Indra.” Salah seorang yang duduk di kedai kopi memanggil sembari melambaikan tangan. “Ke mana?”

“Hanya jalan-jalan.” Kulangkahkan kaki ke kedai itu dan duduk di sebelahnya.

“Minum apa, Bang?” Pemilik kedai ini bertanya padaku. Aku hanya menggeleng, mengisyaratkan bahwa aku tak memesan apa-apa.

“Bagaimana kabarmu?” Aku memulai pembicaraan. Namanya Rudi. Sepuluh tahun lebih muda dariku. Dulu ia sering ke rumah dan bermain dengan anak-anak, tetapi aku tak pernah melihatnya lagi sejak dua tahun yang lalu.

“Baik, Bang,” jawabnya setelah meneguk habis kopinya. “Abang bagaimana?”

 “Tidak terlalu baik. Aku harus menghidupi anak-anakku seorang diri.”

Kulihat Rudi mengangguk paham. “Adam dan Nina, ‘kan? Sudah lama aku tak melihat mereka. Abang yakin tak mau menyekolahkan mereka?”

“Untuk biaya hidup sehari-hari saja susah, apalagi untuk bayar sekolah,” kataku sembari meminum segelas air yang disediakan pemilik kedai, gratis.

Ia kembali mengangguk.

“Ke mana saja kau dua tahun ini?”

Ia tersenyum malu. “Aku ditipu, Bang. Aku dapat tawaran pekerjaan dari temanku, tapi ternyata pekerjaan itu tak ada. Aku tak punya uang untuk kembali ke sini. Makanya aku mengumpulkan uang dulu supaya bisa pulang.” Tiba-tiba ia tersenyum lebar. “Aku berharap bisa menemukan kebahagiaan di sini.”

“Tempat ini hanya kampung kecil. Kau tak bisa bahagia kalau tinggal di sini.”

Rudi memandangku cukup lama sebagai respon atas penyataanku barusan, kemudian mendekatiku lalu berbisik, “Abang belum dengar mitosnya?”

“Mitos?”

Ia mengangguk cepat. “Aku mendengar mitos mengenai hutan.”

Aku hanya memandangnya ragu dan tak mengerti.

Ia meneguk segelas air sebelum menjelaskan, “kata orang, kita bisa mendapat kebahagiaan di hutan. Tak ada tahu seperti apa wujud kebahagiaannya. Sudah ada beberapa orang yang mencoba, tetapi tak ada yang mau bercerita. Hanya saja, mereka memang terlihat lebih bahagia.”

“Siapa saja yang sudah mencoba?”

Ia menggeleng. “Tak ada yang mau memberitahu. Tapi,” ia merogoh saku belakang celananya, “aku mendapat rute jalannya. Lihat.”

Aku memerhatikan sobekan kertas itu dan melihat rute yang berkelok-kelok. Di dalam hutan, tempat yang setahuku tak pernah terjamah. Benarkah ada kebahagiaan di sana? Seperti apa wujudnya? Haruskah aku percaya?

Suasana di dalam hutan tiba-tiba terlintas dalam kepalaku. Di tempat yang seharusnya tak ada apapun selain pepohonan dan hewan buas, siapa yang menyembunyikan kebahagiaan di sana? Aku memerhatikan rute itu cukup lama sembari memikirkan nasibku selama ini.

Kuputuskan untuk menyalin rute jalan itu dan menyimpannya. Aku berpikir cukup lama. Ada keraguan antara memercayai mitos itu atau menganggapnya sebagai angin lalu. Beberapa orang yang sudah mencoba juga masih misteri, ada kemungkinan bahwa orang-orang itu sebenarnya tak ada.

Namun, aku akan mendapat kebahagiaan jika mitos itu benar. Kupandangi rumahku yang kecil dan sempit. Kedua anakku terlelap di sebelahku. Aku tak pernah benar-benar memerhatikan anak-anak, bahkan menyalahkan kehadiran mereka karena hanya menambah beban. Tak masalah jika kutinggalkan mereka, tetanggaku pasti merasa kasihan dan bersedia merawat mereka berdua.

Aku kemudian mengembuskan napas panjang. Haruskah aku mencoba?

***

“Ayah mau ke mana?” Anak bungsuku menangis saat melihatku menyandang ransel. Tekadku sudah bulat dan tadi malam sudah kupersiapkan segala keperluan selama perjalanan.

“Ayah.” Anak pertamaku menahan tanganku. “Ayah mau ke mana?”

 “Bukan urusan kalian.” Kutepis tangan itu. “Mulai sekarang, kau yang menjaga adikmu, Adam.”

“Tapi Ayah, kenapa?” Adam berteriak di hadapanku, tangannya memegang erat tangan kanan adiknya.

“Ayah ingin terlepas dari kesialan.”

Adam terdiam, air matanya mulai menggenang. “Ayah ingin meninggalkan kami?” Suaranya tercekat. “Tolong biarkan kami ikut, Ayah.”

“Ayah ingin terbebas dari kalian. Bagaimana mungkin Ayah membawa kalian?”

