riyan

"Menjadikan hidup lebih bermanfaat."

“Badai Tuan Pasti Berlalu”

 

Betapa menyenagkannya menjadi orang kaya. Hidup serba berkecukupan. Apapun yang diinginkan akan terpenuhi. Karena semua sudah tersedia. Itulah yang ada dalam lamunan Riyan. Seorang anak dari keluarga yang sederhana, ia memiliki kakak laki-laki namanya Reza, umurnya 12 tahun namun Reza harus putus sekolah karena biaya. Sedangkan Riyan berumur 8 tahun terpaut 4 tahun sama kakaknya Reza, namun bagi seorang Riyan dia tidak mengenal menyerah walaupun dengan keluarga yang kekurangan, Riyan malah semangat bersekolah hingga ia dapat sekolah gratis, mereka berdua selalu memimpikan menjadi orang kaya. Mereka berdua harus bekerja keras setiap paginya,Riyan berjualan gorengan sambil disekolahnya, sedangkan kakaknya Reza pagi-pagi harus pergi kerja ikut bapaknya untuk memanen Padi yang berada jauh sama desanya, dan pulang larut malam. Sedangkan Riyan harus menerima ejekan dari teman-temannya, ada yang bilang pedagang asonganlah, pedagang kelilinglah, dan sebagainya. Namun Riyan tidak memedulikan ejekan tersebut, ia malah terpacu untuk membuktikan kepada teman-temannya bahwa ia suatu hari bisa lebih dari teman-temannya. begitulah kehidupan dari kedua anak tersebut.

Mereka berdua tidak memiliki rasa putus asa walau berada dalam keluarga yang serba kekurangan,mereka berdua memiliki cara mereka masing-masing untuk mewujudkan nasib keluarganya agar lebih baik. Reza dengan kerja kerasnya untuk dapat menambah penghasilan keluarga, dan Riyan dengan keuletannya untuk dapat menambung dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dari kakaknya tanpa harus merepotkan kedua orang tuanya. Keluarga mereka hanya dapat sabar menerima gunjingan dari tetangga. Karena para tetangganya tidak begitu terlalu suka sama kelurga Reza dan Riyan. Memanglah nasib seorang yang serba kekurangan banyak cobaannya. Suatu ketika Riyan bertanya sama Ibunya masalah tetangganya yang senang menggunjing kelurga Riyan.

“Riyan: Ibu kenapa sih keluarga kita selalu di bicarain yang jelek-jelek sama tetangga?” ( Tanya Riyan sambil meneteskan air mata)

“Ibu: Iya mungkin hidup kita terlalu nikmat dipandangan mereka” (kata Ibu untuk mendamaikan hati Riyan)”

“Riyan: Kenapa kalau hidup kita terlalu nikmat tetangga mesti bicarainnya yang jelek-jelek bu?” (Tanya Riyan lagi masih tetap meneteskan air mata)

“Ibu: Mereka itu tidak punya hidup seperti kita ini, makanya mereka mungkin pengen punya hidup seperti kita ini, makanya bicarain keluarga kita yang jelek-jelek, agar mereka rasa pengennya itu tidk kelihatan” ( Jawab Ibu sambil membelai rambut Riyan)

“Riyan: Bukankah hidup mereka sudah enak ya bu?” (Tanya Riyan penuh dengan rasa penasaran)”

“Ibu: Pandanganmu itu belum tentu benar nak, orang kaya belum tentu enak.” (Jawab Ibu sabil engusap air mata Riyan yang turun membasahi pipi)

“Riyan: Bukankah apa yang mereka mau dapat terpenuhi bu? Mereka banyak uangkan bu?

“Ibu: Iya bener kamu, karena mereka itu kurang bersyukur saja, makanya mereka masih kepingin seperti keluarga kita.”

“Riyan: Oh, jadi gitu ya bu” (kata Riyan dengan polosnya sambil mengusap air matanya)

“Ibu: (Ibu menjawab hanya dengan mengangguk)”

Riyan kemudian pergi kekamar dan meninggalkan Ibunya diruang tamu sendirian, Ibunya pun lantas menengok Riyan ke kamar, ditemuinya Riyan sudah terlelap.

            Ke-esokan harinya semua sudah berada dalam kegiatannya masing-masing, Reza sudah pergi kerja bersama ayahnya, Ibu sudah pergi kerja ke pabrik tempat dimana ia menggiling rokok. Riyan masih dirumah sendirian dan  harus menyiapkan peralatan sekolah sendiri. Jam 07.00 WIB Riyan berangkat sekolah sambil meneteng gorengan. Diteriaknya “gorengan, gorengan, gorengan” disepanjang jalan menuju ke sekolah. Dan teman-temannya mengejek dan membuntuti dari belakang, “pedagang gorengan keliling, pedagang gorengan keliling” sambil tertawa. Namun Riyan begitu sabar dalam menghadapi teman-temannya. Pada waktu itu Riyan dengan dibuntuti teman-teman yang mengejeknya lewat jalan raya, tiba-tiba ada mobil berhenti dan melambai-lambai, bertanda bahwa orang itu ingin memebeli gorengan punya Riyan. Ibu yang berada dalam mobil itu Ibu Yasmin.

            “Ibu Yasmin: eh adek sini Ibu mau gorengannya dong.” (sambil melambaikan tangannya ke arah Riyan)

            “Riyan: Iya bu” (Riyan berlari kegirangan)

            “Ibu Yasmin: Semua gorengannya harganya berapa?” (Tanya Ibu Yasmin yang mau membeli semua gorengan Riyan)

            “Riyan: Semua bu?” (Tanya Riyan untuk mempercayakan dirinya)

            “Ibu Yasmin: Iya semuanya berapa harganya?

