Tidak semua yang ada di dalam penjara itu napi. Dan tidak semua napi berada di dalam penjara.
Sebuah kota kecil, 15 November 2015
Hari itu adalah hari libur dan aku hanya menghabiskan waktu liburku dirumah. Bermain ponsel dan menjelajah keberbagai situs juga media sosialku. Suara hujan yang turun bersahutan dengan suara lagu yang sengaja kuputar.
Sebuah email yang masuk beberapa menit yang lalu membuatku bangkit, menyalakan laptopku dengan jantung yang semakin terasa akan meledak. Perasaan cemas dengan cepat menguasai tubuhku, bahkan jariku semakin bergetar.
Dengan laptopku, aku membuka email masuk. Membacanya kembali.
From : dreampeople@ymail.com
Subjek : How are you? I feel bad today.
Halo Ren, ini aku. Kau masih mengingatku kan? Kita ada di ruang bimbingan kelompok yang sama dua tahun yang lalu. Bagaimana kabarmu sekarang? Apakau baik-baik saja.
Ren, aku tahu kau mungkin akan terkejut ketika mendapatiku mengirim sebuah email. Tapi, aku tidak memiliki keberanian lagi untuk bertemu denganmu. Atau hanya sekedar melihatmu.
Aku melanggar janjji kita. Diruang bimbingan kita pernah berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh dan merusak masa depan kita. Ren, kau adalah satu-satunya teman yang masih berdiri di sampingku ketika semuanya menjauh, kau masih mau berteman denganku ketika ayahku ditangkap karena pembunuhan berantai.
Ren, aku minta maaf…
Sungguh…
Aku pasti mengecewakanmu, tapi Ren, aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud seperti itu. Ren, aku harus bagaimana?
Tanganku berhenti disebuah URL sebuah halaman di akhir email. Bibirku tidak berhenti mengatakan kata tidak, dan aku tidak pernah berhenti berdoa di dalam hati bahwa semua yang kufikirkan adalah salah.
Aku memilih untuk membuka tautan halaman yang berada pada akhir email. Dan saat itu pula, duniaku terasa berhenti. Sebuah judul yang menjawab doaku dengan pukulan telak yang menyakitkan.
Sebuah judul berita yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Tidak. Bahkan tidak pernah kufikirkan sejak aku mengetahui bahwa dia memiliki seorang ayah yang tidak memiliki perilaku baik.
To : dreampeople@ymail.com
Subjek : [Re] How are you? I feel bad today.
Sam apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa?
Sekarang kau dimana, Sam?
Tolong balas email ini tepat setelah kau membacanya. Tidak peduli bahkan jika kau hanya sanggup membalasnya dengan tanda titik, Sam aku harus tahu kalau kau masih baik-baik saja.
Aku menggigit ibu jariku, sebuah kebiasaan ketika aku merasakan cemas yang berlebihan. Lagu yang sedari tadi masih berputar tiba-tiba berhenti, aku menoleh dan segera meraihnya. Sebuah panggilan masuk.
“Sam!”
“Halo Rena.”
Aku mendengar nada suaranya yang dibuatnya setenang mungkin, meski aku masih mendengar nafasnya yang tidak teratur.
“Kau baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak Rena, tidak ada waktu. Aku harus segera pergi.”
“Kemana?!”
Aku mendengarnya menghela nafas sejenak, “Aku tahu kau sudah membacanya, aku hanya ingin kau percaya padaku bahwa aku tidak melakukannya. Aku tidak menikam orang itu. Tidak Rena, tidak.”
Air mataku menetes, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya tahu garis besarnya, dari berita yang kubaca. Tapi bagaimana aku bisa percaya padanya jika berita itu menyalahkan semua yang terjadi padanya. Temanku. Yang selama bertahun-tahun kukagumi.
“Rena, don’t cry. I’m fine, don’t worry.”
“How can you say it?! How can?!”
“Aku tidak bersalah Rena, ada saksi lain. Dan aku ingin kamu melindunginya.”
“Kau gila?!” Aku berteriak dengan suara yang bergetar. “Dia bisa menyelamatkanmu dari semua tuduhan Samuel, kenapa kau melakukannya?”
“Karena aku percaya pada hukum.”