Tak ada yang menjawab. Keduanya kini menangis sembari melihatku mengikat tali sepatu.

 “Jangan cari Ayah.”

Kutinggalkan mereka. Tangis Nina semakin kencang dan Adam memanggil berkali-kali. Namun, aku tak acuh. Aku ingin terbebas dari kemalangan yang menimpaku selama bertahun-tahun. Ini merupakan kesempatan yang tak boleh kusia-siakan.

Aku akan mendapat kebahagiaan. Aku akan mendapat kebahagiaan.

Kalimat itu terus kuucap dalam hati selama perjalanan menuju hutan. Aku tak hirau pada para tetangga yang memanggil dan kebingungan melihat tingkahku. Aku tak peduli. Jika kebahagiaan sudah kudapatkan, aku akan meninggalkan kampung kecil ini untuk selamanya.

Rasa tak sabar yang menggebu-gebu membuatku melangkahkan kaki dengan sangat cepat. Hutan itu berada di perbatasan kampung ini. Perkiraanku, aku akan memasuki hutan sebelum tengah hari.

Sembari terus berjalan, aku membayangkan apa saja yang akan kulakukan jika kebahagiaan itu telah kudapatkan. Pertama-tama, tentu saja meninggalkan tempat ini. Aku akan memulai hidup baru dengan nasib yang baru. Karena asyik melamun, tak kusadari aku sudah berada di tepi sungai. Hutan itu berada tepat di seberang sungai ini.

Aku tersenyum lebar.

***

Hutan tak seburuk yang kupikirkan. Perjalananku berjalan mulus tanpa masalah. Aku hanya berhenti jika kakiku mulai pegal atau perutku lapar. Bekal yang kubawa cukup banyak, aku berharap aku segera menemukan kebahagiaan itu sebelum kehabisan bekal. Di sekelilingku hanya ada pepohonan dan semak-semak, semoga aku tak bertemu hewan buas selama perjalanan.

Aku tak tahu sudah berapa lama aku berjalan. Kupegang erat tali ranselku dan berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Jalan setapak sudah mulai menghilang, mungkin saat ini aku sudah berada di tengah hutan. Kuperiksa rute yang kubawa dan memastikan arah dengan teliti. Mulai dari sini, aku yakin perjalanannya cukup sulit.

Aku berhenti di bawah pohon besar dan menatap langit, sepertinya sudah mulai gelap. Kuambil senter di dalam ransel dan menyorot jauh ke dalam hutan. Setelah menimbang-nimbang cukup lama, kuputuskan untuk berjalan sebentar lagi sebelum beristirahat.

Aku masih belum mengetahui kebenaran mitos itu, tetapi entah kenapa, aku merasa sangat yakin bahwa kebahagiaan memang bisa kutemukan di sini. Memang hanya perasaanku, tetapi aku meyakininya. Rasa lelahku hari ini akan terbayar.

Jalanan semakin gelap dan kakiku sudah sangat lelah. Kuputuskan untuk beristirahat. Aku mengambil alas yang kubawa, kemudian duduk sembari bersandar di batang pohon besar. Baru kali ini aku berada di alam terbuka saat malam hari, sendirian, dengan persediaan seadanya. Aku hanya harus fokus pada tujuanku dan membayangkan kehidupan bahagiaku jika tiba-tiba merasa takut.

Kurapatkan jaketku karena udara semakin dingin. Tak ada apa-apa di dalam hutan ini.  Jika memejamkan mata dan fokus pada keheningan, aku akan merasakan ketenangan yang belum pernah kurasakan. Mungkin aku akan tidur nyenyak malam ini.

Namun, saat baru saja akan terhanyut dalam mimpi, tiba-tiba saja aku mendengar suara. Seperti mendesis, dan terasa sangat dekat. Kupaksa membuka mata perlahan, di antara keadaan sadar dan tidak sadar, aku melihat bayangan hitam di hadapanku. Bergelantungan. Kepalanya tepat di depan mataku.

Itu ular.

Aku terperanjat dan tubuhku bergetar tiba-tiba. Ia menatapku. Aku tak bisa melihat badannya dengan jelas, tetapi aku yakin pasti sangat besar. Tubuhku tak bisa bergerak dan napasku sesak –seolah-olah ular itu tengah melilitku.

Otakku memerintahku untuk lari, tetapi tubuhku tak bisa menurutinya. Seluruh tubuhku bergetar dan keringatku bercucuran. Aku menelan ludah. Jantungku berdetak semakin kencang saat desisnya kembali terdengar. Aku harus bisa bergerak. Aku harus lari. Kupaksa tubuhku, dan dengan kaki yang gemetar sangat kencang, aku mencoba bergerak.

Lari.

Lari.

Aku bergerak perlahan, menggeser badanku sedikit demi sedikit. Saat kuyakin ular itu tak menyerang, kuambil ranselku dan aku berlari menjauhi tempat itu. Aku tak tahu ke mana kakiku akan membawaku. Aku harus berlari, menjauh dari jangkauan ular itu.

