“Alhamdulillah. Tuhan masih memberikan kami nikmat yang banyak, Pak. Mungkin Tuhan tidak mau kami berdua jauh dari-Nya. Jadi, ya... Tuhan memberi kami nasib ini agar bisa terus ingat Tuhan. Toh, untuk apa kaya harta, kalau ternyata orang itu lalai dan lupa akan keberadaan Tuhan.†-Amar, Anak Mang Ikar
Kerupuk Mang Ikar
Pria paruh baya itu berjalan menyusuri jalan setapak. Dipikulnya beban hidup yang harus ia jajakan kepada orang-orang. Sesekali ia menjaga langkahnya agar beban yang dibawanya tetap seimbang. Jauh sebelum fajar menyingsing, ia sudah terbangun di kala heningnya malam untuk mempersiapkan dagangannya.
Perbekalan yang dibawanya pun tak banyak. Hanya berbekal nasi ditaburi sedikit garam, dan berwadahkan keresek hitam. Syukur-syukur sudah bisa makan, walaupun hanya dengan lauk pauk seadanya. Bagaimana bisa disebut lauk pauk? Bukankah itu hanya butiran garam?
Dialah Mang Ikar. Kegigihannya dalam menghadapi segala cobaan patut diacungi jempol. Dulunya ia seorang karyawan swasta yang harus di PHK oleh pihak perusahannya. Saat itu juga istrinya mengidap kanker rahim yang membuat ekonomi keluarganya semakin merosot. Malang memang. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ekonominya menyurut, dan istrinya harus kembali ke pangkuan Tuhan. Kini, bersama 3 orang anaknya ia tinggal.
Sesampainya di alun-alun dekat Kecamatan Banjaran, ia berkumpul dengan sesama kelompok penjual kerupuk. Dipilihnya angkutan kota yang kosong. Lalu, bersama teman-temannya ia menuju Kota. Kota Bandung dipilihnya untuk tempat mengadu nasib. Apa tak sulit mengadu nasib di kota? Sesulit apapun tembok yang menghalanginya, bukanlah hal yang mampu merobohkan semangat Mang Ikar.
Ia pun turun dari angkutan kota tersebut, siap bergelut dengan debu dan panasnya matahari. “Kurupuk... kurupuk raos, kurupuk raos,” begitulah cara Mang Ikar untuk memikat hati para penggemar kerupuknya. Awalnya ia menjajakan dagangannya di sekitar daerah kabupaten. Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat di daerah kabupaten, lidahnya sudah tidak asing lagi dengan kerupuk seperti yang dijual Mang Ikar. Berjualan di kota, mungkin bisa memutar roda kehidupan, pikir Mang Ikar. Dan benar saja, peminat kerupuk di kota lebih banyak.
Duh, Mang Ikar. Sudah seperti selebriti saja yang dikerumuni wanita-wanita. Bukan tanda tangan atau foto bersama yang diminta wanita-wanita itu. Tetapi... Kerupuknya. satu bungkus kerupuknya dibandrol dengan harga tiga ribu rupiah. Apa dengan tiga ribu rupiah, Mang Ikar bisa menafkahi ketiga orang anaknya? Itulah kuasa Tuhan. Asalkan hambanya mau bersyukur, Tuhan cukupkan rezekinya.
***
Terik matahari semakin membuat warna kulit Mang Ikar terlihat eksotis. Hitam legam, dengan urat yang menonjol di tangannya. Langkah kakinya mulai melemah, tetapi dirinya tetap tabah. Mushola yang ada di seberang menjadi tempat istirahat baginya. Diturunkanlah pikulan kerupuk dari pundaknya, ia pun bergegas menuju tempat wudhu. Wajahnya yang basah karena peluh, kini terbasuh oleh air wudhu.
Setelah ia selesai menjalankan sholat dzuhur, ia membuka bekalnya dengan sedikit tidak sabar, sepertinya Mang Ikar benar-benar lapar. Dibukanya keresek hitam itu, ia memakannya perlahan. “Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?” Batin Mang Ikar sambil menikmati hidangan santap siangnya.
Tepat di sampingnya Mang Ikar, ada seseorang yang memperhatikannya. Tatapannya terlihat begitu iba. Ia menarik napasnya, bersyukur sekaligus prihatin, ternyata ada yang hidupnya kurang beruntung dibandingkan dirinya.
“Hanya nasi saja, Mang?” tanyanya.
“Tidak, Pak. Ini sedikit ditaburi garam.” jawab Mang Ikar.
Orang itu menghela napasnya. “Kan ada kerupuk, Mang. Kenapa tidak diambil saja kerupuknya untuk makan?” Bapak itu semakin penasaran.
“Bukan hak saya, Pak. Itu punya pelanggan.” Orang itu mengangguk mengerti. Ia pun memakai sepatunya dan keluar dari mushola itu. Celingak-celinguk mencari tempat yang menjual masakan. Ternyata hanya ada warung kecil di seberang mushola.