“Tapi mimpimu, bagaimana dengan mimpimu sebagai polisi…”
“Rena itu tidak penting, aku harus segera pergi dan menyerahkan diriku. Hanya itu pilihan terbaik, aku tidak mau hidup sebagai buronan. Aku sudah memastikan saksi lain menuju kerumahmu. Kumohon jaga dia, oke?”
“Samuel!”
“Dia adikku Rena! Kau mengenalnya, umurnya baru tujuh tahun. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Bahkan jika hukum tidak memihak padaku, kuharap kau menghapus ingatan miliknya tentangku. Semuanya.”
“Sam…”
“Biarlah jika memang mereka membuatku sebagai pembunuh. Tapi jangan adikku. Dia tidak tahu apapun saat ayah ditangkap, dan dia tidak seharusnya tahu apa yang terjadi pada kakaknya. Kupercayakan Nath padamu.”
“Samuel…”
“Kau percaya padaku, kan?”
Aku terdiam. Menahan tangisku yang tidak mau berhenti sedari tadi.
“Rena…”
Aku menarik nafas panjang, “Ya.”
“Ya?”
“Ya. Aku percaya padamu Samuel. Dan aku akan berusaha menjaga Nath sebaik mungkin.”
Setelah sambungan telefon terputus aku segera mengganti baju yang kukenakan. Jika Samuel berkata bahwa Nath sudah menuju ke rumahku tanpanya itu berarti hanya dengan taxi, dia tidak akan tega meninggalkan Nath di bus sendirian.
Aku berdiri di depan rumah, masih menggengam ponselku. Menunggu dengan cemas, jarak ibu kota dengan kota kecil dimana aku tinggal cukup jauh. Dan aku tidak bisa memastikan bagaimana perjalanan Nath.
Hari beranjak sore, gerimis masih saja turun dan Nath masih belum sampai. Aku menghembuskan nafas, menatap keujung jalan kemudian tersenyum tipis ketika sebuah taxi berjalan mendekat kearahku. Ketika aku melihat seorang anak kecil yang sangat mirip dengan Samuel aku tahu dia Nath, dan aku merasa kekhawatiranku sudah seharusnya berkurang. Karena Nath ada disisku sekarang.
Dua tahun berlalu sejak hari itu, dan aku selalu diam-diam menangis ketika mengingatnya. Dewi Themis tidak memihak padanya, pada kami. Aku masih mengingatnya dengan jelas saat akhirnya hukuman dua puluh tahun dijatuhkan padanya aku ingin menangis dengan keras, berteriak bahwa itu semua tidak adil. Sam tidak bersalah.
Ketik melihat Nath tertawa dihadapanku, tersenyum dan dengan nada cerianya bercerita tentang banyak hal. Aku mencoba menepati semua yang diinginkannya, namun membuat Nath tidak lagi mengingatnya bukan hal yang mudah.
Hampir dua bulan Nath tidak pernah berhenti bertanya bagaimana kabar kakaknya. Dimana kakaknya sekarang, dan aku harus mengarang cerita untuknya. Bulan ini, Nath akan berusia sembilan tahun. Dan aku masih tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya.
Sebuah pesan masuk kedalam ponselku, sebuah nomor yang tak kukenal.
Ini aku Jhon. Kau mengingatku, kan?
Ren, ada kabar baik. Kasus Sam akan diselidiki ulang.
Aku bekerja sangat keras untuk bisa pindah ke ketempat ini dan mengajukan permintaan ini. Ren, sama sepertimu. Aku percaya Sam tidak bersalah, dua tahun waktu yang sangat lama kan? Tapi berdoalah. Semoga aku berhasil membebaskannya.
Aku terkejut dan hampir saja menjatuhkan segelas susu yang baru saja kubuatkan untuk Nath. Aku sebisa mungkin mengembangkan senyumku dan memberikan gelas itu pada Nath yang sudah menunggu. Sebelum kembali menaruh perhatian pada ponselku.
Aku dengan segera menyimpan nomor itu dan membalas pesannya.
Jhon, kau tidak bercanda, kan?
Bagaimana caranya?
Aku menunggu pesan balasan dengan perasaan cemas. Perasaan yang sama dengan perasaanku saat mendapat kabar mengejutkan dari dirinya. Ketika ponselku bergetar kembali, aku dengan cepat meraihnya.
