SaniOrion

Jika kamu hanya ingin singgah, bersikaplah layaknya tamu agar perasaan dan hatiku tak ikut kusuguhkan bersama hidangan yang kauinginkan. - SaniOrion

            Dingin pagi menyelimuti kota, membuatku ingin tidur lebih lelap. Karena merasa terusik oleh alarm yang sudah berkali-kali berdering, aku meraihnya dan tanpa sengaja aku melihat waktu yang ditunjukkannya, setengah tujuh. Tanpa menghiraukan rasa kantukku, aku bergegas lari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigiku. Kemudian, aku melihat jam untuk memastikan bahwa aku benar-benar bangun kesiangan DAN TERNYATA BENAR‼!

            Tanpa mandi, aku langsung memakai seragam sekolah serta jas panitia. Sambil berlari menuruni tangga, aku memakai kartu identitasku. Di bawah, Kak Rama sudah menghabiskan sarapannya dan bersiap untuk berangkat. Dia sedang menyalami Ayah dan Ibuk. Aku bisa mendengarnya menanyakanku. Aku segera menghampiri mereka.

            “Selamat pagi, Mel!” Kak Rama menekankan suaranya pada kata pagi.

Setelah menyalami Ayah dan Ibuk, aku menatapnya sinis. “Aku ngerti, kok, kalo ini udah siang. Ya, maaf! Ayo berangkat!”

            “Udah salah, minta maafnya nyolot! Udah baik aku mau nungguin.”

            Ayah menengahi kami, “Sudah, sudah. Bukannya kamu jadi ketua panitia, Mel?”

            “Iya, Yah. Ayo berangkaaat!” Aku berteriak sambil menarik tangan Kak Rama.

            Dari halaman, aku bisa mendengar teriakan Ibuk. “HATI-HATI, NAK!”

            Aku membalas dengan suara lantang, “IYA, BUK!”

            Wajah memerah Kak Rama terlihat dari spion. “Emang wanita itu bakat teriak-teriak, ya?”

            “Bodo amat! Berangkat!”

            Di perjalanan, aku terus-terusan menepuk punggung Kak Rama sambil berseru, “Ayo cepaaat!”

            Akhirnya, di tepukan kedua puluh dua, Kak Rama menghentikan motornya di tepi jalan. “Kok berhenti? Ini udah siang, Kak!”

            “Tadi, yang bangun kesiangan siapa? Yang buat berangkat kesiangan gini siapa? Harusnya kamu bersyukur, aku mau nungguin kamu, Mel. Di jalan, kamu malah nepuk-nepuk punggungku. Kamu pikir nggak sakit? Konsentrasiku bisa buyar. Kalau ada apa-apa nanti gimana? Aku yang disalahin, Mel!”

            Aku diam seribu bahasa. Demi melihat wajah kesal Kak Rama, air mataku menggelinang di pelupuk mata.

            “Kalau kamu keberatan naik motorku, jalan aja sana!”

            Kak Rama langsung menaiki motornya dan meninggalkanku. Tentu saja aku tidak bisa menangis dan meraung-raung di tepi jalan, sekarang sudah jam tujuh. Aku berlari, tidak peduli orang-orang menatapku aneh. Ada yang lebih penting untuk dipedulikan daripada itu.

                                                                                                    ***

            “Selamat pagi, Ibu Ketua Panitia. Dari mana saja?” Dinda menyapaku dengan sindiran.

            “Maaf, aku telat.” Aku menjawab dengan suara pelan, mendekati serak.

            “Kalau hanya maaf, semua orang juga bisa jadi ketua panitia.” Fira menyahut dengan ketus.

            Aku mengabaikan teman-teman yang ricuh menyalahkanku. Aku pergi ke ruang panitia dan mengoordinir panitia yang lainnya. Namun, aku tidak menyangka mereka akan menyalahkanku(lagi).

            “Sudahlah, kalian kerjakan tugas kalian saja!” Tanpa sadar, suaraku meninggi.

            Seisi ruang panitia menatapku dengan kesal kemudian satu per satu dari mereka pergi. Aku memang melihat mereka mengerjakan tugasnya, tapi aku tidak melihat ketulusan dari wajah mereka.

            Setelah ruangan kosong, aku melampiaskan segala emosiku dengan menggebrak meja. Lalu, aku membalikkan badan. Tepat di depanku, ada Zain, salah satu anggota panitia yang sering berdebat denganku. Namun, aku heran, dia tidak mendebatku kali ini, tapi mengucapkan sesuatu yang membuatku terkejut, “Besok, jangan telat lagi, ya.” Kemudian, dia pergi.

