yasmisaniatulm

“I don’t need someone perfect. I need someone who loves me, respect me, cares for me and understands me.”

RELATIONSHIP

 

Pagi yang cerah ini membuat Alvina berangkat lebih awal, dengan sengaja ia berangkat bersama kekasihnya Dikta. Setelah tiba di sekolah mereka berjalan menelusuri koridor sekolah .

“Belajar yang bener ya,” ucap Dikta tersenyum hangat, sehangat mentari di pagi ini.

“Iya, Kamu juga.” Alvina melangkah lebih dulu meninggalkan Dikta yang masih memandangi punggunya yang terus menjauh.

Dengan langkah santai Alvina menghampiri bangkunya. “Eh Sekar!” sahut Alvina melihat teman sebangkunya yang baru saja datang. “Iya, permisi dong,” Alvina beranjak dari kursi yang ia duduki dan memberikan jalan untuk Sekar duduk di sebelahnya.

Pelajaran matematika ini sungguh melelahkan, bagaimana tidak lelah, mengerjakan tiga puluh soal dan tidak boleh menggunakan cara cepat. Harus menggunakan cara manual dan tentunya membuat isi sebuah soal saja menjadi satu halaman. Sang dewa penyelamat akhirnya datang, bel istirahat berbunyi.

“Sekar! Ayo!” Regia memanggil Sekar dengan nada tinggi, Alvina menoleh pada Regia yang kebetulan ada di depannya itu, namun sebuah tatapan menyebalkan yang didapat Alvina.

‘Lah, kenapa Regia? Dateng-dateng langsung sinis’ batin Alvina.

Sekar keluar kelas bersama Regia. Dan Alvina duduk sendiri di bangkunya. Memainkan ponselnya yang tidak ada notif satupun dari Dikta. Dari tadi jarinya sibuk menscroll layar ponselnya namun hasilnya tetaplah sama.

Bel masuk berbunyi seluruh siswa masuk kembali kekelasnya masing-masing. Begitupun dengan Sekar dan Regia yang masuk kelas dengan tawa diantara mereka. Alvina mengambil buku tulisnya didalam tas namun, jaketnya jatuh ke lantai. “Eh maaf jaket aku,” ucap Alvina yang kesusahan karena Jaketnya terinjak oleh Sekar.

Hanya gerakan perpindahan kaki saja tanpa ada ucapan maaf karena telah menginjak jaket Alvina. Jelas saja membuat Alvina termenung, mengapa Sekar memperlakukan dirinya begitu. Jelas hari ini baik-baik saja.

Disaat pulang tiba, biasanya Sekar pulang bersama Alvina dan mereka berpisah di luar gerbang sekolah. Tapi tidak dengan hari ini. “Ayo pulang,” sahut Alvina. Namun baik Sekar ataupun Regia tidak menyahutnya. Dalam benak Alvina, dia mengira kedua temannya tidak mendengarkan apa yang dikatakan dirinya, maka ia mencoba sekali lagi. “Aku duluan pulang,” masih tidak ada jawaban. Alvina terpaksa pulan sendirian menuju gerbang sekolah.

Tuhan berkehendak lain, Dikta dengan bahagianya tengah berbicara dengan perempuan yang Alvina kenal sebagai murid pindahan dari luar kota. Yang juga ia tahu cukup dekat dengan Dikta. Hatinya begitu panas saat Alvina berjalan mendekati mereka berdua, Dikta menarik lengan perempuan itu lalu berjalan menjauh.

Disaat seperti ini, kekasih memang bukan segalanya. Tapi penderitaan Alvina hari ini berlipat ganda. ‘Memang seharusnya manusia tidak udah menggantungkan harapannya terlalu jauh pada manusia lain,’ perkataan itu tenggiang dikepala Alvina. Betul dirinya memang terlalu menggantungkan harapan pada kekasihnya juga pada Sekar.