Bapak itu pun kembali menghampiri Mang Ikar. “Saya beli kerupuknya, satu saja.” ia mengambil sendiri kerupuk itu. Diberikannya selembar uang berwarna biru bersama kerupuk yang telah dibelinya.
“Aduh Pak, punteun. Tidak ada kembalian untuk uangnya. Tetapi, kok ini kerupuknya diberikan kepada saya?” Mang Ikar heran.
Sambil tersenyum, Bapak itu menjawab, “Ambil saja kembaliannya untuk beli minum. Kerupuknya juga untuk teman makan nasi Amang, biar lebih nikmat makan siangnya. Mari Mang, saya duluan ya.”
Bapak itu pun berlalu dengan mobilnya, meninggalkan Mang Ikar dengan kerupuknya. Mang Ikar mendongak, mengingat Tuhan yang selalu bersama dengan langkahnya. “Jazakumullah. Hatur nuhun, Gusti.”
Selesai ia menghabiskan bekalnya, Mang Ikar bersiap untuk memulai berdagang lagi. Melihat dagangannya yang masih tersisa, bukan berarti ia harus pasrah. Tetapi bagi Mang Ikar, ini merupakan sebuah cambukan. Bukan cambukan yang berbekas di badan yang menjadi luka yang sulit untuk diobati. Tetapi, cambukan ini agar membuat dirinya lebih bersemangat untuk menjalani hidup.
***
Hari mulai petang. Saatnya ia pulang untuk bertemu ketiga malaikat kecilnya. Hari ini ia mendapat pelajaran begitu berharga. Mang Ikar bersyukur atas nasibnya kini yang menjadi tukang kerupuk, tidak apa baginya kesulitan dan perihnya dunia harus ia rasakan, tetapi kelak, semoga ia tidak merasakan segala siksaan yang ada di akhirat kelak.
“Yay. Bapak pulang!” sambut anak-anaknya. Mang Ikar melontarkan senyuman kepada anak-anaknya. Senyumnya teramat tulus, tak pernah ia memperlihatkan wajah muramnya. Kecuali, karena tragedi di kala itu. Ketika istrinya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Itulah saat muramnya Mang Ikar untuk pertama dan terakhir kalinya.
Tak pernah memperlihatkan wajah muramnya, bukan berarti Mang Ikar senang karena takdir yang ia jalani ini. Ia lebih memilih menyembunyikan pilunya, lalu ia ceritakan kepada Tuhan. Ia tak ingin memperlihatkan duka kepada anak-anaknya.
“Sudah makan, Nak?” Tanya Mang Ikar. Anaknya serentak menggeleng. Mang Ikar mengerti, pasti mereka menunggu dirinya pulang agar bisa makan malam bersama. “Ya sudah, ayo kita makan. Nih tambah kerupuk makannya, biar kerenyes-kerenyes.” Ucap Mang Ikar sambil tertawa.
“Loh, Pak, kok tumben?” Amir, si bungsu heran. Ia tahu betul Bapaknya tidak akan mengambil jatah dagangan yang sudah dipastikan untuk pelanggan.
“Sudah makan saja. Rezeki ini jangan disia-siakan” Jawab Mang Ikar sambil menyuapkankan kerupuk ke mulutnya.
“Imar, besok beli tahu tempe ya? Sayur juga. Nih uangnya. Simpan baik-baik ya?” Mang Ikar menyerahkan uang tersebut. Bibir anak-anaknya mengembang, senyum sumringah tersungging di wajah anak-anaknya.
Disuapkannya kerupuk berwarna hijau ke mulut Mang Ikar. Sambil mengunyah, terlintas ide untuk memulai usahanya di Kota Metropolitan. Mang Ikar memikirkannya matang-matang. Setelah selesai makan, ia meminta izin kepada anak-anaknya.
Sayang. Anak-anaknya tidak merestui. Mau jadi apa mereka jika ditinggal kedua orang tuanya? “Di Bandung kan bisa, Pak. Mengapa harus di Jakarta? Apa di Jakarta Bapak punya kenalan? Bapak mau tinggal di mana? Udaranya aja masih sejuk di sini Pak. Di sana mah panas. Masih untung di sini bisa tidur walaupun alasnya cuma tikar dan rasanya keras. Coba kalau Bapak ke Jakarta, kehidupan Bapak yang akan menjadi lebih keras.” Jelas Imar, satu-satunya anak perempuan di keluarga Mang Ikar. Perkataannya membuat Mang Ikar mengurungkan niatnya.
“Amar, mau kerja sama Bapak. Bantu-bantu Bapak. Amar bosan di rumah, toh yang sekolah hanya Amir saja kan? Izinkan Pak, selagi Amar belum pekerjaan punya pekerjaan.” Anak sulungnya itu membujuk Mang Ikar agar mengizinkannya berjualan dengannya. Mang Ikar menunduk, bingung harus bagaimana.