            Itu pertama kalinya dia berkata halus padaku. Selama ini, dia selalu bersikap cuek kepada orang lain, terutama aku. Dan, kali ini, dia berubah seratus delapan puluh derajat.

                                                                                                 ***

            Aku menangis, tidak peduli ada yang mendengar atau tidak. Aku menyadari bahwa hari ini banyak hati yang kusakiti, banyak jiwa yang kubuat kesal. Lalu, aku berteriak, “AAARGHH‼”

            Sesaat setelah itu, aku baru ingat bahwa Kak Rama adalah anggota Akademi Kepolisian. Aku memukul kepalaku berulang-ulang sambil menggumam, “Mel, Mel.”

            Aku melepas kartu tanda panitia yang terkalungkan di leherku. Tertera di sana, RYANA MELODIA, Ketua Panitia Dies Natalis, 6 Januari 2017.

            ‘Apa nggak cukup jadi adik yang nggak pengertian? Kenapa aku harus jadi ketua panitia yang nggak bertanggung jawab juga?’ batinku. Aku menghela napas panjang. Harusnya, aku tahu dari awal, banyak perasaan yang telah kukecewakan.

                                                                                                ***

            “Pulang dulu, Pak.” Kataku pada satpam sekolahku. Beliau menjawabku sambil menganggukkan kepala, “Iya, Mbak Ryana. Hati-hati di jalan!”

            Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul setengah lima. Aku memikirkan dalam hatiku, ‘Kak Rama tadi benar-benar marah padaku. Ya, sudahlah, naik angkot saja.

            Aku menyetop sebuah angkot yang melintas. Aku langsung masuk dan duduk di satu-satunya bangku yang kosong, di dekat pintu. Aku membenahi posisi dudukku dan melihat sekeliling. DEG! Tepat di sampingku, seorang pria paling menyebalkan bagiku sedang memainkan ponsel. Aku langsung mengalihkan pandanganku darinya.

            Empat puluh lima menit kemudian, hanya tersisa aku, Zain, dan sopir di angkot itu. Aku melihat jalan yang kulalui, tidak terasa familier. Aku bingung, harus turun di mana. Aku menundukkan kepalaku, melihat kaki Zain yang mengetuk-ngetuk lantai angkot, mengikuti irama lagu yang disalurkan melalui headphones yang dikenakannya. Aku teringat bahwa rumahku dan Zain tidak jauh, hanya terpaut 3 kilometer. Rasa cemasku pun hilang.

            “Kalian berdua mau turun di mana?”

            Zain melepas headphones-nya dan menoleh ke arahku. Namun, sesaat kemudian, ia memalingkan pandangannya dan menjawab pertanyaan sopir angkot, “Di pangkalan angkot depan, Pak.”

            Sampai di pangkalan angkot, Zain turun. Tanpa pikir panjang, aku ikut turun. Setelah membayar ongkos, aku mengikuti langkah Zain.

            “Ini daerah mana, sih?” tanyaku.

            Zain membalikkan badan dan menatapku. Aku bisa menangkap rasa terkejut dari raut wajahnya. Ternyata, dia tidak sadar kuikuti. Aku pun tertawa kecil.

            “Ha? Kamu mau ke mana?”

            “Ya, mau pulang, lah!” jawabku nyolot.

            Dia nyengir dan berkata, “Oh. Punya rumah baru, ya?”

            Aku menaikkan sebelah alisku, heran. Aku menyejajarkan langkahku dengannya, “Rumah kita dekat, kan?”

            “Iya… iya, rumah kita dekat. Tapi, kalau kamu mengikutiku, kamu nggak bakal sampai rumahmu.”

            “HAH? Terus aku harus gimana, dong? Aku nggak tahu daerah ini sama sekali.”

            Zain terus melanjutkan langkahnya sambil berucap cuek, “Bodo amat!”

            Aku menghentikan langkahku, sedangkan Zain terus berjalan. Dia berhenti di salah satu rumah dan mengetuk pintu. Seorang wanita muda, mungkin seusia Ibuk, membuka pintu dan tidak sengaja memandangku. Kemudian, dia mengatakan sesuatu, entah apa itu, yang membuat Zain berbalik dan menghampiriku.

            “Ayo masuk!”

            “Aku… aku mau pulang. Anterin aku pulang, Zain…” rengekku.