Rencananya setelah pulang sekolah Alvina ingin menceritakan kejadian hyang baru saja dialami dirinya di kelas. Tapi Dikta malah asaik degan perempuan lain. Lagi-lagi harapan membuat hatinya terluka.

‘Kekasih bukanlah segalanya dari pada teman,’ tetapi perkataan itu tidak membuat Alvina merasa harus mendahulukan teman. Tetapi dia harus meluruskan keduanya. Pertama dia harus memperbaiki situasinya dengan teman sebangkunya. Dan yang kedua dia harus menanyakan yang sebenarnya kepada Dikta.

 ***

Alvina merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk, menarik selimut secara kasar. Hatinya kembali sakit, sunguh Dikta yang dia kenal benar-benar burubah. Alasannya hanya karena perempuan itu sedang sakit.

Flasback

Dengan wajah lesu Alvina memasuki kamarnya disaat itu juga ponselnya bordering. Mendakan sebuah panggilan masuk. Ternyata dilayarnya tertera nama Dkta. Tanpa ragu ia menggeserkan tombol hijau.

“Hallo,” sapa Alvina dengan nada lemah.

“Haha, stop it!” terdengan suara percakapan antara dua orang.

“Dikta?” Tanya Alvina dengan suara paraunya, dirinya menahan tangis yang sebentar lagi akan keluar.

“Alvina?” Tanya Dikta yang akhirnya menyaut.

“…” Alvina sudah tidak bisa menahan tangisnya.

“Kamu nangis?” Tanya Dikta.

“…” Tidak ada jawaban dari Alvina, dia memilih menahan tangisnya yang semakin menjadi-jadi.

Sambungan ponsel terputus.

 Flashback off.

 

Itulah mengapa Alvina menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut lalu menangis sejadi-jadinya. Mengapa semua ini sangat membuatnya sakit hati. Membuatnya merasa tersiksa sedemikian rupa. Besok adalah hari sabtu dan itu artinya dia bisa seharian diam di rumah.

***

Hari ini cuaca tidak mendukungnya, guyuran hujan membuat kebanyakan orang enggan untuk turun dari ranjangnya dan kembali terlelap kedalam alam mimpi. Tapi Alvina malah memberanikan diri untuk pergi ke sekolah menggunakan angkutan umum.

Setelah turun dipemberhentian angkot yang jaraknya dekat dengan sekolah. Alvina menangkap seseorang yang beberapa hari ini mebuat hatinya sakit, turun dari angkutan umum juga. Alvina terdiam menatap Dikta yang sedang menatapnya juga.

“Hai,” Alvina masih terdiam mengamati wajah Dikta. “Vin?” Tanya Dikta. “Hm,” Alvina malah bergeming. “Kamu kenapa sih? Kalau ketemu suka ngehindar atau malah diem kaya gini?” Tanya Dikta. “Kok malah nanya sih! Ya Tanya diri sendiri.” Alvina pergi meninggalkan Dikta.

Dikta masih mencoba untuk berpikir kesalahan apa yang telah dia perbuat, dengan sekuat tenaga ia berlari mengejar Alvina. “Vin!” Alvina menoleh dan menemukan Dikta tepat di belakangnya dengan nafas tersenggal. “Pulang sekolah aku jelasin semuanya,” Dikta berkata seperti itu dengan pikiran yang terus berputar, ia mengigat kenapa Alvina bisa bersikap seperti tadi.

Sepulang sekolah Dikta menemui Saras, perempuan yang menyebabkan Alvina cemburu. “Sekarang Dik?” Tanya Saras. “Iya, lo langsung ke kantin. Nanti gue susul.” Dikta pergi meninggalkan Saras.

Dikta menemui Alvina dikelasnya. “Vin,” sahut Dikta. “Hm,” wajahnya muram. “Ayo, biar semuanya beres,” Dikta menarik tangan Alvina. Membawanya kekantin untuk bertemu dengan Saras.

