dpertiwi

"Jangan Malu Ketika Kita Diremehkan Orang Lain Karena Setiap Manusia Memiliki Potensinya Masing-Masing"

PEMBUKTIAN MELALUI KERJA KERAS

Namaku Dian. Tahun 2013, aku dinyatakan lulus dari salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Malang. Di sekolah itu, aku mengambil jurusan ilmu komputer. Sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan dunia komputer, tetapi orang tuaku mengatakan bahwa di era globalisasi kita harus pandai menggunakan komputer. Atas dasar alasan itulah, aku memutuskan untuk mengambil jurusan komputer di bangku SMK.

Bagiku, pelajaran yang paling susah adalah bahasa pemrograman komputer. Mengapa hal tersebut aku katakan susah? Karena di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku tidak diajari pelajaran ini dan dari awal aku kurang berminat dibidang komputer. Meskipun aku kurang berminat dibidang komputer, tetapi demi memenuhi keinginan orang tuaku, aku memutuskan untuk terus belajar dan berusaha agar aku bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah itu.

Menjelang ujian nasional, kami semua didaftarkan pihak sekolah untuk mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Ada berbagai universitas dan jurusan dalam seleksi ini, namun pihak sekolah menyarankan untuk mengambil jurusan sesuai dengan yang kita pelajari di SMK. Alasannya agar nanti pada saat kuliah kita bisa belajar secara berkelanjutan dari ilmu yang diperoleh selama 3 tahun di sekolah.

Aku memutuskan untuk mengambil jurusan selain ilmu komputer karena selama 3 tahun di SMK, aku menahan dan memaksa diri untuk belajar ilmu komputer yang sebenarnya tidak aku sukai. Aku pun menyampaikan kepada pihak sekolah bahwa aku ingin mengambil jurusan selain ilmu komputer.

“Ada kebijakan SNMPTN tahun 2013 bagi siswa SMK yaitu bisa mengambil jurusan selain jurusan yang dipelajari di SMK. Namun, jurusan yang bisa diambil adalah jurusan pertanian, perikanan dan peternakan” kata guruku.

Dari ketiga jurusan tersebut sebenarnya tidak ada yang aku sukai karena aku ingin mengambil jurusan hukum saat kuliah. Tetapi, karena ingin lepas dari ilmu komputer, aku memutuskan untuk mendaftar jurusan pertanian di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Malang. Aku juga menyampaikan keinginan tersebut kepada orang tuaku.

“Pak, Bu. Aku sudah memutuskan bahwa aku akan mengambil jurusan pertanian di SNMPTN 2013” kataku.

“Sebenarnya, Bapak ingin kamu mengambil jurusan ilmu komputer lagi pada saat kuliah dan Bapak tidak ingin kamu gagal di jurusan pertanian karena kamu belum pernah mempelajari sebelumnya” jawab Bapak.

“Selama 3 tahun di SMK, aku mempelajari ilmu yang tidak aku sukai, tetapi pada saat kuliah aku ingin menentukan jurusan apa yang aku ingin ambil. Aku janji, Pak. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa sukses di jurusan selain ilmu komputer” kataku dengan penuh semangat.

“Baiklah kalau memang itu keinginanmu. Orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan” kata orang tuaku.

Hari pengumuman SNMPTN tahun 2013 pun tiba dan aku dinyatakan lolos sebagai mahasiswa jurusan pertanian di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Malang. Senang dan bangga rasanya bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa melalui tes. Aku pun bertekad untuk memenuhi janji bahwa aku akan sukses di jurusan pertanian ini.

Jalan yang aku lalui menjadi mahasiswa jurusan pertanian tidaklah sesulit yang aku bayangkan. Justru di jurusan ini, aku seperti menemukan jati diriku yang telah lama hilang. Aku sangat bersemangat dan senang mempelajari pertanian. Namun, ada seorang dosen yang tak percaya jika aku adalah anak SMK ilmu komputer yang kuliah di jurusan pertanian. Hal itu terjadi saat sesi perkenalan di kelas pada minggu pertama perkuliahan.

“Pada sesi perkenalan kali ini, saya akan memanggil satu per satu nama kalian dan ceritakan kalian dari SMA mana” kata dosenku.

Satu per satu beliau memanggil nama mahasiswa yang ada di kelasku, sampai tibalah beliau memanggil namaku.

“Dian, yang mana anaknya?” kata beliau.

“Saya, Bu” jawabku sambil mengacungkan tangan.

“Kamu asli mana?” tanya beliau.

“Saya asli Malang, Bu” jawabku.

“Oh ya. Dulu SMA mana ya?” tanya beliau.

“Saya dulu siswa SMK, Bu. Saya mengambil ilmu komputer” jawabku.

Dengan wajah yang agak terkejut, beliau menatapku dan mengatakan “Woow..Apa kamu serius? Apakah kamu sudah yakin mengambil jurusan ini? Apakah kamu sadar pada saat mendaftar SNMPTN?” tanya beliau panjang lebar.

