Adilaa

REMEMBER IT, PLEASE LOVE YOURSELF AND LOVE MY SELF

Namaku Helen. Gadis perempuan berumur 17 tahun yang duduk di bangku kelas XII. Kehidupanku berjalan seperti biasa, tak ada yang menarik ataupun patut dibanggakan. Aku memiliki banyak teman di sekolahku, bahkan bukan hanya teman, aku juga memiliki banyak penggemar pula. Mereka semua selalu membuatku merasa tenang, walaupun menurutku mereka terlalu berlebihan memandangku. Mereka terlalu menganggapku sebagai gadis yang sempurna. Padahal, aku tidaklah berbeda dengan gadis normal lainnya. Memiliki rambut hitam yang panjang, dua bola mata berwarna hitam, tinggi yang cukup, dan paras yang bisa dibilang cantik karena aku adalah seorang perempuan.

Aku adalah salah satu dari deretan idola yang bisa dibilang cukup beruntung. Berawal dari temanku yang menarikku untuk lebih dekat dengan suatu sosial media, instagram. Lalu hanya karena tanganku yang tiba-tiba saja usil, aku membuat sebuah akun dan banyak mengundah fotoku dengan berbagai pose. Kebetulan sahabatku adalah seorang photographer. Tanpa sadar sebuah akun instagram kami berkembang pesat menjadi ramai dan banyak dikunjungi oleh orang-orang. Tak sedikit yang berkomentar tentang wajahku yang lucu, anggun, imut, dan lain sebagainya, bahkan ada juga yang menginginkanku untuk membuat beberapa video yang menarik.

Tanganku tak hanya usil beberapa kali. Untuk kedua kalinya, juga seterusnya, tanganku dengan cekatan menekan layar handphone dan membuat segala macam karya untuk bisa diunggah ke berbagai sosial media. Bahkan, sekarang aku juga mempunyai sebuah channel youtube yang sangat ramai hanya dengan hitungan hari.

Saat aku berada di bangku sekolah menengah pertama. Aku mempunyai satu sahabat yang selalu ada disampingku. Sebenarnya aku sudah mengajaknya untuk tampil bersama di video-videoku, tetapi dia selalu menolak dengan alasan ia menikmati hobinya untuk menjadi photographerku, bahkan waktu itu dia juga pernah berkata jujur kalau dia takut karena tak cukup percaya diri dengan wajahnya dan bisa-bisa penggemarku nantinya akan protes. Akhirnya hari demi hari berlalu, tanpa sadar telah tercipta sebuah tembok dalam persahabatan kami. Sahabatku sering kali canggung jika kami sedang asyik berbincang, terkadang ia juga segan untuk mengingatkanku sesuatu. Semakin penggemarku bertambah, semakin besar pula tembok yang membentengiku untuk bersamanya.

5 tahun berjalan dengan cepat. Setiap hari, aku selalu mendengar jika banyak orang-orang yang mengatakan bahwa aku adalah gadis beruntung sepanjang masa dan mereka menginginkan hidupku. Tapi tahukah kalian? Sering kali aku berharap untuk bisa kembali ke diriku di masa lalu. Saat-saat dimana aku menjadi seperti orang normal lainnya. Bukan, bukan karena aku membenci semua penggemarku yang setiap detik menaruh perhatian kepadaku, bukan karena aku tak menghargai semua cinta tulus yang diberikan oleh penggemarku. Aku hanya ingin seseorang yang mengerti diriku. Bukan kesepian yang mencekat tiap harinya, lembutnya suara udara yang selalu terngiang di telingaku, sunyi yang terus berdiam jauh di dalam hatiku, sakitnya kerongkonganku karena menahan tiap tangisku. Aku akan mengatakannya sekali lagi. Aku sama sekali tidak menyalahkan siapapun. Aku cinta semua temanku, aku cinta keluargaku, bahkan aku juga sangat cinta dengan seluruh penggemarku.