Dikantin Sarah sudah duduk dengan manis, menantikan Dikta dan Alvina. Dikta berjalan memimpin Alvina, dirinya takut sesuatu hal terjadi lebih buruk dari apa yang dibayangkannya. Maka dengan itu Dikta memimpi langkah.

Dalam benak Alvina, ketakutan melanda dirinya lebih kuat dari pada biasanya. Dikta mengulurkan tangannya. “Untuk apa?” Tanya Alvina, ragu untuk menerima uluran tangan itu. “Aku tahu kamu takut, aku gak akan buat kamu sakit hati lagi,” dengan ragu Alvina menerima uluran tangan Dikta dan melanjutkan langkahnya menuju kantin.

Setelah sampai di kantin, Dikta mencari sosok Saras. Dikta menarik lembut tangan Alvina mendekati Saras. Dirinya harus bisa membuat Alvina tidak salah paham lagi. Dugaan Dikta benar, langkah Alvina terhenti saat dirinya menarik lengan Alvina mendekati Saras. “Supaya semuanya jelas,” Dikta mencoba menguatkan Alvina. Akhirnya Alvina melanjutkan langkahnya dan telah duduk di hadapan Saras.

“Langsung ke intinya aja!” ada nada yang tidak suka saat Alvina menatap Saras. “Ok, aku bakalan jelasin apa yang sebenernya terjadi,” Dikta menatap Alvina dan Saras bergantian. “Aku bawa kamu kesini supaya gak ada salah paham antara kamu sama Saras,” Dikta menghembuskan nafas dengan berat. “Alvina, aku sama Saras gak ada hubungan apapun selain teman. Aku Cuma mau bikin kenangan disisa waktunya dia sekolah disini. Gak ada maksud apapun untuk bikin kamu sakit hati sampe nangis. Gak ada maksud apapun,” Dikta menggenggam tangan Alvina lebih erat.

“Iya, aku minta maaf udah buat kamu sedih, gara-gara aku deket sama pacar kamu. Kita temenan aja gak lebih kok. Aku gak mau saat aku pindah nanti aku masih ngerasa bersalah sama kamu,” Saras tersenyum ramah, hatinya lega telah meminta maaf pada Alvina.

Tapi Alvina masih merenung, mengapa semuanya begini. Diluar pemikirannya. “I don’t need someone perfect. I need someone who loves me, respect me, cares for me and understands me.”

Alvina, tersenyum hatinya tidak boleh egois menolak permintaan maaf dari Saras, bahkan dengan baiknya dia mau meminta maaf pada Alvina secara langsung. Di zaman sekarang mencari orang seperti Saras itu susah. Jarang ada orang yang mau meminta maaf secara langsung serta mengakui kesalahannya.

“Aku maafin kamu kok,” bibir Saras tertarik melengkung membentuk sebuah senyuman manis yang terpancar di wajahnya. “Makasih ya,” ucap Saras. “Nah kalau gini kan enak, kamu gak salah paham lagi sama Saras.” Dikta menatap Alvina manis. “Iya, maaf-in aku ya,” Alvina menunduk dirinya te;ah salah sangka. “Iya, udah ya.” Dikta mengelus kepalanya pelan.

Disaat yang bersamaan dating Sekar dan Regia dating menghampiri mereka. “Hai…” sapa mereka berdua lalu duduk disamping Saras. “ Kita mu minta maaf, kalau kamu gak enak sama sikap kita.” Sekar dengan lantangnya.

“Loh, gak apa-apa kok,” ucap Alvina dengan senyum yang mengembang di wajahnya. “Yaudah jadi kita gak salah paham lagi ya,” sahut Regia.

Ternyata sebuah salah paham bisa merembet menjadi masalah yang rumit. Maka hindarilah sebuah ke salah pahaman. Jangan menyimpulkan semua hal dengan kejadian yang terjadi menjadi sebuah masalah. Belum tentu semua hal itu benar adanya. Hingga menimbulkan sebuah masalah yang besar.

TAMAT