There's some people I'm glad I'm not close anymore
Friend (Part 1) https://tinlit.com/quote-story-contest/1/185
Friend (Part 2)
Asap putih rokok yang bercampur dengan dinginnya udara malam ini. Perlahan mulai menghilang. Sebatang rokok yang tersisa ini pun akhirnya habis. Dan menjadikanku sadar dari lamunanku. Akupun mengalihkan perhatianku ke sekeliling taman.
Sisa-sisa hujan hari ini membuat tidak banyak pengunjung yang datang ke taman ini. Hanya ada beberapa anak laki-laki yang sepertinya masih SMA sedang berkumpul. Bercerita satu sama lain sambil tertawa. Sungguh pemandangan yang membuatku iri. Di lain sisi ada satu keluarga terdiri dari Ayah, Ibu serta anaknya yang baru bisa belajar berjalan. Aku suka sekali dengan anak kecil di usia seperti itu. Usia dimana mereka mulai belajar hal-hal baru dengan cara yang menggemaskan.
“Tidak baik wanita sendirian di tempat ini malam-malam” Tiba-tiba sebuah suara muncul dari arah sampingku. Suara ini tidak lah asing bagiku. Walaupun tidak asing, aku sudah lama tidak mendengar suara ini.
Aku pun menoleh ke arah suara tersebut. Tebakannku benar, suara ini adalah suara yang aku kenal.
“Sudah lama tidak bertemu denganmu. Angga” Sapaku balik “Sepertinya aku tidak melihatmu di acara reuni tadi”
“Saat aku baru datang aku melihatmu keluar, dan aku langsung mengikutimu kemari” Dia berkata dengan sedikit senyum di wajahnya.
“Ahhh, jadi seperti itu” Jawabku pelan. Aku pun terdiam setelahnya.
“Aku kira kamu tidak akan datang Lizz” Tiba-tiba mimik suaranya menjadi pelan dan aku merasa ada sedikit nada berdosa di balik suranya.
“Kamu pasti tidak mengharapkan aku datang kan ?” Jawabku padanya tanpa memandang wajahnya.
“Mungkin memang seperti itu” Jawaban darinya yang entah kenapa sedikit membuatku kecewa. ”Karena aku pasti akan merasa bersalah jika bertemu denganmu lagi” Lanjutnya.
“Apa karena kejadian waktu itu ?” Pertanyaan yang sejujurnya aku sudah tahu jawabannya. Diapun hanya bisa diam setelah mendengar pertanyaanku itu.
Angga adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah ku ijinkan untuk masuk ke duniaku yang sebenarnya. Tanpa harus memasang topeng saat bersamanya. Menjadikanku Lizzy yang sesungguhnya. Setidaknya itu yang awalnya aku pikirkan tentang dirinya. Di awal pertemanan kami akupun sempat terbawa perasaan dan membuat kesimpulan yang salah bahwa dia adalah orang yang berbeda dengan yang lainnya. Pikiran yang naif dari diriku saat itu. Meskipun pada akhirnya semua gambaranku tentangnya salah. Akan tetapi aku tidak akan pernah mencoba untuk membencinya. Karena dia adalah salah satu teman terbaikku.
Sesaat kami hanya bisa terdiam masing-masing. Sekali lagi aku sangat benci moment seperti ini. Sisa-sisa hujan di bulan April.
“Mereka terlihat seperti kita dulu ya” Celetuknya sambil meihat kearah tiga anak muda yang sedang bersenda gurau.
“Benar, seandainya dia datang” Jawabku pelan sambil menatap ke arah tiga anak muda itu. Mengingatkanku kembali ke masa-masa itu.
Surabaya,Desember 2008
Semester ketiga dimasa kuliahku. Hujanpun mulai berdatangan di bulan ini.
Angga dan Vanya, mereka adalah dua orang yang bisa di bilang adalah teman terdekatku saat ini. Aku merasa mereka satu-satunya orang yang bisa membuatku jadi seperti diriku sendiri. Tanpa harus memaksakan apapun saat bersama mereka. Menjadikan seorang Lizzy jadi Lizzy yang sesungguhnya. Itulah pikirku tentang mereka.