            Zain memasang tampang cueknya lagi dan meninggalkanku. Akhirnya, mau tidak mau, aku mengikutinya ke dalam rumah. Wanita yang tadi membukakan pintu untuk Zain menyambutku. Aku menyalaminya.

            “Ini temen apa pacar, Zen?”

            Aku tersenyum, hendak menjawab teman, tapi Zain sudah berbicara terlebih dahulu. “Orang kesasar, Tante. Dari tadi, ngikutin terus.”

            Aku melirik Zain kesal dan menyahut, “Teman, Tante.”

            “Oh, silakan duduk, Nak.”

            Ternyata, ini adalah rumah nenek Zain—setidaknya itu yang kutangkap dari pembicaraanku dengan tante Zain. Selain itu, aku juga tahu kalau nenek Zain sedang sakit. Tante Zain harus segera pulang sehingga Zain menggantikannya. Sejak saat ini, aku mengerti kalau Zain bukanlah orang yang apatis, melainkan perhatian—meskipun jarang menunjukkannya.

                                                                                               ***

            Sekarang, aku sedang duduk di samping nenek Zain yang terbaring lemah memejamkan mata. Wajahnya amat pucat.

            Kriing. Kak Rama is calling you.

            Aku mengangkat telepon masuk itu. “Kak—”

            Namun, belum sampai kalimatku selesai, telepon itu sudah putus. Aku mengecek ponsel, ada beberapa pesan masuk.

            Kak Rama: Posisi?

            Kak Rama: Mel…

                              Mel…

                              Mel…

            Ada dua belas pesan serupa masuk ke ponselku. Aku pun membalasnya: Aku lagi di rumah temen. Tadi kesasar.

            Tak berselang lama, balasan datang.

            Kak Rama: Terserah. Aku udah di rumah.

            “Tante pulang dulu, ya, Zen.”

            Aku menengok ke belakang. Zain ada di daun pintu entah sejak kapan.

            “Tante di sini dulu aja. Aku mau ngantar ni anak pulang.” ujar Zain.

                                                                                               ***

            Lagi-lagi aku mengikuti langkah Zain. Hanya diam, sunyi, dan senyap yang menemani kami di daerah terpencil yang sepi ini. Setelah beberapa menit lewat, jalan raya sudah terlihat. Kemudian, aku menunduk, bersorak senang dalam hati. Tiba-tiba, DUG! Tubuhku menabrak punggung Zain. Aku tidak tahu kalau dia berhenti.

            “Eh, sori, sori.”

            “Udah nggak ada angkot kalau malem gini. Kamu naik taksi aja!” sahutnya cepat. Dia tidak menghiraukan kata maafku.

            “Oh, gitu, ya?”

            Aku melihatnya menyetop sebuah taksi. Ia menyerahkan dua lembar uang pecahan seratus ribu kepada sopir dan menyebutkan alamatku. Lalu, ia membukakan pintu taksi untukku. Entah kenapa, saat ini, jantungku berdetak lebih cepat. Aku segera masuk ke taksi dan dia menutup pintu. Sebelum taksi bergerak, aku bisa melihat gerak bibirnya mengatakan hati-hati, ya!

            Dalam perjalanan pulang, jantungku belum juga normal. Otakku masih memikirkan seseorang yang bernama Zain, ya, Zain. Padahal, sebelum hari ini, aku selalu menghindar darinya. Setiap ada rapat, kami selalu berdebat meski akhirnya tidak ada satu pun pendapat kami yang diterima anggota lain. Pemikiran kami tidak pernah sejalan.

            Tidak kusadari, aku sudah sampai di depan rumah. Sopir taksi memberiku uang kembalian, tetapi aku tidak mau menerimanya. Beliau pun berterima kasih padaku. Aku hanya tersenyum.

            Aku mengeluarkan kunci dari tas dan memasukkannya ke lubang kunci. Di dalam, lampu menyala, tetapi tidak ada orang. Kulihat, jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Perutku lapar, aku ingin makan. Aku membuka tudung saji. Di dalamnya, ada sepiring nasi goreng dan secarik kertas bertuliskan, ‘Kami ke rumah Om Heru, Mel. Ada pertemuan keluarga. Hati-hati di rumah, ya.

            Aku mengambil makanan itu dan membawanya ke kamar. Sesampainya di kamar, aku langsung membersihkan diri dan ganti baju. Lalu, aku merebahkan diri ke tempat tidur. Rasanya, hari ini, aku lelah sekali. Aku meraih ponselku, ada beberapa chat masuk, salah satunya dari nomor tidak dikenal. Namun, aku tahu, itu Zain. Terlihat jelas dari foto profilnya.