Sampai saat ini aku selalu menyesali masa laluku. Ingin rasanya berhadapan dengan ruang waktu dan berjuang untuk membuat detiknya berjalan mundur, lalu aku akan mengubah masa lalu. Jika waktu bisa terulang kembali, aku akan berusaha mengendalikan tanganku agar tak menyentuh aplikasi itu sedikitpun. Lalu, beranjak pergi dengan sahabatku untuk bermain basket bersama tanpa peduli dengan pesona yang mengelilingi sosial media itu.

Entah sudah berapa lama aku terjebak dalam kebohongan. Dengan senyum manisku yang selalu menghianati hatiku. Dengan perkataanku yang selalu sama setiap kali ada yang bertanya “Apa kau baik-baik saja?”. Dengan pikiranku yang selalu menyelam untuk melihat masa-masa bahagiaku, tanpa peduli semua masalah yang sedang terjadi dalam hidupku di masa kini. Benakku selalu yakin, aku akan terus terjebak dalam kebohongan ini.

Permintaan maaf sebesar gunung mungkin takkan cukup untuk menutup semua kesalahanku pada penggemar-penggemarku. Maaf, karena aku masih belum bisa membuat semua karyaku dengan tulus, selalu saja bagian hati kecilku melakukannya dengan terpaksa. Maaf, karena saat ini aku belum bisa melihat ke depan, dan melupakan semua yang ada di belakang. Maaf, karena aku selalu menggoreskan senyum yang sama dalam keadaan apapun, bahkan keadaan yang buruk sekalipun. Maaf, karena aku selalu menangis diam-diam, dan selalu berusaha kembali dengan wajah tanpa beban. Maaf, karena aku belum bisa membalas semua cinta kalian. Maaf, karena aku tak menjadi gadis sempurna seperti yang kalian inginkan.

Sampai detik ini aku tidak bisa membebaskan diri dari rasa sakit ini. Sakit yang membuatku terluka di setiap sisi tubuhku. Tebalnya goresan luka yang selalu menyertaiku untuk melangkah maju. Punggung tegapku yang kini sudah tak kuasa untuk menahan seluruh beban yang kumiliki. Selamatkan aku dari hukuman ini, siapapun bawa aku keluar dari neraka ini. Kumohon, kembalikan tawaku. Sebenarnya aku sangat ingin melarikan diri, tapi ini selalu terjadi saat aku mencoba berlari.

Aku menginginkanmu yang menatap tepat di depan mataku, aku menginginkanmu yang selalu tertawa bahagia dihadapanku, aku menginginkanmu yang selalu menghibur dan mendengarkan segala kejadian konyol yang kurasakan. Aku menginginkanmu yang selalu menginginkanku. Kumohon kembalilah sahabatku, jangan mencoba untuk menghindariku. Jangan pernah pergi jauh dariku. Ingin rasanya mengucapkan semua kalimat itu padanya, tapi segala yang kuinginkan adalah hal yang mustahil bagiku. Perpisahan sudah jauh di masa lalu, kini hanya tersisa aku dengan segala penyesalanku. Aku berakhir sendirian diatas melodi yang telah berakhir. Menjalani kehidupan hitam putih yang selalu terulang kembali. Segala macam cuaca cerah yang menyambutku, menjadi suatu hal yang kutakutkan. Aku benci tiap hari yang terjadi di masa kini. Aku benci diriku.

Aku selalu membuat peraturan sendiri, bahwa aku harus berolah raga rutin agar bisa melihat senyum para penggemarku. Tapi selalu saja, setiap aku sedang berlari mengelilingi kompleks, ataupun lapangan, pasti wajahku terlalu menarik perhatian orang sekitar. Tak hanya satu orang yang ingin mengambil foto bersamaku, beberapa orang bahkan meminta tanda tanganku disaat yang tidak terduga. Walaupun segala penutup wajah sudah kukenakan, mereka selalu saja mengenali postur tubuhku. Dan aku selalu menjalani semua beban itu sendirian, tanpa seorang pun disampingku. Sahabatku? Entah kemana perginya, ia selalu saja sibuk dengan sekolahnya. Jarak antara sekolah kita memanglah sangat jauh. Bahkan, ia berada di kota yang berbeda dengan kediamanku saat ini, ia sama sekali tak memberiku kabar ataupun sekedar menanyakan keadaanku. Walau begitu, selalu saja hatiku ingin melintasi ruang dan waktu agar bisa melihatnya, apakah dia baik-baik saja.