Bulan ini aku dan Vanya di sibukkan dengan adanya kompetisi menulis di kampus kami. Salah satu hal yang membuatku bisa cocok dengan Vanya adalah kami mempunyai ketertarikan yang sama, yaitu tentang menulis.
Deadline kami hanya tinggal dua minggu saja. Dan tulisanku baru selesai separuhnya. Sedangkan Vanya sepertinya sudah selesai dengan tulisannya. Karena dia selalu tenang saat aku bercerita tentang tulisanku yang tak kunjung selesai. Vanya adalah tipe orang yang selalu bisa mendengarkan keluh kesah ku, seberapa banyakpun aku mengomel. Vanya selalu memperhatikan ceritaku tanpa pernah mengeluh ataupun mengabaikanku. Meskipun kadang aku merasa aku yang terlalu terbuka dengannya sedangkan dia sebaliknya. Tapi dia selalu bisa membuatku nyaman dengan sikap tenangnya itu.
Seminggu kemudian
Aku, Vanya & Angga, kami bertiga berkumpul di tempat biasa yang kami kunjungi
“Tadaaaa....akhirnya tulisanku selesai juga” Teriakku girang kepada mereka berdua. Sambil aku menyodorkan setumpuk kertas yang berisi tulisanku. “Kalian baca ya, nanti kasih kritik & saran sebelum aku kumpulkan ke dosen pembimbing”
“Aaah pasti isinya cinta-cintaan mulu ceritanya, baca sebaris aja pasti bikin aku ketiduran” Celetuk Angga yang seperti biasa suka sekali menggangguku dengan ucapannya.
“Yee, bilang aja kamu emang males baca buku” Akupun membalas sindirannya.
“Aku gak sabar pingin baca tulisanmu Lizz, hampir sebulan kamu mati-matian bikin ini” Vanya berbicara dengan sedikit tersenyum. Membuatku sedikit senang karena dia menantikan tulisanku.
“Thank you dear, u’re really my best friend Van” Aku membalas ucapan Vanya dengan gembira. “BTW, apa tulisanmu sudah kamu kumpulin Van ? Kamu kok gak ijinin aku baca sama sekali sih, aku kan juga pingin banget baca tulisanmu”
“Aaah, aku gak pede dengan tulisanku Lizz, minggu kemarin sudah aku kumpulin tulisannya”
“Kalau salah satu diantara kalian yang menang traktir ya, heheh” Ucap Angga sambil melirik ke kami berdua dengan senyum menggoda.
“Itu mah mainstream banget, kalau salah satu dari kami ada yang menang maka yang menang yang harusnya di traktir” Ucapku membalas kejahilan Angga sambil tertawa.
“Eh wait-wait, denger-denger si Kevin nembak kamu Lizz” Tiba-tiba Angga mengalihkan topik pembicaraan kami.
“aaah itu, kemarin memang aku sempat pergi berdua sama dia”
“Terus ?”Angga yang sepertinya penasaran menatapku dengan serius.
“Ya seperti itulah” Aku hanya menjawab sekenanya saja.
“Jadi kamu sekarang jadian sama Kevin Lizz?” Vanya pun sepertinya menjadi penasaran dengan topik ini.
“Aku bilang padanya kalau aku gak ada rasa sama sekali dengan dia, lagian aku sibuk sama kuliah plus ikut kompetisi menulis ini” Aku pun akhirnya memberikan jawaban dari topik ini kepada mereka.
“Ehmmm, jadi itu yang kayaknya ngebuat anak-anak bilang kalau kamu itu jaim banget, sampai-sampai bisa nolak cowok sekeren Kevin” Ucap Angga setelah mendengar jawabanku.