            “Riyan: seratus ribu rupiah bu”

            Ibu Yasmin kemudian mengambil uang dari dompetnya dan dikasihnya uang senilai Rp.150.000,00 lalu meninggalkan Riyan. Kemudian dalam hati Riyan bersyukur “Alhamdulillah”. Kemudian teman-temannya yang membututi Riyan semuanya pada mendekat dan mau mengambil uang tersebut. Riyan mempertahankan uang itu dengan gigih, kemudian teman-temannya memukuli Riyan, hingga Riyan tidak jadi sekolah tetapi langsung di istirahatkan di rumahnya dengan diantar gurunya.

            Ketika hari menginjak malam, keluarga Riyan telah berkumpul dan menyidang Riyan mengenai kejadian yang dialaminya pada pagi hari itu.

“Bapak: Saya tidak mengajari kamu untuk berkelahi, kenapa kamu berkelahi?” (Tanya Bapak sambil memasang muka marah terhadap Riyan)

“Riyan: Jadi begini pak, tadi itu dagangan Riyan habis terjual seketika, dibeli oleh Ibu yang naik mobil, Ibu itu memberikan uang kepada Riyan senilai seratus lima puluh ribu (Sambil menunjukkan uang itu kepada Bapaknya) kemudian teman-teman Riyan malah mau mengambil semua uang pemberian dari Ibu tadi, padahal uang itukan hasil dagangan Riyan pak” (Jawab Riyan sambil meneteskan air mata)

“Bapak: Walaupun itu hasil daganganmu namun tidak ada salahnya kamu membagi hasil uangmu kepada temanmu” (Kata Bapak yang menasehati Riyan)

“Riyan: Iya pak, Riyan minta maaf, Riyan tidak tahu pak” (Balas Riyan dengan nada polos)

“Bapak: Ya udah sana istirahat di kamar” (Seru Bapak kepada Riyan)

Kemudian Riyan mencium tangan Bapak, Ibu dan Kakaknya untuk berpamitan tidur, “Assalamu’alaikum” kata Riyan. “Waalaikum Salam” jawab serentak. Sungguh anak yang berbakti, meski dimarahi oleh Bapaknya namun Riyan tidak berani melawan, Riyan selalu menuruti perintah kedua orang tuanya dan kakak satu-satunya yaitu Reza. Riyan begitu sangat mencintai keluarganya meskipun dalam keadaan yang serba kekeurangan.

           

15 Tahun Kemudian

 

            Kini Riyan telah beranjak dewasa dengan umur 23 tahun, kini Riyan sudah tidak lagi membuat gorengan akan tetapi kini Riyan telah sibuk menulis buku, dan ketika bukunya diterbitkan tidak menyangka buku riyan menjadi “Best Seller” dikalangan para pemuda-pemudi Indonesia. Sebelum ia menulis buku sebenarnya Riyan telah berhasil menyelesaikan Studinya di Ibu Kota Jakarta, dengan Beasiswa dari negara, karena memang Riyan memiliki keuletan sehingga dapat menempuh pendidikan tinggi. Sedangkan kakaknya Reza telah berkeluarga dan memiliki anak satu. Dan ekonomi kelurga Riyan kini telah membaik, dan Riyan kini telah dipanggil untuk menjadi moderator di berbagai Universitas. Kebanyakan Riyan dipanggil dalam acara seminar motivasi, sehingga bagi Riyan itu adalah kehormatan tersendiri, dengan demikian ia dapat menceritakan dirinya yang dulu serba kekurangan.

            Hingga suatu ketika, ketika Riyan dipanggil seminar di sebuah Universitas yang berada di kota Surabaya, ia bertemu seorang perempuan yang pada kesempatan itu juga mengisi acara dalam seminar tersebut, namanya Kirana, dengan wajah yang manis dan senyum yang menggoda, seakan Riyan menemukan jodohnya di kota Surabaya. Sehabis Riyan berbincang-bincang sama Kirana, Kirana menawarkan kepada Riyan untuk bertamu dirumahnya, dengan senang hati Riyan menyetujui tawaran Kirana, dimana rumah Kirana juga satu kota dengan lokasi seminar.

Sesampainya Riyan sampai dirumah Kirana ditemuinya orang tua Kirana, kemudian Riyan dipersilahkan duduk oleh Kiran dan Kiran kemudian kebelakang untuk mengambilkan minuman untuk Riyan, mak Riyan di datengin kedua orang tua Kirana, dan Riyan membuka percakapn dengan sapaan dan dengan cepat Riyan mampu mengambil hati orang tua Kirana sehingga tidak butuh lama bagi Riyan untuk mengakrabkan diri kepada orang tua Kirana. Hal itu dapat dilihat dari kedua orang tua Kirana yang ketawa lepas, ketika sisi humoris Riyan keluar.

Ketika jam menunjukkan Jam 16.00 WIB maka Riyan berpamitan untuk balik ke hotel yang telah disiapkan panitia seminar. Karena Riyan berencana besok kembali pulang ke kampung halaman. Sesampainya di hotel Riyan mandi dan kemudian makan malam, dan ia tidak banyak melakukan aktifitas malam itu. Ia kemudian terlelap tidur.

Pagi telah tiba dan Riyan harus meninggalkan kota Surabaya dimana ia menemukan cinta, dengan harapan dapat main ke Surabaya dengan orang tua, untuk menjemput cinta. Kemudian Riyan sudah bersiap untuk pulang ke rumah, dengan di antar mobil yang telah disediakan oleh panitia. Walaupun Riyan kini menjadi seorang motivator hal itu tidak membuat dirinya sombong. Karena ia menganggap tidak ada yang perlu kita banggakan di dunia ini melainkan kita butuh perbaikan dalam hidup di dunia ini.