Catherine12

Lebih mudah mengubah persahabatan menjadi cinta daripada cinta menjadi persahabatan

Kususuri jalan menuju kelasku, kebiasaan yang mulai aku benci sejak pertengahan semester satu kelas 10. Walaupun hari ini hari pertama di semester kedua, tetapi aku sama sekali tidak punya semangat. Aku sudah tidak tahan berada di kelas ini. Kalau bisa aku akan pindah sekolah. Jujur saja aku tidak punya teman perempuan. Sekalipun ada, mereka hanya berteman denganku karena aku pintar dan juga polos sehingga bisa dimanfaatkan. Hal itu juga aku ketahui karena diberi tahu temanku, Sebastian. Lama kelamaan, mereka sadar bahwa aku tahu mereka memanfaatkanku. Bukannya meminta maaf, mereka malah menjauhiku dan sering kali menertawakanku. Aku hanya bisa diam karena aku sadar aku tidak mungkin menang melawan mereka. "Eh, ngelamun aja Chelsea mah." Aku benar - benar kaget, aku tidak sadar kalau aku sudah ada di kelas. "Eh, Bas! Ngagetin aja!" Sebastian selalu saja mengagetkanku, paling sedikit satu kali dalam sehari. "Abisnya kamu ngelamun terus. Mending kamu ceritain masalahnya ke aku. Siapa tahu aku bisa bantu kamu." jawab Sebastian. Aku menolak untuk bercerita. Untungnya bel berbunyi, jadi Sebastian tidak memaksaku terus untuk bercerita. Tetapi, saat istirahat Sebastian tetap memaksaku. Awalnya, aku ragu. Tetapi setelah dia memelas kepadaku, akhirnya aku bercerita juga. Ternyata, dia pendengar yang sangat baik dan dia mengerti perasaanku. Entah kenapa, candaan dan tawanya membuat aku bahagia. Mungkinkah aku jatuh cinta padanya? Kusingkirkan pikiran itu secepat mungkin. Tidak mungkin Sebastian akan menerimaku, lagipula kita hanya teman. Aku tidak ingin merusak hubungan pertemanan ini. Lagipula, sudah bagus dia mau jadi temanku, baru sebentar pula. "Eh, mikirin apalagi? Kamu sampe bengong gitu." tanya Sebastian. "Tidak apa - apa kok." jawabku terbata - bata.

***

Seiring dengan berjalannya waktu, aku dan Sebastian semakin dekat. Kami sering bercerita tentang kehidupan kami masing - masing. Dia perhatian padaku, selalu membantuku belajar, dan juga setiap hari menanyakan kabarku. Aku pun jadi semangat untuk pergi ke sekolah. Aku pun semakin menyadari bahwa aku mencintai dia, tetapi di sisi lain aku ragu karena aku tidak mau kehilangan sahabatku. Hmmm daripada terus menerus dilema, lebih baik jalani dulu saja lah. Lebih baik memendam perasaan ini saja. Aku tidak mau hal ini berubah menjadi masalah baru. Aku terus menunggu, lebih tepatnya mencoba untuk sabar menunggu.

***

Saat akhir semester, Sebastian mengajakku pergi makan siang ke sebuah restoran. Perasaanku tidak karuan entah kenapa. Mungkinkah dia memiliki perasaan yang sama? Ataukah dia tahu perasaanku sehingga dia ingin aku menjauh darinya? Cepat - cepat kusingkirkan semua pikiran itu dari benakku. Aku tidak ingin terlihat panik olehnya. "Chel, kenapa kaya tegang gitu?" tanya Sebastian. "Ah, sial" kataku dalam hati. Ternyata dia tahu kalau aku panik dan tegang. Jadi cowo kok peka banget. Aku seneng sih, tapi kan waktunya tidak tepat. "Tidak apa - apa kok, Bas! Kaget aja sih karena kamu ngajak aku makan bareng di restoran." jawabku malu - malu. "Aku ngajak kamu ke sini karena aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Deg... aku jadi tambah tegang. Setelah hening beberapa saat, aku pun bertanya, "Kalau mau ngomong kan, kenapa ga di sekolah aja?" "Karena ini spesial. Aku tahu kamu pasti ga suka kalau aku ngomong kaya gini di sekolah." jawab Sebastian sambil tersenyum. Kenapa ya, dia selalu bisa bikin aku seneng? "Emang mau ngomong apa?" tanyaku sambil membalas senyumannya. Tiba - tiba dia yang menjadi tegang entah kenapa. Kutunggu dia dengan tegang pula. Aku takut ini akan berakhir buruk. Kusiapkan mentalku untuk menghadapi yang terburuk. "Chel, sebenernya aku suka sama kamu. Mau ga kamu jadi pacar aku?" Akhirnya harapanku terkabul setelah sekian lama menunggu.