Sedangkan Vanya kembali dengan ekspresi tenangnya seperti biasa. Menganggap hal ini adalah hal yang biasa saja baginya. Akupun hanya bersikap diam dengan ucapan Angga tentang penilaian teman-teman kampus kami terhadapku. Karena aku sudah mengerti dari awal tentang penilaian mereka terhadapku.
Deadline
Hari ini adalah batas akhir pengumpulan tulisan yang akan di ikut sertakan di kompetisi menulis. Setelah beberapa minggu aku sibuk dengan tulisanku ini. Akhirnya aku bisa mengumpulkannya hari ini. Akupun pergi ke ruang dosen pembimbing kami untuk memberikan tulisanku ini. Saat aku memasuki ruangan dosen, tidak ada seorangpun disana. Akhirnya aku putuskan untuk menaruhnya saja di meja dosen pembimbing yang terletak di tengah-tengah ruangan. Aku melihat tumpukan kertas yang sepertinya kumpulan tulisan yang akan di lombakan disisi kanan meja. Saat aku menaruh tulisanku di atas tumpukan itu, aku tidak sengaja menjatuhkannya. Sehingga tumpukan kertas itu berserakan. Akupun berusaha merapikannya kembali. Dan saat aku mencoba menaruhnya kembali ketempatnya, aku melihat sebendel kertas dengan nama Vanya di atasnya. Aku yang penasaran dengan tulisan Vanya. Akhirnya mencoba untuk membaca tulisannya sekilas.
Sesaat aku hanya bisa terdiam sambil memegang lembaran kertas tersebut. Pikiranku mendadak kosong dan bingung harus bereaksi seperti apa. Saat aku membaca tulisan Vanya yang aku pegang saat ini. Aku merasa sangat mengenal tulisan itu. Judul itu, karakter itu, dan jalan cerita itu aku sangat mengenalnya. “ITU ADALAH TULISANKU” teriakku dalam hati saat membaca kertas ini dengan nama Vanya diatasnya. Semua itu terlalu mirip jika harus dibilang sebuah kebetulan belaka.
Aku beranjak keluar dari ruangan dengan perasaan kecewa dan bertanya-tanya. Sambil membawa tulisan Vanya serta tulisanku di tanganku. Kenapa seorang Vanya yang aku kenal bisa melakukan ini terhadapku. Pertanyaan itu berulang kali terlontar dalam pikiranku. Aku tidak akan seterpukul ini jika orang itu bukanlah Vanya. Vanya, sosok yang sangat aku percaya lebih dari diriku sendiri.
Akupun kembali ke ruang kelas. Menghampiri Vanya yang sedang sibuk menulis catatannya. Mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini adalah KECEWA. Karena terlalu kecewa, Aku menjadi lupa caranya bagaimana harus marah dengan Vanya. Sesaat aku hanya bisa diam sambil duduk di sampingnya.
“Gimana, udah di kumpulin Lizz”
“ah, iya” Jawabku pelan dan singkat.
“lagi badmood ya”
Aku pun tidak tahan lagi. Maka ku keluarkanlah 2 bendel kertas yang aku simpan di dalam tasku sejak tadi. Sesuatu yang akupun takut akan hasilnya jika aku mengeluarkannya. Takut akan kehilangan Vanya yang aku kenal. Kusodorkanlah kertas itu ke arah Vanya, tanpa berkata apa-apa. Sorot mata Vanyapun berubah. Pupil matanya tiba-tiba membesar, saat mengetahui isi kertas tersebut.
“Aaah, akhirnya kamu tahu juga Lizz” Vanya berkata dengan tenang, tanpa memberikan pembelaan apapun.
“Kenapa Van” Tanyaku padanya
“heemm, karena kamu sudah tahu, sepertinya aku tidak perlu berpura-pura lagi” Sorot mata Vanyapun berubah tajam.
“Aku sangat membencimu Lizz, kamu punya segalanya yang tidak aku miliki. Pintar, cantik, bahkan tulisanmu pun membuatku iri. Dan Kevin yang selama ini aku suka juga suka denganmu. Saat bersamamu, benar-benar terasa memuakkan” Vanya meluapkan semua isi hatinya padaku.
