Tertimbun Masa Lalu
Mentari menerobos tembus ke tulang rusuku. Hamparan hijau melumuti selukuh permukaan taman, pohon waru meliuk di tiup angin sisa hujan semalam dan bunga mawar putih nampak lebih segar dari kemarin, bertengger di samping rumah dekat dengan kamarku, menampung embun pada kelopaknya. Puluhan bunga bougenville merekah serempak di pembatas tembok taman.
Kalam waktu yang semakin lamban, aku hanya memandangi bingkai foto itu dengan iba, masa lalu yang getas. Aku ikhlas dengan takdir ku Tuhan, merengkuh jalan cerita atas qadarullah. Kini aku paham arti sajak pengorbanan, arti ritus dentang rindu yang semakin di pendam semakin tumbuh menjulang.
"Non Lisa"
Bik Mirna memanggil lembut, membawa nampan berisi sereal dan beberapa pil obat sebagai tradisi sarapan keseharianku. Di letakkannya di samping bangku yang ku duduki. Tempat di mana aku terpekur membuang waktuku dengan sia-sia, aku tak perduli secara sudut pandang naif para tetangga menganggap ku gila atau depresi tapi aku masih punya Bik Mirna dan Pak Bambang tukang kebun yang setia menganggapku waras.
"Obatnya di minum ya Non"
Aku menoleh bersitatap dengan Bik Mirna, tersenyum datar. Bik Mirna, ibu berkantung mata tebal bergaris dialah sosok wadah tumpah ruah jera air mata hidupku. Ia yang tahu bibit bobot hidupku yang penuh kegundahan, kini raut kriputnya mempersaksikan usianya yang ke empat puluh tahun sedangkan aku dua puluh lima tahun. Bik Mirna berlalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
Tiga puluh menit kemudian Bik Mirna kembali membawa info.
"Non di depan ada tamu nyari Non"
"Siapa Bik? "
" Kurang tahu Non, kayaknya belum pernah ke sini. Orangnya perempuan yang satu laki-laki kayaknya suaminya Non" aku masih terpaku pada bingkai foto di pangkuanku.
" Suruh dia ke sini Bik"
" Tapi kan kita gak kenal Non, kalo orang jahat gimana? " jawab Bik Mirna penuh antusias.
" Ga papa Bik, lagi pula apa yang perlu di takuti dari hidup ini. Harta dan diri ini sudah tidak ada arti apa-apa lagi. Dan jika aku mati di bunuh penjahat itu tidak akan ada yang merasa kehilangan bukan? "
Kalo sudah begitu, Bik Mirna langsung tertunduk tak banyak bicara. Pergi mematuhi apa yang aku perintahkan.
Suara ketipak sepatu mulai mendekati. Aku tak berkutat apalagi menoleh, tetap egois dengan sinatapku. Seketika tangan lembut merangkul kedua pundakku, aku mendongakan kepala ke atas.
"Anisa! " aku terkejut bukan kepalang, kakiku tonggak berdiri bersitarap lamat-lamat dengannya.
"Kenapa mau datang gak bilang-bilang dulu" dia langsung mendekap erat, berkaca-kaca.
"Ini surpise untuk sahabat ku tercinta, aku kangen banget sama kamu udah tiga tahun kita gak ketemu iya kan" aku memejamkan mata meresapi dekapan yang sudah lama terlarut waktu. Seketika tanganku mendadak lemas tak berdaya, tanganku mengendorkan pelukan kami. Menatap pria yang tak asing berdiri membelakangi kami, dia tak menoleh. Aku paham betul sileut tubuhnya, tentang siapa dia dan aku tahu mengapa ia bersikap demikian.
Untuk meredakan suasana, aku merujuk mereka masuk ke dalam rumah. Di suguhi teh manis bergandengan dengan beberapa toples kue kering.
"Jadi gimana kabar kalian? " aku mulai membuka pembicaraan.
" Alhamdulillah sangat baik, kami sangat bahagia. Terima kasih atas segalanya Lis"
Aku menyeringai, hatiku lega mendengar keluarga takzimnya yang sudah sangat bahagia. Katanya.
"Lalu apa kalian sudah di karuniai amanah dari Allah? " Anisa termenung beberapa saat, seketika ke empat bola mata mereka sembab kian redup.
" Belum Lis" Jawabnya lirih, hampir tak dapat mencangkup suaranya. Sekarang mereka saling termangu menatap cangkir mereka masing-masing, matanya sayup dan gerogi gelagapan. Aku tahu aku telah membuat hati mereka tak nyaman, tanpa sengaja. Sudah tiga tahun lebih menjalani manis pahit kehidupan pasti akan terasa kurang lengkap tanpa momongan. Dan Allah belum mengizinkan itu, tentu hari-harinya mengambang kabut tanpa si kecil.