            +6285791223xxx: Sudah sampai, Ryana? Zain.

            Aku menyimpan nomor itu kemudian membalas.

            Aku: Sudah. Makasih atas bantuannya. Uangnya aku ganti besok, ya?

            Tidak lama, ada pesan masuk.

            Zain: Nggak perlu.

            Aku mengernyitkan dahi. Tidak perlu, katanya?

            Aku: Lah... Kok gitu?

            Pesanku hanya dibaca olehnya. Zain baru membalasnya lima belas menit kemudian.

            Zain: Ya, nggak papa. Nggak usah diganti. Anggap saja itu penghargaanku untuk Ketua Dies Natalis yang tangguh.

                                                                                             ***

            Setelah kejadian itu, aku memandangnya berbeda. Dia bukanlah dia yang suka berdebat denganku atau pun bersikap masa bodoh. Dia adalah orang yang menghargai orang lain dan perhatian.

            Kami semakin sering chatting-an. Namun, terasa semakin canggung ketika kami bertemu. Tepatnya, yang canggung bukan kami, tetapi aku. Teman-temanku mulai mempertanyakan ke mana suasana ricuh perdebatanku dengannya.

            Suatu hari, aku melihat Zain bercanda dengan Dinda, Fira, dan yang lain. Itulah kali pertama aku melihatnya bercengkerama dengan anak perempuan. Aku benar-benar tidak menyangka. Melihat itu, dadaku terasa sesak. Apa ini yang namanya cemburu?

                                                                                              ***

            Aku: Tadi, tumbenan banget?

            Aku mengetuk-ngetuk layar ponsel, tidak sabar menunggu balasan. Tidak lama, dia membalas.

            Zain: Tumben apanya?

            Aku: Ya… tadi kamu ngapain? Kok udah lupa? :( Hmm, menurutku, tadi itu hal yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya.

            Zain: Kejadian apa, sih, Na?

            Aku mengetik dengan kesal.

            Aku: Tadi, kamu bercanda sama Dinda, Fira, dan yang lain. Aneh banget. Biasanya nggak pernah, lho.

            Zain: Oh, itu, ya? Padahal, tadi itu, aku maunya bercanda sama kamu, tapi kamunya nggak ada, sih. Hahaha. Jangan baper, loh, Na.

            Aku: Gitu ya? Nggak lucu, tuh.

            Zain: Ciah, marah. Kenapa, sih?

            Aku: Entah. Aku ngerasa terkhianati olehmu.

            Zain: Sok puitis, nih. Emangnya kita pernah mengikrarkan janji? Kok, aku mengkhianati?

            Aku hanya membaca pesannya. Aku semakin kesal karena dia tidak sadar atas ‘kesalahannya’ padaku. Tak lama kemudian, ponselku berdering. Zain menelepon. Aku mengangkat telepon darinya, tetapi aku hanya diam.

            “Na, kamu marah kenapa, sih? Na? Ryana…”

            Aku tetap tidak bersuara.

            “Percuma, deh, aku telepon kalau kamu nggak mau ngomong.”

            Semua emosi yang ada di hati menjelma air mata yang tertahan di kelopak mataku. Aku mengambil napas, memberanikan diri menjelaskan semuanya.

            “Bukankah kita ini lebih dari temen sejak sikapmu ke aku berubah? Ya, aku berpikir, perubahan sikapmu itu karena kamu memiliki rasa yang lebih padaku. Maka dari itu, aku berani mempertaruhkan perasaan dan hatiku untuk menerimamu.”

            Untuk kedua kalinya, diam, sunyi, dan senyap menemani kami.

            “Kamu lagi bercanda, kan?”

            “Apakah mungkin, setelah aku meneteskan air mata untukmu, kauanggap ini semua lelucon?”

            “Ya, maaf. Aku mengubah sikapku karena aku juga ingin sikap dan pandangan orang lain padaku itu juga berubah. Hanya itu, Na. Nggak lebih—”

            “Oke, aku terima maafmu. Aku juga minta maaf karena aku telah menyuguhkan sesuatu yang lebih dari apa yang kamu inginkan.”

            Aku memutuskan sambungan telepon dengan hati yang hancur lebur.

                                                                                              ***

            Semenjak saat itu, aku takut untuk membuka hatiku pada siapa pun. Cukup kecewa, cukup sakit, dan cukup sekian dariku. Terima kasih sudah mau membaca kisah tentangku.