Akupun hanya bisa diam saat mendengar semua perkataan Vanya padaku. Isi hatinya yang sebenarnya padaku. Antara kecewa, marah dan tidak percaya. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Menjadikanku diam.
Setelah selesai dengan perkataannya Vanyapun beranjak dari bangkunya. Melangkah pergi dari ruangan. Aku pun, akahirnya sedikit bisa mengembalikan kesadaranku. Setelah untuk beberapa saat tidak tahu harus berkata apa.
“BERHENTI” Teriakku pada Vanya sambil melempar dua bendel kertas yang aku bawa ke arahnya.
Vanya yang berada di depan pintu pun menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh ke arahku. Teriakanku membuat seluruh mata di kelas kami langsung tertuju kearah kami berdua. Akupun berjalan menghampiri Vanya, dan berdiri di hadapannya. Tanpa aku sadari tanganku pun melayang ke wajahnya.
Sesaat setelah itu, sebuah tangan melayang ke wajahku. Itu adalah tangan yang aku kenal. Tangan seorang Angga. Sejak awal aku sudah tahu jika Angga akan selalu ada di pihak Vanya. Apapun keadaannya. Karena dia memiliki hati untuk Vanya. Yang entah kenapa hanya aku yang menyadarinya sedangkan Vanya tidak.
Sejak kejadian itu, Angga selalu berada di sisi Vanya. Mencoba menghindariku, entah karena rasa bersalah nya atau kesetiaannya pada Vanya. Akupun sadar, sejak awal tidak ada tempat untuk ku diantara mereka.
Akupun, mencoba memasang topengku dan mencoba bergaul dengan kumpulan teman-temanku yang lain. Membuang Lizzy yang sebenarnya & menghilangkan kepercayaanku kepada siapapun. Atau sebenarnya sejak awal aku tidak pernah tahu Lizzy seperti apa diriku ini.
Aku hanya ingin selamat.
Teman-teman sekelas yang akhirnya tahu permasalahan kami pun akhirnya mulai menjauhi & mengasingkan Vanya. Satu dari sekian alasan kenapa Angga selalu bersamanya. Terkadang akupun berpikir itu adalah hukuman yang pantas untuk Vanya atas perbuatannya padaku. Tetapi kenapa rasanya aku menjadi sangat menyesakkan & menyedihkan.
Saat menginjak akhir semester lima Vanya pun akhirnya memutuskan untuk pindah kota. Tanpa memberitahu siapapun, bahkan Angga. Karena aku bisa melihat ekspresi kehilangan dari wajahnya dengan sangat jelas.
April 2017,
“Aku balik dulu” Akupun beranjak dari tempat duduk taman dan berpamitan dengan Angga.
Berusaha menatap wajahnya lagi. Yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya.
“eehmm..hati-hati” Jawabnya pelan.
Sampai saat ini pun kata maaf tidak pernah terucap dari Angga kepadaku sejak kejadian itu. Akupun berusaha berpikir jika itu adalah caranya agar tidak pernah bisa di maafkan olehku. Hukuman untuknya karena berada di sisi Vanya, bukan aku.
Hawa dingin bulan April seketika menghilang dari diriku. Membuatku kembali sadar. Tidak ada tempat untukku bersandar selain diriku sendiri. Akupun harus tetap berusaha agar bisa selamat dari kumpulan orang-orang sosial di sekitarku. Meskipun harus dengan topeng & kesombonganku. Karena hanya itu satu-satunya kekuatan yang aku miliki. Agar tetap bisa selamat tanpa bersandar pada siapapun.
Seorang Vanya yang saat itu pernah berkata iri akan kehidupanku yang terlihat sempurna. Apakah dia masih akan merasakan hal yang sama saat melihat hidupku yang sekarang? Apakah dia akan merasa berdosa saat melihatku sekarang ? sesaat aku merasa senang saat ini kita tidak bertemu lagi.
The End.