"Emm jadi gimana ceritanya kok kalian bisa nyampe Bogor? "aku mengalihkan perhatian, sekaligus menebus dosa lidahku yang ku lontarkan barusan.
" Iya kebetulan kami lagi liburan ke Puncak jadi sekalian mampir ke sini. "jawabnya mendongak sembari menepis poni. Perbincangan hangat terlarut waktu hingga beberapa jam, lalu aku menggamit Anisa menuju kamar tamu di lantai dua.
Seminggu bagai satu jam,canda tawanya sebentar melebur mengambang di ruang yang selalu sunyi ini. Hanya tinggal suara tawa dan bayangan mereka duduk manis di meja makan atau kadang kala di taman samping rumah. Mereka pulang begitu cepat, tepatnya saat matahari menyingsing tinggi di balik gedung-gedung yang tinggi mencakar langit. Sekitar jam sepuluh pagi perkiraan.
Aku terpaku di tonggak pintu, melihat mereka berusung koper ke dalam mobil. Dan menutup mobil, mataku hendak pecah berkaca-kaca. Mereka tersenyum melambaikan tangan sebelum akhirnya hilang menembus gerbang utama.
Secerca air menyeka mataku menggulai lemah di depan cermin, badanku yang semakin hari semakin kering layaknya orang terserang penyakit Marasmus atau lebih tepatnya kurang gizi. Padahal protein, serat, karbohidrat, vitamin masih tidak cukup untuk sehari-hari belum lagi obat vitamin dan nafsu makan. Tapi semua seperti orang makan dan keluar menjadi dubur. Tidak ada reaksi apapun. Miliaran uang hanya sebagai sedekah rumah sakit, aku tak perduli apa yang akan terjadi pada hariku esok, walau aku tak tahu dia akan menangis atau tidak jikalau suatu saat tubuhku yang kering ini terkubur di pusara merah, cacing belatung dan serangga lainya pasti sudah lapar menungguku. Tunggu dan sabarlah sebentar, cepat atau lambat kalian bisa menyantap daging ku secara cuma-cuma.
Malam menusuk rongga kulitku, nuansa seperti biasa selalu hening tak bersua hanya suara Bik Mirna sibuk beres-beres di dapur, aku membuka laptopku ingin memastikan kabar dari sahabatku selang satu bulan setelah menginjak rumah ku. Karena saat ini aku hanya punya dia, Bik Mirna dan Pak Bambang, orang tuaku sudah pergi meninggalkanku sejak kecil. Aku merajut karirku dengan jarum-jarum kehidupan yang tajam hingga sampai saat ini dan rumah ini, apartemen, pabrik, toko-toko buku menjadi buah dari bibit yang ku tanam dulu.
Kebetulan sekali ia sedang online, aku menyapanya lewat Via e-mail.
Lisa : "Anisa apa kabar? "
Anisa :" Alhamdulillah. Baik :) "
Lisa :" syukurlah, bagaimana keadaan suamimu? "
Tidak salah bukan basa basi tentang kabar suaminya, hanya sebagai garis bawah kepatutan saja. Sepuluh menit belum terbalas juga.
Anisa :" Boleh aku jujur Lis. Tentang segala faktamorgana hidupku, tentang sandiwara dan skenario keluarga kecilku, tentang rasa bimbang yang menyelimuti hariku setiap persekon.
Maaf sebelumnya aku telah berbohong, berbohong pura-pura bahagia di depanmu. Tapi aku tak tahu harus mengadu kepada siapa selain dirimu sahabatku satu-satunya. Kau masih ingat saat dulu kau bertanya "Apa kalian sudah mendapat momongan?" pada saat itu hatiku hancur terpukul, hancur sehancur-hancurnya. Aku tidak mandul aku normal begitu juga dia normal, lalu kenapa? Dan bagaimana bisa aku mendapat kehadiran seorang bayi mungil di gendonganku tanpa di sentuh. Hanya sentuhan dingin yang berkarat selama tiga tahun ini. Aku tidak tahu sedari dulu Kak Hendra bersikap demikian, tak pernah menyentuhku terkecuali kecupan kaku di saat acara pemotretan prawedding kami dulu. Dan hanya itu.
Maaf, aku mengganggu fikiran mu tapi aku butuh pendapat mu. Salahku dimana? Harus bagaimana? Aku lelah dengan sandiwara ini, kesabaran ada batasnya juga bukan?
Terima kasih
Anisa"
Kursor ku berkedip lama. Sandiwara, bohong, dingin apa yang sebenarnya terjadi. Aku bingung harus melata dengan kata apa, tulisan sependek ini berkecambah di otakku. Aku berusaha berfikir keras apa, ada apa dengan Kak Hendra. Dulu ia tampak sangat menyanjung dan memuliakan Anisa tapi semua itu hanya bohong.
