rickjull

Cinta Milik Setiap Ciptaan Tuhan, Rasakan dan Renungkan!

              Cerita Cinta untuk Dia
Aku rasa aku telah menghancurkan hidup seseorang. Seorang yang sangat menghormati dan menghargai keberadaan ku, kini hanya penyesalan yang terjadi, Penyesalan yang terus menggerogoti hati. 
Namanya juni... ia memiliki mata yang indah dan bibir tipis yang membuat semua pria jatuh hati padanya aku beruntung dia berada di kelas yang sama denganku
Aku pernah sekali menyapanya "hey... apakah kau tau dimana letak kelas 12 A4 ? " 
"Disana!" Sambil menunjukan jari lentiknya ke arah kelas yang berada di pojok sekolahku.
Nada yang halus dan menunjukan betapa terhormatnya dia mampu  menenangkan jiwa setiap orang yang mendengarnya...
"Wah ternyata ia terlihat lebih cantik bila dilihat dari dekat" pantas saja semua lelaki mencoba mendekatinya namun, kehormatannya Seakan selalu terjaga dalam 2 tahun belakangan ini. Beberapa ungkapan cinta ditolaknya mentah... entah apakah dia sudah mempunyai pujaan hati yang lain atau ia memang tidak ingin berpacaran.
Aku sudah memperhatikannya dari pertama kali ia masuk di kampus ini. Aku seakan mabuk dalam sihirnya yang jika sudah menyangkut tentangnya aku bisa meninggalkan apapun. Aku menikmatinya, melihatnya tersenyum membuat hariku damai. Lenggokan tubuhnya saat berjalan seakan mampu memancarkan aura  kasih sayangnya. Disetiap gerakan bibirnya ketika berbicara membuat aku mabuk kepayang.... apakah ini yang namanya cinta? Sungguh luar biasa. Aku berharap bisa hidup selamanya untuk merasakan perasaan ini. Aku segan berbicara dengannya.. ia perempuan yang dapat memancarkan kharismanya, sehingga aku selalu merasa tidak cukup untuk mendekatinya..
Sore itu ia menunggu angkot seperti biasanya... rumahku searah dengannya walaupun kami bukan bertetangga jadi bukan sebuah kebetulan jika aku sering berada diangkot yang sama dengannya. Hari itu aku memberanikan diri untuk memulai percakapan dengannya...
"Hay juni.. apakah kau kenal dengaanku?" Agak salah tingkah sikapku saat itu.
"Ya tentu saja... kau berada dikelas yang sama dengan ku." Jawabnya lembut
"Ahh betul juga hehe..."  timpa ku
Ia membalas jawabku dengan senyumannya yang begitu manis
"Ahh ini adalah percakan yang buruk. Kenapa aku jadi gerogi seperti ini" aku bingung topik apa yang harus aku angkat untuk melanjutkan percakapan ini. lamunanku terhenti ketika ia memberhentikan angkot..
" aku duluan ya yo... dahh" ia melambaikan tangannya padaku sambil di sisipkannya senyuman itu.. senyuman yang mampu menggetarkan hatiku, melemahkan ku.
Sungguh aku seperti orang gila yang tergila gila oleh semua tentangnya. Aku pernah mengirimkan surat padanya.. tentu saja aku tidak mencantumkan namaku, surat itu berisikan pujian untuknya dan rasa bahagianya diriku bisa hidup pada saat yang tepat. Surat itu tak berbalas, tapi tak apa surat yang lain masih bisa dibuat.. inspirasi terus berdatangan dengan mengingat wajahnya. Lama aku menunggu akhirnya ada balasan darinya. surat itu berisi kalimat yang singkat namun penuh kejutan
" Aku tahu siapa dirimu... jika kau memang mengagumiku temui aku dan ungkapkanlah semuanya dihadapanku "
Aku tertegun membaca surat ini, rasa malu, resah dan takut menyelimutiku... aku mungkin telah membuatnya risih dengan semua ini... tapi aku belum berani jika harus mengungkapkan semua ini dihadapannya..
Keesokkan harinya saat dalam kelas ia menghampiri ku
" bolehkah aku duduk disampingmu?" Ia bertingkah seolah tidak ada apa-apa dan aku ragu ia mengetahui siapa pengirim surat itu
Aku hanya mengangguk saja menjawab pertanyaannya karena mulutku tidak siap melepaskan kata kata. Suasana saat ini terasa sangat canggung, aku hanya duduk terdiam di sampingnya..
"Apakah kau menyukai pelajaran ini.?" Ia menyela ditengah tengah penjelasan dosen kami
" ehhhh.. sebenarnya agak membosankan sih." Aku agak kaget menjawabnya
" hahaha.. kamu ini.! Tak perlu sungkan jika berbicara dengan ku! Apakah aku terlihat menyeramkan ?"
"Tetetennn...tu tidak hehehe.." jawabku diikuti bunyi bel yang menandakan jam istirahat. 
Ia bergegas meninggalkan tempat duduknya, Lagi lagi ia menunjukan wajahnya yang begitu menawan dengan senyuman yang meriasi wajahnya ketika meninggalkanku. 
"Percakapan ini memang singkat Tapi Aku rasa percakapan kali ini berjalan dengan lancar." Aku mengamatinya dari kejauhan wajah cantiknya bisa membuyarkan pandanganku dari kerumunan orang orang di kantin dan hanya berfokus pada wajahnya saja. Senda guraunya saat bersama teman temannya menjadi santap siang ku kali ini.