Tiap serpihan kenangan dengan jelasnya selalu menerpaku. Jiwaku terlekat dalam kenangan di mana aku bisa tertawa dengan polosnya. Aku hancur seperti ini, dengan dirimu yang berusaha kuraih walau nantinya akan hancur berkeping-keping. Ya, karena itu semua hanyalah ilusi. Kau masih bersinar layaknya kupu-kupu indah yang terbang melewati luasnya lautan dan menari diatas awan. Kau seperti kupu-kupu yang selalu menghindar jika aku mencoba mendekatimu. Dan aku, mungkin tak akan pernah bisa terbang ke angkasa sepertimu. Karena aku tidak memiliki sayap. Sebab itu aku merindukanmu. Setiap kali mengatakan hal itu, selalu saja membuatku lebih merindukanmu. Dan tetap merindukanmu, walau aku tengah melihat setiap fotomu.

Waktu begitu kejam, aku membencinya. Sekarang, untuk bertemu saja sangatlah sulit. Aku ingin menggenggam tanganmu sekarang juga dan berlari untuk pergi ke sisi lain dari dunia. Lalu bersenang-senang denganmu, dan melupakan semua goresan luka juga kerasnya dunia. Diriku hancur tapi terlihat tak hancur, gila namun bisa-bisanya masih waras. Aku pernah berkunjung ke psikiater, saat itu orang tuaku datang mendampingi. Saat konsultasi, orang tuaku mengatakan bahwa beliau tak terlalu mengerti diriku. Aku pun tak terlalu mengerti diriku, lalu siapa yang akan mengerti diriku? Temanku? Atau penggemarku? Tak ada seorang pun yang tahu dengan baik tentang diriku.

Sembari berjalannya waktu, yang awalnya hariku selalu berwarna kelabu, tiba-tiba saja sebuah cahaya entah darimana datang menyapaku. Hari itu, aku ingin membeli sebuah buku yang berjudul Jawaban Untuk Hidup Membosankan. Entah mengapa saat aku sedang berkeliling mencari buku bacaan, tiba-tiba saja buku itu muncul tepat didepan mataku. Dengan tekad yang sudah bulat, tanganku yang lagi-lagi usil berusaha untuk mengambil buku itu. Sebuah buku berwarna biru yang terselip diantara buku-buku psikopat lainnya. Tanpa membuang waktu untuk membaca sinopsis buku tersebut. Aku segera beranjak pergi dari toko buku itu, dan menggenggam erat buku yang baru saja kupilih.

Entah takdir ingin menolongku atau sebaliknya. Karena terlalu bersemangat, aku menabrak gadis kecil yang mengenakan baju bergaris merah muda, dan rambut panjang dengan semir warna coklat membuatnya terlihat lebih imut. Ia mengambil barang yang baru saja dijatuhkannya, lalu tanpa sadar judul buku itu tersingkap. Gadis kecil itu menatapku dengan seksama, mengamati mata bulat hitamku. Karena memang hanya itu yang bisa ia lihat, sebagian wajahku yang lain tertutup dengan masker berwarna abu-abu yang selalu kupakai di keramaian.

“Kak Helen?” Tanyanya mantap, sampai aku dibuatnya terkejut dan tak bisa bergerak. Bagaimana bisa, gadis kecil ini dengan mudah mengenaliku? Padahal jika dilihat, umurnya berada di kisaran sekolah dasar.

“Ya?” Tanyaku masih dengan benak yang bertanya-tanya. Bingung, gugup, dan malu karena sudah ketahuan membeli buku terlarang itu menjadi satu. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil ini. Melihat idolanya yang ternyata sangat hina, tak bisa menghargai hidup sama sekali. Apalagi, sampul buku itu sama sekali tak lucu. Sangat suram dan tak pantas untuk dibeli.