Lambat menaut, semakin hari pesan Anisa semakin membuatku gila. Kepala ku migran, masalahnya masalah ku juga. Hatiku juga ikut teriris tipis-tipis, setiap detail kata demi kata ia ketik selalu membuatku menangis. Entah kenapa, padahal itu urusan dia. Ada hubungan batin dibalik teka teki ini.
"Selamat malam Lisa.
Lisa sahabatku sayang, kemarin aku berusaha berbicara baik-baik sama Kak Hendra. Aku bertanya dia bahagia atau tidak dengan ku? Dia sayang tidak padaku? Lantas aku meninggikan suara memaksa ia berkata jujur. Tapi kau tau apa reaksi dia Lis? Dia diam seribu bahasa, aku tak mengerti dengan bahasa isyarat. Dia mengendus, menghela nafas, mengepalkan tangannya duduk dengan kaki yang tak tenang. Itu sangat menyakitkan Lis, sakit sesakit sakitnya. Sebenarnya ia menganggapku hidup atau hanya mayat hidup? "
Bahkan ini lebih sulit ditebak dari permainan rubik favoritku, pelik sekali aku memikirnya. Satu minggu kemudian lebih parah lagi.
" Ya Allah, sungguh aku tak kuasa menghadapi cobaanmu. Lis aku berencana ingin berpisah dengan Kak Hendra, dia benar-benar tidak pernah mencintaiku. "
Begitu singkat namun membuat hatiku berkecambuk, bak tertancap seribu godam. Berpisah? Bukankah dulu mereka berikrar sehidup semati.
Malam ini berkali-kali aku mengganti sarung bantal, mungkin sudah lima sarung bantal yang basah. Banjir air mata, semua masalah Anisa sangat misterius. Tak jelas apa latar belakang nya, apa yang di jadikan Kak Hendra sampai merenggut rumah tangganya hampir tiba di ujung ambang kehancuran.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Non, di luar ada Non Anisa Non"
"Apa Anisa?! "
Aku terjingkrak berlari keluar rumah, Anisa sedang apa dia di sini.
Anisa datang berparas mata yang lebam dan sembab, menjinjing koper di tangan kanannya. Matanya mengumpulkan beribu banyak alasan. Dia mendekapku sangat erat, tersedu-sedu.
" Aku butuh beberapa waktu untuk sendiri Lis, aku minta Kak Hendra untuk segera mengurus surat cerai kami. "
Matanya tertunduk, raut wajah yang kacau. Rambutnya mencabang kemana-mana, kantung matanya juga menghitam.
Dan ke esokkan harinya..
Dia datang ke rumahku pagi-pagi.
" Kak Hendra " aku berkata lirih.
" Di mana Anisa? "aku tertunduk, matanya berkaca. Selang beberapa saat Anisa membuntuti keluar.
" Apa Mas? Kenapa kamu ke sini? Kenapa! Bukankah aku sudah tak penting lagi di hidupmu? " Anisa menyeringai ketus, kemudian membungkam mulutnya menahan buih isak dadanya. Sedangkan Hendra membisu di depan pintu,tertunduk dengan matanya redup.
" Aku minta maaf atas sikapku yang dingin padamu selama ini, pulanglah kita mulai lagi dari awal "tangan Hendra mulai meraih Anisa, namun Anisa memberontak merangsek Hendra hingga terpental keluar rumah .
" untuk apa? Untuk mengulangi lagi rasa sakit itu. Kau ini kenapa? Kenapa tidak sedari dulu jujur jika kau tak mencintaiku? Kenapa tidak berterus terang saja, pasti masalahnya tidak sampai mengakar seperti ini? Kenapa kamu tidak.. "
" karena jujur aku tidak mencintaimu, aku mencintai Lisa. Dia kekasih ku dahulu, kami menjalin hubungan selama dua tahun kemudian entah apa yang memutar balikan hatinya disaat kita sudah bertunangan dan tiba-tiba ia bersujud di kakiku memohon padaku untuk menikahimu. Manikahi sahabatnya sendiri, kenapa Lisa? Kenapa kamu membuat skenario hidup ku menjadi jeruji besi. Aku berusaha mencintai Anisa namun semua hanya sia-sia saja, karena apa? Karena aku masih mencintaimu. Tidak ada yang mampu menetralkan hatiku selain dirimu. Kenapa kamu lakukan ini semua Lisa? "
Hendra tersungkur ke lantai, menjambak rambutnya dengan amatir. Semua terpekur dengan instingnya masing-masing. Anisa terkukur tak berdaya di sofa, memijit-mijit kepalanya. Suasana menjadi gentar.
" Aku? Jadi selama ini aku mencari-cari biang keladi yang ternyata diriku sendiri? Tapi apa aku salah mengikhlaskan cintanya untuk sahabat ku yang juga mencintainya sama seperti diriku. "