Aku menghentikan langkahku saat kukira sudah cukup jauh. Dengan perasaan was-was, aku bersandar di batang pohon. Aku tak berani duduk, apalagi tidur. Aku terjaga semalaman.

***

Sejatinya, hutan adalah alam liar. Seharusnya aku tak meremehkan hutan sejak awal. Selama perjalanan, aku menemukan banyak hal yang menakutkan. Hewan liar berkeliaran untuk menjaga habitatnya, kemudian akan mengejar saat melihatku berdiri tak jauh darinya. Aku hanya bisa berlari tak tentu arah, mencoba menyelamatkan nyawa yang kerap berada di ujung tanduk.

Ranselku hilang. Senter yang selalu kupegang erat kini cahayanya telah melemah. Aku kini duduk di bawah pohon besar sembari menatap pepohonan. Lapar, bekalku di dalam ransel.  Kurogoh saku belakang celanaku untuk kembali memeriksa rute, tetapi kertas itu tak ada, mungkin terjatuh saat aku berlari. Aku menghela napas. Aku tersesat, tak tahu arah tujuanku dan tak tahu arah jalan pulang. Berakhir sudah. Aku akhirnya sadar, kebahagiaan itu pasti hanya mitos, bodoh sekali aku bisa memercayai hal semacam itu.

Dalam keheningan, aku tiba-tiba teringat keluargaku. Aku tak tahu sudah berapa lama aku berada di hutan ini. Aku sudah melewati beberapa malam, tetapi aku tak bisa menghitungnya. Bagaimana keadaan kedua anakku? Jika aku mati di sini, adakah yang merawat mereka? Jika kesempatan datang sekali lagi, aku ingin meminta maaf kepada mereka. Aku ini ayah yang payah. Sama sekali tak bisa diandalkan.

Aku tak punya tenaga lagi, rasanya ingin sekali memejamkan mata. Namun, saat baru saja aku akan terlelap, jauh di dalam hutan, aku seperti melihat sesuatu. Aku berdiri dengan cepat dan berjalan lebih jauh.

Aku terkesiap. Itu rumah. Aku melihat rumah di dalam hutan. Apa ini nyata? Apa kebahagiaan itu berada di sana? Tenagaku bangkit seketika. Aku berjalan lebih cepat untuk mendekati rumah itu. Sempat terlintas olehku bahwa aku pernah melihat rumah itu, bangunan itu terasa tidak asing. Dan, benar saja. Rumah itu terlihat sama persis dengan rumahku. Kenapa?

Aku berjalan lebih dekat. Dalam hati terus berucap bahwa kebahagiaan akan kuraih sebentar lagi. Namun semakin dekat, aku semakin merasakan kejanggalan. Perlahan-lahan pepohonan tadi berkurang, jalanan terasa lebih luas. Rumah itu semakin menyerupai rumahku.

Aku terperanjat. Terpaku. Di halaman depan rumah itu, aku melihat kedua anakku. Apakah ini hanya ilusi? Apa aku sudah mulai gila? Bagaimana mungkin kedua anakku berada di tengah-tengah hutan?

Mereka kemudian melihat ke arahku. Kami bertatap muka selama beberapa detik sebelum akhirnya anak bungsuku berlari dan menghambur ke pelukanku. Ia menangis kencang. Aku tak membalas pelukannya. Aku masih tak mengerti apa yang terjadi. Apa secara tak sadar aku berbalik arah? Bisa saja, aku berlari tak tentu arah dan ternyata aku berlari menuju jalan pulang. Tetapi tak mungkin. Aku yakin tadi aku masih berada di dalam hutan.

Ilusi, ‘kah?

“Ayah.” Panggilan dari anak pertamaku membuat perasaanku semakin tak menentu. “Ayah kembali?” Ia menangis dan mengikuti adiknya memelukku.

Dalam keadaan masih terpaku, aku menatap sekeliling yang entah kenapa, secara ajaib, perlahan-lahan berubah. Pepohonan berubah menjadi rumah-rumah. Semak belukar itu menghilang dan digantikan oleh jalanan. Orang-orang mulai berlalu lalang, bahkan sebagian tersenyum dan menegurku. Pelukan anak-anakku semakin erat.

Aku kemudian menyejajarkan diri dengan anak-anakku. Mereka terihat sangat senang walaupun wajah mereka sudah penuh dengan air mata. Aku terdiam cukup lama. Berpikir, menghubungkan semua yang terjadi, sebelum akhirnya tersenyum.

Akhirnya, aku dikembalikan kepada keluargaku –oleh alam, oleh hutan. Aku dibiarkan mencari, dan di sinilah aku berada sekarang. Inikah kebahagiaan itu?

Kini aku mulai sadar, bahwa kebahagiaan sebenarnya telah lama bersamaku. Hanya saja aku tak mau mengakuinya. Aku terlalu sibuk memikirkan kebahagiaan orang lain hingga aku lupa bahwa aku pun telah memiliki kebahagiaan itu.

Kupeluk kedua anakku dan meminta maaf berkali-kali. Mereka tak menjawab, hanya menangis semakin kencang.

Kupeluk mereka lebih erat. “Ayah pulang.”