“Kenapa buku seperti ini ada ditangan kakak?” Tanyanya polos. Matanya seakan ingin mendapat jawaban kepastian dariku. Jauh didalam sana harapannya pasti hancur, melihat seseorang yang diimpikannya menjadi monster yang mengerikan. Aku terdiam, tak bisa berkata satu pun.

“Kak, tolong ingat apa yang kukatakan ini. Sebelum kau mencintai semua penggemarmu, kau harus mencintai dirimu sendiri. Aku tahu benar, bahwa semua cinta yang kak Helen berikan pada kami sangat tulus. Aura baik selalu terpancar di setiap video yang kak Helen tampilkan. Tapi, kumohon kak… Jangan pernah berani mencintai orang lain, jika kau belum bisa mencintai dirimu sendiri,” Kata gadis itu, semburat wajahnya perlahan berubah menjadi khawatir. Aku lagi-lagi dibuatnya terdiam seribu kata. Terpesona dan mengulangi tiap untaian kata yang diberikan gadis kecil itu. Sebuah kalimat yang selama ini kucari, akhirnya datang juga. Secercah cahaya yang menerangi dunia kelamku, akhirnya menghampiriku. Sedikit kutipan singkat yang sangat bermakna untuk hidupku. Semua yang dikatakannya sangatlah berarti, dan tepat masuk kedalam dasar hatiku. Apakah sekarang dia membenciku? Oh, saat ini bukan saatnya untuk memikirkan semua itu. Aku terlalu banyak terpana, sampai gadis kecil itu tiba-tiba saja telah menghilang dari hadapanku.

Esok cerah menyambut dunia seperti biasanya, tetesan embun seakan saling adu untuk berguling dari helai daunnya. Di dalam apartemenku yang tak asing, aku menyambut hari ini dengan senyum yang berbeda dari sebelumnya. Karena beberapa cahaya menyelinap masuk ke dalam hatiku, aku menjadi lebih baik, bahkan sangat baik. Aku bergegas bersiap-siap untuk membersihkan diri. Walaupun hari ini adalah hari Minggu, tapi kali ini  aku sedang mempunyai rencana besar. Tak ada waktu untuk bermalas-malasan di atas tempat tidur, atau merenung dengan kopi panas di depan jendela. Aku mengambil kamera yang biasa kupakai untuk membuat video, lalu mulai merekam diriku yang sedang berbicara riang. Kali ini benar-benar berbeda. Video yang kuciptakan sangatlah spesial, teruntuk sahabatku tercinta. Semoga saja dia melihatnya.

“Jadi kali ini aku akan bacain sebuah puisi untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Semoga kalian bisa terhibur dan mendalami arti yang ada dalam puisi ini,”

Itu benar,

Hukum bahwa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan

Tapi kau tahu?

Aku ingin menghancurkan hukum itu bagaimanapun caranya

Aku merasa begitu jauh denganmu

Aku ingin bangun sekarang juga. Aku tak suka berada di dalam mimpiku

Selamatkan aku, karena aku tak mengerti diriku sendiri

Di kegelapan yang kelam ini, kau bersinar dengan terangnya

Terimakasih untuk membiarkanku menjadi diriku

Memberiku sayap yang indah

Dan membantuku untuk terbang

Akan ku ulangi lagi perkataanku

Aku masih sama seperti sebelumnya

Lihatlah, kau masih jelas untukku

Hatiku tidak menginginkannya, ini berjalan dengan sendirinya

Aku masih tetap disini tapi kebohongan yang sudah terlalu besar mencoba menelanku

Mengapa aku masih tidak bisa menyerah padamu?

Dengan aku tegar mencoba bertahan pada tiap kenangan yang sangat rapuh

“Terakhir, ini adalah harapanku untuk kalian semua. Semoga aku bisa menjadi orang yang selama ini kalian bayangkan,”