***
Esok harinya, masih tetap sama. Mang Ikar dengan kerupuknya siap mengelilingi Kota Bandung. Hanya saja suasananya berbeda, kali ini ia ditemani si sulung. Amar diizinkan untuk mengikuti jejak bapaknya itu. Tidak apa, selagi masih muda. “Semoga dewasa nanti nasibnya tidak sama denganku.” Batin Mang Ikar sambil melirik anaknya.
“Pak, biarkan Amar yang membawa kerupuknya. Bapak tinggal berteriak, menawarkan kerupuknya, ya Pak.” Diserahkannya pikulan kerupuk itu kepada Amar. Mereka berdua menyusuri jalanan Kota Bandung.
“Andai saja Pak Ridwan Kamil lewat. Mungkin dia akan membeli kerupuk kita ya, Pak. Hehe.” Dasar Amar, sedang berjualan pun masih bisa membuat guyonan sekaligus berandai-andai.
Pengandaian Amar tak menjadi kenyataan. Hanya angan yang melayang, lalu terbang tersapu angin. Hari ini dagangannya sepi. Mang Ikar pun mencoba berjualan di komplek baru, tentu saja dengan harapan baru.
Mang Ikar tampak lelah, ia mengajak Amar untuk beristirahat dibawah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi mengantarkan Mang Ikar terbang ke alam mimpi. Beralaskan rumput, ia tertidur pulas. Amar menjaga kerupuk beserta bapaknya.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Seseorang turun dari mobil itu, lalu menghampiri mereka berdua. Dicobanya satu kerupuk, lalu ia makan kerupuk itu. Tak mengecewakan. Rasanya berbeda dari kerupuk yang lainnya. “Berapaan ini Dik?”
“Berapa ya... Eh aduh lupa. Sebentar ya Pak, saya tanya Bapak dulu.” Amar bergegas membangunkan Bapaknya.
“Eh, gak usah diganggu Dik. Bapaknya biar tidur aja dulu.” Cegah Bapak itu.
Amar kembali berhadapan dengan Bapak itu, kepalanya menunduk. “Yah, Bapak tidak jadi beli kerupuknya ya?”
Bapak itu mengulurkan tangannya, mengusap kepala Amar dengan lembut. “Bapak tetap jadi beli, kok. Beli lima bungkus ya, dimasukkan ke dalam kresek aja kerupuknya.”
Amar mengangguk patuh. Perlahan ia memillih kerupuk yang berukuran sedang dan kondisinya yang masih bagus, tidak remuk. Tangannya Amar tidak selincah Mang Ikar, ketika melayani konsumen. Amar terlihat berhati-hati.
Bapak itu menunggu dengan sabar. Sesekali mengajak ngobrol Amar. “Gak sekolah, Dik?”
Amar menggeleng dengan bibir yang sedikit ia lekungkan.
“Loh, kenapa?”
Sambil menyerahkan sekantung keresek kerupuk, Amar menjawab. “Biaya masuk SMA mahal Pak. Kasihan Bapak saya. Jadi di keluarga kami, yang sekolah hanya adik saya yang masih SD. Setidaknya, SD kan masih ditanggung pemerintah ya Pak. Biayanya juga tidak terlalu banyak.”
“Lalu Bapakmu, sehari-hari hanya menjual kerupuk? Begitu? Apa cukup untuk kebutuhan sehari-hari?” Bapak itu lanjut menanyai Amar.
“Alhamdulillah. Tuhan masih memberikan kami nikmat yang banyak, Pak. Mungkin Tuhan tidak mau Bapak dan kami jauh dari-Nya. Jadi, ya... Tuhan memberi kami nasib ini agar kami sekeluarga bisa terus ingat Tuhan. Toh, untuk apa kaya harta, kalau ternyata dia lalai, dia lupa akan keberadaan Tuhan.” Ucapan yang terlontar dari mulut Amar sudah seperti orang dewasa saja.
Bapak itu pun mengambil kerupuk yang telah Amar bungkus, lalu mengambil uang dari dompetnya.
“Makasih ya Dik, sudah mau berbagi cerita untuk hari ini. Semoga kita sama-sama tidak lupa untuk selalu mengucap syukur. Nih, uangnya ambil. Semoga berkah ya.”
Bapak itu tersenyum, lalu pergi dengan mobil yang terlihat mahal di mata Amar. Amar melambaikan tangannya, kepada Bapak itu. Setelah mobil itu menghilang, ia baru menyadari bahwa Bapak itu memberikan uang yang lebih. Ia juga tersadar, Bapak itu tidak menanyakan kelima kerupuk yang ia beli.
“Bapak bangun! Kita dapet uang yang angka nolnya banyak, Pak!”