Sontak seisi kelasku tertawa mendengar pertanyaan dari dosenku. Beliau dan teman-temanku menganggap aku salah jurusan dan masih ada kesempatan untuk mengundurkan diri dari jurusan pertanian. Meskipun kecewa melihat reaksi dosen dan beberapa temanku, tetapi aku tidak menyerah.

Dengan hati yang mantap aku menjawab,”Saya serius, Bu. Saya sudah sangat yakin mengambil jurusan ini dan pada saat pendaftaran saya masih sadar”.

“Baiklah. Semoga saja kamu bisa mendapatkan IPK yang tinggi dan tidak menyesal di kemudian hari, mengingat mayoritas mahasiswa di jurusan ini adalah siswa SMA” kata beliau.

“Iya, Bu. Saya akan berusaha sebaik mungkin” jawabku.

Sejak kejadian saat itu, beberapa teman dikelasku mulai menganggap remeh dan memandang sebelah mata. Mereka yakin bahwa siswa SMK ilmu komputer tidak akan bisa kuliah di jurusan pertanian. Aku tidak akan menyerah dan akan terus berusaha sebaik mungkin dijurusan ini.

Menuju penghujung semester 1, pihak fakultas mengumumkan dosen penasehat akademik bagi mahasiswa baru. Tidak aku sangka bahwa dosen penasehat akademikku adalah dosen yang tidak percaya aku mengambil jurusan pertanian. Hal tersebut membuatku semakin terpacu untuk memberikan yang terbaik karena beliau akan menjadi dosen penasehat akademikku selama lima semester kedepan.

Di akhir semester 1, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang berhasil aku dapatkan adalah 3,67. Aku pun bersyukur atas hasil usahaku selama ini. Sebelum memasuki semester 2, kami diwajibkan untuk meminta tanda tangan dosen penasehat akademik pada kartu registrasi semester sekaligus menyerahkan kartu hasil studi.

Aku berjalan menuju ruangan dosen penasehat akademikku dan aku sudah menyiapkan mental jika menurut beliau IPKku ini masih kurang baik.

“Assalamu’alaikum. Permisi, Bu” kataku di pintu ruangan beliau.

“Wa’alaikumsalam. Silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu?” tanya beliau.

“Saya Dian, Bu. Saya mahasiswa angkatan 2013 dan ibu adalah dosen penasehat akademik saya. Tujuan saya kemari yaitu saya ingin menyerahkan kartu registrasi semester dan kartu hasil studi” kataku.

“Oh iya, mana kartunya. Wah, IPK kamu tinggi sekali? Kamu pintar ya. Dulu SMA mana?” tanya beliau.

Berbeda dengan dugaanku sebelumnya, ternyata beliau lupa denganku. Aku pun mengatakan “Saya dulu siswa SMK, Bu. Saya mengambil ilmu komputer. Ibu sudah pernah mengajar saya sebelumnya dan menanyakan hal tersebut”.

“Lhoo..Jadi kamu mahasiswa itu ya? Wah, hebat sekali kamu. Ternyata kamu berhasil membuktikan bahwa kamu bisa meraih IPK tinggi. Tapi jangan senang dulu karena perjalanan kamu masih panjang” jawab beliau.

“Iya, Bu. Saya akan terus berusaha sebaik mungkin” jawabku.

Semangat yang aku miliki tidak pernah padam karena aku ingin membuktikan bahwa aku bisa kuliah dijurusan ini. Setiap hari aku terus menempa diri dengan rajin belajar baik di rumah, kampus, perpustakaan maupun diskusi dengan teman-teman. Bahkan, meskipun aku sakit dan tugas kuliah mengurangi waktu istirahatku, aku tidak menyerah untuk terus belajar.

Akhirnya, aku bersyukur karena aku mendapatkan buah manis dari hasil kerja kerasku. IPK yang aku dapatkan ditiap semester selalu meningkat dan aku juga mendapatkan beasiswa peningkatan prestasi akademik mengalahkan beberapa temanku yang dari SMA. Setiap semester pula, dosen penasehat akademikku tahu bahwa IPKku selalu meningkat. Dipenghujung semester 5, beliau mengucapkan selamat atas prestasiku sekaligus memberikan semangat.

“Saya ucapkan selamat, karena selama 5 semester IPK kamu terus meningkat. Saya doakan semoga kuliah kamu terus lancar dan bisa dilanjutkan sampai S2 serta bisa mendapatkan beasiswa lagi. Sekaligus saya minta maaf karena sudah salah sangka. Ternyata, tidak peduli mau dari SMA atau SMK karena hasil itu diraih oleh kerja keras dan kamu bisa membuktikannya. Semoga lancar skripsinya ya” kata beliau.

“Terima kasih banyak, Bu atas bimbingan dan arahannya selama ini. Semoga doa dan harapan Ibu bisa menjadi kenyataan bagi saya. Aamiin” jawabku.

Orang tuaku pun juga bangga melihatku bisa berhasil dijurusan pertanian ini. Semua tidak lepas dari doa orang tua, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa terus maju melangkah tanpa memperdulikan cemoohan orang-orang disekitar kita karena setiap manusia memiliki potensinya masing-masing dan kita tidak bisa menyamaratakan kemampuan dari setiap orang.