Kulihat jam tanganku sudah menunjukan pukul satu dan aku menyadari, aku ada kelas hari itu aku masuk kelas dan duduk ditempat seperti biasanya... Pelajaran ini membuatku teramat mengantuk ditambah lagi tak ada juni dikelas ini... 
"Hey.. apakah kamu sudah puas mengamati ku saat istirahat tadi?" Pertanyaan itu membuatku terkejut dan ketika menoleh ternyata juni di belakangku.
" maafkan aku, aku tak bermaksud seperti itu.. tolong maafkan aku.." jawabku merasa bersalah
" apasih kamu... ko minta maaf? Tenang aja kali " diikuti tawa nya yang indah itu..
" maukah kamu pulang bersama ku hari ini...?" Lanjutnya
" tentu... baiklah" dengan antusias aku mengiyakan
Sore itu datang dan aku jalan berdua menuju depan kampusku bersamanya.. tentu saja ini membuat geger para lelaki saat itu. Aku sadar dan membiarkan saja karna aku benar benar tidak peduli...
 "Kamu tidak keberatan kan jika kita pulang bareng hari ini...?" Tanyanya padaku
"Aku bisa melakukan ini seumur hidupku" jawabku memancing tawanya
Benar saja ia menunjukan tawanya yang manis saat itu, 
"Kita jangan langsung pulang yuk...? Bagaimana jika kita pergi jalan jalan dulu?" Ajaknnya mengagetkanku "Apakah kamu sudah minta izin orang tua mu?" Tanyaku balik
"Hanya sebentar kok" wajahnya penuh harap
Aku tak tega untuk menolak permintaan itu, akhirnya aku mengiyakan permintaan tersebut saat itu kami amat bersenang senang, hingga kami tak sadar jam menunjukan pukul 10 malam.
"Jun, mari kita pulang aku rasa ini sudah cukup malam nanti kita akan ketinggalan bis yang terakhir.." ajakku padanya
" baiklah, mari kita pulang.." jawabnya
Saat itu kami menaiki bis yang cukup kosong karena mungkin memang sudah malam. Aku dan juni duduk di kursi bagian belakang bis. Suasana di bis ini terasa sangat tenang dan nyaman
"Yo terima kasih ya sudah mau menuruti permintaan ku hari ini..." ia berbicara padaku
" tidak masalah aku juga menyukainya.. "
Ia menggenggam tangan ku dan pandangannya menyorot tajam mengarah ke arahku. Aku kaget dan tak tau harus berbuat apa..
"Yo.. aku tau kamu sudah memperhatikanku sejak lama, aku juga tau kaulah yang mengirimi aku surat saat itu. Tapi kenapa kamu tidak berani menemuiku? Asal kamu tau yo.. aku mencintaimu, perasaan ini setiap hari tumbuh semakin besar dan aku sadar aku tidak bisa membendungnya lagi, aku tidak peduli, aku tidak peduli jika aku harus mengungkapnya terlebih dahulu... apakah kau mau menjadi kekasihku?" Pertanyaan juni kepadaku
Aku langsung memeluknya...
" maafkan aku juni karna kau harus mengungkapkan perasaan ini mendahuluiku, aku juga sangat mencintaimu, aku ingin menjadi kekasih mu" jawabku
Pelukan ini seperti halnya sepasang kekasih yang sudah lama berpisah yang akhirnya dipertemukan. Ia menangis haru saat itu, betapa bahagianya diriku menampung perasaan ini, ketika ia menyenderkan kepalanya di pundakku aku merasa bahwa inilah kebahagian, kebahagian yang sesungguhnya, ia memejamkan matanya dan tidur dipundakku. Aku takberhenti memandangi wajahnya sepanjang perjalanan
hari itu adalah hari terbaik dalam hidupku tapi hari ini juga hari yang terburuk dalam hidupku, aku ingin sekali kembali pada hari itu agar aku tidak menyesali nya sekarang. Aku menyesal menyetujui keinginannya untuk pulang bersama, andai saat itu aku menolaknya mungkin kali ini aku masih bisa mengagumi senyum indahnya dan aku juga menyesal mengapa aku tidak menemuinya dan mengungkapkan perasaanku saat ia mengirimi surat balasan kepadaku. Mungkin saja jika hal itu ku lakukan aku masih bisa mendengar canda tawanya. Aku tak bisa memaafkan malam itu Malam yang merenggut pujaan hatiku malam yang merampas kekasihku malam dimana tuhan justru memilih kecelakaan terjadi pada bis kami... aku juga tak bisa memaafkan diriku yang selamat ini, mengapa aku harus selamat...
"Maafkan aku bidadari ku mungkin kamu lah salah satu alasan tuhan menciptakan ku, dan aku menyesal telah menjadi alasan tuhan memanggil mu, tenang saja wahai cintaku karna tuhan tau tidak ada lagi alasan tetap mempertahan hidupku, aku akan segera menyusul mu kekasih ku"
                         SELESAI.
Ririn meneteskan air mata diakhir halaman itu dan mencoba menahan tangis dan jeritnya yang terpendam.
"Plakkkkk...." tamparan pria tua itu menghantam pipinya
"Tidur kamu!! Dasar pelacur.. kamu tak pantas membaca cerita seperti itu, tak ada cinta untukmu didunia ini" 
Ririn tidak menangis mengasihi pria didalam cerita itu, ia menangis karena iri mengapa tuhan menaruh perasaan cinta yang besar kepada sepasang kekasih yang egois dan naif...