***

Hari - hariku berubah 180 derajat. Aku jadi semangat untuk pergi ke sekolah. Aku selalu ingin ketemu Sebastian. Kebahagiaanku bertambah karena akhirnya aku punya satu teman perempuan, namanya Anne. Aku dekat dengannya karena kami berada dalam satu ekstrakurikuler. Teman - teman di kelasku juga tidak menertawaiku lagi karena mereka tahu aku pacar Sebastian, mereka kan teman Sebastian. Tidak mungkin kan mereka mengejek pacar temannya. Aku juga sering pergi makan dan jalan - jalan bareng Sebastian. Dia juga selalu mendengarkan ceritaku. Terkadang aku suka marah - marah tanpa alasan ke dia, tetapi dia tidak marah. Sungguh aku merasa bahwa aku manusia paling bahagia di dunia ini.

***

Aku pikir kebahagiaanku tidak pernah hilang, walaupun sekarang aku dan Sebastian beda kelas. Hmmm. Tetapi akhir - akhir ini Sebastian berubah. Dia tidak peduli padaku. Dia lebih peduli sama satu teman perempuannya, bahkan waktu dia sakit dibawain tasnya. Semakin aku marah dan bertanya tentang perempuan itu, dia semakin tidak peduli. Apakah aku tidak berhak marah? Aku tidak tahu harus ngapain lagi. Aku putus asa. Akhirnya kuputuskan untuk bercerita ke Anne. Karena dia juga tidak terlalu mengerti tentang cinta, sarannya kurang membantuku. Kemudian aku bercerita ke Hansen, teman Sebastian. Dia menyarankan agar aku tidak terlalu sering marah kepada Sebastian agar dia sadar dengan sendirinya. Baru saja mau aku lakukan hal itu, Sebastian ngechat aku. Dia bilang dia tidak ingin jadi pacarku lagi.

***

Sungguh sakit hatiku ini. Aku tidak mengerti kenapa dia tega padaku. Hati ini hancur, aku kehilangan arah. Aku tidak tahu lagi apa tujuan hidupku ini. Ingin rasanya aku marah... tetapi itu tidak ada gunanya. Dia tidak akan mendengarkanku. Lalu, apa yang harus kuperbuat? Cobaan apa lagi yang harus aku hadapi? Kubiarkan pertanyaan itu tak terjawab dalam kesunyian malam, yang terdengar hanyalah suara tangisanku.

***

Ternyata tangisan dapat membantuku meluapkan emosi yang tak tertahankan ini. Aku tidak tahu aku harus bagaimana terhadapnya. Apakah aku harus marah? Ataukah aku harus melupakan kenangan itu dan kembali menjadi sahabatnya? Tetapi, melupakan kenangan bukanlah hal yang mudah. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Hmm.. Apakah lebih baik aku pergi menjauh darinya? Tetapi, aku tidak bisa kehilangan sahabatku. Rasanya lebih berat kehilangan sahabat daripada kehilangan pacar. Daripada pusing memikirkan hal itu, lebih baik aku memutuskan.... aku akan berusaha melupakan kenangan itu dan bersahabat dengannya lagi.

***

( 1 bulan kemudian )

Aku masih berusaha melupakan kenangan bersamanya dan juga bersahabat dengannya lagi. Kalau soal melupakan, aku masih bisa terus berusaha.Walaupun terkadang aku masih menangis ketika mengingat kenangan itu. Kenangan itu selalu mengisi benakku, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kenangan itu semakin berkurang dari dalam benakku. Hanya beberapa hal saja yang masih ada di ingatanku. Hal yang sangat sulit adalah kembali bersahabat dengannya. Semua cara sudah kulakukan, tetapi semuanya gagal total. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku sungguh kehilangan sosoknya sebagai sahabatku, yang selalu mendukungku di setiap saat. Tetapi, aku sudah lelah mencoba. Lagipula, aku juga punya Anne dan Hansen, serta teman - teman baruku. Buat apa aku terus menerus berusaha untuk hal yang tidak mungkin. Lebih baik kurelakan saja.

***

( 1 tahun kemudian)

Terkadang, aku tidak percaya kalau aku sudah melewati peristiwa kelam itu selama 1 tahun. Aku juga tidak percaya kalau misalnya sekarang aku juga sudah punya pacar lagi. Aku pikir kebahagiaanku tidak akan pernah kembali lagi. Tetapi, ternyata kebahagiaan itu kembali melalui orang lain. Aku sudah tidak memikirkan Sebastian lagi, walaupun kenangan tentangnya masih ada dalam benakku. Dan aku sadar bahwa kebahagiaan itu bisa datang dari mana saja, tidak perlu berharap kebahagiaan itu datang dari orang yang kita inginkan saja.

~