Tidak semua orang yang berada di dalam penjara seorang narapidana. Dan tidak semua narapidana berada di dalam penjara. Hukum harus berdiri tegak, seseorang yang tidak bersalah tidak seharusnya berada disana. Percayalah Rena, aku juga ingin dia bebas.
Aku sedikit bernafas lega.
Jhon, aku percayakan semuanya padamu. Tolong bebaskan Sam.
Aku menatap Nath yang masih asik dengan buku yang terbuka di hadapannya dan segelas susu yang sudah hampir habis. Aku menatapnya menutu buku yang sedang dibacanya, membuatnya mengalihkan pandangan padaku.
“Nath,” panggilku dengan suara kecil.
“Ya?”
Tatapan polos seorang anak berumur sepuluh tahun berada tepat didepan mataku. Nath benar-benar seorang Samuel versi kecil, kembali aku meneteskan air mata. Entah untuk keberapa kalinya.
“Kak Rena nangis? Kenapa? Nath nakal?”
Aku menggelengkan kepalaku, mengusap rambut hitamnya yang tebal. “Nath rindu Kak Sam tidak?”
Mata bulatnya mengerjap beberapa kali. “Kak Sam?”
Aku menanggukkan kepala, menjawab pertanyaannya dengan gerakan kepala.
“Rindu.”
“Sungguh? Nath mau kan menunggu sedikit lagi untuk bertemu Kak Sam?”
Aku menganggukkan kepala, sepersekian detik setelahnya sebuah tangan kecil melingkar dipinggangku. Memelukku dengan erat.
Samuel, tahukah dirimu seberapa berat hari yang kulalui saat tahu dirimu tidak memiliki kebebasan? Sam aku percaya padamu, kemarin, hari ini, dan esok. Kembalilah dengan selamat, aku dan Nath menunggumu.
Satu bulan, dua minggu, lima hari. Aku menunggu selama itu tanpa ada kejelasan lebih lanjut, Jhon tidak lagi menghubungiku. Begitu pula dengan media, tidak ada yang memuat berita itu. Aku ingin menangis, tapi aku tahu air mataku tidak akan bisa membuatnya kembali.
Satu hal yang membuatku bertahan selama ini adalah Nath dan juga ucapan Jhon terakhir kali. Bahwa tidak semua yang berada di penjara adalah seorang narapidana, itu berlaku untuk Sam. Aku hanya bisa berdoa dan terus berdoa agar semua penyelidikan dilancarkan dan Sam kebali mendapatkan hak bebasnya.
“Kak Ren.”
Panggilan dan tarikan-tarikan kecil diujung bajuku membuatku menatap Nath yang sedari tadi asyik memakan es krimnya. Aku menoleh, tersenyum padanya. Mengusap ujung bibirnya yang sedikit cemot dengan es krim.
“Ada apa?”
Tangannya menunjuk kearah depan, “Kak Sam pulang.”
Aku mengerutkan dahiku, sebelum menoleh. Menatap seseorang yang sedang tersenyum kearah kami dengan senyum manis, seseorang dengan rambut kecoklatan dan menggunakan kaos putih. Aku menatapnya tidak percaya.
Dia mendekat kearah kami, memeluk Nath dengan erat sebelum melepasnya dan menatapku.
“Sam, bagaimana bisa?”
Dia berjongkok, tepat didepanku. “Semua sudah selesai.”
“Selesai? Sungguh?”
Sam menganggukkan kepalanya, “Terima kasih karena sudah menjaga Nath saat aku tidak ada, dia pasti banyak merepotkanmu, kan?”
Aku menggeleng kepalaku dengan cepat, rasa tidak percaya masih hinggap di tubuhku. Ini nyata? Mungkin kah?
“Kau nyata, kan? Sam, ini sungguh kamu, kan?”
“Ya. Ini aku Rena. Aku saksi, bukan pembunuh. Aku hanya berniat untuk menolong, bukan mencelakakannya.”
Aku menganggukkan kepalaku. Hari ini, 19 November 2017. Aku menunggu hampir lima tahun untuk bertemu dengannya lagi setelah hari terakhir kami di ruang bimbingan. Dan aku sudah menunggu dua tahun empat hari untuk melihatnya mendapatkan keadilan dan kembali bebas.